NICHOLAA JOHNSON

NICHOLAA JOHNSON
Chapter 11


__ADS_3

# NICHOLAA POV



Paginya aku terbangun saat sinar mentari berhasil menyorot dan membuat mataku mengerjap berkali-kali.



"Di rumah?" gumamku dalam hati saat menyadari bahwa aku kini tengah berada di kamar suamiku.



Cklleeekk.



"Kau sudah bangun?" tanya Justin yang tiba-tiba masuk dengan membawa tas kerjanya.



"Justin, kamu mau pergi berkerja?"



Justin tersenyum, "pulang berkerja."



Mataku melebar, bergegas kulihat jam diatas nakas. Oh astaga, jam 2 siang?



Justin meletakkan tas kerjanya dan mulai melepas dasinya itu, "semalam kau tertidur waktu pulang dari Puncak. Dan seharian, Molly terus menelponku dengan khawatir karna kau tak juga kunjung bangun hingga siang ini."



"Untuk itu..., kamu segera pulang?"



"Ya, aku khawatir padamu."



Deg.



Jantungku berdegup kencang saat Justin mengatakan itu. Terlebih saat kini langkahnya berjalan menghampiri dan duduk di sebelahku.



"Kamu sakit?" tanyanya lembut.



"Tidak, mungkin cuma kelelahan saja," jawabku tersenyum.



"Justin?" panggilku mencegahnya yang hendak beranjak pergi.



"Ya?"



"Aku bahagia kamu peduli sama aku."



Justin terdiam. Matanya menatap lembut mataku. Aku merasa ada secercah rasa sakit yang Justin sembunyikan dalam matanya yang mendadak sendu menatapku.



"Kamu kenapa, Jus?" tanyaku membuatnya mengerjap.



"Tidak," Justin melepas sepatu kerjanya, "Tristan mengundang kita untuk menghadiri pesta ulang tahunnya nanti malam."



"Tristan?" tanyaku meminta penjelasan.



"Ya, rekan kerjaku. Aku akan memperkenalkanmu padanya nanti."



"Yang waktu itu datang ke pesta pernikahan?"



Justin menatapku, "kau mengenalnya?"



"Dia menghampiriku saat itu."



Justin terdiam. Lagi-lagi matanya sendu. Ada apa sebenarnya? Justin suka berubah menjadi sayu akhir-akhir ini. Apa dia menyimpan masalah besar dan menyembunyikannya dariku? Ah entanlah. Sudah pernah kukatakan, sampai kapanpun Justin akan tetap menjadi misterius bagiku.


****


# JUSTIN POV



Aku meninggalkan Nicholaa sendirian setelah menghubungi Shareen untuk kuperintahkan meriasnya nanti sore sebelum jam 7 malam. Dan kini aku tengah meneguk Jus lemonku di tepi kolam bersama Javier yang asyik dengan gaya-gaya renangnya di sana.



Mengingat bahwa nanti malam adalah pesta ulang Tahun Tristan, mendadak hatiku terluka dibuatnya. Aku tidak mengerti ada apa. Seharusnya aku bahagia karena malam ini adalah malam yang ku nanti-nanti. Seharusnya aku bahagia karena pada akhirnya, seseorang yang selama ini aku cari akan segera kutemukan.



"Sepertinya kemarin menjadi bukti bahwa kau benar-benar kalah, Brother!!!" teriak Javier menyadarkanku.



"Apa maksudmu?"



"Ya..., kulihat kau begitu bahagia bisa jalan dengan musuhmu itu!!!"



"Tutup mulutmu atau Nicholaa akan mendengar suara sialanmu itu, Javier!



Javier tergelak, "siapa selain aku dan Lawrence yang mengetahui misi gilamu ini? Hah?"



"Kenapa?"



"Akan kuajak mereka merayakan kekalahanmu, Bodoh. Hahahaa!!" Javier kembali tergelak.



Persetan dengan semua omongan Javier. Aku tidak kalah. Misiku tidak gagal sampai di sini. Akan kubuktikan semua praduganya itu tidaklah benar. Aku akan menjemput Allura dan menceraikan Nicholaa dengan segera. Ya, segera.


****


# NICHOLAA POV



Shareen tengah menata rambutku dengan kekreatifan dan bakat yang dia punya. Aku menatap bayanganku sendiri di cermin. Ini jauh lebih baik dari pada beberapa hari yang lalu. Sejak kemarin, Justin sama sekali tidak mengasariku. Bahkan sikapnya begitu lembut dan menjaga. Aku harap, ini adalah awal yang baik. Awal dimana Justin akan mulai menerimaku sebagai istrinya. Ya, semoga.



"Shareen?" ucapku memanggilnya.



"Ya?"



"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?"



"Tentu. Apa yang ingin kau tanyakan, Nyonya?"



"Kau sudah bersuami?"



Shareen tersenyum, "sudah."



"Apa dia mencintaimu?"



"Ya, dia mencintaiku. Justru, aku yang saat ini sedang belajar untuk mencintainya."



Aku mengernyit mendengar itu, "maksudmu?"



Shareen membereskan asesoris dan peralatan make up lainnya, "kami dijodohkan. Dan..., sampai sekarang aku belum mampu melupakan kekasihku."



"Kau masih mencintainya?"



"Ya, yang kurasa seperti itu. Tapi entahlah, Lawrence tidak pernah menghubungiku lagi sekarang."



Mataku melebar mendengar itu,"Lawrence?" tanyaku tak percaya.



"Ya, Lawrence, sekretaris suamimu."



Aku tercengang mendengar pengakuannya. Ternyata, dibalik sikap konyol dan humorisnya itu, Lawrence pernah menjadi manusia yang terluka ditinggal menikah oleh kekasihnya sendiri.



"Sebenarnya, dulu kami berempat adalah sahabat," lanjutnya memposisikan dirinya ditepi ranjang.



"Kalian berempat?"



"Iya. Justin, Lawrence, Aku dan Allura."



Damn!


Hatiku mendadak hancur mendengarnya.



"Allura?"



Shareen menatapku, "apa Justin tidak pernah menceritakan tentang Allura kepadamu?"



Aku menggeleng.



"Oh, kalau begitu maafkan aku, Nyonya. Aku harus segera pergi sekarang," pamitnya gelagapan.



"Tidak, Shareen!!" bentakku menahan lengannya.



"Tetap di sini dan ceritakan padaku!"



"Tapi, Nyonya...."



"Tidak akan terjadi apapun. Justin mencintaiku dan rumah tangga kami baik-baik saja. Aku hanya ingin tahu tentang masa lalunya, tidak lebih."



"Seriously?"



Aku tersenyum, "ya...."



"Aku dan Lawrence saling mencintai, begitu juga dengan Justin pun Allura. Bahkan kami selalu merangkai kisah kami sama-sama."



Aku tersenyum menyembunyikan sesak di dada. Menyembunyikan gemuruh luka yang tanpa permisi mengikis habis perasaanku.



"Sampai pada suatu hari, aku dijodohkan oleh papah. Dan Allura dibawa kabur sama kakaknya."



"Di bawa kabur?"



"Ya. Kakaknya membawa Allura pergi ke luar negeri untuk menikah dengan rekan bisnisnya. Sampai pada akhirnya, hubungan kami sama-sama hancur. Tinggal Justin dan Lawrence yang masih mempertahankan persahabatan itu. Bahkan aku sendiri sudah tidak pernah berjumpa dengan Allura lagi."



"Tapi, Nyonya. Aku kagum dengan Justin yang ternyata mampu move on dari Allura dan menikah denganmu. Berbeda denganku yang... bahkan aku tidak mampu melupakan Lawrence sedikitpun. Aku menjadi istri yang jahat untuk suamiku. Padahal rasa cintanya kepadaku begitu besar. Dia baik dan selalu bertanggung jawab atas diriku. Untuk itu... aku akan belajar melupakan Lawrence dan mulai mencintai suamiku."



Aku menggigit bibir bawahku untuk menahan tangis yang rasanya sudah tidak sanggup lagi aku bendung, "tidak, Shareen. Semua pradugamu tentang Justin tidaklah benar. Dia tidak pernah melupakan Allura dan dia tidak pula mencintaiku. Bahkan, dia lebih kejam dari apa yang kau bayangkan," gumamku di hati.



"Nyonya, kau baik-baik saja?" tanya Shareen menyadarkanku.



Aku tersenyum, "panggil aku Nicholaa, Shareen. Kita adalah teman."


****


# JUSTIN POV



Alunan musik yang mengalun syahdu di acara party ulang tahun Tristan malam ini, menghipnotisku untuk tenggelam dalam indahnya mata Nicholaa.



Kami tengah berdansa. Dan senyum tulus yang terukir di bibir manisnya itu, membuatku mendadak sesak saat mengingat apa yang akan terjadi sebentar lagi.



Ya Tuhan, kenapa menjadi seperti ini rasanya? Malam ini Kau akan mempertemukanku dengan Allura, seharusnya aku bahagia, bukan? Tapi, why? Bahkan hatiku seakan rapuh menyadari bahwa malam ini adalah saatnya.



Tidak. Tidak mungkin. Aku hanya mencintai Allura dan aku akan melepas rinduku bersamanya. Rasa sesak saat aku menatap Nicholaa adalah karena luka masa lalu itu kembali terlintas di benakku. Bukan rasa bersalahku atas apa yang aku lakukan selama ini kepadanya. Dia berhak mendapat itu semua.



Ku pejamkan mataku menahan gemuruh luka yang menyerang. Aaaaghhhh!! Apa ini? Ada apa sebenarnya dengan perasaanku? Aku bisa mendadak gila jika terus-menerus seperti ini.



Damn! Hatiku tersiksa!



"Justin?" panggil Nicholaa membuat mataku terbuka menatapnya.



Dan lagi. Batinku terluka!



"Kenapa matamu terpejam?" lanjutnya kemudian.



"Tidak," jawabku tersenyum.



"Justin?" panggilnya mengeratkan pelukannya dileherku.



"Ya?"



"Aku bahagia kamu mulai berubah. Aku percaya, setelah ini kamu tidak akan melukaiku lagi," ucapnya lembut.



Sesak di dadaku semakin memuncak. Aku tidak mengerti kenapa perasaan ini terjadi. Ingin sekali rasanya aku menangkap wajah tulusnya. Menarik lalu membawanya dalam dekapanku. Ingin sekali rasanya aku memeluk erat-erat Nicholaa. Melindungi dan menjaganya seumur hidupku. Aku tidak mengerti, aku tidak mengerti kenapa perasaanku berubah seperti ini!



Tidak! Tidak! Tidak!



Yang ada di hatiku adalah Allura, hanya Allura dan cukup Allura! Perasaan ini tidak benar. Bertahun-tahun aku merindukan Allura, dan malam ini aku akan menjemputnya. Aku pasti bahagia, aku pasti akan lebih bahagia bersama Allura.


****


# NICHOLAA POV



Acara tiup lilin dan potong kue telah selesai. Aku turut bahagia melihat kemeriahan pesta ulang tahun Tristan. Di tambah Justin yang dari tadi merangkul pinggangku dengan posesif tanpa pernah mau melepasnya sedikitpun.



Bahkan, saat ini kami sedang menikmati makanan yang sengaja dihidangkan untuk para tamu, Justin menyuapiku dengan lembut, dengan caranya yang begitu manis. Hingga beberapa rekan kerja Justin, menjadi baper dibuatnya.



"Kamu mau lagi?" tanya Justin menyodorkan segelas jus padaku.



Aku tersenyum, "tidak, Justin. Terimakasih."



Justin meletakkan Jusnya dan menarik tanganku.



"Kau mau apa, Justin?"



"Berdansa," ucapnya memposisikan kedua tanganku di lehernya.



Justin menatap kedua mataku dan memeluk pinggangku dengan erat. Damn! Jantungku berdebar debar rasanya.

__ADS_1



Moment seperti ini benar-benar mengingatkan ku pada masa dimana Justin selalu mengajakku berdansa ke pantai dulu. Dan hal itu, kini kembali aku rasakan setelah kami sah menjadi sepasang suami istri, setelah cobaan dan derita menguji rumah tangga kami.



Aku yakin, Justin mulai berubah. Dan aku percaya, dia sebenarnya sangat mencintaiku. Bahkan, cerita Shareen tentang masa lalu Justin yang mampu membuatku sejenak patah tadi, kini tidak lagi aku rasakan. Aku sudah melupakan segala tentang Allura. Karena pada kenyataannya, memang Justin benar-benar mulai berubah dan menghargaiku sebagai istrinya.



Sejenak, aku melihat ada secercah sendu di mata Justin. Lagi-lagi matanya menyembunyikan gemuruh luka yang aku sendiri tidak mampu memahami apa. Perlahan, mata Justin terpejam. Kedua alisnya bertaut seakan tengah menahan suatu gejolak di hatinya. Ya Tuhan, apa yang dirasakan suamiku saat ini? Jika memang batinnya tengah terluka, pulihkan ketenteramannya.



"Justin?" panggilku lembut.



Justin membuka matanya, lagi-lagi siratan luka di matanya semakin mampu aku baca.



"Kenapa matamu terpejam?" lanjutku kemudian.



"Tidak," jawabnya tersenyum.



Aku mengeratkan pelukanku pada lehernya, "Justin?" panggilku.



"Ya?"



"Aku bahagia kamu mulai berubah. Aku percaya, setelah ini kamu tidak akan melukaiku lagi."



Justin semakin dalam menatapku. Bibirnya bergetar seakan menahan tangis. Mata jernihnya pun kini mulai berair. Luka di wajahnya benar-benar mampu kubaca dengan sempurna. Why? Kenapa Justin sebenarnya?



"Brother!!" sapa seseorang membuat kami terkejut.



Justin melepasku, "Tristan!"



"Aku rasa sudah cukup. Ini kuncinya," ucap Tristan melemparkan sebuah kunci kepada Justin.



Justin menangkapnya, lalu menatapku sejenak.



"Kenapa?" tanyaku tersenyum, "itu kunci apa?"



"Aku ada urusan sebentar. Kamu... di sini baik-baik ya," ucap Justin menatapku sendu.



"Tapi, aku-,"



"Aku akan segera kembali," selanya.



"Tapi kamu mau kemana, Justin?"



"Tristan akan menjagamu."



Aku menghela nafas.



Justin menangkap wajahku dan menatap mataku dalam-dalam, luka di raut wajahnya semakin ketara. Perlahan, dia memejamkan matanya lalu memelukku.



Jantungku berdegup kencang, mendadak perasaanku menjadi tidak enak. Aku rasa akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan pada Justin. Tapi apa?



Justin melepasku, menatapku sejenak dan berlalu pergi.



"Justin!!"



"Nicholaa!" ucap Tristan menghadangku yang hendak mengejar Justin.



"Urusan apa yang harus di selesaikan malam-malam seperti ini, Tristan?"



"Urusan bisnis, kamu tenang saja."


****


# AUTHOR POV



Justin tengah memanuver mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Hatinya tidak sabar ingin segera menjemput seseorang yang selama ini dicarinya. Seseorang yang selama ini dirindukannya.



"Hari yang kunanti!" desisnya pelan.



Jalanan malam yang lengang membuat Justin semakin berani untuk menambah kecepatannya. Gemuruh perasaan yang menyerang mendadak membuatnya kacau. Lagi-lagi bayang wajah Nicholaa melintas di benaknya, menganggu pikirannya.



"Pergi kau dari pikiranku, Jalang! Aku tidak peduli lagi denganmu!! Pergi kauuu!!" bentaknya memukul-mukul kepalanya sendiri.


****


# NICHOLAA POV



Hari sudah semakin malam. Bahkan para tamu undangan Tristan pun semuanya sudah pulang. Tapi Justin tak juga kunjung kembali. Kemana dia? Urusan apa yang dia selesaikan malam-malam seperti ini? Aku mencemaskan keberadaannya. Aku mengkhawatirkan dirinya.



"Nicholaa?" panggil Tristan menghampiriku.



"Sudah malam, sebaiknya kita tunggu Justin di dalam, ya," lanjutnya.



"Tidak, Tristan. Aku menunggu di sini saja."



"Tapi angin malam itu bahaya, kamu bisa sakit."



"Tidak, aku tidak papa."



"Apalagi kalau sampai Justin tahu aku membiarkanmu di luar seperti ini, dia pasti akan memarahiku habis-habisan. Kau mau itu terjadi?"



Sejenak, aku berfikir. Aku tidak ingin membuat keributan dengan Justin memarahi Tristan hanya gara-gara aku tetap menungunya di luar malam-malam. Belum lagi akhir-akhir ini ada seseorang yang mengincar nyawaku dengan percobaan pembunuhan.



Well, aku tidak ingin membuat Justin mencemaskanku.



"Baiklah," aku menerima tawaran Tristan. Dengan segera, Tristan membawaku masuk ke dalam rumah megahnya itu.



Aku terus mengikuti langkah Tristan saat dia membuka salah satu ruangan dalam rumahnya, "ini kamar yang dulu sering Justin gunakan saat menginap di rumahku. Kau istirahat saja dulu."



Aku masuk dan mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan, "Justin pernah menginap di rumahmu?"



"Tidak hanya pernah, bahkan sering."



"Kalian sudah lama berteman? Kenapa aku tidak pernah menjumpaimu sebelum ini?"



"Ya, aku baru kembali ke Indonesia. Ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan di Negeri orang. So, maaf tidak bisa menghadiri pesta pernikahanmu saat itu."



Aku memposisikan diriku di tepi ranjang, "tidak masalah."



"Kau, bagaimana bisa bertemu dengan Justin?" pertanyaan Tristan membuatku tersenyum.




Tristan tergelak, "itu sweet sekali, Nicholaa."



"Ya, aku rasa juga begitu."



"Tapi sayang...," Tristan berjalan menghampiriku, "itu dulu," bisiknya tepat ditelingaku.



"Apa maksudmu?" tanyaku menghindar tapi dengan sigap Tristan mencekal tanganku.



"Apa yang kau lakukan, Tristan!!" bentakku meronta.



"Tenanglah, Sweety. Kita akan bahagia malam ini!"



Plaakkkk!!!



Aku menampar wajahnya dengan tanganku yang bebas. Apa katanya? Benar-benar bajingan!!



"Lepaskan tanganku, Tristan!!!" bentakku yang Justru malah membuatnya mencekal kedua tanganku.



"Kau tidak akan pernah bisa lari, Sayang. Kau tahu? Aku menyukai perempuan sulit sepertimu!!" desisnya kemudian.



Air mataku jatuh, aku ketakutan. Apa yang akan Tristan lakukan kepadaku? Justin, aku mohon segera kembali dan lihatlah kelakuan bejat sahabatmu ini!!!



"Kau tahu, Nicholaa? Aku jatuh cinta padamu sejak malam pesta itu," ucapnya semakin mendekatkan wajahnya padaku.



"Tutup mulut sialanmu itu, Tristan!!"



"Berani kau bicara seperti itu padaku, Hah?"



"Aku tidak pernah takut dengan manusia bajingan sepertimu!!!"



Brraaakkk!!!



Aku memecah tangisku saat Tristan dengan sigap mendorongku ke atas ranjang dan ******** tubuhku.



"Lepas, Tristan!! Apa yang kau lakukan!!!!" bentakku penuh emosi.



Tristan menatap mataku dalam-dalam. Senyum seringai disudut bibirnya itu terlihat jelas dan semakin membuatku bergidik ketakutan.



"Menghabiskan malam kita!!"



Mataku melebar, "tidak akan terjadi!!! Sebentar lagi Justin kembali dan lihatlah apa yang akan dia lakukan kepadamu, Tuan Tristan!!"



"Whahahaaaaa!!!" Tristan tergelak, "kau pikir siapa yang menyerahkanmu padaku, Nyonya Clayton? Hum?" lanjutnya pelan.



Aku menggeleng kepalaku tak percaya. Tidak, tidak mungkin Justin melakukan hal semenyakitkan ini kepadaku.



"Kau tidak percaya, bukan?"



"Justin bukan orang sejahat itu! Camkan ucapanku ini, Sialan!!"



"Hahahahaa!!!!" lagi-lagi Tristan tergelak.



"Justin memang tidak jahat, tidak sama sekali. Tapi kau! Kau yang bodoh, Nicholaa!! Kau terlalu bodoh sampai tidak menyadari bahwa sesungguhnya malam ini Justin telah menukarmu dengan Allura!! Hahahahaha!!!!"



Damn! Bibirku tersekat mendengar pengakuan Tristan. Apa maksud Justin? Apa maksud dari semua ini? Aku tidak percaya, aku tidak percaya Justin melakukan semua ini padaku!



Tangisku pecah mengutuki kebodohan yang aku pelihara selama ini. Persetan dengan perasaan cintaku kepada Justin. Itu semua membuatku mendadak buta dan bodoh akan kejahatannya selama ini!



Oh God!!!!!!



"Dengar, Sweety. Sudah lama Justin menanti kepulanganku supaya bisa bertemu dengan kekasih tercintanya itu. Hahahaha!!"



"Kaauuuu!!!!"



"Ya!! Aku!!! Aku Tristan! Kakaknya Allura!!!"



Tangisku semakin pecah berantakan. Kenapa Justin tega melakukan ini padaku! Dimana letak hati suamiku?? Ini kali pertama aku mendapati manusia yang dengan tega menukar tulang rusuknya sendiri!!!



Aku beringsut sembunyi saat wajah Tristan dengan perlahan semakin mendekati wajahku.



"Menjauh dariku, Tristan!!!" bentakku tak sudi.



"Nikmati saja, Sayang!!"



"Cccuuuuhhhhhh!!!!" ludahku mendarat tepat di wajahnya.



"Brengsek!!!" umpat Tristan mengusap kasar wajahnya.



Plaaakkkk!!!



Plaaakkk!!!!!



Memanfaatkan kesempatan ini ku tampar wajahnya berkali-kali.



Saat Tristan ingin kembali mencekal tanganku. Dengan sigap ku dorong tubuhnya hingga terhempas ke lantai. Aku turun dan beranjak kabur.



"Jangan lari kau, Nicholaa!!!" teriaknya saat aku berhasil keluar dari kamar terkutuk itu!



Dengan sekuat tenaga aku berlari sebelum Tristan kembali mendapatkanku. Jalanan malam yang sepi membuatku semakin takut jika tidak ada satu orang pun yang masih terjaga untuk menolongku.



Ya Tuhan!



Sekarang apa? Hatiku benar-benar hancur lebur. Perasaanku terkikis habis oleh kenyataan yang bahkan aku sendiri tidak mampu mempercayai!! Suamiku sendiri dengan tega menelantarkan istrinya kepada orang lain. Demi bertemu seseorang yang dia Cinta!



Sebegitu berartinya kah Allura dalam hidupmu, Justin? Hingga kau tega mencampakkanku dan membuangku layaknya sampah!



Kau!! Kau manusia terjahat yang pernah kutemui disepanjang jalan hidupku!


****


# JUSTIN POV



Braaakkk!!!


__ADS_1


Aku terkejut begitu melihat sosok perempuan yang tengah menangis tersedu-sedu dibalik pintu rumah ini.



"Allura!!!!" teriakku tak menyangka.



"Justin!!!"



Allura berhambur memelukku, "aku merindukanmu, Justin!" ucapnya terisak.



Aku mengusap lembut rambutnya, "aku juga merindukanmu, Allura," balasku memejamkan mata.



Sekarang apa? Tidak ada yang spesial antara pertemuanku dengan Allura. Pada kenyataannya, hatiku justru tengah gundah mencemaskan Nicholaa. Apa yang sedang terjadi dengannya disana?



Allura melepas pelukannya, "bagaimana bisa kamu tahu aku ada disini? Dan darimana kamu mendapatkan kunci rumah ini, Jus?" tanyanya panik.



Aku membelai lembut pipinya, "kamu tidak perlu memikirkan itu semua. Yang terpenting adalah sekarang kamu sudah bebas dan aku akan membawamu lari dari kakakmu yang tak bertanggung jawab itu!"



Allura meraih tanganku, "cincin? Kamu sudah menikah?"



Aku menghela nafasku dan menunduk, "yaa...."



Ddrrttttttt.... Drrrrttttttt....



Ponselku berbunyi.



"Tristan?" tanya Allura membaca nama seseorang yang tengah menghubungiku.



"Kau ada urusan apa dengan kakakku, Jus?"



"Haloo?"



*"Nicholaa kabur, Bodoh!!"*



Aku terkejut mendengar itu, "apa? Bagaimana dia bisa kabur? Kau yang tidak pecus menjaganya!!"



*"Dia lari saat aku sedang berusaha menidurinya!"*



Damn! Mataku melebar!!!



"Brengsek kau!!!"



Tuuttt!!



Ku matikan telponku dengan marah. Apa-apaan Tristan? Beraninya dia sampai menyentuh istriku!! Aku saja yang suaminya bahkan belum pernah melakukan itu pada Nicholaa!!



Brengsek!!! Aku sama sekali tidak merasa bahagia bisa bertemu dengan Allura. Sakit! Yang aku rasakan adalah sakit saat mendengar bahwa Tristan telah berusaha mencelakai Nicholaa!!



"Aaaaagghhhh!!!"



"Justin, kau kenapa?"



"Allura, ikut denganku!!" perintahku menarik tangan Allura dan membawanya masuk ke dalam mobil.



"Kita mau pergi kemana, Jus? Siapa yang kabur?" tanya Allura saat aku memanuver mobilku dengan kecepatan di atas rata-rata.



"Istriku!"



"Apa? Istrimu? Bagaimana bisa? Apa yang terjadi? Kenapa kak Tristan bisa bersama istrimu?!"



Aku tidak menjawab pertanyaan itu. Bibriku tersekat. Aku mencemaskan Nicholaa. Aku yakin, pasti dia sedang ketakutan sekarang. Aku yakin, pasti hatinya saat ini sedang hancur berantakan. Dan semua ini gara-gara kau, Justin. Kau tega melukai perempuan selembut Nicholaa!!



"Tunggu! Kau membebaskanku dan istrimu bersama kak Tristan?" ucap Allura curiga, "jangan bilang kau telah...."



"Maafkan aku, Allura. Hanya itu satu-satunya cara supaya aku bisa bertemu denganmu."



"Tega kau, Justin!!! Manusia semacam apa kau?!! Hah??!! Dimana hati nuranimu yang bahkan tega mencelakai istrimu sendiri!!" bentak Allura terisak.



"Aku tidak menyangka!! Setelah tiga tahun lamanya kita berpisah. Kini, Tuhan mempertemukanku denganmu dalam keadaan yang sudah berbeda! Kau berubah!! Kau berubah menjadi manusia sejahat itu, Justin!!" lanjutnya memukul-mukul bahuku.



Hatiku hancur, air mataku turut lolos dari pertahanan. Semua yang diucapkan Allura benar. Aku jahat! Aku benar-benar sudah jahat!! Aku tidak pernah berfikir bahwa Tristan akan sampai menidurinya. Oh God! Bodoh!Aku bodoh!!


****


# AUTHOR POV



"Lepaskan aku, Tristan!! Lepaskan aku!!!"



Sekuat tenaga Nicholaa berusaha memberontak untuk melepas dirinya sendiri. Tapi percuma, kekuatan Tristan lebih segala-galanya dibandingkan dengannya.



"Diam kau!!" Tristan terus menyeret Nicholaa di jalan. Dia tidak peduli dengan derasnya air mata yang Nicholaa keluarkan. Yang ada dalam benaknya hanya satu, Nicholaa harus menjadi miliknya!



"Toloooonggg!!!!" teriak Nicholaa meminta pertolongan.



Tristan tergelak, "teriak saja sepuasmu! Sampai suara emasmu itu habis!! Tidak akan ada yang dengar, Sweety. Kau lupa? Ini sudah malam!! Jalanan sudah sepi!"



Tangis Nicholaa semakin pecah saat dirinya membenarkan apa yang baru saja diucapkan Tristan. Selantang apapun dia meminta pertolongan, tidak akan ada yang dengar.



"Kau jahat, Tristan! Kau tega menyakiti seorang perempuan!!"



"Berani kau bicara seperti itu!!"



"Sudah kubilang aku tidak takut dengan bajingan sepertimu!!"



Plaakkkk!!



Nicholaa terisak, "tampar saja!! Tampar aku sepuasmu, Tristan!! Sakiti saja aku!! Lukai aku sepuasmu!!" bentak Nicholaa menyerah.



"Seharusnya dari awal kau mengalah seperti itu, Sayang!"



"Jahat!!!"



Tristan tergelak, "aku memang Jahat!!"



Nicholaa lelah. Dia pasrah dengan semuanya!! Tubuhnya luka luar dalam. Hatinya sakit dan tangannya yang terus diseret-seret oleh Tristan rasanya mulai memar.



"Tristan!!!" teriak seseorang membuat mereka terkejut.



Bugghhhh!!!



Buuugggghhhh!!!!



Justin datang dan langsung menghabisi Tristan dengan penuh kemarahannya.



Bugghhhh!!!



"Brengsek kau, Tristan!!"



Bugghhhh!!!



Buggg!!!



"Rasakan ini!!"



Bugghhhh



Nicholaa bergetar memecah tangisnya. Matanya menatap sosok perempuan berambut pirang dengan penuh luka yang merajah hatinya. Perempuan itu!! Perempuan itu yang sudah membuat Justin tega mencelakai dirinya seperti ini.



Memanfaatkan keadaan ini. Nicholaa memilih berlari dan kabur dari mereka. Dia tidak mau lagi bertemu Tristan! Dia enggan kembali dengan Justin dan dia tidak sudi bertemu dengan perempuan itu!!



"Justin, istrimu lari!!" teriak Allura.



Buugghhhh!!!



"Pergi dan jangan sentuh istriku lagi!!!" ancam Justin mengakhir pukulannya.



"Ayo kita kejar!" seru Justin menarik Allura ke dalam mobil untuk segera mengejar Nicholaa.



Hati Allura sakit. Tatapan Nicholaa tadi membuatnya yakin bahwa perempuan itu pasti sangat membencinya. Hatinya seakan turut lara merasakan derita yang Nicholaa dapatkan.



"Dia masuk ke area taman!" ucap Allura memberitahukan.



Justin menepikan mobilnya. Dengan segera mereka keluar dan mengejar Nicholaa.



"Nicholaa, tunggu!" teriak Justin.



Namun bagi Nicholaa semuanya sudah selesai. Dia benar-benar terluka parah malam ini. Dia merasa bahwa hidupnya di dunia tidak pernah ada gunanya. Untuk apa dia diciptakan jika hanya menjadi alat pelunas hutang seorang Megan Johnson? Untuk apa dia diciptakan jika hanya menjadi alat tukar seorang Justin Clayton?!



"Nicholaa, tunggu! Dengarkan penjelasanku!" teriak Justin yang bahkan sama sekali tidak membuat Nicholaa berhenti.



Langkahnya terus melaju bak air mata yang terus basahi pipi. Nicholaa rasa semuanya sudah cukup sampai di sini. Dia lelah dipermainkan. Dia jengah jika terus-menerus dianggap sampah.



"Nicholaa, tunggu!!" Justin terus mengejar kemana langkah Nicholaa berlari. Hatinya rapuh berkali-kali lipat. Dia menyesal menerima syarat dari Tristan sore itu. Dia menyesal!!



"Nicholaa!!!"



"Nicholaa, aku bisa jelaskan semuanya!"



"Nicholaa!!!"



Dooooorrrrrr!!!!



Nicholaa tersekat! Langkahnya terhenti! Darah segar mengalir deras di kaki kirinya.



Peluru itu tepat mengenai sasaran.



"Nicholaaaaaaaaaa!!!"



Damn!


Nicholaa pingsan!


****



Dengan perasaan cemasnya, Allura menenangkan Justin yang tengah menangis diruang tunggu. Dokter tengah menangani Nicholaa di dalam. Seakan semuanya sangat menyakitkan. Dia mendapatkan Allura tapi dia kehilangan segalanya!



"Aku berjanji akan mencari bajingan itu!" desisnya pelan.



"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Nicholaa bisa menjadi incaran pelaku pembunuhan itu?"



Justin menggeleng, "aku tidak tahu, Allura. Berkali-kali percobaan pembunuhan itu terjadi. Tapi aku selalu melindungi Nicholaa. Tapi malam ini? Malam ini aku benar-benar merasa bodoh tidak bisa melindungi istriku sendiri! Bahkan aku menelantarkannya! Aku bodoh, Allura!"



"Kau harus minta maaf padanya setelah ini. Itupun kalau Nicholaa masih bisa diselamatkan."



Mata Justin melebar, "jangan bicara seperti itu, Allura. Aku mohon!"



"Kenapa? Karena kau tidak ingin kehilangan Nicholaa? Kalau kamu sayang sama dia. Seharusnya kamu tidak melakukan semua ini, Justin! Apalagi jika hanya demi bertemu denganku! Murahan, kau tau?"



Justin menggenggam tangan Allura, "maafkan aku....," ucapnya terisak.



Ckleekkk!!



"Dokter, bagaimana keadaan istri saya, Dok?" sambar Justin begitu pintu dibuka oleh dokter.



Laki-laki berjas putih yang usianya mungkin dua tahun lebih tua dari Justin itu tersenyum, "pasien tidak papa. Peluru itu sedikit melesat dan tidak teralalu dalam mengenai kakinya."



Justin dan Allura menghela nafas lega.



"Dia hanya kehilangan banyak darah. Untung segera dibawa kesini, jadi kami bisa menanganinya dengan segera."



Justin menyeka air matanya, "kami boleh masuk, Dok?"



"Oh, silahkan."



Justin memcah tangisnya begitu melihat Nicholaa tengah berbaring lemah dengan segala peralatan rumah sakit itu. Kaki mungil yang dulu selau mengikuti kemanapun dia pergi, membuatnya repot, membuatnya terus emosi, kini.... tengah berbalut perban putih yang sangat nampak tak berdaya sama sekali.



Justin menyesal. Hatinya benar-benar hancur melihat Nicholaa seperti ini. Dia merasa separuh dari dirinya telah hilang. Dia mengutuki kebodohannya! Bodoh karena telah menyiksa Nicholaa.



Justin membelai lembut rambut Nicholaa, "maafkan aku, Sayang," ucapnya terisak.



Justin, akhirnya menyadari!


****



__ADS_1


__ADS_2