NICHOLAA JOHNSON

NICHOLAA JOHNSON
Chapter 12


__ADS_3

# NICHOLAA POV



Aku terbangun. Seketika itupun kepalaku terasa berat. Tubuhku lemas dan kaki kiriku sakit. Mataku mengerjap beberapa kali untuk mengembalikan kesadaranku secara utuh. Saat kurasa ada yang menggenggam tanganku dengan erat, aku menoleh dan terkejut mendapati Justin yang tengah menatapku dengan cemas.



"Nicholaa, kau sudah sadar?" tanyanya melepas kelegaan.



Aku mengernyit bingung, "sadar?" tanyaku polos.



"Kamu tidak sadarkan diri semalaman. Aku benar-benar mencemaskanmu."



Aku mengalihkan pandanganku untuk mengingat apa yang terjadi pada diriku sendiri.



Ckleeekkkk



Seseorang membuka pintu rumah sakit dan seketika ingatanku kembali pada kejadian menyakitkan yang menimpa diriku tadi malam.



"Kauu!!!" geramku menunjuk perempuan berambut pirang yang tengah membawakan senampan sarapan untukku.



"Dan kamu!!!" lanjutku menatap kecewa mata Justin.



"Pergi kalian dari sini!!" bentakku membuat mereka terkejut.



Perempuan itu meletakkan nampan diatas nakas dan beringsut mendekatiku, "jika kau sudah banyak tahu tentang siapa diriku, maafkan aku, Nicholaa," ucapnya lembut.



Air mataku jatuh dan bibirku tersenyum miris, "pergi kamu, Allura...," pintaku pelan seraya mengalihkan pandanganku darinya.



"Nicholaa...."



"Kau juga, Justin! Pergi kau dari sini!!" bentakku menangkis tangannya.



"Nicholaa, maafkan aku. Ini salahku...." Justin berusaha memelukku tapi dengan segera kudorong tubuhnya hingga terhempas ke lantai.



"Aku bilang pergiii!!!!!"



Prrokk!! Prook!! Prook!!!



Suara tepuk tangan itu mengalihkan perhatian kami seketika. Seseorang dengan pakaian seksinya masuk ke ruang rawatku. Perempuan itu tidak asing. Aku pernah menjumpainya sebelum ini. Tapi dimana?



Mataku melebar saat kusadari bahwa perempuan itu adalah perempuan yang pernah dibawa pulang oleh Justin. Ya aku tidak salah. Dia kini ada disini! Di hadapanku!



Justin terbangun, "Theresa!!"



Perempuan itu tergelak, "kenapa, Jus? Kamu kaget aku ada di sini? Hum?"



"Siapa kamu?!!" sela Allura mendorong tubuhnya.



Perempuan itu terhuyung mundur, "aku tidak ada urusan sama kamu, ya! Jadi jangan ikut campur!!"



"Cukup, Theresa!! Katakan, apa yang kau lakukan disini?!" bentak Justin menghampiri.



Theresa tergeletak, "membesuk korbanku!" desisnya menatap tajam kearah ku.



Mataku melebar. Apa maksudnya? Korban? Aku?



Justin beringsut mendekat dan mencekik lehernya, "apa maksudmu? Jangan bilang kau yang-,"



"Ya!! Aku yang melesatkan peluru itu pada kaki istrimu!!!"



Tangisku pecah mendengar itu. Aku menarik selang infus yang ada di tanganku dan berjalan mendekatinya.



"Aawww!!!" rintihku saat kurasakan rasa sakit dikaki.



Allura beringsut membantuku, "Nicholaa, apa yang kau lakukan?"



"Lepaskan aku, Allura!"



Justin melepas Theresa dan menghampiriku, "Nicholaa, kamu mau kemana?" ucapnya menggandeng tanganku.



"Jauhkan tanganmu ini dari tubuhku!"



Justin menitikkan air matanya dan melepasku.



Aku berjalan menghampiri Theresa. Ku tatap dalam-dalam kedua matanya. Hatiku sakit! Sesakit saat aku menatap Allura. Aku tidak mengerti, kenapa Tuhan kini menghadirkan dua perempuan yang sudah berhasil membuatku patah hati.



Pllaaakkkk!!!!



Tanganku mendarat tepat di pipi kirinya.



"Berani kau menamparku, Jalang! Hah?!" bentaknya tak terima.



Aku tersenyum miris, "apa salahku padamu?!"



Theresa tergelak, "aku benci padamu! Aku tidak terima Justin mencampakkan ku pagi itu!! Menyuruhku pulang dan lebih memilihmu!! Dan ini semua kulakukan atas dendamku kepada Justin!! Kau mengerti?!!!"



Air mataku luruh. Sekarang apa lagi? Hidupku yang mana yang benar-benar berguna? Setelah aku menjadi alat pelunas hutang dari seorang Megan Johnson. Hatiku kembali dipatahkan saat suamiku sendiri menjadikanku alat tukar untuknya mendapatkan apa yang dia mau. Dan sekarang? Aku menjadi sarana balas dendam seorang perempuan atas kesalahan suamiku sendiri!!



"Bajingan kau, Theresa!!"



"Cukup, Justin!!" bentakku menangkis tangan Justin yang hendak menampar Theresa.



Aku menatap kecewa mata Justin.



Plaaakkkk!!!



"Aku benci sama kamu!!!" lanjutku berlalu pergi setelah menamparnya.


****


# JUSTIN POV


__ADS_1


Aku mengejar taksi yang kuyakini ada Nicholaa di dalam sana. Air mataku jatuh dan dadaku sesak. Aku terkejut melihat sikap Nicholaa padaku pagi ini. Sumpah demi apa selama ini dia belum pernah membentakku bahkan menamparku sekeras tadi.



*"Aku benci sama kamu!!!"*



Bahkan ucapan Nicholaa di ruang rawatnya tadi masih terngiang jelas di telingaku. Bersahut-sahutan dengan penolakannya saat kuperintahkan dia untuk bilang bahwa dia membenciku di kolam renang malam itu.



Aku menyesal. Aku yakin pasti saat ini Nicholaa benar-benar marah dan kecewa padaku. Perempuan mana yang tidak luka saat suaminya sendiri dengan tega menjadikannya alat tukar. Bahkan semalam itu sama saja aku menjualnya.



Dadaku semakin sesak saat mengingat bahwa semalam Tristan berusaha menidurinya. Astaga, Ya Tuhan. Aku tidak mampu membayangkan bagaimana terlukanya Nicholaa saat melarikan diri dari bajingan itu. Dia pasti sangat ketakutan. Kenapa aku bodoh sekali melakukan ini hanya demi bisa bertemu Allura.



Aggghhhhhhhhhh!!!



Maafkan aku, Nicholaa, aku menyesal. Hatiku patah sekarang. Perasaanku hancur berantakan.



Mataku melebar saat taksi itu memasuki pekarangan rumah Tuan Megan. Oh, God! Nicholaa pulang ke rumahnya sendiri. Ini artinya dia benar-benar tidak ingin lagi bertemu denganku.



Aku menepikan mobilku dan segera beranjak turun saat melihat Nicholaa tengah berlari dengan kakinya yang masih berbalut perban putih itu.



"Nicholaa, tunggu!" cegahku memeluknya dari belakang.



"Maafkan aku, Nicholaa. Maafkan aku...," lanjutku terisak.



Nicholaa meronta-ronta, "jauhkan tubuhmu ini dariku, Justin!!"



Tangisku pecah seketika mendengar perintahnya. Seperti inikah sakitnya? Seperti inikah yang Nicholaa rasakan selama ini? Di tolak dan dibenci oleh pasangan sahnya sendiri.



"Tidak, Nicholaa. Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu memaafkanku. Aku tahu ini sakit, Nicholaa. Tapi kau harus tahu, aku lebih sakit merasakan derita penyesalan ini!"



"Aku tidak peduli dengan semua perasaanmu!! Kau harus tau, Justin! Kurang sabar apa selama ini aku menghadapimu? Hah? Aku rela berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga kita! Tapi apa? Kamu sendiri yang menghancurkan semuanya! Kamu tidak tahu bagaimana sakitnya perasaan seorang istri saat dia sedang terjaga tengah malam menanti kepulangan suaminya dengan cemas. Tapi apa yang dia dapatkan? Suaminya dengan tega membawa perempuan lain pulang dan tidur dengannya! Bahkan saat dirinya sendiri belum pernah menyentuh istrinya!"



Air mataku bercucuran mendengar ucapannya, "kamu salah paham, Nicholaa. Aku tidak pernah tidur dengannya. Aku sengaja membawanya pulang untuk membuatmu cemburu. Tapi kamu harus tahu. Aku belum pernah melakukan hal itu pada siapapun, Nicholaa! Percaya padaku!!"



"Salahku apa, Justin? Salahku apa padamu? Kenapa kamu tega melakukan semua ini padaku?!!"



"Maaf, Nicholaa. Maaf....!"



"Aku tidak mau mendengar apapun lagi darimu! Lepaskan aku!!"



"Nicholaa, aku mohon maafkan aku...."



"Maafkan katamu?!!! Kau tidak tahu bagaimana takutnya aku semalam, Justin!! Kau tidak tahu bagaimana susah payahnya aku melarikan diri dari calon kakak iparmu itu!! Aku hancur, Justin! Aku hancuur!!!"



Dadaku sesak mendengar ucapannya! Aku benar-benar merasa bodoh telah membuatnya semenderita ini. Aku tidak mengerti! Aku menyesal atas sikapku selama ini!! Persetan dengan dendam masa lalu itu! Nyatanya hatiku lebih perih saat melihat Nicholaa tersiksa seperti ini!



"Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan supaya kau memaafkanku, Nicholaa? Katakan...."



"Aku cuma butuh kau lepaskan aku dan pergi dari sini!!"



"Tidak, Nicholaa!"



"Lepaskan aku, Jus!"




"Lepaskan aku, Justin! Lepaskan akuu!!!"



"Justin!!"



Buggghhhhhh!!!



Aku terkejut saat tiba-tiba kak Megan datang dan memukul wajahku.



Nicholaa beringsut sembunyi dibalik punggung kak Megan dan menangis disana.



"Apa yang terjadi? Kenapa Nicholaa menagis, Justin? Hah?!!" bentak kak Megan padaku.



"Dan apa ini? Kenapa Nicholaa memakai pakaian rumah sakit dan... dan kenapa kakimu Nicholaa?" lanjutnya memeluk Nicholaa dengan cemas.



Bibirku kelu. Aku tidak mampu menjawab semua pertanyaan Tuan Megan. Bahkan dadaku semakin sakit saat aku berniat ingin menjelaskan. Aku akan terima semua resikonya. Mungkin sekarang sudah saatnya keluarga Johnson tahu bagaimana sikapku pada Nicholaa selama ini.



"Justin, jawab! Apa yang sudah terjadi pada Nicholaa?"



Aku menghela nafas dan menyeka darah segar yang keluar dari sudut bibirku, "semalam... semalam aku...."



"Semalam aku kecelakaan!" potong Nicholaa membuatku terkejut menatapnya.



"Sebuah mobil menabrakku dan hari ini aku tidak mau bertemu dengan Justin!!!" lanjutnya berlalu pergi masuk rumah.



"Nicholaa!!"



"Cukup, Justin!!" bentak kak Megan menghadangku yang hendak mengejar Nicholaa.



"Kak, aku harus selesaikan masalahku dengan Nicholaa sekarang juga."



"Aku tidak tahu apa masalah kalian. Yang jelas saat ini kau pulanglah dulu. Nicholaa butuh sendiri."



"Tapi, Kak-,"



"Percuma kau mengajaknya bicara saat keadannya sedang kacau begitu. Pulang sekarang. Aku lebih dewasa darimu dan percaya padaku!" ucap Kak Megan berlalu meninggalkanku.



Aku menghela nafas dan menyeka air mataku. Ya Tuhan, hatiku benar-benar hancur berantakan. Kenapa Nicholaa menyembunyikan semuanya dari Kak Megan? Kenapa dia tidak bicara terus terang dan membongkar semua rahasia rumah tangga kami selama ini? Kenapa?



Menjaga kehormatan seorang suami?



Astaga!


Aku mengutuki diriku sendiri!



Bagaimana bisa aku menyia-nyiakan seorang istri yang memperlakukanku semulia itu?


****

__ADS_1


# NICHOLAA POV



"Di minum dulu," ujar kak Alodie meletakkan segelas teh hangat di meja.



Aku kini tengah berada di ruang keluarga. Kak Megan terus menatapku dengan perasaan cemasnya. Aku tahu, tidak seharusnya aku pulang ke rumah dan memperlihatkan kekacauan rumah tanggaku ini kepada keluarga Johnson.



Tapi apa lagi yang bisa aku perbuat? Hatiku benar-benar patah. Aku tidak sanggup lagi menahan rasa sakit ini. Aku enggan bertemu Justin, aku tidak sudi bertemu Allura dan aku kecewa atas pengakuan Theresa di rumah sakit tadi.



Kenapa? Kenapa hidupku setidak berguna ini? Aku lelah berpura-pura tegar. Aku lelah. Bahkan sampai sekarang aku tidak tahu siapa Justin sebenarnya. Apa tujuannya menikahiku. Dan kenapa harus aku?



"Nicholaa...," kak Alodie membelai lembut kepalaku.



"Hei, diminum dulu tehnya," lanjutnya lagi.



"Hentikan pandangan kosongmu itu, Nicholaa. Kalian ini kenapa sebenarnya?" sahut kak Megan yang mungkin geram melihatku terus melamun dari tadi.



Aku mengerjap pelan, "aku ke kamar dulu," ucapku berlalu meninggalkan mereka.



Aku tersudut memeluk guling tidurku dengan air mata yang terus berlinang. Dadaku sesak mengingat betapa teganya Justin melakukan semua ini padaku. Aku pikir, setelah kejadian di Puncak itu, Justin benar-benar sudah berubah. Aku pikir dia sudah melupakan Allura dan mulai mencintaiku. Tapi pada kenyataannya? Justru luka ini lebih sadis ketimbang kasarnya perlakuan Justin padaku selama ini.



Ckleekk!



"Nicholaa?" panggil kak Megan menghampiriku.



Aku menyeka air mataku, "pergi, Kak. Aku butuh sendiri."



Kak Megan duduk di tepi ranjang dan membelai rambutku, "tidak sebelum kamu cerita pada kakak."



"Tidak terjadi apapun, hanya kesalah pahaman kecil."



"Apa hubungannya kecelakaan yang menimpa dirimu dengan perselisihan rumah tangga kalian?"



"Kami berselisih pendapat. Aku berlari dan sebuah mobil menabrakku, hanya itu."



Kak Megan menghela nafas, "perselisihan dalam rumah tangga itu memang hal yang wajar, Nicholaa. Hanya saja terlihat aneh jika terjadi dalam usia pernikahan kalian yang masih muda."



Aku tersenyum tipis mendengar ucapan kak Megan. Andai dia tahu, bahkan rumah tanggaku sudah berselisih sejak malam pertama dulu.



"Aku harus segera pergi ke kantor. Alodie bawakan sarapan untukmu, ya...."



Aku mengangguk.


****


# AUTHOR POV



Lawrence dan Javier tergelak bersamaan ketika melihat Justin yang sedang frustasi di ruang makannya pagi ini. Setelah berdebat kecil dengan Megan tadi, dia memilih pulang dan memberikan waktu untuk Nicholaa sejenak menenangkan diri.



Justin tidak habis pikir. Kenapa perasaannya bisa sekacau ini? Apa dia benar-benar sudah jatuh cinta pada Nicholaa? Dia tidak mengerti. Hatinya kacau dan pikirannya frustasi.



"Menu apa? Pizza? Salad? Spagheti? Hamburger? Steak?" tanya Javier tergelak.



Lawrence menggeleng kepala tak percaya, "hei, itu terlalu megah jika hanya untuk merayakan kekalahannya...," ucapnya kembali tergelak.



"Tidak tidak. Bahkan itu masih terlalu sederhana untuk merayakan kegagalan misi seorang Justin Clayton...!!"



"Kau tidak perlu repot-repot memikirkan itu dulu, Javier. Yang terpenting potret dan abadikanlah baik-baik betapa frustasinya wajah sepupumu itu...!!"



Keduanya kembali tergelak.



"Tutup mulut sialan kalian itu!!!" bentak Justin tak terima mendapat ejekan kedua sahabatnya itu.



Lawrence meneguk Jus yang diberi Molly padanya tadi, "santai, Bos! Santai!!"



"Kau ini hanya perlu mengakui saja semuanya, Brother. Terimalah kekalahan ini! Untuk apa kau pelihara besar-besar egomu itu. Bilang saja kalau kau sudah jatuh cinta pada Nicholaa," sambung Javier seraya membidikkan kameranya pada Lawrence.



"Lelucon apa itu? Aku tidak jatuh cinta padanya!"



Lagi-lagi Lawrence dan Javier tergelak bersamaan.



"Huuuhhh," Lawrence menghela nafas panjangnya, "menangis semalaman, menunggunya cemas di rumah sakit, meminta maaf, mengejarnya sampai kediaman rumah Johnson. So? Apa itu kalau bukan jatuh cinta, Bos?"



"Bisa saja itu hanya rasa bersalahku padanya, Lawrence!"



"Ahahahahaa uhuuk uhuk uhukk," Javier tergelak lalu tersedak mendengar ucapan Justin, "keras kepala! Sudahlah, Brother! Redamkan dalam-dalam keegoisanmu itu. Kau itu jatuh cinta pada Nicholaa dari awal. Semua kemarahanmu selama ini bukan rasa dendammu padanya. Tapi rasa cemburu yang membakar habis perasaanmu saat laki-laki itu mengantar Nicholaa pulang!"



Lawrence mengernyit, "laki-laki siapa, Jav?"



"Entahlah, aku tidak paham. Yang jelas malam itu Nicholaa diantar pulang sama laki-laki lain dan malam itu pertama kali pula Justin memarahi Nicholaa."



Lawrence kembali meneguk jusnya, "katakan saja kau cinta padanya sebelum terlambat."



Javier tergelak, "sebelum Nicholaa berbalik menjadi istri dari Javier Anderson!!"



Bugghhhhh!!



"Jaga bicaramu, Bodoh! Jangan pernah sekali-kali kau rebut dia dariku!!" bentak Justin emosi setelah pukulannya mendarat tepat dipipi kanan Javier.



Javier beradu tatap sekilas dengan Lawrence. Lalu keduanya kembali tergelak.



Justin mengernyit, "kenapa kalian tertawa?"



Javier menyeka darah segar dibibirnya, "sudah cemburu lepas begitu, masih saja gengsi mengakui."



"Benar-benar keras kepala!" tambah Lawrence menghela nafas panjangnya.



Justin terdiam. Dia tidak mengerti. Yang jelas saat ini perasaannya benar-benar sakit. Hancur berkeping-keping. Dia mencemaskan Nicholaa. Dan ingin sekali rasanya memeluk perempuan itu dan mendekapnya lama-lama.



"Apa aku benar-benar sudah jatuh cinta?" gumamnya di hati.


****

__ADS_1




__ADS_2