
# AUTHOR POV
Nicholaa bersimpuh memecah tangisnya setelah mendengar cerita masa lalu yang dipaparkan oleh mamahnya, oh tidak, mamah angkatnya. Dia tidak tahu apa yang harus dia rasakan sekarang. Bahagia karena pernikahannya dengan Justin tidak terlarang, atau menderita sebab ternyata dirinya hanyalah anak adopsi dari panti asuhan.
Bibirnya kelu tak mampu mengucapkan sepatah kata apapun. Kenyataan ini terlalu pahit untuk dia terima. Sekarang, hidupnya yang mana yang benar-benar berguna? Menjadi alat pelunasan hutang dari seorang Megan Johnson? Menjadi alat tukar supaya Justin bisa bertemu dengan Allura? Menjadi sarana balas dendamnya Theresa kepada suaminya? Menjadi sarana balas dendam suaminya sendiri sebab luka di masa lalu? Atau, mengetahui bahwa dia hanyalah anak angkat dari keluarga Johnson? Yang mana? Adakah kenyataan itu yang benar-benar membuatnya bahagia?
Oh, God. Sungguh demi apapun, Nicholaa hanya bisa bersimpuh memecah tangis yang kian lama membuat dadanya semakin sesak.
Sedangkan Justin? Batinnya benar-benar terpukul mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Ternyata wanita paruh baya yang selama ini dia benci adalah Ibu kandungnya sendiri? Ibu yang dengan ikhlas dan mulia berbagi suami dan anak kepada sahabatnya, kepada mamah Denaya.
Sekarang apa? Justin pun tidak tahu apa yang harus dia rasakan. Bahagia karena pernikahannya dengan Nicholaa tidak terlarang, atau menderita sebab ternyata dirinya bukanlah adik yang diinginkan oleh kakak kandungnya sendiri.
"Kemarilah, Jus. Ini ibu kandungmu, Sayang...," lirih Kayonna berharap Justin menghampirinya.
Justin menyeka air matanya, tubuhnya bangkit dan melangkah menuju Kayonna yang sudah mengulurkan kedua tangan untuknya.
"Mamah!!" ucapnya menyambut pelukan Kayonna.
Tangis Nicholaa semakin pecah tatkala menyadari bahwa kini dia bukanlah siapa-siapa. Dia hanya hidup sebatang kara.
"Nicholaa," ucap Megan membelai lembut rambutnya.
"Lepaskan aku, Tuan Megan. Aku bukan siapa-siapa anda sekarang!!" bentak Nicholaa membuat semua yang ada di ruang rawat terkejut seketika.
"Apa yang kau katakan, Nicholaa? Kau tetaplah putriku!" sahut Kayonna tak menyangka.
"Justin lah putramu, Nyonya. Bukan aku!"
"Jangan membuat mamah sedih, Nicholaa. Mamah menyayangimu!" tambah Alodie menghampirinya.
"Aku tidak mempercayai siapapun lagi saat ini! Cukup! Dan biarkan aku pergi!!" bentak Nicholaa beranjak pergi.
"Nicholaa!!" panggil Justin mengejarnya.
"Justin, cukup!" cegah Javier menghentikan langkahnya, "biar aku yang mengejarnya!" lanjutnya berlalu mengejar Nicholaa.
Alodie benar-benar tidak mengerti, sandiwara apa yang terjadi dalam keluarga suaminya ini. Semua penuh dengan tiba-tiba dan berlalu begitu saja. Ini kejutan panjang yang pernah dia terima semenjak menikah dengan Megan. Dia benar-benar tak menyangka, bahwa Nicholaa bukanlah anak kandung dari mertuanya. Dan dia benar-benar tidak menyangka, justru Justin, suami Nicholaa, adalah adik ipar dia yang sesungguhnya.
Justin menyandarkan punggungnya di dinding seraya mengacak-acak rambutnya frustasi. Seketika ingatanya melayang pada buku diary yang pernah almarhum mamahnya berikan. Buku diary yang selama ini tidak sudi dia baca. Ada tulisan apa di dalam sana? Mendadak perasaannya penasaran ingin membuka.
"Justin, kau mau kemanaaa??!" teriak Megan saat Justin tiba-tiba berlalu meninggalkan mereka begitu saja.
Alodie memindahkan Petter pada gendongan Megan, lalu dia terulur memeluk mertuanya yang masih terisak pelan menahan sesak di dada.
"Tenanglah, Mah...."
"Bagaimana mamah bisa tenang, Alodie? Nicholaa pasti sangat membenciku!"
"Ssstttt..., tidak. Nicholaa hanya butuh waktu untuk menerima semua kenyataan ini."
"Kenapa mamah melakukan semua ini?" sahut Megan bertanya.
"Mamah tidak sanggup melihat mamahmu Denaya yang tidak bisa memiliki anak, Megan. Lagipula saat itu kau sangat menginginkan adik perempuan, jadi mamah rasa tidak ada yang salah dengan keputusan mamah saat itu."
"Tapi mamah tidak harus menyembunyikannya hingga kita tumbuh sedewasa ini."
"Maafkan mamah, mamah hanya tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk bicara kepada kalian semua."
"Tapi sekarang apa? Mamah lihat sendiri, semuanya kacau, Mah."
"Megan, cukup!! Mamah sangat sedih dengan apa yang baru saja terjadi! Kau tidak pantas menghakimi mamah seperti itu!"
Megan duduk dan memeluk Petter dengan erat. Lalu menumpahkan tangis pilunya disana.
****
"Berhenti, Nicholaa! Kakimu masih luka!!" teriak Javier yang tengah mengejar Nicholaa di jalan.
Nicholaa sama sekali tidak peduli dengan teriakan-teriakan Javier yang terus memintanya untuk berhenti. Dia juga tidak peduli dengan kakinya yang masih dibalut perban putih itu. Yang ada dibenaknya sekarang hanyalah pergi, pergi sejauh-jauhnya dari mereka yang berhasil membuat luka hatinya semakin menganga.
Kenyataan yang tidak pernah dia duga. Kenyataan yang membuatnya sangat terpukul. Hancur karena dia kini bukanlah siapa-siapa. Dia merasa asing dari mereka yang pernah ada dalam satu keluarga. Baginya, kini kehadirannya tidak akan berarti lagi. Saat mamah Kayonna telah menemukan siapa putra kandungnya. Justin, suaminya sendiri.
"Nicholaa, kau harus dengarkan pembicaraanku terlebih dahulu!!"
"Tidak, Javier. Jangan ikuti aku terus!!" berontak Nicholaa mengibaskan tangan Javier saat pemuda itu berhasil meraih lengannya.
"Mohon tenang, Nicholaa! Jangan seperti ini!!"
"Lepas, Javier!!" ronta Nicholaa marah. Javier melepas tangannya dengan lembut, "bagaimana aku bisa tenang? Aku bukan anak kandung mamah, Jav. Aku hanya anak adopsi dari panti asuhan!! Aku tidak punya siapapun di dunia ini! Aku sendirian!" bentaknya memecah tangis.
"Lalu? Lalu apa bedanya denganku, Nicholaa? Aku pun tidak memiliki siapapun di dunia ini. Aku hanya punya Justin yang aku ketahui adalah sepupuku. Tapi kenyataannya apa? Justin bukanlah anak kandung dari kakak ibuku! Aku pun sendirian, Nicholaa. Kita sama!!"
__ADS_1
Nicholaa menyeka air mata dan menghela nafasnya.
"Aku mohon, Nicholaa. Kamu harus bisa tegar! Justru sebaiknya kita bersyukur, bersyukur karena Tuhan masih perduli kepada kita dengan mengirimkan mereka semua sebagai keluarga kita. Andai tidak ada mereka dalam hidup kita, bagaimana nasib kita, Nicholaa?"
Dengan setulus hati, Javier menenangkan Nicholaa. Batinnya tidak sanggup melihat perempuan yang dia cintai menderita hingga hilang kendali seperti ini. Sekalipun perasaan Nicholaa utuh hanya untuk Justin semata, tapi Javier tetaplah Javier yang selalu ingin melindungi Nicholaa. Dan dia tidak akan bisa tinggal diam jika melihat perempuan itu hidup sengsara.
"Tapi hidupmu tidak sesengsara aku, Javier! Apa perasaan seorang perempuan saat dia tahu bahwa ternyata selama ini dia hidup dalam kebohongan yang teramat besar?!!"
"Tapi kita bisa bicarakan ini semua baik-baik."
"Percuma, hatiku sudah pupus yang mungkin tak akan pernah bisa membaik!!"
"Nicholaa!!" teriaak Javier saat Nicholaa berlalu pergi begitu saja.
Nicholaa mempercepat langkah sebelum Javier kembali berhasil menarik lengannya.
"Berhenti!" stop Nicholaa saat mendadak ada taksi yang melintas di depannya. Dengan sigap, Nicholaa beranjak masuk dan meninggalkan Javier yang masih mengejarnya dengan terus berteriak memanggil-manggil namanya.
****
Dengan langkahnya yang penuh luka dan juga rasa tak percaya, Justin membuka kasar pintu kamarnya. Tangannya dengan gemetar membuka laci lalu mengambil sebuah buku diary usang peninggalan almarhumah mamahnya.
Sesak kembali memuncak. Terlebih saat isi diary itu membenarkan semua cerita yang baru saja dipaparkan oleh mamah Kayonna. Justin frustasi! Dia menyesali segala yang pernah terjadi! Segala yang sudah dia perbuat kepada Nicholaa yang bahkan perempuan itu tak bersalah sama sekali. Hatinya benar-benar hancur mengetahui bahwa mamah Denaya adalah istri kedua papahnya, bahkan hatinya lebih hancur lagi saat ternyata mamah Kayonna adalah ibu kandungnya.
Dendam itu membabi butakan pikirannya. Membuatnya kejam dan menyakiti orang-orang yang justru baik kepadanya, kepada masa lalunya.
Justin bersimpuh memecah tangisnya. Kini dia sadar, selama ini dia bagaikan manusia tak berperasaan yang tega menyakiti perasaan istrinya sendiri.
Rasa perih melumuri hatinya. Sembilu tajam bagai menghujami jantungnya. Dia berjanji, begitu Javier pulang membawa Nicholaa, dia akan bersimpuh mencium kaki istrinya itu.
"Aaagggghhhh!!! Bodoh, Jus! Kau bodoh!!" teriaknya mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Kesalah pahamanmu di masa lalu membuatmu mendendam pada seseorang yang seharusnya tidak bersalah sama sekali!!! Seseorang yang mencintaimu dengan sempurna! Yang rela kau sakiti berkali-kali!! Bertubi-tubi!!! Bahkan saat kau membawa wanita lain pulang ke kamarmu, dia tetap memuliakanmu!! Sialan!! Kau sialan, Justin!!!!" lanjutnya berteriak, memaki-maki dirinya sendiri.
"Astaga, Tuan. Apa yang terjadi?" ucap Molly yang tiba-tiba datang menghampiri.
Justin menyeka air matanya, "hubungi Lawrence dan suruh dia datang kemari, sekarang!!"
"Baik, Tuan!"
****
Nicholaa menyeka air matanya, "bodoh jika aku merasa tidak lagi berarti. Aku masih memiliki sahabat yang menjanjikan tempat untukku mengadu nasib."
Nicholaa tersentak saat pintu itu terbuka dari dalam sebelum dia mengetuknya.
"Nicholaa? Hai..., bagaimana bisa kau ada disini? Apa yang terjadi?"
Bibir Nicholaa bergetar menahan tangis, "William...," lirihnya sendu.
Melihat mata Nicholaa yang sudah berkaca penuh air, William menghela nafasnya, lalu menarik Nicholaa dan mendekapnya erat-erat.
Tangis Nicholaa pecah di dalam sana. Luka-luka basahnya kembali menganga. Dia tidak lagi sanggup menahan rasa perih yang menyarang di dada. Perasaannya terkikis habis, pupus. Bahkan kakinya tak lagi sanggup menopang tubuh rapuhnya itu.
Tanpa bertanya kenapa, William memilih untuk membiarkan Nicholaa menangis sepuasnya dalam hangat dekapnya. Walau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi William sadar, sahabatnya ini tengah mengalami luka yang menjadi-jadi. Yang bahkan mungkin berhasil membuat hatinya patah berkali-kali.
"Aku terluka, Will...," ucap Nicholaa di sela-sela isakan tangisnya.
"Aku terlukaaa...."
William memejamkan matanya, "menangislah, Nicholaa. Sekeras yang kamu mau. Terisaklah, luapkan semuanya dalam dekapku. Aku, akan mendengarkanmu...."
****
Lawrence menggeleng tak percaya setelah membaca isi diary itu. Matanya menatap tak menyangka kepada Justin yang masih setia bersimpuh menumpah tangisnya.
"Ini salahmu yang tak sudi membaca diary almarhumah Ibumu dari awal, Jus!! Ini salahmu!!!" maki Lawrence geram akan kesalahan sahabatnya itu.
"Andai kau mau meredam ego dan kemarahanmu sebentar saja, sejenak saja untuk membuka buku ini, mungkin semuanya tidak akan terjadi. Justru kau sudah akan dari dulu mengetahui siapa ibu kandungmu sebenarnya!!" lanjutnya lagi.
Justin mengusap gusar wajahnya, lalu kembali memecah tangisnya.
Lawrence berdiri dan duduk di tepi ranjang Justin, hatinya ikut terpukul mengetahui semua kebenarannya. Batinnya menangis mengingat betapa malangnya nasib Nicholaa, nasib perempuan yang Justin jadikan sebagai sarana balas dendamnya, balas dendam yang seharusnya tidak pernah terjadi, yang seharusnya tidak pernah ada.
"Bangun, Jus! Percuma kau menangis bersimpuh di bawah situ. Kebenarannya tidak akan berubah!!" ucap Lawrence dingin.
Entah, Lawrence seakan merasa kecawa dengan Justin. Kesalahannya benar-benar memalukan. Dia mendendam pada Ibu kandungnya sendiri, dia menyakiti perempuan yang tak berdosa kepadanya sama sekali.
"Nicholaa...," lirih Justin pelan, "Nicholaa, maafkan aku...," sambungnya lagi.
"Selama ini Nicholaa sangat berhati baik, yang mungkin rela bertahan sakit menerima segala perlakuan kasarmu! Segala luka yang kau toreh pada hatinya. Tapi sekarang? Mungkin dia benar-benar sudah lelah. Dan kau terlambat menyadarinya."
__ADS_1
"Aku tidak bisa kehilangan dia, Lawrence! Aku tidak akan bisa!!!"
"Tapi kau sudah kehilangan dia!!" sahut Javier yang datang tiba-tiba.
Justin terkejut mendengar itu, "apa maksudmu? Dimana Nicholaa?"
Javier berjalan dan duduk di samping Lawrence, "aku tidak berhasil mengejarnya!"
Justin bangkit dan menghampiri Javier, "apa yang kau katakan, Jav? Lalu? Dimana Nicholaa pergi?"
"Nicholaa pergi dengan luka-luka yang memenuhi hatinya," jawab Javier menatap kecewa mata Justin.
"Dia pergi dengan air mata yang tidak pernah bisa berhenti!! Dengan hati yang hancur juga perasaannya yang sudah mati untukmu!!!" bentak Javier emosi.
Javier benar-benar merasa luka melihat Nicholaa tersiksa sedemikian sadisnya. Dan ini semua gara-gara Justin, seseorang yang selama ini dia kira adalah sepupu kandungnya.
Justin menggeleng tak percaya, "aku pasti akan menemukan Nicholaa!!" ucapnya berlalu pergi meninggalkan Javier dan Lawrence dikamarnya.
****
Malam mulai berani menunjukkan pesonanya, pesona hitam gelap, pekat, bak hatinya yang kian terjerat. Air mata menjadi kawan setia untuknya membasuh luka. Luka yang tak pernah mau bertepi, luka yang sudah menetap tinggal di dalam hati, yang lupa jalannya pulang. Yang betah tinggal berlama-lama dalam palung terdalam.
Luka akibat tembakan Theresa sudah pulih, tapi hatinya kian hari justru bertambah perih.
"Aku bawakan kopi untukmu," ucap William menghampirinya yang tengah merenung di jendela kamar tempatnya mengistirahatkan diri.
Nicholaa membalikkan badannya, "terimakasih," ucapnya mengambil segelas kopi dari William.
"Kamu tidak keberatan kalau aku tinggal di rumahmu untuk sementara ini?" lanjut Nicholaa menyeduh kopinya.
William tersenyum, "sejak kapan aku keberatan membantu sahabatku sendiri?"
Nicholaa berjalan dan meletakkan kopinya di atas nakas, "Will?" panggilnya.
"Iya, Nicholaa?"
"Aku bukan anak kandung mamah!"
"What?!!!"
****
"Nicholaaaaaaaaa?!!!"
Justin tak henti-hentinya meneriakkan nama Nicholaa di tengah jalan. Kakinya luntang-lantung menyusuri jalanan malam yang sepi. Hatinya hancur, lebih hancur dari lukanya di masa lalu. Dia tidak tau kemana lagi harus mencari Nicholaa. Perempuan itu menghilang bagai ditelan bumi.
"Aku tau aku salah! Mohon maafkan aku, Nicholaa!! Pulanglah! Kembalilah!!!" teriaknya frustasi.
"Aagggghh!!! Kenapa aku bisa sebodoh ini!!! Aku menyesal, Nicholaa! Aku menyesal!!!"
"Lebih baik aku mati daripada tidak bisa lagi bersamamu!!!"
"Dasar pecundang!!!"
Suara itu mengejutkan Justin tiba-tiba.
"Allura?"
"Nicholaa, dia seorang perempuan. Tapi dia tidak pernah menyerah ingin mati saat kau dengan bertubi-tubi membuatnya tersakiti. Tapi kau?" Allura tersenyum miris, "pemuda lemah!" lanjutnya berdesis.
Justin bersimpuh memecah tangisannya di trotoar. Tangannya mengusap-usap gusar wajahnya yang sembab. Hatinya membenarkan ucapan Allura. Dia benar-benar pemuda lemah. Sangat lemah.
Allura berjongkok memandanginya, "ada apa? Hum?" tanyanya lembut.
"Nicholaa pergi dari kita semua."
"Maksudmu?"
"Kebenaran ini membuat kami masih merasa tidak percaya!"
"Kebenaran apa?"
Justin menghela nafasnya, "Lura?"
"Ya?"
"Aku adalah anak kandung dari mamah Kayonna!"
"Apa?!!!"
****
__ADS_1