
# AUTHOR POV
"Tidak mungkin!"
Bagai tertusuk sembilu tajam. Justin bersimpuh tak berdaya memeluk lututnya. Batinnya tak kuasa mendengar cerita masa lalu yang baru saja dipaparkan oleh mamah Kayonna. Dia tidak menyangka atas praduganya yang selama ini ternyata salah besar. Mamahnya adalah istri kedua dari Dalbert John, dan Dalbert John adalah papah kandung dari istri juga kakak iparnya. Kenyataan pahit apa ini? Dia tidak percaya bahwa Nicholaa adalah adik se Ayah dengannya. Kenyataan pahit apa ini? Dia dendam kepada keluarga yang sama sekali tidak bersalah. Bahkan justru mamahnya lah yang menjadi perusak kebahagiaan keluarga lain. Ini benar-benar membuatnya pasrah tak tau arah.
Nicholaa terisak, dia berjongkok dan *** kuat kerah kemeja Justin, "puas kau, Justin? Hah? Puas kau menjadikan pernikahan haram ini sebagai sarana balas dendammu?!!"
"Maafkan aku, Nicholaa. Aku tau aku salah..., aku menyadari itu!"
"Persetan dengan semua ucapan maafmu itu! Aku benci sama kamu!!" bentak Nicholaa beranjak pergi.
"Tidak, Nicholaa!" cegah Justin bangkit dan menarik lengan Nicholaa dengan cepat.
"Jangan membenciku, aku minta maaf...," lirihnya memeluk erat tubuh Nicholaa.
"Lepaskan aku, Jus... aku tidak mau mendengar apapun lagi darimuu!! Aaggghhhh!!" berontak Nicholaa melepas paksa dirinya sendiri dari dekapan Justin.
"Aku menyesali semuanya, Nicholaa!"
Plaaakkkk!!
Satu tamparan panas mendarat tepat di pipi kiri Justin. Membuat Kayonna, Alodie, dan juga Megan yang sebelumnya tidak pernah melihat Nicholaa sekasar ini, terkejut seketika.
"Nicholaa, apa yang kau lakukan? Dia suamimu!" sahut Alodie tak menyangka.
"Dia bukan suamiku! Dia kakak yang tidak berperikemanusiaan!! Dia tega menjadikan ikatan suci sebagai sarana balas dendam! Dia tega menyakiti hati perempuan demi membalaskan rasa sakitnya di masa lalu!! Dia jahaaat!!"
Tangis Justin pecah mendengar itu! Nicholaa benar. Semua yang Nicholaa gambarkan tentang dirinya adalah benar. Bagaimana bisa dia menjadi manusia sebodoh ini? Menyakiti perempuan yang sama sekali tidak bersalah. Mendendami keluarga yang justru begitu mulia.
"Berbanggalah kau, Justin! Berbanggalah karena kau telah berhasil menyiksa jiwa dan fisik seorang perempuan yang sama sekali tidak bersalah! Berbahagialah! Tertawalaah!!"
"Sudah, Nicholaa...," sahut Javier membelai lembut pundak Nicholaa.
"Lepaskan aku, Javier!!!"
"Nicholaa, aku tau kamu terpukul. Tapi maafkanlah aku yang salah faham dengan semua ini! Aku minta maaf...," Justin menggenggam tangan Nicholaa erat-erat.
"Sekarang apa, Jus? Apa yang harus kita lakukan? Bagaimana nasib pernikahan kita? Seharusnya kau menyelidiki terlebih dahulu dari awal. Hingga kita tidak terjebak dalam pernikahan terlarang ini!"
"Maaf, Nicholaa...."
"Dan jika kau ingin membunuhku, seharusnya bunuh saja aku! Dengan begitu keluargaku akan merasakan apa yang kau rasakan!! Bukan malah menyakitiku dengan sarana ikatan suci ini!!"
"Kau bicara apa, Nicholaa? Aku tidak mungkin membunuh istriku sendiri! Tidak mungkin!"
"Istri? Jadi kau menganggapku seorang istri? Bukankah aku hanya sosok perempuan murahan yang menjadi sarana untukmu membalaskan sebuah dendam? Kau tidak pernah mencintaiku. Kau hanya mencintai perempuan itu!! Dan aku hanya wanita jalang bagimu. Begitu kau selalu menyebutku, bukan?"
"Nicholaa...."
"Kenapa? Biarkan saja semua keluarga Johnson tau!! Bahwa rumah tangga kita tidak pernah baik-baik saja. Kau pun masih mencintai Allura, masa lalumu. Dan Javier adalah saksinya!! Kau menikahiku hanya karena ingin menyakitiku!! Biarkan saja semuanya tau! Aku lelah, Jus! Aku lelah menjaga kehormatan seorang suami yang tidak tau diri sepertimu!!"
Justin hanya bisa terdiam menyaksikan kekejamannya terbongkar dihadapan keluarga Johnson. Memang ini sudah saatnya. Biarkan keluarga Johnson tau apa alasan Justin menikahi Nicholaa sebenarnya. Biarkan keluarga Johnson tau bagaimana rumah tangga mereka yang sebenarnya.
"Nicholaa, kendalikan dirimu. Cukup, Nicholaa...," ucap Alodie menenangkan.
"Aku minta maaf, Nicholaa. Aku berjanji akan merubah semuanya. Memperbaiki hubungan kita menjadi yang lebih baik lagi....!"
"Hubungan apa? Kita saudara se Ayah, Justin. Pernikahan ini tidak boleh dilanjutkan. Semuanya harus berakhir sekarang! Saat ini juga dan detik ini pula!!"
"Tapi aku tidak siap, Nicholaa! Aku tidak mau!!"
"Lalu kau pikir aku apa? Aku juga tidak siap, Jus! Aku mencintaimu lebih dari yang kau tau!!"
Nicholaa terisak. Hatinya benar-benar retak. Sesak di dada semakin menyeruak. Rasanya dia ingin berkahir sekarang juga. Meninggalkan dunia yang penuh dengan kebohongan-kebohongan juga sandiwara yang kerap kali membuat jantungnya lupa cara berdetak dengan benar. Dia tidak tau lagi harus apa, harus bagaimana.
"Sekarang lepaskan aku, Jus! Aku ingin pergi dari sini!!"
"Tidak, Nicholaa!"
"Lepas!!"
"Tidak, jangan tinggalkan aku!!"
"Lepaas, Jus!!!"
"Cukuuuuppp!!" teriak mamah Kayonna membuat mereka hening seketika.
"Cukup mamah bilang... sudah.... Kalian ingin membuat jantung mamah kambuh lagi? Hah?"
"Bukan seperti itu, Mah! Aku hanya terpukul dengan kenyataan ini! Aku mencintai kakakku sendiri! Itu kesalahan terbesar dalam hidup aku, Mah!"
"Nicholaa.... kalian itu-,"
"Sudahlah, Mah. Cukup.... Lebih baik Nicholaa pergi saja dari sini. Permisi!" pamit Nicholaa berlalu pergi.
"Berhenti, Nicholaa! Pernikahan ini tidak haram!!" teriak Kayonna membuat Nicholaa dan yang lain terkejut.
Perlahan, Nicholaa berbalik dan menghadap mamahnya, "apa maksud mamah?"
Justin beringsut mendekat dan menggenggam erat tangan Kayonna, "apa maksudnya, Mah? Katakan... apa maksud mamah?"
Kayonna menyeka air matanya, "pernikahan kalian tidak haram, Sayang. Sebab...," Kayonna menggantung kalimatnya.
__ADS_1
Hatinya sakit. Dia tidak sanggup mengatakan rahasia besar yang selama ini tidak diketahui siapapun selain dirinya, Denaya, dan juga Dalbert. Rahasia yang berhasil dia simpan selama bertahun-tahun. Akankah dia bongkar saat ini juga? Inikah waktunya? Kayonna tidak siap, tapi mereka sudah dewasa, mereka semua berhak tau rahasia besar itu.
"Mah, kenapa? Sebab apa?" tanya Nicholaa tak sabar menanti jawabannya.
"Sebab... sebab...."
"Sebab apa, Mah? Ayolah...," rengek Justin.
Kayonna memejamkan matanya, menahan sesak yang menyeruak di dalam sana. Dia tidak sanggup, dia belum siap.
"Mamah, jawab!! Sebab apa?" Nicholaa mulai tersulut emosi.
"Mah, jawab, Mah!"
"MAMAH!!
"SEBAB NICHOLAA BUKAN ANAK KANDUNG MAMAH DAN PAPAH!!"
Damn!
Nicholaa tercengang!
*Flashback
Dalbert, Kayonna dan juga Denaya tengah berada di Bandara mengantar Megan yang akan pergi ke London untuk melanjutkan pendidikannya. Walau tidak begitu disukai oleh Megan, Denaya, sebagai istri kedua dari Dalbert, tetap menganggap Megan seperti anaknya sendiri. Dia menyayangi Megan layaknya sayangnya seorang ibu kepada anaknya.
"Kak, aku titip Megan baik-baik disana, ya," ucap Dalbert kepada kakaknya.
"Tenang saja, aku akan menjaganya dengan baik di sana."
Kayonna tersenyum, "Megan, kamu jangan nakal, ya. Yang nurut sama Paman dan Bibi."
"Iya, Mah. Mamah juga jaga diri baik-baik, jaga baik-baik adik Megan yang ada di perut mamah."
"Iya, Sayang."
"Ya sudah, Megan sama Paman dan Bibi pamit dulu. Aku pasti akan merindukan kalian."
Denaya tersenyum, "belajar yang baik di sana ya, Megan."
"Terimakasih, Mamah Dena."
Megan memeluk erat keluarganya sebagai salam akhir di penghujung senja yang akan menjadi saksi perpisahan ini. Lambaian tangan mengiringi langkah demi langkah yang kian detik semakin jauh. Kayonna menatap lekat-lekat punggung Megan sembari berdoa untuk kesuksesan anak laki-lakinya itu. Semoga Tuhan memberkati dan memudahkan jalannya dalam menuntut ilmu.
"Aaawww!!!" teriak Kayonna seketika membuat Dalbert dan Denaya terkejut.
"Kay, kenapa?"
"Dal, sepertinya Kayonna akan segera lahiran. Kita bawa dia kerumah sakit sekarang."
"Iya, ayoo...."
****
Dalbert dan Denaya menuggu dengan penuh kecemasan di depan ruang persalinan. Sepatah doa demi doa tak henti-hentinya mereka panjatkan untuk keselamatan Kayonna dan juga bayinya. Rasa dag dig dug memenuhi jantung mereka. Peluh keringat dingin turut berlinang mewakili rasa takut yang menyeruak dalam dada.
Sebagai seorang perempuan, Denaya duduk bersimpuh memecah tangisnya tatkala mengingat bahwa dirinya tidak bisa memiliki seorang anak. Kecelakaan mobil di masa sekolah dulu membuat rahimnya harus diangkat saat itu juga. Dia merasa menjadi perempuan yang tidak sempurna, tidak berguna untuk Dalbert, suaminya.
"Sayang, kau kenapa?" ucap Dalbert membelai lembut kepalanya.
"Kayonna sudah melahirkan dua anak untukmu, Dal. Tapi maafkan aku yang sampai kapanpun tidak akan bisa memberikan keturunan untukmu...."
Dalbert tersenyum dan memeluk erat tubuh istrinya, "kau bicara apa? Aku mencintaimu tulus apa adanya. Aku tidak berharap apapun darimu. Kau tetaplah istri yang sempurna bagiku, yaa. Sudah, tenanglah."
"Tapi bagaimanapun juga, sebagai seorang perempuan, aku tetap punya naluri ingin memiliki seorang anak."
Dalbert menatap lekat-lekat mata Denaya, "dengar, Sayang. Kau dan Kayonna adalah istriku, maka anak dari Kayonna pun juga adalah anakmu."
Dalbert kembali memeluk Denaya. Memberikan ketenangan di dalam sana. Dia tidak mau Denaya merasa bahwa dirinya tidak berarti. Dia mencintai Denaya apa adanya, setulus hatinya mencintai Kayonna.
Ckleekkk
Pintu persalinan dibuka, membuat Dalbert dan juga Denaya tergertak bangun seketika.
"Bagaimana, Dok?" tanya Dalbert gugup.
Dokter persalinan itu tersenyum, "selamat, Tuan. Putra anda lahir dengan selamat, dan istri anda juga baik-baik saja di dalam."
"Putra saya? Apa itu artinya anak saya...."
"Ya, anak anda laki-laki."
Dalbert dan Denaya melepas kelegaannya, "boleh kami masuk, Dok?"
"Silahkan...."
Sesudahnya dokter berlalu pergi, dengan bergegas mereka masuk untuk menyambut kehadiran buah hatinya yang baru.
Kayonna tersenyum, "ini adalah buah hati kita, Dal. Dia laki-laki. Tampan, seperti dirimu."
Dalbert tersenyum dan mengambil alih sosok mungil itu dalam dekapannya. Lalu mengumandangkan adzan tepat di telinga kanannya.
Kayonna dan Denaya tersenyum haru melihat itu. Suasana bahagia memenuhi ruang persalinan ini. Walau bukan terlahir dari rahimnya sendiri, tapi Denaya merasa bahwa bayi mungil itu juga adalah anak kandungnya. Dan dia bersyukur memiliki sahabat sebaik Kayonna. Yang rela berbagi padanya. Dengan ikhlas dan penuh rasa terima.
__ADS_1
"Kamu ingin menamainya siapa, Kay?" tanya Dalbert setelahnya.
Kayonna tersenyum, matanya menatap lembut mata Denaya, "aku serahkan semuanya kepada Denaya."
Denaya terkejut, "apa maksudmu, Kay? Kenapa aku?"
"Karena dia akan tumbuh dalam dekapan dan perlindunganmu."
Denaya mengernyit.
Kayonna tersenyum, "dia adalah putramu, Denaya. Kau yang akan merawatnya. Percayalah padaku, dia tidak akan tahu bahwa aku Ibu kandungnya."
"Tapi, Kay. Kau yang bersusah payah melahirkannya. Kau Ibunya."
"Kau adalah istri dari ayahnya, maka kau juga adalah Ibunya."
Dalbert tersenyum, "kamu yakin dengan keputusan ini, Sayang?"
"Iya, aku yakin.... Lagipula, Megan juga menginginkan adik perempuan."
Denaya tersenyum penuh arti, tangannya terulur meraih buah hati yang baru saja lahir menyapa bumi ini. Dia tidak menyangka, akhirnya dia bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang anak. Nalurinya sebagai wanita kembali merasa sempurna. Dia benar-benar bahagia luar biasa. Dia beryukur, sangat beryukur. Dalam hati, dia berdoa, semoga Tuhan memberikan balasan yang setimpal kepada Kayonna atas kebaikan dan kemuliaan hatinya selama ini.
"Hai, Sayang. Ini mamah, mamah Denaya, Ibumu," ucapnya tersenyum haru.
"Kau ingin menamainya siapa, Dena?" tanya Kayonna.
Denaya tersenyum, "berikan aku waktu untuk memikirkan itu."
****
Langit gelap mulai menunjukkan pesonanya. Kayonna terbaring sendiri seraya memanjatkan beribu-ribu doa untuk semua orang yang ada di sekitarnya. Orang-orang yang menyayanginya pun yang di sayangnya.
Dalam hati, dia berharap. Semoga keputusannya untuk memberikan putranya kepada Denaya bukanlah sebuah kesalahan. Dia sangat menyayangi sahabatnya, dia tidak akan sanggup saat melihat Denaya bersedih karena meratapi takdirnya yang tidak bisa memiliki seorang anak, dia tidak akan sanggup.
Ckleekk
Pintu kamar dibuka dan membuat Kayonna terkejut.
"Dal, kenapa kau pulang kemari? Kau meninggalkan Denaya dan anak kita sendiri?"
Dalbert tersenyum lalu membelai lembut rambut Kayonna, "aku tidak mungkin meninggalkan istriku sendirian yang baru saja selesai menjalani persalinan."
"Aku baik-baik saja. Seharusnya kau temani Denaya. Ini adalah pertama kalinya dia mengurus seorang anak, aku takut ada sesuatu yang dia tidak bisa."
"Tenanglah, Denaya pasti bisa melakukannya. Jangan paksa aku, aku ingin menemanimu malam ini."
Kayonna tersenyum. Baginya, Dalbert memang suami yang baik. Dia mampu berlaku adil untuk kedua istrinya. Rasa cintanya pada Kayonna dan juga Denaya sama-sama besar. Dia tidak pernah mementingkan salah satu di antara mereka. Semua perihal hati, rasa, juga perhatian, mampu Dalbert bagi secara rata.
"Kay?" panggil Dalbert lembut.
"Hummm?"
"Bagaimana dengan Megan? Apa yang harus kita katakan nanti?"
"Aku berencana mengadopsi bayi perempuan dari panti, Dal. Kita bisa bilang kepada Megan bahwa itu adalah adiknya."
Dalbert tersenyum, "kapan?"
"Saat ada bayi perempuan yang baru saja lahir dan ditempatkan di panti. Kapanpun itu. Entah satu, dua atau tiga tahun kedepan. Yang terpenting sebelum Megan kembali ke Indonesia. Kamu setuju, kan?"
"Iya, Sayang. Terimakasih, ya."
"Untuk apa?"
"Kemuliaan hatimu kepada Denaya."
****
# Tiga Tahun Kemudian...
"Apa yang terjadi dengan orang tuanya, Bi?" tanya Dalbert kepada pengasuh panti setelah mengambil alih bayi itu dalam gendongannya.
Satu jam yang lalu, dia mendapat kabar bahwa ada bayi perempuan yang baru saja lahir dan orang tuanya sudah meninggal. Maka dengan bergegas, Dalbert dan Kayonna langsung meluncur ke lokasi. Setelah tiga tahun lamanya, akhirnya mereka mampu mengadopsi bayi perempuan dari panti. Hal yang mereka tunggu-tunggu. Semoga kelak, saat Megan pulang ke Indonesia, megan percaya bahwa ini adalah adik kandungnya.
"Papahnya meninggal saat dia masih dalam kandungan. Dan Ibunya juga mengakhiri nafasnya setelah melahirkannya."
Kayonna **** senyum tipisnya, "kasihan dia. Hidupnya harus sebatang kara. Bahkan saat dia belum mengenal siapa kedua orang tuanya. Kita adopsi dia ya, Dal."
Dalbert tersenyum, "iya, kita akan bawa dia pulang untuk menjadi anak kandung kita."
"Kau ingin memberi nama siapa untuk perempuan secantik dia?"
"Menurutmu?"
"Menurut kau saja."
"Aku ingin memberinya nama Nicholaa."
"Nicholaa Johnson," tambah Kayonna.
flashback end.
***
__ADS_1