NICHOLAA JOHNSON

NICHOLAA JOHNSON
Chapter 15


__ADS_3

# JUSTIN POV



"Alluraaaa, ayolah... jangan bercanda seperti ini!"



Teriakku frustasi saat Allura tak kunjung membuka pintu kontrakannya.



"Aku butuh bantuanmu segera!!"



Tok tok tokk!!!!



"Allura!!!"



"Maaf, Tuan," seseorang mengejutkanku dari belakang.



Aku menoleh, "ya?"



"Nona Allura sudah pindah kemarin."



Mataku melebar, "pindah?"



"Iya."



"Dimana?"



"Kalau itu saya kurang tahu, Tuan. Tapi dia bersama kakaknya."



Bibirku tersekat, "Tristan?!!"



"Nona Allura dibawa pergi setelah sebelumnya mereka bertengkar."



Shit!


Tristan pasti akan membawa Allura kabur lagi! Kenapa kau tak kunjung jengah, Sialan?!



Tanpa berfikir untuk yang kedua kali. Aku langsung bergegas pergi dan menancap gas mobilku menuju rumah bajingan itu.


****


# AUTHOR POV



Nicholaa memangku Petter seraya menikmati pagi di halaman belakang rumah. Tangannya dengan lihai membelai rambut keponakannya yang sudah mulai menebal itu. Bibirnya tersenyum menyaksikan kecerewetan Petter yang bergumam tak jelas kepadanya.



"Kau ini berbicara apa, Petter? Sungguh aku tidak memahami ocehanmu itu," celoteh Nicholaa tergelak.



"Ocehan? Kau pikir anakku seekor burung?" sahut Alodie yang tiba-tiba datang.



Nicholaa mencibir.



"Berikan Petter pada Megan dan bantu aku memasak."



"Tuan Megan, kan, harus berkerja, Nyonya Alodie. Kau mau Petter membuat kekacauan di kantor?"



Alodie memijat pelipisnya kuat-kuat, "sepertinya masalahmu dengan Justin mampu membuatmu mendadak pikun, Nicholaa."



Nicholaa mengernyit bingung.



"Astaga! Kenapa aku bisa memiliki adik ipar selola dirimu?!! Sekarang hari Minggu, Nyonya Clayton. Kau lupa?"



Mendengar itu, Nicholaa menghembuskan nafas panjangnya, "jangan memanggilku dengan gelar itu...," cibirnya.



"Why? Seharusnya kau bersyukur. Kembalilah dan bicarakan masalahmu baik-baik. Banyak perempuan di luar sana yang mengidamkan gelar itu. Kau tahu?"



"Karena Justin adalah orang kaya? Sebab, kalau alasan mereka karena Justin pemuda yang bertanggung jawab, kurasa itu salah besar."



"Justin orang yang bertanggung jawab, Nicholaa," sahut Megan yang datang tiba-tiba.



"Aku sudah lama mengenalnya. Sekalipun ada sesuatu yang membuatmu merasa dia tidak bertanggung jawab, aku yakin itu hanya kesalahpahaman," lanjutnya merebut Petter dari pangkuan Nicholaa dan berlalu pergi.



*"Kesalahpahaman apa? Jelas-jelas Justin sengaja menukarkanku dengan Allura. Meninggalkanku sendirian di kediaman Tuan Tristan, lelaki menakutkan itu. Oh, tidak. Lelaki sialan. Yang menakutkan itu Justin, suamiku sendiri,"* gumam Nicholaa di hati.



"Nicholaa, kau mau berdiam di situ saja? Ayo bantu aku."



"Kaki ku masih sakit, seharusnya kau tahu ini."



"Memasak itu yang berkerja tanganmu, bukan kaki. Sudahlah, kau duduk manis saja dan bantu aku potong-potong bahannya."



"Iyaaaa," pasrahnya mendengus gusar.


****


# AUTHOR POV



Braaaakkkk!!!



Justin mendobrak pintu rumah Tristan dan seketika itu pula rahangnya mengeras mendapati Allura tengah terbaring di sofa ruang tamu.



"Apa yang kau lakukan di sini, Lura? Kau cari mati? Hah?"



Allura terkejut dan seketika terbangun dari posisinya, "Justin? Bagaimana bisa kau tahu aku ada di sini?"



Justin menarik lengan Allura, "kita pergi dari sini!"



"Tidak, Justin!!" bentak Allura menghempaskan tangannya.



Justin berbalik menghadapnya, "apa yang ada di fikiranmu?" tanyanya heran.



"Justin!" seseorang datang dan membuat matanya menatap tajam.



"Kauuu!!" desisnya geram.



"Ya, ini aku. Jangan cemas, Lura aman bersamaku," jelas Tristan menghampiri.



Justin tergelak, "kau pikir aku percaya dengan drama murahanmu itu, Tuan Tristan?"



"Ini bukan lelucon, Justin. Kak Tristan benar-benar sudah berubah," sahut Lura membuat Justin semakin menggeleng tak percaya.



"Dia sudah berjanji padaku, Jus. Dia akan menjaga dan melindungiku."



"Dan kau percaya?"



"Ya, aku percaya!"



Justin mengusap gusar kepalanya, "Lura, berfikirlah! Kakakmu itu orang yang bahaya! Kau lupa kebodohan apa yang sudah dia lakukan kepada istriku malam itu?"


__ADS_1


"Kau juga, Justin! Kau lupa kebodohan apa yang sudah kau lakukan kepada istrimu sendiri malam itu? Kau menyesal dan kak Tristan juga menyesal. Kau bisa berharap dimaafkan maka kak Tristan pun seharusnya memiliki kesempatan yang sama, bukan?"



Justin menghela nafas panjangnya. Allura benar, malam itu bukan hanya Tristan yang jahat, tapi juga dirinya.



"Kau boleh menjebloskanku ke penjara jika tidak terima," sahut Tristan membuat mata Allura melebar.



"Tidak! Aku mohon, Jus. Jangan laporkan kak Tristan ke polisi, dia satu-satunya keluarga yang aku punya. Kau tahu itu, kan?"



Justin menatap lekat-lekat mata Allura. Perempuan sebatang kara sepertinya seharusnya memiliki nasib yang baik. Dia tidak mungkin membuat Allura semakin kesepian menjalani hidup di dunia yang keras ini.



Justin menghela nafasnya,"baiklah, aku mempercayai Tristan."



Allura tersenyum bersamaan dengan Tristan yang seketika memeluk Justin, "terimakasih, Jus. Aku berjanji akan menjaga adikku dan pergi jauh-jauh dari kehidupan istrimu."



Justin tersenyum dan melepas pelukannya, "sama-sama."



"Allura, aku membutuhkanmu sekarang," lanjut Justin membawa Allura ke teras depan.



Allura melirik sesaat mata Tristan yang masih ada di dalam dan kembali menatap Justin, "apa?"



"Pergilah ke rumah Tuan Megan, dan bujuk Nicholaa supaya mau memaafkanku. Jelaskan padanya bahwa aku menyesal, aku sadar dan aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi."



"Kenapa tidak kau lakukan sendiri? Itu tugasmu, Justin."



"Sudah, Lura. Tapi percuma, Nicholaa sudah tidak mau mendengar apapun dariku."



"Apalagi dariku? Kau tahu sendiri, dia benar-benar terlihat sangat membenciku."



"Lalu, apa yang harus aku lakukan, Lura? Aku sudah tidak bisa berdiam dalam keadaan seperti ini."



"Apa Nicholaa punya teman?"



*Alice*



Batin Justin seketika. Tapi tidak, Alice tidak mengetahui permasalahan ini. Hanya Allura yang mengerti dan memahami.



"Ada. Tapi kamu yang mengetahui permasalahanku dengan Nicholaa, Lura. Aku tidak mungkin menceritakan semua masalahku kepada orang lain atau teman-teman Nicholaa dan berkoar bahwa rumah tangga kami sedang tidak baik-baik saja, kan?"



"Tapi aku benar-benar tidak yakin kalau aku berhasil."



Justin menghela nafasnya gusar. Kepalanya berat, sesuatu dalam perasaannya membuat pikirannya kacau.



"Sudahlah, kau hanya perlu memberi Nicholaa waktu. Percuma siapapun yang datang membujuknya, dia tidak akan luluh jika perasaannya masih luka."



Allura menggeleng pelan saat melihat Justin tengah bersender lemas di dinding, "pulanglah, Jus. Kau istrirahat di rumah. Aku harus pergi menemui Shareen hari ini. Aku merindukannya."


****



Libur kerja saat hatinya sedang patah seperti ini membuatnya benar-benar merasa kosong. Tidak ada kesibukan kantor yang mampu membuat pikirannya teralih dan tidak ada Lawrence yang sejenak mampu membuatnya tertawa.



Setelah gagal meminta Allura untuk membujuk istrinya, Justin memilih pulang dengan membawa lukannya yang tak berkurang. Kakinya berjalan memikul beban beban pilu mengenaskan. Memijakkan langkah patah pada semesta yang setia menyaksikan segala kisah kasih di bumi yang penuh pijar percintaan ini.



Andai waktu bisa diputar, dia memilih untuk bertemu dengan Nicholaa tanpa mengetahui kisah masa lalu diantara mereka berdua. Supaya dia menyadari dari awal bahwa perasan dalam dirinya adalah cinta, bukan dendam atau pelampiasan semata.



Ckleeekkk.




"Mau kemana kau?" tanyanya dingin.



Javier melewatinya, "London," jawabnya berlalu.



Justin berbalik menatap punggung sepupunya itu, "aku butuh bantuanmu untuk menemui Nicholaa!"



Javier terhenti, bibirnya tersenyum miris. Tujuannya pergi ke London adalah untuk move on dan melupakan Nicholaa. So, dia tidak akan bisa melaksanakan permintaan Justin padannya. Dia takut pertemuannya dengan perempuan itu membuatnya semakin tidak bisa beranjak pergi. Karena dia sadar, Nicholaa tercipta dari tulang rusuk Justin, dan selamanya tidak akan pernah jadi miliknya.



"Tidak bisa, aku harus segera pergi."



"Ada urusan apa kau di London? Tidak puas liburanmu di Barcelona kemarin? Objek foto seperti apa lagi yang kau cari? Seharusnya kau bangga memiliki Indonesia yang penuh dengan ragam budaya dan wisata di sini. Potret dan banggakan negaramu sendiri."



Melihat Javier yang masih berdiam dan tak kunjung berbalik menghadapnya, Justin berjalan menghampiri lalu merampas koper di tangan sepupunya itu.



"Apa yang kau lakukan?" protes Javier tak terima.



"Masuklah, jangan melulu meninggalkanku. Aku tidak memiliki siapapun selain dirimu!" ucap Justin berlalu.



Javier tersenyum mendengar itu. Sesialan apapun sikap Justin dan sikapnya, tapi Javier sadar, bahwa dirinya dan Justin sama-sama menyayangi dan tak siap untuk saling kehilangan.


****



Setelah akhirnya memilih menetap untuk tinggal di Indonesia, dengan segala bujuk rayu Justin dan segala cerita yang dipaparkan sepupu sialannya itu, Javier bersedia pergi ke kediaman Tuan Megan untuk bertemu dengan Nicholaa.



Javier mengerti, Justin meminta tolong kepadanya bukan karena dia pengecut. Tapi karena Nicholaa memang benar-benar sudah tidak ingin mendengar apapun lagi dari bibirnya. Dan Javier bersedia untuk membantu keduanya kembali bersatu, sekalipun perasaannya harus memar terpatahkan karena ini semua.



"Javier?" sapa Alodie terkejut setelah membukakan pintu untuknya.



Javier tersenyum, "hai," sapanya manis.



"Kau sendiri?" tanya Alodie setelah sejenak mengedarkan pandangannya ke halaman rumah.



"Ya."



"Oh, aku tahu. Justin yang memintamu kemari untuk membujuk Nicholaa, bukan?"



"Tidak, aku hanya merindukan kakak iparku, itu saja."



Alodie tergelak, "iya baiklah, mari," ajaknya melangkah masuk.



Javier mengikuti Alodie dan seketika mendapati Megan yang sedang memangku Petter di ruang tamu.



"Hai, Sweety...," sapa Javier mencubit gemas kedua pipi Petter.



"Hai, Javier. Kau sendiri?" sapa Megan setelah Javier duduk di sampingnya.



"Ya, tidak salah, kan, jika aku berkunjung kemari?"



"Memang seharusnya seperti itu. Kita ini keluarga, bukan?"



Javier tersenyum, "dimana Nicholaa?"



"Ada," sahut Alodie, "dia sedang membantuku memasak tadi. Biar aku panggilkan," lanjutnya berlalu pergi.


__ADS_1


"Em, Javier?" panggil Megan.



"Ya?"



"Kau yang tinggal satu rumah dengan Justin dan Nicholaa. Tentunya kau tahu apa yang terjadi diantara mereka, bukan? Nicholaa tidak mengatakan apapun. Bisa kau menceritakannya padaku?"



Javier terdiam. Seketika hatinya membenarkan perkataan Justin bahwa Nicholaa memang tidak menceritakan apapun, sedikitpun tentang masalahnya kepada keluarga Johnson. Dia benar-benar memuliakan dan menjaga kehormatan Justin. Javier tidak ingin, dengan dia menceritakan semuanya kepada Megan, itu sama saja dia menggagalkan prinsip Nicholaa untuk tetap menjaga harga diri dan nama baik suaminya.



"Javier?" panggil megan menyadarkan lamunannya.



Javier mengerjap, "ah iya?"



"Aku sangat kebingungan. Sebenarnya apa masalah mereka? Apa hubungannya Nicholaa tertabrak mobil dengan berbeda pendapat?"



"Emm iya. Mereka sedang ada dalam perjalanan, lalu mereka bertengkar karena berbeda pendapat dan Nicholaa meminta turun. Saat dia hendak berlari, tiba-tiba saja sebuah mobil menabraknya dan kabur begitu saja. Iya, begitu," jelas Javier berbohong.



"Javier?" panggil Nicholaa mengalihkan pandangan mereka.



"Kalian bicaralah dulu, aku akan memandikan Petter," ucap Megan berlalu pergi.



"Hai," sapa Javier begitu Nicholaa duduk di sampingnya.



Nicholaa melipat kedua tangannya di dada, "jika kau kemari karena menjalankan perintah kakak sepupumu itu, lebih baik kau pulang saja," ucapnya cuek.



Javier tergelak, "setidaknya berucaplah selamat pagi terlebih dahulu."



"Pagi menjelang siang maksudmu? Sudahlah, bicara saja. Justin yang memintamu kemari, bukan?"



"Bukan, aku tidak tahu dimana dia."



"Maksudmu?"



"Justin tidak pulang dari kemarin."



Mata Nicholaa melebar, "kemana?"



Javier mengedikan bahunya, "bunuh diri mungkin."



"Kau bicara apa, Javier? Jangan bercanda dengan ucapanmu itu," ucap Nicholaa tersulut emosi.



Javier tergelak, "katamu... kau sudah tidak peduli. Lalu kenapa masih ada kecemasan di kedua matamu?"



Nicholaa menghela nafasnya, "semestinya kau tahu, Javier. Semenyakitkan apapun perasaanku, cinta tetaplah cinta."



Damn



Sesuatu menusuk ulu hatinya. Javier semakin yakin, Nicholaa terlalu jauh untuk digapainya. Semua perasaan yang ada hanyalah untuk Justin, suaminya tercinta.



Javier memaksa diri sendiri untuk bertahan dalam keadaan menyakitkan ini. Dia harus terbiasa untuk melihat Nicholaa dan sepupunya bahagia. Dia harus ikhlas perasaanya terkubur dalam-dalam. Dia yakin dia bisa move on. Tidak harus jauh-jauh ke London. Karena melupakan itu bukan menghindar, tetapi membiasakan diri tanpa bersamanya.



"Javier, kau baik-baik saja?"



Javier tersenyum, "kakimu apa kabar?"



"Sudah baikkan, hanya butuh beberapa hari lagi untuk pulih."



"Sampai kapan?"



"Apa?"



"Kau tinggal disini?"



Nicholaa terdiam.



"Justin merindukanmu, Kakak Ipar."



"Rindu untuk menyakitiku maksudmu?"



"Dia menyesalinya, Nicholaa."



"Dia tidak mencintaiku, Javier. Kau bisa bayangkan sehancur apa perasaanku saat Justin dengan tega menjualku demi bisa bertemu Allura! Aku tidak mengerti, apa dan kenapa dia menikahiku dulu! Karena hutang seorang Megan Johnson? Lalu apa hubungannya saat aku menikah dengannya? Tidak membuat perusahaannya untung juga, kan?"



"Percayalah padaku, Nicholaa. Dia mencintaimu."



"Tidak."



"Ya. Semua tentang masa lalu mengenaskan itu telah kalah dengan perasaan yang tumbuh untukmu."



"Masa lalu?"



Shit.


Mata Javier membesar. Bagaimana mungkin dia bisa mengatakan rahasia itu.



"Masa lalu apa, Jav? Kau mengetahui sesuatu tentang alasan Justin menikahiku?"



"Masa lalu, ya... masa lalunya bersama Allura. Semuanya telah sirna. Perasaannya tumbuh untukmu dan dia sudah tidak ada lagi dimasa itu. Begitu maksudku."



"Kenapa kamu terlihat gugup?"



Javier tergelak, "aku hanya...."



"Javier, mari sarapan bersama kami," Alodie datang tiba-tiba.



Javier tersenyum, "ah iya."



"Kau juga Nicholaa, kami tunggu di ruang makan, ya."



Setelah Alodie berlalu pergi, Justin menatap lekat-lekat mata Nicholaa.



"Pulanglah, Nicholaa. Perbaiki semuanya. Ini ujian untuk rumah tangga kalian, menuju keluarga yang bahagia."


****



Malam menghapus kemuning senja, gemerlap bintang bertabur anggun di langit Tuhan. Semilir angin berhembus syahdu, membawa rindu yang kian lama terendap pilu.



Rindu. Ya, kini rasa itulah yang Nicholaa rasakan dalam gelap malamnya. Langit-langit kamar dan juga dinding menjadi saksi bisu atas perasaannya yang tak menentu. Hatinya masih luka akan apa yang baru saja dialaminya. Tapi kalbunya akan semakin tersiksa saat dia tak mampu menahan rindu kepada sang empunya luka. Nicholaa tidak mengerti, kenapa cintanya kepada Justin begitu besar. Bahkan saat Justin sama sekali tidak mencintainya.



Ucapan Javier pagi tadi kembali terngiang di telinganya. Mungkin adik iparnya itu benar, ini adalah ujian untuk rumah tangganya menuju keluarga yang bahagia. Nicholaa sadar, seharusnya dia mampu bersabar dan tabah melewati ini semua. Namun nalurinya sebagai perempuan yang lemah berbicara lebih dulu. Tubuh dan hatinya tak kuasa merasakan derita yang membuat memar perasaanya.



Malam semakin larut, Nicholaa menarik selimut tebalnya, "aku pulang, Jus. Cintaku merindukanmu," lirihnya sebelum memejamkan mata.

__ADS_1


__ADS_2