NICHOLAA JOHNSON

NICHOLAA JOHNSON
Chapter 6


__ADS_3

# NICHOLAA POV



Kenapa taksi tidak seramai biasanya? Sudah hampir lima belas menit aku menunggu di persimpangan jalan. Belum lagi hari sudah begitu malam.



Tidak lama dari itu aku melihat sorot mobil yang berjalan pelan lalu berhenti tepat di hadapanku.



Shit.


Aku belum pernah pergi sendirian lalu pulang semalam ini. Ini salahku yang terlalu asyik bermain di pantai tadi. Sekarang apa? Siapa pengemudi mobil ini? Bagaimana kalau dia penculik? Atau, rekan kerja kak Megan yang dulu sempat memaksaku untuk menikah dengannya.



Gawat.



Aku menyipitkan mata ketika pengemudi mobil itu turun lalu berjalan dengan ragu menghampiriku. Aku memeluk diriku sendiri erat-erat. Takut dia macam-macam.



"Nicholaa?" panggilnya ragu.



Aku semakin menyipitkan mataku ketika dia berjalan mendekat, "oh astaga, William?" kejutku tidak menyangka.



"Jadi kau benar Nicholaa?"



Aku mencibir, "jadi waktu tiga tahunmu di London mampu membuatmu melupakan semua tentangku?"



"Tidak seperti itu, Nicholaa. Aku hanya takut salah orang tadi."



"Iya, bercanda. Kamu kapan di Indonesia?"



"Tadi pagi. Dan kau tau? Saat ini aku sedang perjalanan menuju rumahmu. Tapi ternyata aku bertemu denganmu disini. Oh, Nicholaa, aku sangat merindukanmu," ucapnya beringsut mendekat lalu memelukku.



Aku terkejut. Entahlah, mungkin dulu William memang sering memelukku dengan bebas. Tapi sekarang? Seharusnya tidak seperti ini seorang perempuan yang sudah bersuami, bukan?"



Aku mendorong tubuh William, "maaf, Will."



William mengernyit, "why? Apa kamu tidak merindukanku?"



Aku tersenyum, "tentu saja aku merindukanmu, William."



"Lalu?"



"Aku sudah bersuami."



William melepas senyumnya, "seriously?"



"Maafkan aku, William. Bukan maksudku tidak mengundangmu, tapi semuanya penuh dengan tiba-tiba. Lagipula, kau hilang kabar, Will. Bagaimana caraku menghubungimu?"



William mengacak rambutnya, "baiklah. Kalau begitu, mari kuantar pulang. Seharusnya kau tidak keluyuran semalam ini jika kau sudah bersuami, Nicholaa!" ucapnya sedikit memarahiku.



Aku masuk ke dalam mobil William, "maaf, Will. Ta-,"



"Sudahlah, sekarang beritahu aku dimana alamat barumu!"



"Berbalik arah dulu, nanti aku tunjukkan lagi."



William memanuver mobilnya dalam diam. Aku tahu, dia pasti kecewa denganku. Sekian lama aku dan dia tidak bertemu, kini dia menjumpaiku dalam keadaan sudah menjadi istri orang. Itu pasti sangat mengejutkan baginya.



"Will?" panggilku lembut.



"Hummm?"



"Sorry...."



"Aku marah bukan karena kau menikah tanpa mengundangku, Nicholaa. Tapi, bagaimana bisa kau keluyuran malam-malam seperti ini sedangkan kau sudah bersuami? Bukan seperti itu caranya menjadi istri yang baik!"



Iya, begitulah William. Dia selalu dengan terbuka memarahiku ketika salah. Tanpa merasa sungkan. Tapi aku sudah terbiasa dengan itu. Aku menjadi merasa ada yang mendidikku.



"Kenapa kau belum merubah sifat kecerobohanmu itu? Seharunya kau bisa menunjukkan kepadaku kalau kepergianku selama ini mampu merubah dirimu menjadi perempuan yang lebih mampu menjaga diri sendiri. Tapi kau malah membahayakan dirimu malam-malam seperti ini. Bagaimana jika ada laki-laki berengsek yang datang lalu memperkosamu? Berpikirlah yang benar, Nicholaa."



"Aku sedang menunggu taksi, William."



"Tulis nomormu di ponselku!"



Aku menghela nafas, kuambil ponsel William yang tergeletak di dashboard mobilnya. Lalu kutulis nomor ponselku di sana.



"Kapan kau menikah?"



"Kemarin."



William menatapku tajam.



"Apa?" tanyaku bingung.



"Baru sehari menjadi seorang istri, tetapi kau sudah berani keluyuran seperti ini?"



"Aku hanya sedang suntuk, Will."



"Apa maksudmu?"



Aku terdiam, tidak. Tidak mungkin aku menceritakan kepada William bahwa Justin pergi berkerja dihari pertamanya. Pasti William akan lebih banyak berkata panjang lebar lagi.



"Em, maksudku, aku-, ah ini rumah suamiku. Sudah sampai." Bersyukur mobil William sudah melintas tepat di depan gerbang rumah Justin, jadi aku tidak perlu repot-repot mencari alasan untuk menjawab pertanyaannya.



"Kau ini menikah dengan manusia atau seorang Raja?" ucap William memanuver pelan mobilnya memasuki pekarangan rumah Justin.



Aku mengernyit, "maksudmu?"



"Ini bukan rumah, Nicholaa. Ini istiana!"



Aku tersenyum, "kau berlebihan."



Ya, aku mengerti bagaimana keterkejutan William melihat rumah Justin. Aku pun pernah merasakan itu. Tapi aku harus berlagak diam dan biasa saja. Tidak mungkin aku berkoar lalu menyombongkan semua kekayaan suamiku kepadanya.



"Terimakasih, William," ucapku melepas sabuk pengaman.



"Satu pelajaran buatmu, Nicholaa. Jangan seperti ini lagi. Kau mengerti?"



"Siap!" patuhku kemudian turun.



Aku melambaikan tangan begitu mobil William keluar dari halaman rumah. Tidak menyangka sekali bisa bertemu dengannya malam ini. Hatiku sedang kacau, dan William datang. Seharusnya itu waktu yang tepat untuk menceritakan segala keresahan yang sedang aku alami. Tapi tidak, semuanya sudah berbeda. Aku tidak mungkin menceritakan ketidak harmonisan sikap suamiku sendiri kepada orang lain.



Aku memutar tumitku lalu membuka handle pintu.



Oh Shit.


Gelap.



Apa ini? Pasti ulah Javier. Apa maksudnya? Aku belum pulang tetapi lampu sudah dimatikan?



Aku menghela nafas lalu berkacak pinggang," Javier! Kau ini kurang kerjaan atau bagaimana? Justin beserta istrinya belum pulang tetapi kau sudah mematikan lampunya? Dasar!!" omelku lantang.



Aku berjalan dan menekan saklar lampu yang berada di ruang tamu.



Oh, tidak. Aku terkesiap begitu mendapati Justin tengah duduk di sofa dengan tangannya yang di lipat di dada. Matanya tajam menatapku. Rahangnya mengeras bagai menahan amarah. Bibirku bergetar menahan takut.



"J-justin?" panggilku hati-hati. Shit. Kenapa aku menjadi penakut seperti ini kepada Justin? Aagghhh.



Justin masih diam dengan pandangan tajamnya itu. Aku tertunduk. Hatiku sesak. Aku bahkan belum pernah di tatap semengerikan itu olehnya.



"Justin?" panggilku pelan menahan takut.



"Ma-" ucapku terhenti dan aku terkesiap begitu Justin berdiri dan menyeret kasar tanganku.



"Justin, sakit!" rintihku berusaha melepas diri.



"Lepaskan, Justin. Sa-,"



"Diam!" bentaknya lantang.



Aku terdiam seketika, air mataku saat ini sudah berlinang membasahi pipiku. Justin terus saja menyeretku menuju kamar.



"Sialan kau!" bentaknya lagi menghempaskanku ke ranjang.



Aku terisak.



Justin merangkak naik lalu mencengkeram kuat daguku, "istri macam apa kau? Hah!!"



Aku berjingkat dan semakin terisak.

__ADS_1



"Seperti itukah kelakuan seorang istri ketika suaminya tidak di rumah?!"



"Apa maksudmu, Justin?" tanyaku penuh getar.



"Jangan coba-coba berselingkuh di belakangku, Nicholaa!!!"



"Aku tidak melakukan itu, Justin. Aku setiap kepadamu!"



Justin tergelak mendengar ucapanku. Sungguh, tidak ada yang lucu dari ucapanku barusan.



Justin menghentikan tawanya.



Tanganya semakin kuat mencengkeram daguku, "berpelukan dengan laki-laki lain di jalanan dan pulang larut malam? Itukah? Itukah yang kau sebut Setia? Hah?"



"Dasar kau Jalang!!!!" bentaknya lagi membuang kasar wajahku.



Aku hanya terdiam dan terisak menerima perlakuan kasar Justin. Apa katanya barusan? Dia menyebutku Jalang? Oh sungguh, hatiku rasanya bagai di gores sembilu tajam.



Tidak lama dari itu ponselku berbunyi. Dengan sigap Justin langsung mendahuluiku sebelum aku meraihnya.



Justin tersenyum getir membaca pesan di ponselku. Apa lagi ini?



"Bahkan kau sudah bertukar nomor ponsel dengannya!!"



Oh, ini pasti William.



Aku menyeka air mataku, "tidak, Justin. Dia hanya teman lamaku."



"Tidak ada seseorang yang memanggil temannya dengan sebutan sayang, Nicholaa! Kau mengerti itu!!!"



Prrraakkkk!!!



Aku berjingkat terkejut saat Justin membanting keras ponselku ke lantai. Lalu dia meraih kembali wajahku dan mencengkeram kuat daguku.



"Cari kamar lain dan enyahlah kau dari kamarku!!" bentaknya mendorong kuat tubuhku hingga aku tersungkur jatuh ke lantai.



Aku meringis kesakitan saat kepalaku terbentur sudut nakas. Air mataku semakin deras seiring dengan mengalirnya darah segar dari dahiku.



Aku tidak sanggup berkata apapun lagi. Bahkan aku tidak memiliki nyali sedikitpun untuk menatap wajah Justin. Dengan merangkak dan berdiri pelan-pelan, aku mulai berjalan keluar melewatinya.



Banyak kamar kosong di lantai atas. Tapi tidak, aku tidak ingin membuat Justin semakin marah dengan adanya aku yang berdekatan dengannya.



Pelan-pelan aku menuruni tangga untuk mencari kamar kosong lainnya di bawah. Air mataku seakan lupa caranya berhenti. Hatiku sesak dan perasaanku sakit. Kenapa Justin tiba-tiba berubah semengerikan itu? Bahkan dia berlaku kasar kepada istrinya sendiri. Jika memang semua ini karena William, seharusnya dia bertanya baik-baik dan meminta penjelasan kepadaku. Bukan seperti ini. Ini tidak akan menyelesaikan masalah, bukan?



Langkahku terhenti ketika tiba-tiba Javier membuatku terkejut dengan menghadang jalanku.



"Beri aku jalan, Javier!" perintahku tanpa sedikitpun menatapnya.



"Sudah kubilang, seharusnya bukan perempuan secantik dirimu, Nicholaa," Javier mengulang kembali kalimatnya tadi pagi.



Tunggu.


Javier berbicara seolah dia mengetahui sesuatu.



Aku menatap matanya, "apa yang kau ketahui?"



"Hapus air matamu, Nicholaa. Dan mari ku obati lukamu."



"Kau tidak perlu melakukan itu, Javier. Kau hanya perlu menjawab pertanyaanku, apa yang kau ketahui?!"



"Tidurlah di tempatku malam ini, biar aku yang mencari kamar lain."



"Cukup, Javier! Sudah kubilang kau tidak perlu melakukan apapun. Kau hanya perlu menjawab pertanyaanku, apa yang kau ketahui?!"



"Baiklah kalau kau menolak tawaran baikku, Nyonya Clayton. Selamat mencari tempat tidur baru," ucapnya kemudian berlalu pergi.



Apa maksud Javier, dia berbicara seolah-olah menyembunyikan sesuatu dariku. Sesuatu yang dia ketahui tentang kenapa Justin sebenarnya.



Aku berjalan menuju kamar kosong yang bersebelahan dengan ruang kerja Justin. Ini kamar terjauh dari kamar Justin. Mungkin dengan begini, Justin bisa tenang.



Aku membuka pintu kamarnya, cukup besar. Walau tidak sebesar kamar Justin, tapi ini cukup untukku.



****



Paginya aku terbangun dengan luka nyeri di kepala dan mata yang sembab. Oh, ini pasti gara-gara aku menangis semalaman. Dadaku kembali sesak mengingat kejadian tadi malam.



Justin.



Aku masih tidak menyangka atas perlakuan kasarnya. Aku masih tidak percaya atas dirinya yang aku kenal sekarang.



Jalang.



Bahkan itu adalah panggilan terhina yang pernah aku dapatkan. Dan parahnya, suamiku sendiri yang memberiku gelar itu.



Aku bangun dan mengikat rambutku asal. Aku melihat diriku di cermin. Darah di dahiku sudah mengering. Ini salahku yang menangis hingga tertidur sampai aku lupa belum membersihkannnya. Oh god, seharusnya tidak seperti ini bayangan seorang pengantin baru, bukan?



Ku langkahkan kakiku menuju kamar mandi. Aku menghela nafas menatap *bathtube*. Mungkin berendam dengan air hangat bisa menghilangkan sedikit kepenatanku.



Setelah puas dengan air hangat, aku keluar dengan jubah handukku. Mataku melebar saat menatap kamar ini, teringat bahwa aku tidak sedang berada di kamar Justin. So, bagaimana ini? Pakaianku ada disana, dan aku tidak mungkin keluar kamar hanya dengan memakai jubah handukku.



Ckleek


Aku terkesiap saat pintu itu terbuka.



*Justin* batinku terkejut.



Perlahan kulangkahkan kakiku mundur. Sial, kenapa aku menjadi setakut ini dengan suamiku sendiri.



Ku lihat dia berjalan maju dan duduk di sisi ranjangku, "kemarilah," ucapnya dingin.



Tidak ada pergerakan sama sekali dariku. Justru aku beringsut sembunyi dibalik pintu kamar mandi, takut-takut dia akan mengasariku lagi.



"Aku bilang kemari, Nicholaa!" ucapnya lebih keras.



Aku berjingkat terkejut. Dengan bergegas dan tangan gemetar. Ku langkahkan kakiku mendekatinya.



"Duduklah," perintahnya dingin.



Aku duduk di kursi yang berada tepat di depan meja rias. Lalu menunduk menghadap Justin.



"Duduk disini, Nicholaa. Bukan disitu," ucapnya lagi seraya mengedikkan dagunya menunjuk sisi ranjang disebelahnya.



"Tapi aku baru saja selesai berendam, Justin. Nanti kasurnya basah terkena rambutku," ucapku hati-hati. Sebenarnya bukan itu alasanku, tapi aku terlalu takut untuk dekat-dekat dengannya.



"Aku bilang duduk disini, Nicholaa!!" bentaknya lantang.



Aku mengerjap karena terkejut. Lalu perlahan ku langkahkan kakiku duduk disebelahnya.



Justin membuka laci yang ada di nakas, lalu mengambil kotak kecil yang berisi obat-obatan di dalamnya.



"Kemari, biar kuobati lukamu," ucapnya dingin seraya meneteskan obat merah di kasa bersih.



Aku menundukkan kepalaku, memberi kemudahan untuk Justin mengobati lukaku.



"Tadi pagi aku melihat darah di lantai kamar kita dan aku yakin itu darahmu. Kenapa kamu tidak bilang?"



Aku menggeleng pelan.



"Selesai. Jangan lupa untuk mengganti perbannya nanti sore."



Aku tersenyum.



Entahlah, aku tidak tahu kenapa aku menjadi pendiam dan penakut untuk berhadapan dengan suamiku sendiri.



Justin membereskan obat-obatan itu dan kembali memasukkannya ke dalam nakas.



"J-justin?" panggilku menghentikan langkahnya yang hendak berlalu pergi.



Justin berhenti.



"Kenapa kau mengobatiku?" tanyaku penuh hati-hati.



Justin berbalik dan menatapku sejenak, "tunggu disini, biar ku ambilkan bajumu," kemudian kembali berlalu pergi.


__ADS_1


Aku tersenyum pahit. Setidaknya itu membuatku sedikit tenang pagi ini.



Tidak lama dari itu, pintu diketuk dari luar.



"Siapa?" tanyaku. Sebab jika Justin, pasti dia akan langsung masuk tanpa harus melakukan permisi.



"Molly, Nyonya. Tuan memerintahkan saya untuk mengantarkan pakaian ini."



God.


Aku pikir Justin akan kembali dan mengantarkannya untukku sendiri.



"Masuklah."



Molly masuk dan memberikan pakain untukku.



"Terimakasih, Molly. Justin dimana?"



"Tuan pergi setelah mendapat telepon, Nyonya?"



"Apa dia sudah rapi?"



"Tidak, Nyonya. Tuan pergi memakai pakaian biasa, bukan seragam kerja."



Kemana Justin pergi?



"Nyonya mau sarapan apa? Biar saya bawakan kemari."



"Eh, tidak perlu. Nanti aku ambil sendiri."



"Baik, saya permisi dulu."


****



Setelah mengganti pakaianku, aku keluar dan berjalan menuju ruang makan. Ada Javier yang sedang menikmati sarapan di sana.



"Selamat pagi, Cantik," sapanya seraya membidikkan kameranya padaku.



Aku tersenyum lalu duduk di hadapannya.



"Mau sarapan apa?" tanyanya menyiapkan sepiring nasi untukku.



"Tidak perlu, Javier. Aku bisa melakukannya sendiri," ucapku merebut piring darinya.



"Javier?" panggiku lembut seraya mulai menikmati sarapanku.



"Ya?"



"Sejak kapan kau tinggal bersama Justin?"



"Cukup lama. Dulu semenjak kedua orang tua Justin meninggal, Justin tinggal bersama keluargaku. Saat dia lulus kuliah, dia memilih untuk tinggal sendiri dan memulai karirnya. Tidak lama setelah Javier sukses, kedua orang tuaku meninggal, lalu Justin memintaku untuk tinggal bersamanya."



Aku tersenyum mendengar itu, "kalian saudara yang baik."



"Yaa..., pada sejatinya seperti itu."



"Kau? Fotografer?"



"Kenapa? Kau ingin ku potret setiap hari?"



Aku tertawa kecil. Dasar Javier, ada-ada saja.



"Baru kali ini."



Aku mengernyit, "apa?"



"Melihatmu tertawa begitu."



Aku terdiam dan kembali menikmati sarapanku.


****



Hari sudah lewat malam, tapi kenapa Justin belum pulang juga? Kemana dia? Aku teramat cemas memikirkannya. Apa terjadi sesuatu? Mengingat bahwa kata Molly tadi pagi, dia pergi setelah mendapat telepon dari seseorang.



"Tidurlah, Nicholaa. Ini sudah jam satu pagi," ucap Javier menghampiriku di teras rumah.



"Tidak, Jav. Suamiku belum pulang."



"Justin laki-laki, Nicholaa. Dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri."



"Tapi seorang istri tidak akan merasa tenang jika suaminya be-,"



Ucapku terhenti ketika ku dapati sorot mobil yang sedang memasuki pekarangan rumah. Nafasku terasa lega saat kuyakini bahwa itu adalah mobil Justin.



Syukurlah dia pulang dalam keadaan baik-baik saja. Sedang dimana dia seharian? Aku mencemaskannya dari tadi.



Senyumku meluntur saat kudapati bahwa ternyata bukan Justin yang keluar dari kursi kemudi. Melainkan wanita cantik dengan gaunya yang melekat memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya. Wanita itu membuka pintu mobil yang lain dan barulah kudapati Justin. Oh God, apa yang terjadi? Kenapa wanita itu membopong lengan Justin.



"Siapa kau?" tanyaku ketika mereka sampai di teras.



"Dimana kamar Justin?" tanyanya balik.



"Lepaskan suamiku!!"



Wanita itu tersenyum kecut lalu mencium Justin di hadapanku, "apa hakmu menyuruhku melepaskan pacarku? Hah?" bentaknya kemudian.



Air mataku lolos dari pertahanan. Aku tidak percaya menyaksikan ini semua. Lancang sekali dia mencium suamiku. Bahkan aku saja yang istrinya belum pernah melakukan itu.



"Justin, lepaskan wanita itu!!!" bentakku penuh emosi.



Tapi justru Justin malah tersenyum tidak jelas. Matanya sayup. Bahkan sesekali tubuhnya terhuyung mundur jika saja wanita itu tidak menahannya.



"Justin, apa yang terjadi? Lepaskan wanita itu, Justin!" bentakku yang sama sekali tidak mendapat respon apapun darinya.



"Justin, lepaskan!"



"Jus-,"



"Diaam kau, Jalang!!" bentaknya yang seketika membuatku berjingkat ketakutan.



"Let's go, Baby. Kita masuk," ucapnya lembut kemudian berlalu pergi membawa wanita itu.



Aku tercengang dan tidak percaya melihat ini. Dengan mengumpulkan keberanian yang aku punya, aku melangkah maju mengejar Justin dan menarik bahunya hingga membuat dia terlepas dari wanita itu.



"Apa maksudmu, Justin?! Tidak sepantasnya kau membawa perempuan lain pulang ke rumah kita, bahkan ke kamar kita!!!"



Justin menatapku tajam, rahangnya mengeras. Aku sadar dia marah besar, tapi aku harus benar-benar berani kali ini. Justin kelewatan, dia benar-benar sudah kelewatan.



"Beraninya kau...," lirihnya pelan seraya tersenyum kecut.



"Rasakan ini!"



Plaakkk!!



Aku tersungkur jatuh menahan tamparan panas yang diberikan Justin padaku. Darah segar kembali mengalir dari sudut bibirku. Ini sakit sekali.



"Kau tidak berhak mengaturku! Ini rumahku, bukan rumahmu. Terserah siapa yang aku bawa pulang kemari. Apa hakmu mengatur hidupku, Jalang!!"



Aku menyeka air mataku dan menatap tak percaya ke arah Justin, "kenapa kamu tega menyakitiku, Justin?" ucapku lembut.



"Kau pantas mendapatkannya! Kau harus merasakan deritaku!!!" bentaknya keras kemudian disusul dengan gelak tawa darinya.



Dan mereka berlalu pergi.



Aku terisak. Bersimpuh dengan rasa sakit yang mengikis habis perasaanku. Tidak pernah kusangka, rumah tanggaku akan hancur seperti ini. Ini lebih mengerikan daripada menjadi istri kedua yang dulu pernah aku bayangkan.



Oh, God.


Kenapa Justin berubah menjadi sekejam itu?



Ku rasakan tangan Javier menyentuh lembut bahuku, "percuma kau bicara apapun kepadanya, Nicholaa. Dia sedang mabuk. Sudah kubilang, seharusnya kau istirahat saja."



"Apa yang mereka lakukan di dalam sana, Jav? Seharusnya aku yang berada disana bersama Justin, bukan wanita jalang itu."


****




__ADS_1


__ADS_2