
# NICHOLAA POV
Pagi telah tiba, tapi aku tidak terbangun dari tidur. Ya, karena pada nyatanya mataku sudah terbuka bahkan sebelum Fajar menyemburat di ufuk timur sana.
Aku tidak bisa memejam mataku dari semalaman. Setelah Allura pulang dari ruang rawat Mamah, wajah mamah terlihat sangat membawa beban masalah. Aku tidak tau apa yang disampaikan perempuan itu pada mamah. Tapi apa lagi kalau bukan tentang Justin?
"Lukanya sudah menutup, dan mungkin sebentar lagi akan segera mengering," ucap Suster saat mengobati lukaku di kaki.
Aku tersenyum, "syukurlah. Kalau begitu sudah tidak perlu diperban lagi, bukan?"
"Tidak perlu, Nona. Cukup hati-hati jika berjalan," suster tersenyum padaku, "selesai."
"Terimakasih, Sus," ucapku sebelum dia berlalu pergi.
Aku kembali merenung. Perasaanku tidak bisa tenang dari semalam. Sesuatu menikam ulu hatiku dengan dalam, bagai ada hal yang akan membuatku terkejut sakit. Tapi apa? Kenapa? Sungguh, aku ingin lepas dari semua penyiksaan tak terbatas ini.
Saat mamah bangun, aku berjalan mendekat dan membelai lembut bahunya, "selamat pagi, Mamah," sapaku.
"Selamat pagi...."
"Ckleeek...."
Kak Alodie masuk dan membawakan semangkuk sarapan untuk mamah.
"Mah, sarapan, ya. Mamah harus cepat sembuh."
Aku beringsut pindah supaya kak Alodie bisa dengan mudah menyuapi mamah. Aku tersenyum tipis saat melihat mamah menyantap buburnya dengan lahap. Kak Alodie benar, mamah harus segera pulih. Aku rindu dengan mamah yang bergerak aktif di rumah. Membantu kami semua dalam menyelesaikan pekerjaan rumah.
"Alodie?" panggil mamah pelan.
"Ya, Mah?" jawab kak Alodie lembut.
"Kamu tidak menjenguk Justin? Mamah mencemaskannya."
Aku mengalihkan pandanganku. Justin, Justin, Justin. Itu yang selalu ada dipikiran mamah. Dan itu pula yang berhasil membuat mamah sayu sebab mencemaskannya.
"Iya, nanti setelah ini Alodie kesana, ya, Mah. Mamah yang tenang. Megan, Javier, Lawrence dan yang lainnya sudah ada disana. Mamah jangan cemas."
Aku tersenyum miris, "Jus, beruntung sekali hidupmu? bahkan setelah menyakitiku sepuasmu, orang-orang disekitar masih saja memperdulikanmu," batinku.
Drertttt.... Drrrtttttt.....
Ponsel kak Alodie bergetar, seseorang menghubunginya.
"Sebentar, ya, Mah. Megan menghubungiku."
Shit!
Mendengar siapa yang menghubungi kak Alodie, aku bergegas melangkah pergi dari ruang rawat mamah. Itu kulakukan tidak lain lagi karena aku tidak ingin mendengar kabar apapun tentang Justin. Aku tidak ingin turut mencemaskannya. Aku tidak peduli.
Aku berjalan pelan menyusuri koridor rumah sakit ini. Pikiranku kosong, hidupku hampa. Sudah, dan benar-benar tidak ada lagi kata-kata yang pantas untuk menggambarkan bagaimana kondisi batinku yang terluka.
"Brraakkk!!!" kak Alodie berlari dan menabraku dari belakang dengan tidak sengaja.
"Soryy, Nichollaaaa!!!" teriaknya berlari cepat.
Bisa kulihat dengan jelas raut cemas diwajahnya. Bisa kutangkap dengan sempurna air mata yang mengalir dari kedua sudut kelopak matanya.
Ada apa?
Deg!
Justin!
Batinku tertuju padanya!
Mataku melebar mengingat kak Alodie yang sebelum ini menerima telepon dari kak Megan. Apa terjadi sesuatu? Kenapa kak Alodie berlari secepat dan secemas itu?
Ah tidak-tidak. Cukup, Nicholaa. Ini bukan lagi menjadi urusanmu. Apa yang terjadi pada Justin itu biarlah urusannya. Kau tidak perlu terus menerus ikut campur pun terus memikirkannya.
"Persetan dengan apa yang terjadi padamu, Jus!" batinku dihati.
Aku kembali berjalan menuju taman. Saat sesuatu terus membuat pikiranku kacau, aku segera menepisnya dengan kuat. Aku tidak ingin menjadi lemah dan kalah begitu saja. Aku harus memaksa diri dan hatiku untuk tidak memikirkan sesuatu yang seharusnya sudah aku lupakan.
Aku menumpah isakku di bangku taman. Haruskah sesakit ini rasanya? Aku capek! Aku lelah!! Berteman dan bersahabat dengan air mata sepanjang hari itu sesuatu yang tidak menyenangkan, bukan?
Seketika, ingatanku kembali melayang pada Justin. Manusia itu. Kenapa? Kenapa harus kamu yang menjadi seseorang termenyakitkan dalam hidupku? Kenapa, Justin? Kau pernah membawaku terbang tinggi. Tapi hanya untuk tersenyum dan menyaksikan bagaimana terlukanya aku saat kau hempas ke bumi. Kau pernah menjadi sosok pangeran yang sudah kuanggap sebagai pahlawan hidup. Pahlawan yang akan membuatku bahagia, yang akan melindungiku, yang akan menjaga baik-baik diri pun juga hatiku. Tapi pada kenyataannya apa, Jus? Pilihanku yang yakin bisa hidup bahagia denganmu, ternyata malah membawa malapetaka besar untukku!
Lagi-lagi aku bersimpuh memecah tangisku! Ingatanku melayang pada masa dimana Justin masuk dalam hidup dan kisahku.
"*Masuk mobilku!"
"Siapa kau?"
"Hei, jawab pertanyaanku!!"
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Melindungimu."
"Melindungiku?"
"Ya."
"Kemana kau akan membawaku, Tuan?"
"Pulang."
"Tapi, Ruma-"
"Ya, aku tau rumahmu."
____
"Tunggu!"
"Ada apa?"
"Jangan biarkan air matamu jatuh, aku tidak suka melihatnya."
____
"Perkenalkan. Aku Justin Clayton, CEO Perusahaan besar yang telah melamarmu."
"Apa kau bercanda?"
"Tidak."
_____
"Aku belum menerima lamaranmu, Tuan Justin. Bagaimana bisa kau menyebutku sebagai mempelai wanita?"
"Kau memang belum menerima lamaranku, Nona. Tapi aku yakin tidak akan terjadi penolakan dari bibir manismu itu."
__ADS_1
"Kau itu terlalu percaya diri."
"Ya, karena itu perlu."
_____
"Justin? Kau baru pulang dari kantor?"
"Ya."
"Lalu, kenapa kau tidak segera pulang dan beristirahat?"
"Kau tempatku berpulang dan istirahat, Nicholaa."
_____
"Bagaimana bisa kau datang kemari tanpa menghubungiku terlebih dahulu, Justin?"
"Kenapa?"
"Lihat! Wajahku penuh dengan adonan tepung, dan bajuku berbau bumbu-bumbu dapur. Seharusnya tidak dalam keadaan seperti ini aku bertemu denganmu!"
"Kamu malu?"
"Tenanglah, Nicholaa. Aku sudah memujimu cantik semalam. Jadi, bagaimana pun penampilanmu, kau tetap terlihat cantik di mataku. Seperti sekarang."
_____
"Kau mau mencoba, Nicholaa?"
"Tidak, terimakasih. Aku sudah bosan dengan teh manis buatannya itu."
"Teh manis?"
"Rasanya manis, bukan?"
"Entahlah. Rasa-rasanya aku merasa manis sebab ada kau di sini, bukan karena teh ini*."
_____
Aaaggggggrrrr!!!
Semua masa indah itu kembali berputar dalam benakku. Membuat tangis dan isakku pecah tak terkendali. Lihatlah, lihatlah betapa manisnya perlakuan suamiku dulu! Lihatlah, lihatlah bagaimana ampuhnya dia dalam menggoda dan merayuku.
Hingga pernikahan itu tiba. Dan sesuatu yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya, terjadi begitu saja. Justin berubah dalam sekejap, bahkan saat dimalam pertama kami menjadi suami istri.
"*Justin, kau mau kemana?"
"Kerja."
"Tapi kita baru saja menikah, Justin. Bukankah ini hari pertama kita menjadi sepasang suami istri? Lagipula, ini masih pagi dan kau sudah mau berangkat ke kantor?"
"Masalah?"
"Jelas saja masalah. Seharusnya pengantin baru akan pergi berlibur, honeymoon, atau kemanapun yang bisa membuat mereka bahagia. Bukan pergi berkerja di hari pertama."
"Jangan manja, Nicholaa."
"Aku salah apa, Justin?"
"Aku menunggumu dari semalam. Aku menantikan kejutan-kejutan manis darimu setelah aku menjadi istrimu. Tapi apa? Bahkan kau sama sekali tidak menganggapku berada di rumahmu!!"
_____
"Istri macam apa kau? Hah!!"
"Apa maksudmu, Justin?"
"Jangan coba-coba berselingkuh di belakangku, Nicholaa!!!"
"Aku tidak melakukan itu, Justin. Aku setiap kepadamu!"
"Berpelukan dengan laki-laki lain di jalanan dan pulang larut malam? Itukah? Itukah yang kau sebut Setia? Hah?"
"Dasar kau Jalang!!!!"
_____
"Apa maksudmu, Justin?! Tidak sepantasnya kau membawa perempuan lain pulang ke rumah kita, bahkan ke kamar kita!!!"
"Beraninya kau...."
"Rasakan ini!!"
Plaakkk!!
"Kau tidak berhak mengaturku! Ini rumahku, bukan rumahmu. Terserah siapa yang aku bawa pulang kemari. Apa hakmu mengatur hidupku, Jalang!!"
"Kenapa kamu tega menyakitiku, Justin?"
"Kau pantas mendapatkannya! Kau harus merasakan deritaku*!!!"
_____
Bahkan saat ini tulang rusukku seakan patah mengingat itu semua. Teramat menyakitkan bagi perempuan malang sepertiku. Aku hancur, aku hancur sehancur-hancurnya!!!
Tidak!
Cukup!
Aku sudah tidak lagi peduli denganmu, Justin!! Lukaku tidak akan pernah sembuh. Bahkan akan terus bertambah memar saat aku masih lagi dan lagi mengingatmu.
Pergi kau dari bayangku! Sejauh dan semampu yang kau mau!!
Ku seka air mataku dengan gusar. Aku benci sisi lemahku yang seperti ini! Aku tidak suka melihat diriku sendiri menangis semenyedihkan ini. Bahkan saat hari masih terlihat pagi. Bukan seperti ini cara yang baik untuk mengawali hari, bukan?
God!
Aku ingin lebih dikuatkan lagi. Aku ingin diberi kelebihan dalam menepis segala luka lara yang menyerang. Aku mohon, God. Rengkuh dan temani langkahku yang rapuh!
"Mamah!"
Benakku tiba-tiba cemas akan keadaanya. Kak Alodie berlari membawa Petter dan meninggalkan ruang rawatnya, itu artinya kini mamah tengah sendiri, bukan?
Ya Tuhan, kenapa aku meninggalkannya begitu lama?
Bergegas, kuhapus air mataku dengan menyeluruh. Ku rapikan rambutku yang mulai lusuh sebab terlalu menangis dengan tersedu-sedu tadi. Aku tidak ingin mamah melihat keadaanku yang semengerikan ini. Atau mamah akan kubuat sedih lagi dan lagi.
Dengan langkahku yang masih sedikit nyeri, aku berjalan menyusuri koridor menuju tempat mamah. Aku menghela nafas panjang berkali-kali. Berusaha menata kembali suasana diri agar tidak kembali bersedih. Menepis hal-hal ataupun ingatan yang akan membawaku dalam keterlukaan.
"Ckleeek!!" ku buka pintu ruang rawat mamah dan seketika itu pun aku terkejut melihat mamah yang tengah menangis tersedu-sedu dengan ponsel ditelinganya.
"Mamah," panggilku mendekat.
__ADS_1
"Mah, apa yang terjadi? Siapa yang menghubungi mamah?"
"Nicholaaaaaa!!" jeritnya histeris memelukku setelah menghempas ponselnya ke sembarang arah.
Deg.
Batinku mendadak resah dibuatnya.
"Mah, ada apa? Apa yang terjadi?"
"Tidak mungkin!"
"Apa yang tidak mungkin?"
"Tidak mungkin, Nicholaa!!!!
"Iya, apa, Mah?"
"Nicholaa....!!"
"Bicaralah yang jelas, ada apa?"
"Alodieeee!!!!"
"Alodie? Kenapa? Ada apa dengan kak Alodie?"
"Kak Alodie menghubungi mamaaah!!!"
"Mamah, bicaralah dengan tenang.... Kak Alodie bicara apa? Dan... Pergi kemana dia tadi?"
Mamah semakin memelukku dengan erat. Tangisnya semakin pecah dengan hebat. Mendadak, air mataku kembali lolos dari pertahanan. Perasaanku tidak enak. Apa? Kenapa dengan mamah?
Aku membelai lembut punggung mamah. Berusaha menenangkan meski aku tidak tahu apa yang sudah terjadi. Jantungku berdegup kencang memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi.
"Maaah...," panggilku selembut mungkin.
"Bicaralah, ada apa?"
Mamah meredakan isakannya, lalu menatapku dengan sendu, "mamah mohon, redamkan egomu kali ini. Mamah ingin meminta tolong...."
Aku mengernyit, "meminta tolong apa, Mah?"
"Pergilah, Nak. Suamimu-,"
"Cukup, Mah!!!!" bergegas ku hempas tangan mamah dan beringsut menjauh darinya.
"Jangan coba-coba mengatakan apapun tentang Justin kepadaku, Mah! Nicholaa mohon!!"
"Tapi, Nak. Justin sekarang tengah-,"
"Apapun itu Nicholaa tidak perduli!!!!"
"Kamu harus tau kabar ini! Atau kamu akan menyesal karena tel-,"
"Tidak akan terjadi penyesalan dalam diriku tentangnya!! Sedikitpun itu!! Mamah mengerti, kan?"
Mamah menunduk dan kembali memecah tangisnya. Aku sadar, kata-kata pun bentakanku berusan mungkin sudah berhasil membuat hati mamah terluka. Tapi aku bisa berbuat apa? Aku benar-benar tidak ingin mendengar kabar apapun tentangnya!! Sekalipun kabarnya adalah Justin tengah terbaring koma!!!
"Braaakkk!!!"
Seseorang membuka pintu ruang rawat mamah dengan gusar.
Aku terkejut dan menatapnya, "untuk apa kamu lagi-lagi kemari?!!!" ketusku mendorong tubuh Allura kasar.
"Nicholaa, kamu harus ikut aku sekarang juga."
"Untuk apa? Menyaksikan pernikahanmu dengan suamiku?"
"Cukup, Nicholaa!! Hentikan pikiran-pikiran burukmu itu padaku! Terjadi sesuatu yang kamu harus tau sekarang juga!! Kamu harus menemui Jus-,"
"Cukup, Lura!!!" aku menyeret keluar lengan Allura dan menghempasnya hingga dia tersungkur jatuh ke lantai.
Aku tidak ingin mamah menyaksikan keributanku dengan perempuan satu ini.
"Dengar!! Aku sudah tidak peduli lagi dengan dia!! Kau mengerti!!!" bentakku memecah tangis.
Allura masih bersimpuh menahan rasa sakit ditubuhnya, "kau bohong!!! Kau masih mencintainya, Nicholaa!!! Semua yang kau katakan itu hanya emosimu sementara!"
"Heii..., tau apa kau tentang perasaanku?!! Hah? Tidak ada satupun orang di dunia ini yang mampu mengerti bagaimana terlukanya aku saat ini, Lura!! Dan melihat wajahmu disini membuat lukaku semakin menjadi-jadi!!!"
"Aku tidak perduli jika kau akan memaki diriku sepuasmu!! Tapi aku mohon, kali ini, Nicholaa... Kali ini saja... Redam egomu dan ikutla-,"
"Aku bilang tidak, tidak!!! Kau ini tuli atau bagaimana? Hah?"
Allura menggeleng kepalanya tak percaya, "kau menjadi manusia yang teramat mengerikan, Nicholaa!! Kau jahat!!"
Aku tergelak mendengar itu, "ya!! Kau benar!! Dan orang jahat sepertiku berawal dari orang baik yang disepelekan, bukan?" ucapku memberikan penekanan.
"Ya! Dan kau juga harus tau, Nicholaa!! Lukamu tidak akan pernah bisa sembuh jika kau tak juga mengikhlaskan apa yang pernah terjadi. Kau akan terus dilumuri rasa perih saat api marahmu itu masih kau pelihara di dasar hati!!" Allura menumpah tangisnya.
Kenapa dia menangis?
"Semuanya sudah berakhir, Nicholaa.... Kau menang!!!"
"Aku tidak mengerti apa maksudmu. Lebih baik kamu sekarang pergi dari sini!! Sekarang juga!!!"
Allura bangun dan menyeka air matanya, "ikut denganku atau kau akan menyesal, Nicholaa!!"
"Tidak akan terjadi penyesalan apapun dalam hidupku!! Kau mengerti??!!"
Allura menggeleng kepalanya dengan kecewa.
"Aku muak melihat wajahmu, Lura!! Jika kau tak mau pergi biar aku yang mengangkat kaki dari sini!!" bentakku berlalu pergi meninggalkannya yang masih berdiri dengan air mata yang membasahi pipinya.
"Nicholaa, berhenti!!!" teriaknya yang tak ku perdulikan sama sekali.
"Nicholaaaaaaa!!!"
Batinku benar-benar hancur!! Aku tidak mengerti dengan segala ucapan Allura. Aku akan menyesal. Aku yang menang. Apa maksudnya? Terlebih saat dia berani menasihatiku seperti tadi! Tidak sadarkah dia? Sebagian luka yang aku perolah juga adalah dia sang empunya.
Aku berjalan lurus menyusuri koridor dengan langkah juga mata yang penuh luka. Masih bisa ku dengar Allura meneriaki namaku dengan suaranya yang parau. Maaf jika aku sudah menyakiti perempuan itu. Tapi batinku rasanya benar-benar tersika!
"Nicholaa.... Berhenti.... Kau harus tau sesuatu!!!"
"Jika kau tidak sudi ikut denganku, setidaknya dengarkanlah kabar ini!!!"
"Nicholaaaaa!!!"
"Berhentiiiiiii!!!!"
"Justin akan di makamkan hari ini jugaa!!!"
Deg!!
__ADS_1
Sesuatu menusuk ulu hatiku dengan sempurna!!
****