
# JUSTIN POV
Dengan segala sesuatu yang sudah disiapkan Lawrence dan partnernya beberapa hari yang lalu, kini pernikahanku berjalan dengan lancar. Satu hari yang aku nantikan untuk memulai segalanya. Ya, segalanya.
Semuanya terlihat sangat menikmati acara pesta ini. Rekan kerjaku, teman-teman dan juga keluarga Nicholaa, semua sangat bergembira malam ini, turut memeriahkan hari spesial yang kunanti akhirnya terjadi. Sayangnya, mamah Kayonna tidak bisa hadir dan menyaksikan pernikahan putrinya, dia hanya memberi restu dan meminta maaf kepadaku dan Nicholaa sebab dia tidak diperkenankan pulang oleh pihak rumah sakit.
Tapi itu tidak mengurangi kelancaran yang sudah berjalan dari tadi. Lihatlah, semuanya nampak turut bergembira. Sepertiku dan Nicholaa. Kami tengah berdansa pada tempat yang menjadi sorot utama. Gaun putih pengantin melekat sempurna pada tubuhnya. Juga tuxedo hitam yang membuatku terkesan lebih maskulin.
Aku menatap intens mata istri sahku. Senyumnya mengembang menambah frekuensi cantik di wajahnya bertambah dua kali lipat.
Drrrrrtttt....
"Justin, ponselmu berdering," ucapnya memberitahu.
"Tidak penting," jawabku tanpa mengalihkan padangan mataku.
Drrrttttt....
"Berdering lagi, Justin. Angkatlah, siapa tahu penting."
Aku berdecak, kulepas salah satu tanganku dari pinggang Nicholaa lalu meraih ponselku dan melihat siapa yang saat ini tengah menelponku.
*Javier?*
Tut.
"Kenapa direject?" sahut Nicholaa,"siapa?" lanjutnya.
Cluntiing.
"Itu berbunyi," kata Nicholaa lagi.
Aku menghela nafas. Javier ini benar-benar kurang kerjaan. Setelah telponnya kutolak, kini dia mengirim pesan untukku.
*Hai, Sialan! Bagaimana pesta pernikahanmu? Maaf tidak bisa pulang dan turut merayakan. Ternyata kau sudah berhasil menjalankan misimu? Secantik apa dia? Dan apa rencanamu setelah ini? Satu hal untukmu, Brother. Kau benar-benar sudah GILA!*
Aku tersenyum kecut membaca pesannya. Dengan satu tangan, aku mengetik pesan untuk kubalas padanya.
*Diamlah! Kau hanya perlu menyaksikannya, Bodoh!*
Send.
Kemudian ku *silent* ponselku lalu ku masukan kembali dalam saku celanaku.
Ku lingkarkan kembali tanganku pada tubuh Nicholaa, lalu tersenyum kepadanya.
"Siapa?" tanyanya.
"Tidak penting."
"Lalu?"
"Hanya seseorang yang mengucapkan selamat atas pernikahan kita."
Nicholaa tersenyum, dan aku kembali menatap intens kedua matanya. Nicholaa tidak tunggi, hanya 160 centi, sekitar 27 centi di bawahku. Hingga dia harus benar-benar mendongak untuk bisa membuat mata kami saling bertemu. Ku akui mata kecoklatan itu begitu cantik. Bibirnya yang ranum dan tubuhnya yang ramping menambah kesan sempurna pada dirinya. Tapi sayang, dia teramat bodoh bagiku. Hingga dia tidak menyadari malapetaka apa yang sebenarnya terjadi.
****
# NICHOLAA POV
Acaranya selesai dan berjalan dengan lancar. Justin memesan Hotel termegah di kota ini untuk menggelar pesta pernikahan kami. Semua tersusun rapi dan sangat tidak kuduga. Gaun pengantin yang dia pilih untuk kami pun melekat sempurna di tubuhku. Aku benar-benar beruntung memiliki suami seperhatian dia.
Justin meminta Lawrence, sekretaris sekaligus sahabatnya, untuk mengantarku pulang terlebih dahulu ke rumahnya. Sebab dia masih harus menemui tamu-tamu terhormat dari rekan kerjanya. Dia takut aku kelelahan katanya. See? Betapa pedulinya dia dengan kesehatanku.
Ckleek
Lawrence membukakan pintu mobil untukku.
"Terimakasih," ucapku beranjak turun.
Oh God! Kejutan kudapatkan berkali-kali. Lihatlah pekarangan rumah suamiku ini. Tujuh kali lipat lebih luas dibandingkan dengan kediaman seorang Megan Johnson yang selama ini aku tempati.
"Mari ikut denganku, Nyonya. Pintu utama ada di sana," ucap Lawrence mengalihkan keterkejutanku akan halaman depan rumah Justin.
Aku mengekor, mengikuti kemana langkah Lawrence berpijak.
Sampai di depan rumah Justin, aku kembali terpukau dengan banyaknya tanaman bunga yang tumbuh subur. Apa Justin yang merawat semua ini? Aku rasa tidak mungkin. Bisa saja dia memiliki banyak orang suruhan untuk merawat dan mengurus rumahnya. Oh, ini terlalu besar untuk dibilang sebuah rumah. Ini istana, itu lebih tepat.
Ckleek
Lawrence membukakan pintu utama untukku.
Dan lagi-lagi aku dibuat terkejut dengan pelayan Justin yang kuyakini jumlahnya lebih dari lima orang, tengah berbaris rapi di belakang pintu untuk menyambutku.
"Selamat datang, Nyonya Clayton," ucap mereka serempak seraya menunduk sopan kepadaku.
Oh Astaga, beginikah rasanya mendapatkan suatu kehormatan?
Tunggu dulu, mereka memanggilku apa? Nyonya Clayton? Ya, itu gelar bagus untukku yang sudah menjadi istri sah seorang Justin Clayton.
Aku berjalan dan tersenyum melewati mereka.
"Dimana kamarku-," ucapku terhenti ketika bibirku tidak mampu menyebut nama dari pelayanan yang kini tengah berkontak mata denganku.
__ADS_1
"Molly," ucapnya menunduk, "panggil saya Molly, Nyonya. Ketua dari pelayan-pelayan di rumah anda," lanjutnya.
Aku tersenyum, "baiklah, Molly. Dimana kamar kami?"
"Ada di lantai dua, mari saya antar, Nyonya."
"Tidak perlu, saya bisa sendiri. Terimakasih kalian semua," pamitku kemudian berlalu pergi.
Setelah kembali melangkahkan kaki, aku tidak henti-hentinya mengagumi setiap jengkal dinding rumah ini. Banyak ruangan-ruangan yang sudah kulewati saat menuju tangga lantai dua. Aku yakin, bahkan aku bisa tersesat jika menyusuri seluruh sudut rumah suamiku ini. Astaga, Justin. Kau benar-benar manusia terkaya yang pernah aku jumpai selama ini.
Selesai menapaki tangga, aku mendapati begitu banyak ruangan di lantai dua. So? Yang mana kamar kami? Mataku tertuju pada satu pintu dimana terdapat taburan kelopak mawar merah di depannya. Oh itu indah sekali. Tidak salah lagi, pasti itu kamar Justin.
Aku melangkah mendekat lalu membuka pintunya. Damn! Lagi-lagi aku dibuat terpukau dengan pemandangan yang ada di dalam kamar ini. Kamarnya sangat luas. Tiga kali lebih luas dibandingkan dengan kamarku yang lalu. Di lengkapi dengan furniture elegan nan mewah. Juga terdapat satu buah set sofa berwarna putih dan meja besar di sudut kanan ruangan. Ada satu ruangan lagi di dalam kamar ini yang kuyakini adalah kamar mandi.
Pandanganku kembali beredar, mataku tak henti-hentinya memuja melihat kasur warna putih berukuran king size itu. Terdapat taburan taburan kelopak mawar merah diatasnya. Terlalu indah untuk seorang pengantin baru.
Justin, kau benar-benar hebat dalam mempersiapkan segalanya. Kata-kataku tidak akan habis jika hanya digunakan untuk menggambarkan betapa megahnya istana suamiku ini.
Setelah mandi dan mengganti gaunku dengan piama tidur, aku menyandarkan punggungku ditempat tidur. Aku tersenyum, pipiku memanas membayangkan apa yang akan aku lewati malam ini bersama Justin. Semoga tidak ada dariku yang membuatnya kecewa di malam pertama.
Hari sudah larut malam, tapi Justin belum juga pulang? Huh, ini resiko menjadi istri seorang CEO. Pasti terlalu banyak tamu-tamu terhormat yang masih harus dia temui.
Aku terkesiap saat mendengar pintu terbuka, Justin menatapku, "kau belum tidur?" ucapnya dingin.
Aku tersenyum dan menggeleng, "tidak, aku menunggumu pulang."
Justin menatapku sesaat kemudian pergi menuju kamar mandi.
Aku tersenyum menunggu Justin. Jantungku berdebar-debar mengingat bahwa ini malam pertama, malam dimana Justin akan mengklaimku menjadi miliknya seutuhnya.
Ya Tuhan, jadikan pernikahan kami pernikahan yang abadi.
Ckleek.
Pintu kamar mandi terbuka. Justin keluar dengan jubah handuknya. Oh God, dia terlihat semakin kekar jika basah seperti itu. Ah, Nicholaa kau benar-benar sudah gila.
Justin melangkah menuju lemari baju kami. Lalu mengganti jubah mandinya dengan piama tidurnya.
"Awas," ucapnya dingin mendekati ranjang kami. Aku beringsut geser ke tepi ranjang yang lainya. Lalu Justin merangkak naik dan berbaring membelakangiku.
Aku mengernyit merasakan sikap dingin Justin. Ada apa? Setelah kuyakini tidak ada pergerakan apapun dari Justin, aku mendengar dengkuran halus yang berarti dia sudah tertidur.
Ku rebahkan tubuhku dan menatap nyalang punggungnya. Tidak ada malam pertama? Justin terlihat dingin sekali. Apa memang seperti ini dirinya saat sedang kelelahan? Jika memang benar, maka aku harus bisa menyesuaikan diri dengan sikapnya yang satu itu.
Aku tersenyum, "selamat malam, Justin," ucapku pelan lalu tertidur.
****
Ku dapati Molly dan beberapa pelayan lainya tengah sibuk berkutat di meja makan.
"Selamat pagi, Nyonya," sapa Molly padaku.
Aku tersenyum, "selamat pagi, Molly. Dimana suamiku?"
"Tuan ada di ruang kerjanya. Silahkan Nyonya, makannya sudah siap."
"Saya menunggu Justin."
"Tapi Tuan sudah sarapan, Nyonya."
Aku mengernyit. Justin sudah sarapan? Kenapa dia tidak menungguku? Dan sedang apa dia di ruang kerjanya?
"Sudah sarapan?"
"Iya, baru saja selesai."
"Dimana ruang kerja Justin?"
"Di sebelah sana, Nyonya. Dekat dengan ruang tengah," jawab Molly sambil menunjuk arah yang dimaksudkan.
Aku berjalan menuju kesana. Setelah berada tepat di depan ruang kerja Justin, aku menarik kebawah handle pintu itu pelan-pelan. Dari balik pintu, kudapati Justin tengah menyiapkan tas kerjanya. Tunggu dulu, Justin juga memakai pakaian kerjanya?
"Selamat pagi, Sayang?" sapaku berjalan masuk.
Justin menatapku sekilas lalu kembali memasukan berkas-berkasnya ke dalam tas kerja.
"Justin, kau mau kemana?" tanyaku mendekat.
"Kerja," jawabnya dingin.
Mataku melebar, "tapi kita baru saja menikah, Justin. Bukankah ini hari pertama kita menjadi sepasang suami istri? Lagipula, ini masih pagi dan kau sudah mau berangkat ke kantor?"
Justin memakai sepatunya, "masalah?"
Aku melipat kedua tanganku, "jelas saja masalah. Seharusnya pengantin baru akan pergi berlibur, honeymoon, atau kemanapun yang bisa membuat mereka bahagia. Bukan pergi berkerja di hari pertama," ucapku cemberut.
Justin menyambar tasnya, "jangan manja, Nicholaa," jawabnya dingin dan berlalu pergi.
Aku menatap punggungnya tak percaya, "aku salah apa, Justin?" teriakku membuat langkahnya terhenti.
__ADS_1
"Aku menunggumu dari semalam. Aku menantikan kejutan-kejutan manis darimu setelah aku menjadi istrimu. Tapi apa? Bahkan kau sama sekali tidak menganggapku berada di rumahmu!!" lanjutku lantang, bahkan air mataku sudah lolos dari pertahanan.
Justin berbalik lalu menatapku sekilas, kemudian kembali berlalu pergi.
Aku terdiam dan menyandarkan tubuhku di meja kerja Justin. Justin berubah atau hanya perasaanku saja? Atau mungkin Justin benar. Aku terlalu manja jika meminta Justin untuk libur berkerja di hari pertama. Mengingat dia adalah orang yang penting di kantornya.
Setelah sarapan dan membersihkan diriku. Aku memilih untuk pergi ke-, kemana? Entahlah, yang jelas berdiam diri di rumah benar-benar membuatku suntuk. Lebih baik aku pergi ke suatu tempat, aku ingin berfikir sejenak mengenai Justin yang tiba-tiba berubah menjadi asing bagiku.
"Molly, jaga rumah baik-baik. Aku pergi dulu."
"Baik, Nyonya."
Aku berjalan menuju pintu utama. Namun seketika aku di buat terkejut saat tiba-tiba handle pintu itu terbuka sebelum aku menariknya.
"Hei, siapa kau?" bentakku saat ada seorang pemuda masuk dengan membawa dua koper besarnya.
Dia mengernyit, lalu tatapannya menyelidik menyusuri penampilanku dari atas hingga bawah lalu kembali ke mataku.
"Jadi kau?" tanyanya membuatku bingung.
Dia tersenyum, "mengenaskan sekali hidupmu, Nona. Seharusnya bukan perempuan secantik dirimu," lanjutnya.
"Apa maksudmu?"
"Semoga kamu betah, Nicholaa."
"Hei, bagaimana bisa kau tahu namaku?"
"Sangat mudah. Aku tahu semua tentangmu!"
Aku tercengang, apa maksudnya? Dia datang lalu berucap yang tidak-tidak kepadaku?
"Pergi kau dari rumahku!" bentakku lantang.
Tapi justru dia malah tersenyum lembut seraya membidikkan kamera yang melingkar dilehernya untuk memotret wajahku.
Aku terkejut, "lancang sekali kau! Pergi kataku!!" bentakku penuh emosi.
Namun lagi-lagi dia tersenyum, "Molly!" teriaknya.
Mataku melebar, dia memanggil Molly? Bagaimana bisa dia mengenali pelayan dirumahku ini? Siapa dia sebenarnya!
"Astaga, Tuan Javier?" ucap Molly yang tiba-tiba datang lalu menunduk kepadanya.
Aku mengernyit, "Molly, apa yang kau lakukan? Dia bukan Justin yang pantas kau hormati seperti tadi!!"
Molly menunduk kepadaku, "maaf, Nyonya. Ini Tuan Javier, sepupu Tuan Justin yang satu bulan lalu berlibur ke Barcelona."
Aku tercengang. Jadi Justin juga tinggal bersama sepupunya? Kenapa dia tidak pernah bercerita?
"Mari, Tuan. Saya bawakan kopernya ke kamar," lanjut Molly kemudian berlalu membawa dua koper itu.
Javier tersenyum, "maaf aku harus masuk. Terimakasih sudah sempat mengusirku, Kakak Ipar," ucapnya memberikan penekanan pada kata-katanya yang terkahir.
Aku menghela nafas, lalu pergi melanjutkan tujuanku yang sempat tertunda.
Muak.
Kejutan apa lagi yang akan aku dapatkan setelah ini?
****
# JUSTIN POV
Pergi ke kantor sepagi ini membuatku terlihat seperti kurang kerjaan. Tapi hanya ini satu-satunya cara untuk menghindari Nicholaa. Apa haknya memintaku berlibur kerja di hari pertama setelah aku dan dia menikah? Dia pikir dia akan mendapatkan fase honeymoon bersamaku? Haha Gila. Sudah kukatakan, dia cantik, tapi bodoh.
Bodoh? Hahaa! Kira-kira dia yang bodoh atau aku yang terlalu jahat? Ah! Persetan dengan semua itu. Yang jelas, semua misi gilaku akan berjalan dengan sempurna. Kita lihat saja, Nicholaa. Aku tidak akan kalah, dan kaulah yang akan menyerah!
"Pagi, Bos!" sapa Lawrence yang tiba-tiba masuk ke ruanganku.
Aku hanya menatapnya sekilas.
"Acara pernikahanmu sangat meriah. Kau tahu? banyak rekan bisnis kita yang memuji pengantinmu," lanjutnya serius. Aku masih sibuk dengan ponselku.
"Bagaimana malam pertama?" lanjutnya lagi menggoda.
"Tidak ada malam pertama, sialan!"
"Why? Bukankah dia istri sah mu? Kau berhak atas Nicholaa, Justin!"
Aku tersenyum kecut, "tidak sudi menyentuh perempuan yang sudah membuat hidupku semengerikan sekarang!"
Lawrence menepuk pundakku, "mungkin apa yang sudah terjadi memang membuatmu merasa bahwa hidup ini benar-benar kosong. Tapi aku tidak yakin misi gilamu ini akan berhasil."
"Apa maksudmu?"
"Nicholaa begitu cantik, Justin. Kau yakin kebencianmu itu akan bertahan lama?"
"Hentikan omong kosongmu itu, Lawrence!"
"Kita lihat saja."
****
__ADS_1