NICHOLAA JOHNSON

NICHOLAA JOHNSON
Chapter 2


__ADS_3

# AUTHOR POV



"Malam ini dia menunggumu di Cafe untuk menagih jawabanmu, Nicholaa."



"Maafkan aku, Tuan Megan. Tapi adik perempuanmu ini tidak bisa."



"Apa kau sudah memikirkannya? Seorang adik tidak mungkin tega melihat kakaknya hidup dalam ancaman, bukan?"



"Dan seorang kakak tidak mungkin tega menyaksikan adiknya menikah dengan seseorang yang tidak dicintainya."



"Cukup! Kalian berdua sama-sama egois," timpal Alodie, "hentikan semua paksaanmu terhadap Nicholaa, Megan. Biarkan saja dia menolak lamaran itu. Aku siap hidup gelandangan denganmu. Aku berjanji akan menemanimu berkarir dari bawah lagi. Aku juga akan kembali berkerja di Cafe untuk membantu keuanganmu, untuk menanggulangi biaya mamah di rumah sakit."



"Seharusnya kau bersyukur memiliki istri yang baik, Tuan Megan. Bukan memaksa adikmu ini untuk menyelamatkan hidup kalian, permisi!"



Itu kejadian terakhir pagi tadi yang kini membuat Nicholaa memeluk mamahnya yang masih terbaring lemah di rumah sakit. Menyandarkan kepalanya di dada seorang bunda yang selalu mampu membuat hatinya merasa tenang.



Mengingat kejadian itu, ada sedikit penyesalan di hati Nicholaa. Dia terlihat sangat tidak berperasaan ketika berbicara dengan kedua kakaknya. Bagaimana mungkin dia bisa mementingkan perasaannya sendiri? Nicholaa benar-benar menyesal. Ucapan terakhir kak Alodie membuatnya bergidik ngeri sampai sekarang. Kalau mereka menjadi gelandangan, itu artinya dia akan termasuk juga, bukan? Selama ini megan yang menghidupinya. Tanpa mereka, dia tidak akan bisa menjadi Sarjana seperti sekarang. Lalu, pantaskah dia membalas kebaikan kakaknya itu dengan menjadikan mereka gelandangan? Nicholaa benar-benar tidak percaya dengan sikapnya sendiri.



Tangisnya yang mulai tersedu-sedu membuat wanita lemah itu terbangun.



"Nicholaa, kau ada di sini?"



Nicholaa tergertak sadar dan bergegas menghapus air matanya, "Mamah?"



"Apa yang terjadi? Kau terlihat tidak baik-baik saja."



"I am fine, Mom," ucapnya tersenyum, "aku hanya merindukanmu."



"I miss you to, Honey."



Nicholaa tersenyum.



"Petter apa kabar, Nocholaa? Aku sangat merindukannya."



Nicholaa terdiam. Kabar Petter. Bagaimana mungkin Nicholaa menjawab bahwa kehidupan Petter sebentar lagi akan mengenaskan? Itu akan membuat mamahnya semakin drop.



"Nicholaa?"



"Petter baik-baik saja, Mah."



"Good. Dia harus berkembang dengan baik."



Lagi-lagi Nicholaa terdiam. Dia bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana nanti jika mamah tau keadaan keluarga mereka sebenarnya.


****


# NICHOLAA POV



William benar-benar tidak pernah mengirim kabar. Aku tidak tahu harus bercerita tentang masalah ini dengan siapa lagi. Aku pikir ketika aku memutuskan untuk pergi ke rumah sakit, aku bisa bertemu dengan lelaki misterius itu di jalan. Tapi sampai sore ini aku tidak bertemu dengannya. Dimana dia? Apa dia benar-benar tidak akan muncul kembali dalam kehidupanku? Atau, dia sedang menepati janjinya untuk mengurus CEO itu supaya tidak bisa lagi mengangguku? Oh God, apa yang bisa aku perbuat?



Tanganku melambai menghentikan taksi yang melaju pelan dari utara. Cukup sudah untuk menunggumu, Tuan Misterius. Hari sudah sore, masih banyak yang harus aku lakukan dirumah untuk membantu kak Alodie menyelesaikan semua pekerjaan.



"Jalan, Pak," perintahku kepada supir taksi yang siap mengantarkanku menuju kediaman.



Aku memandang kosong ke luar jendela. Apa lagi yang harus aku pikirkan sekarang? Semuanya terlalu mendera, hingga aku kewalahan menentukan berbagai keputusan yang harus aku tetapkan.



Papah. Aku sangat merindukan sosok itu dalam hidupku. Dia terlalu cepat meninggalkan dunia ini bahkan sebelum aku mengerti segalanya. Truk bermuatan bahan bangunan menabraknya hingga berhasil membuat papah mengakhiri nafasnya 16 Tahun yang lalu. Mengenaskan sekali. Seharusnya bukan sekejam itu maut merenggut nyawa papahku, bukan?



Mataku mengerjap ketika pemandangan di trotoar itu mengejutkanku. Perempuan kecil dengan bajunya yang cabik-cabik tengah memijat wanita paruh baya di sampingnya. Kenapa mereka berada di situ? Hari sudah hampir malam, seharusnya mereka segera pulang.



"Berhenti," perintahku, "tunggu di sini sampai saya kembali," lanjutku beranjak turun setelah supir taksi itu menginjak remnya.



"Baik, Nona."



Aku berlari kecil menghampiri dua manusia yang berhasil menarik perhatianku sekaligus membuyarkan lamunanku tadi. Bahkan senja mulai menyemburat menunjukkan pesonanya, tetapi mereka masih berada di sana dalam ramainya jalanan kota?



"Hei, Nona kecil? Apa yang kau lakukan di sini bersama ibumu?" tanyaku berjongkok sambil mengusap rambutnya yang kusut.



"Ibuku sedang sakit, Kak."



"Lalu, kenapa tidak segera kau bawa ke rumah sakit?"



Perempuan itu memeluk ibunya, "untuk makan saja kami menunggu sisa-sisa kalian di sampah, Nona cantik."



Shit, jawaban apa itu?



"Apa yang kau katakan?"



"Kami hidup di jalanan."



Hatiku terenyuh. Banyak mimpi yang masih harus diraih olehnya. Tapi di usianya yang masih kecil, dia sudah harus mengais sisa-sisa makanan untuk menghidupi ibunya yang sedang sakit-sakitan. Lebih parahnya, di jalanan. Aku yang sudah berusaha 22 Tahun saja masih suka menangis tatakala mengingat ibuku yang terbaring lemah dirumah sakit. Tapi perempuan seusianya, kenapa dia bisa bersabar pun setegar ini? Lihatlah tubuh mungilnya, bahkan dia masih pantas berada di pelukan seorang ibu. Tapi kini, justru tangan kecilnya lah yang harus merengkuh erat-erat tubuh lemah ibunya. God, beginikah kondisinya menjadi seorang gelandangan?



"Kenapa kau melamun, Kak?" perempuan itu mengembalikan kesadaranku.



"Mari ku bantu kalian."



"Bantu?"



"Ada supir taksi di sana, dia akan mengantar ibumu ke rumah sakit."



"Apa kau bercanda?"



"Apa aku terlihat seperti itu?"



Perempuan itu melepas senyumannya, "semoga Tuhan memudahkan urusanmu, Nona."



"Semoga Tuhan memberikan banyak rezeki untuk kalian."



"Terimakasih, bisa kau bantu aku untuk membawa ibuku?"



"Tentu saja."



Aku meraih tangan kanan wanita paruh baya itu, "permisi, Bibi," ucapku mulai menuntunnya berjalan.



Tidak terbayang jika ini terjadi kepada keluargaku. Tidak bisa kubayangkan bagaimana wajah tampan Petter ketika dia harus berada dijalanan seperti ini. Bahkan saat ini air mataku lolos dari pertahanan. Dimana sebuah kesejahteraan? Bagaimana bisa dibilang merdeka Negara ini jika masih saja ada kaum-kaum tertindas di jalanan?



"Antarkan mereka ke rumah sakit. Dan bantu gadis kecil ini membawa ibunya nanti," perintahku kepada supir.



"Baik, Nona."



"Ini untuk ongkos taksimu, dan ini untuk biaya ibumu selama dirumah sakit nanti," ucapku pelan seraya mengeluarkan seluruh uang yang ada di dompetku. Biarlah, aku sangat tidak mungkin tega melihat mereka tidak terurus seperti ini.


__ADS_1


Gadis kecil itu terkesiap, "apa ini tidak berlebihan, Nona?"



"Tidak, Cantik. Sudah, pergilah. Maaf aku tidak bisa mengantar kalian, masih ada urusan yang harus aku selesaikan."



"Tidak masalah. Ini sudah membuatku berhutang budi banyak kepadamu."



Aku tersenyum mendengar itu, "aku tidak memintamu untuk memikirkan itu."



"Tapi aku yang akan membalas kebaikanmu."



"Terimakasih."



"Semoga kita bisa bertemu kemudian."



Aku melambaikan tanganku begitu taksi itu berlalu. Bisa kurasakan bagaimana bahagianya gadis kecil itu dapat membawa ibunya ke rumah sakit. Ya Tuhan, berikanlah kepada mereka kehidupan yang lebih baik lagi dari sekarang.



Sekarang apa? Bagaimana caraku pulang? Aku sudah tidak membawa uang lagi untuk mencari taksi lain. Kak Megan, dia pasti sekarang sedang berada di perjalanan menuju pulang. Ya, semoga.



Tapi, aku baru saja bertengkar dengannya pagi tadi. Terlalu gengsi untukku meminta pertolongan. Aah, sudahlah. Aku harus pandai meredakan egoku mulai sekarang.



"Apa kau sedang perjalanan dari kantor? Aku ikut pulang," ucapku setelah kak Megan menerima panggilanku.



"Baik, aku tunggu di sini."



Tidak lama dari itu, mobil kak Megan menepi tepat di depanku. Dengan segera aku masuk dan dia langsung kembali menancap gasnya. Lihatlah pemuda yang sudah berusia 30 Tahun keatas ini, wajahnya selalu terlihat letih begitu dia pulang berkerja. Membanting tulang untuk menghidupi keluarga, bahkan untuk menghidupiku.



Klik



Pintu mobil dikunci otomatis oleh kak Megan setelah aku dan dia turun dan beranjak masuk ke rumah kami. Dia diam dari tadi. Ada apa? Apa dia masih marah kepadaku karena kejadian pagi lalu? Sorry for my attitude, Mr. Megan.



"Kak?" panggilku tidak membuat langkahnya terhenti.



"Kak Megan?" panggilku lagi mengikutinya yang sedang menghampiri kak Alodie di ruang tengah.



"Aku pulang, Sayang," ucapnya memberikan tas kerja kepada kak Alodie dan mencium kening istri tercintanya itu.



"Kak?"



"Mandilah dan mari kita makan malam," jawab kak Alodie. Oh God, bahkan mereka sama sekali tidak mempedulikanku.



"Kak?"



"Kak Megan?



Ishhh... Apa ini? Mereka mendiamiku dan malah berlalu pergi?



"Bisakah kalian berhenti dan mendengarkan seorang adik yang ingin berbicara?!!!"



"Hei????"



Isshhhh



"Nicholaa Johnson bersedia menemui CEO perusahaan itu, Tuan Megan!!!"



Mereka berhenti.


****



"Justin Clayton," lirihku pelan. Ya, nama itu yang di sebut kak Megan sebelum aku berlalu pergi.



Jantungku berdetak ketika kudengar suara langkah kaki di belakangku yang kian lama kian mendekat. Dia sudah datang. Kata kemenangan seperti apa yang akan dia sombongkan kepadaku nanti? Lihat saja, menemuimu bukan berarti aku menerima lamaranmu, Tuan. Aku hanya akan menanyakan seberapa besarkah kekuasaanmu di dunia ini sampai kau bisa melakukan segalanya. Bahkan seorang Megan Johnson kini telah berada dalam taklukanmu. Itu mengejutkan. Tapi aku tidak. Lihatlah, aku akan menghujam beribu-ribu ancaman kepadamu malam ini. Aku tidak akan menyerahkan takdirku kepadamu begitu saja, dan aku tidak akan membiarkan keluargaku menderita.



"Selamat malam, Nona?" sapanya membuatku terkesiap.



Suara itu.


Aroma maskulin itu.



Dengan sekali gerakan aku berdiri dan menghadap ke arahnya. Oh, God. Dia? Dia? Penampilannya sangat berbeda. Mataku seakan tidak mampu mengerjap, takut sekaligus tidak rela jika seseorang yang berada di hadapanku akan pergi begitu saja. Kemarin dia sangat tampan dengan kaos biru muda yang melekat ditubuhnya. Dan sekarang? Tuxedo hitam dengan dasinya yang selaras itu mampu membuatnya berjuta-juta kali lebih tampan, lebih gagah nan perkasa dari Raja di Bangsa Eropa.



"Kau????" kejutku yang justru membuatnya tersenyum dan menghampiriku.



"Ya, ini aku," jawabnya duduk di hadapanku.



Aku kembali duduk, "aku pikir kau CEO kasar itu, Tuan misterius."



Dia tertawa, "Tuan misterius?"



"Ya, kau begitu misterius bagiku. Seperti malam ini. Bagaimana bisa kau tiba-tiba datang di saat aku tengah menunggu seseorang? Apa yang sudah kau lakukan hingga membuat seorang Justin Clayton gagal menemuiku? Apa kau baru saja membunuhnya? Kau benar-benar menepati janjimu untuk menyingkirkan dia dari hidupku? Oh, terimakasih, Tuan," ucapku panjang lebar menunjukkan kelegaanku.



"Kau salah paham, Nicholaa."



Aku menautkan kedua alisku.



"Justin Clayton tidak gagal menemuimu," lanjutnya.



"Lalu?"



"Dia berada di sini sekarang."



"Dimana?"



Dia tersenyum, aku semakin bingung dengan sikapnya.



"Kenapa?"



"Perkenalkan. Aku Justin Clayton, CEO Perusahaan besar yang telah melamarmu."



Mataku melebar, jantungku mendadak lupa cara berdetak dengan benar.


****


# JUSTIN POV



Aku yakin, dia akan terkejut dengan kehadiranku malam ini. Bagaimana tidak? Dia pasti tidak pernah mengira bahwa Justin Clayton yang telah melamarnya adalah seseorang yang satu hari lalu telah menolongnya. Aku telah mengenal banyak tentangnya, bahkan tentang keluarganya.



"Nyonya Nicholaa telah menunggu anda di dalam, Tuan," ucap pelayan Cafe ini yang bertugas menyambutku di depan.



Aku hanya diam dan masuk begitu saja, mencari di meja sebelah mana Nicholaa menunggu pelamarnya, menungguku yang akan membuatnya terkejut melihatku dengan penampilan yang sangat berbeda.



Langkahku terhenti ketika kudapati seorang perempuan bak Putri Kayangan tengah duduk membelakangiku. Rambutnya yang hitam panjang begitu indah tertata. Ada sedikit di sisi kanan dan kiri yang dia kepang, lalu ia kaitkan keduanya kebelakang.



Ku langkahkan kakiku mendekatinya. Saat itu juga punggungnya menegang. Bisa kutau, jantungnya mungkin saat ini tengah berdetak tidak karuan mendengar langkah kaki yang berjalan mendekatinya. Aku tersenyum, menantikan wajah keterkejutannya itu.


__ADS_1


"Selamat malam, Nona?" sapaku membuatnya terkesiap.



Lihatlah, dia bahkan berdiri begitu lama menyambut kehadiranku. Apa yang dia pikirkan? Apa dia tengah menilai penampilanku yang begitu menawan? Ya, tentu saja aku menawan. Aku bisa melakukan apapun di dunia ini. Siapa yang tidak jatuh cinta kepada seorang Justin Clayton? CEO perusahaan besar yang masih berumur 25 Tahun. Usiaku masih begitu muda untuk menyandang gelar kesuksesanku. Tapi kegigihan, kecerdasan dan segala motivasi yang aku punya, mampu membuatku sukses di usia muda.



"Kau????" sudah kuduga, dia pasti terkejut.



Aku tersenyum lalu menghampirinya, "Ya, ini aku," jawabku duduk di hadapannya.



"Aku pikir kau CEO kasar itu, Tuan misterius."



Aku tertawa mendengar panggilan itu, "Tuan misterius?"



"Ya, kau begitu misterius bagiku. Seperti malam ini. Bagaimana bisa kau tiba-tiba datang di saat aku tengah menunggu seseorang? Apa yang sudah kau lakukan hingga membuat seorang Justin Clayton gagal menemuiku? Apa kau baru saja membunuhnya? Kau benar-benar menepati janjimu untuk menyingkirkan dia dari hidupku? Oh, terimakasih, Tuan," ucapnya lebar.



Astaga, jadi dia mengira bahwa Justin Clayton adalah lelaki yang selama ini mengejarnya?



"Kau salah paham, Nicholaa," ucapku membuatnya kebingungan.



"Justin Clayton tidak gagal menemuimu," lanjutku.



"Lalu?"



"Dia berada di sini sekarang."



"Dimana?"



Aku tersenyum, membuat Nicholaa semakin bingung dengan sikapku.



"Kenapa?" tanyanya.



"Perkenalkan. Aku Justin Clayton, CEO Perusahaan besar yang telah melamarmu."



Matanya melebar, sudah kuduga, dia tidak menyangka.



"Apa kau bercanda?"



"Tidak."



Dia terdiam, matanya menyimpan penuh sejuta pertanyaan. Entah apa yang sedang dia pikirkan, aku tidak mampu menebaknya kali ini.



"Berdansa denganku, Nona?" ucapku mengulurkan tangan.



Tidak ada sedikitpun pergerakan dari Nicholaa, dia masih terdiam mengatur nafasnya. Apa malam ini terlalu dan begitu mengejutkan baginya? Hingga mendadak dia menjadi kaku seperti ini.



Perlahan, dia meraih tanganku. Aku tersenyum seraya menuntunnya berdansa sesuai dengan irama lagu yang mengalun syahdu di Cafe ini. Tangan kami menyatu, sementara tangan kiriku melingkar di pinggang rampingnya, dan sebelah tangannya menyentuh lembut dadaku yang bidang.



"Justin?" panggilnya lirih.



"Ya?" jawabku.



"Kenapa kau melamarku?"



Aku tersenyum, "karena aku ingin menikah denganmu."



"Lalu? Kalau aku tidak menerima lamaranmu, apa kau benar-benar akan mengambil alih kekuasaan perusahaan kakakku?"



"Hutang Tuan Megan tidak kecil, Nicholaa. Bahkan semua aset di perusahaannya saja belum cukup untuk menebus semuanya."



"Sebesar itukah?"



"Ya," jawabku penuh keyakinan, "kenapa? Apa kau tidak bersedia menerima lamaranku?"



Nicholaa melepasku.



"Tapi aku belum mengenalmu, Justin," jawabnya tertunduk, "kau begitu misterius bagiku."



Aku tersenyum, "bukankah akan lebih indah jika aku tetap misterius bagimu, Nicholaa?"



"Tapi pernikahan itu bukan perihal main-main, Justin."



Tanganku meraih wajahnya, membuat kedua mata kami kembali bertemu, "tidak ada yang main-main, Nicholaa. Aku teramat sangat serius ingin menikahimu."



"Berikan aku waktu dua hari untuk mengenalmu. Setelah itu aku akan menjawab lamaranmu."



Aku tersenyum, "dengan senang hati, Nona."


****


# NICHOLAA POV



Entah kejutan apa lagi yang kudapatkan malam ini. Justin? Bagaimana mungkin? Ternyata lelaki yang melamarku adalah seseorang yang aku cintai. Pantas saja saat itu dia tahu dimana rumahku, dia tahu namaku. Ternyata, dia rekan bisnis kak Megan yang selama ini menyimpan perjanjian tanpa sepengetahuanku itu.



Jika saja dari awal aku tau kalau dia yang melamarku, untuk apa aku repot-repot bertengkar dengan kak Megan dan kakak ipar hanya untuk menolak sebuah lamaran. Sudah pasti akan aku terima dengan senang hati. Tapi tadi, aku sengaja meminta waktu dua hari untuk memikirkan jawabannya. Oh, jelas saja itu hanya akal-akalanku semata. Sebagai perempuan, aku tentu memiliki rasa gengsi yang besar untuk menerima lamaran seseorang yang baru saja dikenal. Sekalipun aku telah jatuh cinta dari pertama kali bertemu, tentu saja dia tidak boleh tau tentang sebenarnya perasaanku.



Rasanya aku tidak ingin mengganti bajuku. Aroma maskulin itu seakan masih melekat di setiap jengkal pakaianku. Suaranya, tampan wajahnya, tinggi dan betapa kekar tubuhnya. Oh, mengingatnya saja sudah membuatku gila. Astaga.



"Nicholaaaa?!!" Aku tergertak sadar begitu suara kak Alodie menembus gendang telingaku.



"Kau mengejutkanku, Nyonya!"



"Hei, apa kau sudah gila? Dari tadi aku melihatmu tersenyum memeluk guling tidurmu itu."



"Ya, aku gila," ucapku beranjak bangun dan menghampirinya, "seharusnya aku tidak perlu repot-repot bertengkar denganmu hanya masalah lamaran itu, Nyonya Alodie. Sebab kau tau? Dia begitu tampan," bisikku lalu berlalu pergi menuju ruang makan.



"Lalu? Itu artinya kau menerima lamarannya, bukan?" teriak kak Alodie mengikutiku di belakang.



"Belum. Bersabarlah."



"Why?"



"I need a few days to know him farther."



"Itu tidak perlu, Nicholaa!"



"Sudahlah. Cepat siapkan makan malamku, Kakak Ipar!"



"Hei, kau tidak mengganti pakaianmu terlebih dahulu?"



"Aromanya melekat pada bajuku. Itu membuatku serasa terus bersamanya!"



"Oh, Nicholaa. Kau benar-benar sudah gila!"


****

__ADS_1


__ADS_2