NICHOLAA JOHNSON

NICHOLAA JOHNSON
Chapter 23


__ADS_3

# AUTHOR POV


sedangkan di rumah sakit yang lain, semua orang tengah cemas menunggu dokter yang sedang memeriksa keadaan Justin. Allura, Javier, Lawrence, Megan, bahkan William, tak ada satupun dari mereka yang tidak merasa khawatir.


Bahkan William yang sempat membenci Justin sebab telah melukai Nicholaa begitu dalam, kini, merasa percaya bahwa pemuda itu benar-benar mencintai Nicholaa teramat besar. Apa yang baru saja Justin lakukan di depan matanya, di depan mata semua orang, menjadi bukti bahwa Justin tidak main-main dengan perasaannya.


"Dimana Nicholaa sekarang? Apa dia baik-baik saja?" pikirnya di sela-sela kecemasannya pada Justin.


Melihat William yang tengah duduk menundukkan kepalanya, Javier berjalan menghampiri dan duduk disebelahnya.


"Eeggghmmmm!!" Javier berdehem yang kemudian membuat William menatapnya.


"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?"


"Silahkan."


"Apa kau laki-laki yang mengantar Nicholaa pada malam hari itu?"


William mengernyit.


"Ya, kau pernah mengantar Nicholaa pulang ke rumah Justin, bukan?"


Seketika, ingatan William melayang pada kejadian beberapa minggu yang lalu. Saat dia baru tiba di Indonesia dan tidak sengaja berjumpa dengan Nicholaa di tengah jalan malam-malam, lalu mengantarkannya pulang.


"Ya, itu aku."


"Ku rasa sebab kau Justin bersikap kasar kepada Nicholaa selama ini."


"Apa maksudmu? Nicholaa temanku dari kecil, aku tidak pernah berniat membuat Justin cemburu, apalagi menghancurkan rumah tangga mereka."


Javier tersenyum lembut, "bukan, bukan seperti itu maksudku."


"Lalu?"


"Aku rasa, sebenarnya dari awal Justin sudah jatuh cinta kepada Nicholaa. Dan kekerasannya terhadap Nicholaa itu sebagian adalah bentuk api cemburu saat melihatmu mengantarnya. Kau sendiri pasti sudah tau semua tentang dinamika rumah tangga mereka, bukan?"


"Ya. Semalam Nicholaa menceritakannya kepadaku, bahkan tentang dia yang bukan anak kandung dari mamah Kayonna."


"Jadi Nicholaa bersembunyi di rumah mu, Will?" sahut Megan.


"Ya."


"Dan, bagaimana kau bisa menemukan Nicholaa di rumah William, Lawrence?" sahut Allura.


Lawrence menghela nafas beratnya, "William adalah sepupuku!"


"Astaga," Megan menggeleng tak percaya.


"Dunia ini sempit sekali," tambah Javier.


Ckleeekk


Laki-laki ber jas putih itu membuka pintu UGD. Seketika, Allura, Javier, Megan, Lawrence dan juga William, berdiri serentak.


"Bagaimana keadaan Justin, Dok?" tanya Lawrence dengan kecemasannya.


"Pasien sangat kehilangan banyak darah. Dia butuh transfusi darah dengan segera untuk membantu melawan masa kritisnya. Dan kebetulan, stok darah di rumah sakit ini yang golongannya serupa dengan pasien, kosong."


"Saya, Dok. Saya kakaknya, Dokter bisa membawa saya untuk segera melakukan pemeriksaan," sahut Megan.


"Baik, mari ikut saya."


Megan berlalu meninggalkan yang lain. Dan tidak ada satu pun dari mereka yang melepas kelegaanya. Hati dan batinnya masih sama-sama dipenuhi dengan kecemasan yang menderu deru hebatnya.


****


Sedangkan di sisi lain, Nicholaa tengah tiduran di sofa ruang rawat Kayonna sambil memeluk Petter dan menidurkan keponakannya itu di dalam dekapannya.


Alodie yang saat itu sedang menyuapkan bubur kepada Kayonna, berhenti sebab ponselnya berdering menandakan bahwa ada seseorang yang tengah menghubunginya.


"Sebentar, ya, Mah. Megan menghubungiku," ucap Alodie meletakan semangkuk buburnya di atas nakas.


Kayonna mengaguk.


"Iya, Sayang?" jawab Alodie membuka pembicaraan.


"Iya, Nicholaa ada di sini, disampingku dan mamah."


"Kenapa?"


"Apa? Transfusi darah? Siapa?"


"Kenapa, Alodie? Siapa yang butuh transfusi darah?" sahut Kayonna cemas.


"Astaga!!" kejut Alodie tak percaya, "Justin? Bagaimana bisa?"


"Apa? Justin.... Justin kenapa, Alodie? Sahut Kayonna lagi.


Alodie menatap mata Nicholaa seraya menggeleng tak percaya.


Nicholaa tersenyum miris, "tentu saja Tuan Megan lebih memilih untuk membawa Justin ke rumah sakit dan mendonorkan darah kepadanya dari pada harus mengejarku tadi. Sebab sekarang, adik kandungnya adalah Justin, bukan aku," batin Nicholaa di hati.


"Baiklah, tidak papa. Kamu jaga baik-baik Justin disana, mamah aman bersamaku."


"Iya, Sayang."


"Iya. Jangan lupa untuk memberi kabar mengenai perkembangannya."


"See you."


Tuut.


Alodie, menutup salurannya.


"Kenapa, Alodie? Apa yang terjadi dengan Justin?" tanya Kayonna cemas.


Alodie menatap cemas mata Nicholaa, "apa yang sebenarnya terjadi dengan Justin, Nicholaa?"

__ADS_1


Nicholaa tersenyum miris, "membunuh dirinya sendiri!"


"Apa maksudmu, Nak? Jawablah yang serius, ada apa dengan suamimu?" sahut Kayonna.


Lagi-lagi Nicholaa tersenyum miris, "kenapa? Mamah marah karena Nicholaa telah membuat anak kandung mamah mencoba membunuh dirinya sendiri?"


"Nicholaa, bicara apa kamu!" timpal Alodie tak terima.


"Cukup, Kak. Jika kau ingin mengetahui keadaan adik iparmu itu, datanglah ke rumah sakit dimana dia dirawat. Mamah aman bersamaku."


Alodie menghela nafasnya, "baiklah, Alodie izin menjenguk Justin, ya, Mah. Mamah baik-baik disini sama Nicholaa."


"Iya, Alodie. Kamu hati-hati, ya."


"Nicholaa, jaga Petter baik-baik."


"Iya," jawab Nicholaa dingin kemudian Alodie segera bergegas pergi.


****


# NICHOLAA POV


Aku terbangun begitu mendengar suara isak tangis yang memenuhi ruang rawat mamah. Saat mataku sudah benar-benar terbuka, aku terkejut melihat mamah yang sedang memecah tangis di dalam dekapan kak Alodie, yang mungkin pagi ini baru pulang dari rumah sakit dimana Justin dirawat.


Tapi, wait!


Ada apa dengan mamah?


Aku beranjak bangun pelan-pelan supaya Petter tidak terbangun. Aku menghampiri kak Alodie yang sedang membelai lembut punggung mamah.


"Mamah tenang, ya. Alodie yakin, Justin pasti bisa melewati ini semua!"


Mendengar itu, dadaku mendadak sesak setelahnya.


Mengurungkan niatku untuk mendekati kak Alodie, aku bergegas pergi keluar untuk menjauh dari kabar yang tidak ingin aku dengar tentangnya. Entahlah, aku tidak mau mendengar kabar apapun tentang Justin. Aku tidak ingin mendengar sesuatu yang buruk-buruk tentangnya. Aku ingin acuh, aku ingin tidak perduli.


Aku mencuci wajah sembabku di wastafel toilet wanita di sekitar rumah sakit ini. Lalu kuamati baik-baik raut sendu yang akhir-akhir ini memenuhi wajahku.


God, aku belum pernah menemukan diriku secerah sebelum aku menikahi manusia misterius itu.


Aku membalikkan tubuhku dan menghela nafasku pelan. Sesaat, aku menunduk mengamati kakiku yang masih berbalut perban putih. Kemudian air mataku menetes, apa memang harus semalang ini nasibku?


Aku menggeleng kepalaku tak percaya. Entah, batinku rasanya sakit sekali. Benakku selalu saja memikirkan Justin, Justin, dan Justin. Tapi ragaku menolak akan hal itu.


Dua rasa dalam diriku seakan bertarung memperebutkan kemenangan. Antara benci dan cinta. Antara acuh dan cemas! Entahlah, tubuhku ingin enggan tapi hatiku menolak untuk tidak memikirkan!!


Menutup telinga dari kabar-kabar mengenai Justin mungkin akan sedikit membantuku tidak memikirkan manusia misterius itu. Ya. Aku tidak boleh lemah dan luluh begitu saja. Aku belum bisa memaafkan segala kesalahannya. Belum bisa. Sekalipun rindu ini lebih dahulu meraja lela.


Setelah puas menenangkan diri di kamar mandi. Aku kembali ke ruang rawat mamah dan memanggil suster untuk mengganti perban di kakiku. Bisa kulihat mata mamah masih sembab sebab tangisnya.


"Selesai," ucap Suster muda itu membuyarkan lamunanku.


Aku tersenyum dan berucap terimakasih padanya sebelum dia berlalu pergi meninggalkan ruang rawat ini.


Aku berdiri dan melangkah dengan kakiku yang masih sedikit memar, "mah, aku keluar sebentar, ya."


"Mau kemana, Nak?"


Kak Alodie yang sedang memandikan Petter di dalam kamar mandi, berteriak, "cepat pulang dan jangan menghilang lagi."


Aku hanya mengaguk, kemudian berlalu pergi.


****


"Silahkan, Nona," ucap pelayanan itu menyuguhkan secangkir kopi coklat dihadapanku.


"Terimakasih," jawabku padanya.


Aku kini tengah berada di salah satu Cafe yang tak jauh tempatnya dari rumah sakit dimana mamah di rawat. Terakhir kali aku memanjakan diriku bersantai meminum kopi di sebuah Cafe adalah beberapa hari sebelum aku menikah dengan Justin. Dan ini adalah yang pertama kalinya lagi.


Setelah pelayan itu membungkuk dan pergi dari mejaku, aku menatap sendu hangat kopi yang mengepul panas di depanku. Sehampa ini hidupku sekarang, sekosong dan sesepi seolah aku benar-benar tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini.


Aku pernah meninggalkan keluarga Johnson dan hidup serumah bersama Justin seorang, tapi aku masih merasa ramai dan damai dalam setiap keadaan. Tapi sekarang? Kembali bersama mamah dan yang lainnya, meninggalkan Justin seorang, kenapa hidup rasanya bisa sehampa dan sekosong ini?


Oh, God.


Kuatkan aku.


Aku menyeduh kopiku dengan pelan. Merasakan kehangatan yang menjalar dalam tubuhku. Berusaha membuat hidup dan hatiku setenang mungkin. Berusaha melupakan segala hiruk pikuk yang berhasil menciptakan prahara dalam kehidupanku.


"Nicholaa?" panggil seseorang membuatku mengerjap terkejut.


Aku meletakkan kopiku kembali diatas meja, "Javier?" panggilku tak percaya.


Javier menarik kursi dan duduk dihadapanku, "kau disini?"


"Ya. Dan untuk apa kau kemari? Jika kau sengaja mencariku lalu berniat memberiku kabar mengenai Justin. Maka, sebelum kau berbicara, dengan senang hati kuperintahkan kamu untuk pergi sekarang juga!" ucapku panjang lebar.


Javirr tersenyum, "kenapa?"


"Apapun alasanku, bukan urusanmu."


"Baiklah. Aku tidak akan membicarakan apapun mengenai suamimu. Btw, aku lega bertemu denganmu di sini. Kau tau? Aku mencemaskan kehilanganmu."


Aku menatap bingung kedua mata Javier, "mencemaskanku?"


"Ya. Dalam artian, aku takut terjadi sesuatu padamu. Mengingat, kemarin kau pergi dengan luka-luka yang masih basah. Dengan rasa perih yang membuat sesak di dadamu semakin memuncak."


"Maksudmu, kau takut aku melukai diriku sendiri?"


"Benar."


Aku tertawa kecut mendengar itu, "Javier, jiwa dan ragaku sudah cukup terluka semenjak aku tinggal di istana manusia misterius itu. Jadi, sangat bodoh jika aku berlari hanya untuk menyakiti diriku sendiri."


"Aku mengerti, ta-,"


"Cukup, Javier!!" selaku memotong pembicaraannya.

__ADS_1


"Lebih baik kamu pergi dari sini! Aku tidak ingin membicarakan apapun lagi tentangnya! Camkan itu!!"


Javier menghela nafasnya, "baik... baik. Tapi satu hal, Nicholaa. Kau tau kan bahwa penyesalan itu adanya di akhir? Justin telah merasakan itu. Dan dengan sikapmu yang seperti ini, jangan menyesal kalau kau juga akan turut merasakannya, permisi!" ucap Javier memberikan penekanan pada kalimatnya yang terakhir, kemudian berlalu pergi.


Lagi lagi air mataku lolos dari pertahanan, "tidak!! Itu tidak akan terjadi!! Aku tidak akan menyesal karena telah menutup diri dari Justin! Aku tidak akan pernah menyesal karena telah memilih bersikap acuh dan bodoh amat bahkan ketika mungkin kini dia tengah mati-matian mempertahankan hidupnya di rumah sakit!"


****


"Ckleeek!"


Setelah puas bersedih ria di Cafe, aku kembali dan membuka ruang rawat mamah. Dan seketika itupun aku terkejut mendapati mamah yang sendirian, terlebih saat melihat matanya yang begitu sembab.


"Mah," panggilku duduk dan membelai lembut bahunya.


Mamah menatapku sayu.


"Kak Alodie sama Petter, dimana?"


"Pulang...."


Suara mamah bergetar. Bisa kutahu dadanya menahan isak. Ada apa dengan mamah? Apa kabar tentang Justin yang diberikan kak Alodie pagi tadi benar-benar begitu mengenaskan? Hingga membuat mamah seperti ini.


"Emm, Mamah baik-baik saja, kan?"


Dadaku mendadak sesak saat mamah hanya menjawab dengan senyum dan anggukan kepala. Hatiku berontak, seakan batinku tersiksa dengan ini semua.


Apa yang terjadi dengan Justin sebenarnya?


Kenapa saat semakin aku berusaha tidak peduli, hatiku semakin pecah menahan segala rasa-rasa yang membatin di hati? Beribu kecemasan mengendap tak ingin terlihat. Ku paksa dalam-dalam untuk mengalah dan berpura acuh. Acuh seacuh-acuhnya!


Tapi pada kenyataannya apa? Tidak ada yang mampu mengalahkan jujurnya hati juga perasaan yang ada. Aku, mencemaskannya!


Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Seharusnya aku juga mampu bersikap jahat sebagaimana Justin memperlakukanku dulu. Tapi, Naluriku sebagai perempuan, juga perasaan dalamku yang enggan, membuatku kalang kabut menghadapi kenyataan.


Aku tidak ingin luluh. Aku benci pada Justin. Ya, aku benci, sangat membencinya!!


"Ckleeekk," seseorang masuk dan membuatku terkejut.


"Megan?" panggil mamah menyapanya.


Aku beringsut pindah ke sofa untuk memberikan waktu kak Megan berbincang dengan Mamah. Entah, melihat kak Megan juga turut membuat jantungku mendadak lemah.


Kak Megan duduk dan mencium tangan Mamah, "maafkan Megan, ya, Mah," ucapnya parau.


"Maaf kenapa, Megan?"


"Maaf sudah meninggalkan mamah semalaman."


"Tidak, tidak masalah. Justru mamah bersyukur kau ada di sana menjaga Justin."


Kak Megan menundukkan kepalanya, "kita berdoa sama-sama untuknya, ya, Mah."


Mamah meneteskan air matanya dan memeluk kak Megan, "iya, Sayang."


Sumpah demi apa air mataku lolos saat ini juga. Tidak ada lagi kata-kata pun sesuatu yang dapat menggambarkan perasaanku. Rasanya benar-benar sakit! Sangat sakit! Terlebih sikap kak Megan yang acuh dan seolah tidak menganggapku ada.


Wajah Justin yang saat itu tengah terkapar penuh lumuran darah tiba-tiba melintas dibenakku, menganggu dan semakin mengacaukan pikiranku. Membuat sesakku memuncak, membuat jantungku berdebar lebih kencang, membuat seluruh urat nadiku berdesir hebat.


"Kau tau kan bahwa penyesalan itu adanya di akhir? Justin telah merasakan itu. Dan dengan sikapmu yang seperti ini, jangan menyesal kalau kau juga akan turut merasakannya, permisi!"


Terlebih ucapan Javier kala itu. Kembali terngiang dan memporak porandakan benteng pertahananku.


****


Setelah kak Alodie kembali, malam ini, aku memilih untuk menenangkan diriku di taman rumah sakit dimana mamah dirawat.


Aku hanya bisa diam, seribu bahasa. Membiarkan alam dan semesta menyaksikan, bahwa di bumi terdapat perempuan yang semenderita aku, sekarang. Membiarkan bulan dan ribuan cahaya bintang turut mendoakan, supaya hatiku segera sembuh dan dipulihkan, oleh Tuhan.


Aku tidak meminta lebih. Aku hanya ingin diberikan petunjuk, mengenai apa yang harus aku lakukan? Dan jika diizinkan, sungguh, aku ingin diberi kemampuan untuk acuh, untuk kuat, untuk mampu menutup diriku dalam-dalam dari dia, manusia yang tak berperasaan.


"Nicholaa!"


Seseorang membuyarkan lamunanku dan dengan segera kuhapus air mataku.


"Kau!!!" geramku terkejut.


"Untuk apa kau kemari?"


"Kau harus melihat kondisi Justin sekarang juga, Nicholaa!!"


"Tidak!!!" bentakku menghempas tangannya yang berusaha menarikku.


Dia memandang kecewa mataku, "Nicholaa, dia suamiku!!"


"Aku tidak peduli!!!"


"Hei, apa yang sudah merasukimu?"


"Setan yang pernah merasuki Justin juga mungkin!"


"Tapi, Nicholaa, kau benar-benar harus melihat kondisinya sekarang juga!!"


"Cukup, Allura!! Tutup mulutmu! Kamu sama Javier itu sama saja!! Sama-sama pemaksa dan tidak mengerti bagaimana perasaanku!!"


"Kami bukan tidak mengerti perasaanmu!"


"Lalu apa? Sudah! Cukup! Biarkan saja Justin menerima apa yang seharusnya dia terima!! Bahkan, apa yang dialami Justin sekarang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang kualami dulu, Lura!!!"


"Ta-,"


"Cukup!! Sekarang kamu pergi dari sini!!!"


"Tidak!! Karena aku kesini ingin menemui Nyonya Kayonna!!"


Sungguh, mataku melebar mendengar itu, "untuk apa? Hah? Untuk memberitahukan kepadanya bahwa kau adalah calon menantunya begitu? Hum? Untuk bilang kepada mamah Kayonna kalau kamu adalah seseorang yang dicintai Justin, putranya?"


Allura menggeleng pelan kepalanya, "pikiranmu terlalu jauh, Nicholaa! Aku harap Tuhan segera memulihkan hati dan juga kewarasanmu itu!!!" ucapnya berlalu pergi menuju ruang rawat mamah.

__ADS_1


Aku kembali duduk dan bersimpuh memecah tangisku! Pikiranku bimbang!! Allura benar, warasku hilang!


****


__ADS_2