NICHOLAA JOHNSON

NICHOLAA JOHNSON
Chapter 10


__ADS_3

# JUSTIN POV



Aku benar-benar tidak percaya dengan syarat yang diberikan Tristan padaku kemarin sore. Kenapa aku menyesal untuk menyetujui tawarannya? Ah, tapi aku tidak ada pilihan lain, hanya itu satu-satunya cara supaya aku bisa bertemu kembali dengan Allura. Ya, hanya itu satu-satunya cara.



Allura. Aku berjanji akan menjemputnya. Aku akan membawanya lari dari Tristan, kakaknya yang tak bertanggung jawab itu. Allura tidak akan menikah dengan siapapun pilihan Tristan. Allura hanya akan menikah denganku. Ya, denganku.



Sesaat aku terkejut saat menyadari bahwa ternyata aku tidak sendiri. Tubuh mungil Nicholaa berbaring miring menghadapku dengan matanya yang masih terpejam. Astaga, aku tidur dengannya semalaman.



Ku amati wajah Nicholaa baik-baik. Mata indah yang dulu selalu ku puja-puja, kini bagaikan mendung hitam yang tak pernah reda turunkan hujan. Dan aku yang membuatnya seperti itu. Dan sebentar lagi aku akan mengakhiri semuanya. Aku akan meninggalkannya dan mendapatkan Allura.



Maaf atas rasa sakit yang sebentar lagi kau dapatkan, Nicholaa. Tunggu saja, itu yang terakhir dariku. Setelah itu kau bisa memilih dua hal untuk hidupmu. Bahagia karena bebas dariku, atau menderita karena harus kehilanganku. Pilih saja salah satu. Maafkan aku.



Tidak lama dari itu, mata Nicholaa bergerak, "Justin?" panggilnya terbangun.



"Kamu sudah bangun?" lanjutnya.



Aku mengalihkan tatapanku darinya. Entahlah, hatiku sesak tiap kali melihatnya. Aku tidak tahu ini perasaan apa. Rasa bersalah? Tidak, aku tidak mungkin merasa bersalah atas apa yang telah aku perbuat padanya. Aku puas. Ya, aku puas. Dia menderita dan aku puas.



Nicholaa beringsut mendekat dan memelukku. Damn! Jantungku berdebar.



"Justin?" panggilnya pelan, "kamu jangan berantem terus, ya, sama Javier."



"Jauhkan tubuhmu ini dariku Nicholaa," ucapku dingin. Bukan apa-apa, aku hanya benci dengan jantungku yang berdebar tak karuan ini.



Bisa kulihat wajah Nicholaa sendu. Mungkin matanya juga berair sebab perkataanku. Biarlah, itu urusan dia.



Nicholaa tersenyum, "maaf," ucapnya melepasku.



"Aku ke kamar mandi dulu," lanjutnya beranjak turun.



"Aaawwww!!!" jeritnya tiba-tiba menarik perhatianku.



"Kau ini kenapa, Nicholaa?" tanyaku dingin.



"Antingku tersangkut bantal, aku tidak bisa bangun. Sakit, Jus...," rintihnya.



Ku lihat anting ditelinga kirinya yang memang tersangkut dengan bantal tidurnya.



"Sini ku bantu," ucapku dingin dan beringsut mendekat.



Jantungku berdebar kencang saat mata kami bertemu begitu dekat. Sorot mata Nicholaa dengan sempurna menunjukkan betapa cintanya dia kepadaku. Ya, mata itu. Mata yang kubuat basah berkali-kali. Mata yang kubuat bengkak setiap hari.



"Sudah," ucapku berusaha mengendalikan diri. Nicholaa tersenyum dan bergegas turun untuk pergi ke kamar mandi.



Aku menyandarkan punggungku diranjang. Ke sentuh dadaku pelan-pelan. Why? Kenapa? Kenapa jantungku berdetak secepat ini? Aaaaghhhhh!!!



Aku beranjak turun dan membuka laci di salah satu almari kamarku. Sebuah buku Diary berwarna coklat yang semakin hari semakin usang, menjadi satu-satunya peninggalan mamah padaku.



*"Mah, jangan tinggalkan Justin, Mah. Mamah harus kuat. Mamah tidak boleh pergi. Hhuuaaaa... hiks... hiks," tangisku 16 Tahun yang lalu.*



*"Justin, kamu tidak boleh benci sama papah ya, Nak. Papah tidak salah, mereka tidak salah, Sayang," ucap mamah yang mulai menahan sesak di dadanya.*



*"Ka-muu ambiil buku Diary ma-maaah. Kamu akan tahu semuaanyaaahhhh."*



*"Mamaaahhhh!!!!!!!!!!!!!"*



Mata mamah terpejam untuk yang terakhir kalinya. Dan saat itu juga badai kebencian datang merasuk dalam darahku. Kemelut dendam meliliti kepala dan juga hatiku. Aku tidak punya siapapun selain Javier dan keluarganya. Aku kehilangan semuanya. Mamah kehilangan papah, lalu aku kehilangan mereka berdua.



Braakkk!!



Ku hempas buku Diary itu ke lantai. Tidak. Aku tidak akan membaca apapun dari isi bukunya. Karena dendam tetaplah dendam!! Tidak akan berubah!!



Ckleekkk



Nicholaa keluar dengan jubah mandinya. Aku berjalan kembali dan duduk di sisi ranjang. Ku tutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Air mataku mengalir mengingat semua kejadian di masa lalu. Masa saat dimana dunia begitu kejam merenggut semua yang aku punya. Bahkan sedikitpun aku tidak pernah diberi kesempatan untuk bahagia.



"Justin, ini Diary siapa?" tanya Nicholaa mengejutkanku.



Bergegas kuhapus air mataku supaya Nicholaa tidak melihatnya.



"Jangan sentuh buku itu," ucapku dingin.



"Justin kamu habis menangis? Matamu memerah," ucapnya menghampiri.



Nicholaa duduk disebelahku, "ada apa Justin? Apa ada yang membuatmu terluka?"



Aku berdiri dan berjalan mendekat kearah jendela. Pandanganku kosong. Pikiranku kacau dan hatiku sakit. Aku ingin berontak. Aku tidak mengerti ada apa dengan diriku.



*"Ku rasa kau telah gagal menjalankan misimu, Sialan!"*



*"Apa maksudmu?"*



*"Bagaimana tidak? Kau mulai cemas dan melindungi sasaranmu sendiri. Seharusnya kau bertepuk tangan saat ada yang mencelakai Nicholaa. Bukan malah kalang kabut hanya untuk melindunginya!"*



Ucapan Javier kemarin kembali terngiang ditelingaku. Aku merasa ada dua hal yang bertarung dalam diriku. Dua hal berbeda yang sama-sama mempengaruhiku. Entah apa itu.



Perlahan, kurasakan kedua tangan Nicholaa memelukku dari belakang. Kepalanya bersandar tenang dipunggungku. Dan jantungku, kembali berdebar.



"Apa yang kau lakukan, Nicholaa?" tanyaku dingin.



"Jangan bersedih, Justin. Atau hatiku akan sesak melihatmu seperti ini."



Damn! Air mataku jatuh mendengar ucapannya. Kenapa dia begitu mencintaiku dan sabar menghadapi sikapku. Setelah apa yang aku lakukan kepadanya. Semuanya. Tak mampu membuat Nicholaa jengah dan meninggalkanku.



"Aku merindukan tawamu, Jus. Aku merindukan kelembutanmu," ucapnya lagi.



Aku menyeka air mataku dan berbalik menghadapnya. Ku tatap matanya dalam-dalam. Dan lagi, hatiku kembali sesak. Ada apa ini? Kenapa rasanya ingin sekali aku menangkap wajah Nicholaa dan membawanya dalam dekapanku. Mengobati setiap luka yang pernah ku beri pada setiap inci perasaannya. Perasaan lembut tidak berdosa yang kubuat lara dan duka di sepanjang malamnya.



"Aku mandi dulu," ucapku dingin dan berlalu.


****



Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaianku dengan seragam kerja, aku mengembalikan buku Diary mamah pada tempatnya. Nicholaa sudah tidak ada disini, dimana dia? Ah, apa peduliku?



Molly mengucapkan selamat pagi padaku begitu langkahku berhasil melewati anak tangga yang terakhir.


__ADS_1


"Iya, pagi," jawabku membalas.



"Sarapannya sudah siap, Tuan."



"Dimana Nicholaa?" tanyaku mengambil sepiring nasi.



"Nyonya ada, Tuan. Di tepi kolam."



"Sedang apa dia disana?"



"Tidak tahu. Tadi katanya mau menenangkan hati. Begitu, Tuan."



Aku meletakan sendok dan garpuku begitu mendengar jawaban Molly tentang pertanyaanku. Menenangkan hati? Apa aku membuatnya sakit hati lagi? Ah, berfikirlah yang benar, Justin. Kapan kau tidak menyakiti Nicholaa? Kau tidak pernah berhenti membuatnya luka.



Aku menunda sarapanku dan menghampiri Nicholaa disana. Kulihat kedua kaki mungilnya itu tengah berayun-ayun diatas air. Matanya memandang kosong kearah depan. Tidak hanya itu, kedua tangannya pun tengah-, mengusap air mata?



Perlahan, kulangkahkan kakiku mendekatinya.



Ah.


Bodoh sekali. Untuk apa aku kemari? Urusan Nicholaa mau menangis atau apa. Apa peduliku?



Ku hentikan langkahku dan kembali ke maja makan untuk menyelesaikan sarapan pagiku.



"Justin!" panggil Nicholaa menghentikanku. Sial. Dia memergokiku disini!



"Kamu disini?" lanjutnya.



Aku berbalik menghadapnya, "masuklah, kita sarapan bersama," ucapku berlalu pergi.



Ku rasakan langkah Nicholaa mengikutiku dibelakang. Lagi-lagi hatiku sesak. Kenapa lagi ini? Dan apa-apaan aku barusan? Mengajaknya sarapan bersama? Konyol! Bodoh! Kenapa mendadak aku menjadi stres begini?



Ku tarik kursiku dan mulai memakan makanan yang sempat kutinggal tadi. Nicholaa duduk anggun di depanku dan menyangga kepalanya dengan tangan mungilnya itu lalu menatapku.



"Aku mengajakmu kesini untuk sarapan bersama, Nicholaa. Bukan menikmati wajahku," protesku dingin.



Nicholaa tersenyum, "aku sudah selesai sarapan, Justin."



Pergerakanku terhenti, mataku melebar mendengar jawabannya, "kenapa tidak menungguku?!!"



Nicholaa mengernyit, "menunggu? Kamu selalu tidak berkenan untuk aku tunggu, Justin."



Astaga! Kenapa aku jadi protes dan kesal saat Nicholaa tidak menungguku sarapan? Aaiisshh bodoh! Kau bodoh, Justin! Kau sendiri yang meminta Nicholaa untuk tidak perlu menunggumu sarapan! Tapi sekarang? Aaagghhhh.



"Aa-, emm maksudku, ya sudah," jawabku gelagapan. Sial, aku mengutuki diriku sendiri.



"Baiklah, mulai besok aku akan menunggumu," ucapnya tersenyum.



Aku tidak memperdulikannya lagi dan masih terus menyantap sarapanku. Ini pagi memalukan yang membuatku tak bisa mengendalikan diri. Sungguh demi apapun. Setelah pernikahan kami, aku tidak pernah mencari Nicholaa pagi-pagi hanya karena dia tidak ada di sampingku. Aku tidak pernah menghampiri Nicholaa atau bahkan menjemputnya saat dia sedang memilih untuk menenangkan perasaannya. Itu tidak pernah menjadi urusanku sebelumnya. Tapi why? Ada apa dengan diriku sekarang?



"Emm, Justin?" panggil Nicholaa pelan.



"Hummm?" jawabku tanpa menatapnya.



"Semalam saat kamu belum pulang, Alice ke rumah kita."




"Iya. Alicia Silverstone, teman aku yang saat itu mengundangku ke acara party tapi kau menggagalkanya."



"Ada urusan apa dia kemari?"



"Emmmm...."



"Apa?"



"Dia..., dia mau mengajakku pergi ke... puncak. Pagi ini."



"Tidak."



"Tapi, Jus...."



"Kau mau membunuh dirimu sendiri?"



Nicholaa menautkan kedua alisnya. Aisshh, dia ini bodoh atau bagaimana?



"Dengar, Nicholaa. Saat ini kau sedang ada dalam bahaya. Pengecut itu bisa saja mengikutimu kemanapun kau pergi!"



"Tapi aku bersama Alice dan suaminya, mereka pasti akan menjagaku."



"Oh, Alice sudah bersuami?"



"Iy-iyaaa," jawabnya gagap. Aku rasa Nicholaa mulai ketakutan dengan nada bicaraku yang sudah meninggi.



"Dan kau mau berselingkuh dengan suaminya, begitu?"



Nicholaa tercengang, "Justin kamu bicara apa? Aku tidak hanya pergi bersama suaminya tapi juga bersama Alice."



"Pergi denganku!"



"Tapi, kan, kamu harus berkerja."



"Pergi denganku atau tidak sama sekali!!" bentakku meletakkan sendok makan dengan kasar hingga membuat Nicholaa mengerjap ketakutan.


****


# AUTHOR POV



Setelah menghubungi Lawrence bahwa dirinya tidak dapat pergi ke kantor hari ini. Justin dan Nicholaa bergegas meluncur menuju rumah Alice dengan membawa peralatan kebutuhan mereka.



Begitu tiba di rumah Alice, Nicholaa memperkenalkan Justin kepada Alice dan suaminya. Alice pun memperkenalkan suaminya kepada mereka berdua. Dan siapa sangka? Perjalanan mereka ke Puncak yang hanya membawa satu mobil membuat mereka seperti sudah berteman sejak satu abad lamanya.



Justin banyak membicarakan soal bisnis dengan Richard, suami Alice. Sedangkan Alice dan Nicholaa sebagai perempuan memilih untuk membicarakan tentang rutinitas keseharian mereka. Mobil Justin dipenuhi dengan perbincangan-perbincangan hangat juga musik jazz yang berdentum menggema menambah kesemangatan mereka. Gelak tawa sesekali terdengar riuh.



"Kau kenapa melihat suamimu sampai seperti itu?" ucap Alice menyadarkan Nicholaa yang tak henti-hentinya memandangi Justin yang sedang memanuver mobilnya.



Nicholaa tersenyum, "tidak. Aku hanya bahagia saja. Ini pertama kalinya lagi Justin tertawa setelah pernikahan kami."



"What?!!"

__ADS_1



Mata Nicholaa melebar, "ah, tidak. Maksudku aku suka melihat Justin tertawa seperti itu."



"Justin, semalam aku kerumahmu tapi kau tidak ada disana," tanya Alice.



"Ya, aku masih ada urusan di luar."



"Dan kata Nicholaa, kau pasti tidak bisa ikut ke Puncak hari ini karena banyak pekerjaan."



Justin tergelak, "kau tau, Alice? Sesibuk apapun seorang suami, tidak mungkin membiarkan istrinya berlibur sendirian."



Nicholaa ******** senyum. Kali ini dia tidak ingin kembali terjebak dalam ucapan-ucapan manis Justin di hadapan orang lain. Dia sadar, Justin berbicara seperti itu hanyalah untuk pencitraannya semata.



"Ya, kau memang suami yang baik. Dan kau beruntung mendapatkan Nicholaa, dia wanita berhati lembut."



"Ya, Nicholaa sepertinya perempuan yang sangat baik. Baru beberapa jam aku mengenalnya, rasanya aku sudah merasakan berjuta-juta kebaikan dalam dirinya," sahut Richard.



Nicholaa tersenyum, "kalian berlebihan."



Justin terdiam mendengar itu. Mendadak hatinya kembali sesak. Benarkah? Apakah seharusnya dia benar-benar beruntung mendapatkan Nicholaa? Dia tidak mengerti. Hatinya mendadak dililiti sebuah perasaan yang dirinya sendiri tidak mampu memahami.



Saat dirinya memilih untuk mengakhiri misinya dan meninggalkan Nicholaa, tiba-tiba sesuatu dalam dirinya merasa berat dan tidak terima. Ucapan Javier selalu saja menghantui dan memenuhi pikirannya. Seharusnya tidak seperti ini yang dia rasa.



"Tidak. Allura yang aku cintai, bukan siapapun!" gerutunya di hati.



"Yeeeeeeeee sampai!!!" teriak Alice saat Justin berhasil memarkir mobilnya dengan sempurna.



Mereka mulai turun dan menikmati indahnya pemandangan kebun teh pada dinginnya puncak hari ini. Richard yang dengan sengaja membawa kamera dari rumah, kini mulai membidikannya pada Alice yang sudah siap dengan pose manisnya.



Sibuk melihat kegirangan Alice, Justin terlambat menyadari bahwa Nicholaa belum juga turun dari mobilnya. Entah apa yang istrinya lakukan disana.



"Nicholaa, kau ingin berdiam disitu saja?" ucapnya menghampiri Nicholaa yang sedang mengobrak-abrik isi tasnya di dalam mobil.



"Justin, aku lupa membawa jaketku."



Justin mendengus kasar, "kau pikir kita akan berlibur ke pantai?"



"Aku lupa Justin."



"Ceroboh!"



"Heiii? Kenapa kalian berdiam disana? Ayo kemari!!" teriak Richard.



"Pakai jaketku," ucap Justin mulai melepas Jaket ditubuhnya.



"Tidak, Justin," tolak Nicholaa menahan pergerakan Justin.



"Pakai sekarang."



"Tidak, Jus. Nanti kamu bisa kedinginan."



"Pakai atau kita pulang sekarang juga!!" bentak Justin membuat Nicholaa mengerjap kaget.



Nicholaa turun dan Justin mulai memakaikannya ketubuh Nicholaa. Saat Justin menutup resleting jaketnya, tidak sengaja mata mereka bertemu dan lagi-lagi dada Justin terasa sesak. Wajah sayu di hadapannya itu mampu membuat hatinya beribu-ribu kali dilanda rasa perih. Mata jernih yang selalu berair sebab ulahnya kini menjadi mata yang selalu ingin terus ditatapnya.



Perlahan, kedua tangan Justin menangkap wajah Nicholaa dengan lembut.



Deg.



Jantung Nicholaa lagi-lagi lupa caranya berdetak dengan benar. Mata Justin terus menatapnya dengan lembut. Seutas senyum diraut suaminya itu mampu membawa hatinya bagai terbang di atas udara. Alice beserta suaminya tidak ada di hadapan mereka, tapi Justin tetap bersikap semanis ini kepadanya? Sekarang apa? Ini tidak pantas disebut pencitraan semata, bukan?



Hati Justin bergetar menggema tangis. Rasa sesak itu kian lama semakin terasa. Saat ucapan Javier kembali terngiang, sesuatu dalam dirinya seakan ikut berbicara, bahwa dirinya benar-benar bodoh karena telah menyakiti perempuan selembut Nicholaa.



Bibir Justin tersekat begitu melihat mata Nicholaa mengalirkan cairan bening dari sudutnya. Istrinya menangis dan hati Justin semakin sesak. Perlahan, Justin mengusapkan jemarinya dan menarik Nicholaa kedalam dekapannya. Mata Justin terpejam merasakan getaran hati yang tak sanggup lagi ia tahan, getaran hati yang tak mampu Justin pahami.


****


# NICHOLAA POV



Justin terus merangkul pundakku di sepanjang perjalanan kami menyurusi kebun teh di puncak ini. Bayangan dimana saat Justin memelukku tadi masih terlintas jelas di ingatanku. Entah nyata atau hanya pencitraan semata. Tapi yang aku rasa, ada yang berubah dalam diri Justin sejak tadi pagi. Dari dia yang terus menatapku saat aku masih terlelap di sampingnya, hingga dia yang memelukku saat air mataku jatuh merasakan betapa rindunya aku kepadanya. Belum lagi sikap posesifnya yang tidak ingin aku dekat-dekat dengan William ataupun suami Alice, juga sikap kecemburuannya pada Javier akhir-akhir ini, menunjukkan bahwa dia tidak mau kehilanganku.



"Hei, kita naik Flying fox, yuk," ajak Alice yang tidak sengaja melihat pengunjung lain tengah histeris menaiki wahana itu.



"Coba lihat, itu seru sekali!!" lanjutnya girang.



Aku menarik kaos putih Justin, "tidak, Jus. Aku takut ketinggian," ucapku gemetar.



Richard tergelak, "ayolah, Nicholaa. Aku yakin kita akan tertawa sama-sama nanti."



"Lagipula, kapan lagi kita bisa berlibur bareng seperti ini? Naik atau kau akan menyesal nanti," tambah Alice.



Melihat rasa takut dimataku, Justin tersenyum dan mengeratkan rangkulannya, "kalian pergilah berdua. Biar aku sama Nicholaa menunggu di sini," ucapnya.



"Baiklah," jawab Richard membawa Alice berlalu pergi.



Justin tertawa melihat orang-orang yang histeris menaiki flying fox yang kuyakini tidak main tingginya. Aku bahagia hari ini. Bukan karena berlibur bareng Alice dan suaminya. Tapi karena aku mampu melihat tawa yang selama ini tersembunyi dibalik kekerasan suamiku sendiri. Aku merindukan ini, aku suka melihat tawa lepas di bibirnya itu.



"Eemm, Justin?" panggilku pelan.



"Ya?" jawabnya dingin.



"Alice dan Richard tidak ada disini. Kau, tidak melepas tanganmu?"



Justin menghela nafas dan menatapku, "salah jika suami menyentuh istrinya sendiri?"



Tanyanya membuatku gelagapan, "bu-bukan begitu, Justin. Aku ha-,"



"Jangan mengaturku," sela Justin semakin mengeratkan tanganya pada pundakku.



Aku menyandarkan kepalaku pada dadanya, "bukan mengaturmu. Aku hanya takut setelah ini kau menyesal telah memelukku," ucapku tersenyum.


****


# JUSTIN POV



Aku membaringkan tubuh Nicholaa di kamar. Setelah tadi mengantar Richard beserta istrinya ke rumah, aku memilih untuk segera bergegas pulang karena hari sudah malam, pun Nicholaa yang sudah tertidur lelap di belakang.



Hari ini menjadi hari yang membingungkan bagiku. Aku merasa bahagia bisa pergi dan menghabiskan waktu bersama Nicholaa. Hum, aneh. Seharusnya aku tidak perlu repot-repot meninggalkan semua kerjaan di kantor hanya untuk menemani musuhku sendiri. Tapi hati tetaplah hati. Aku tidak mengerti kenapa sesuatu dalam diriku mendorongku untuk terus melindungi dan menjaganya. Untuk terus memastikan bahwa dia harus baik-baik saja. Dan aku bersyukur karena hari ini pengecut itu tidak mengikut kemana Nicholaa pergi. Padahal, terlepas dari itu semua. Akulah sosok yang selama ini membuatnya menderita. Bahkan membahayakan hidupnya.


__ADS_1


"Selamat tidur, Nicholaa," ucapku mengusap lembut rambut panjangnya.


****


__ADS_2