NICHOLAA JOHNSON

NICHOLAA JOHNSON
Chapter 25


__ADS_3

# NICHOLAA JOHNSON


Aku menumpah tangisku di dalam mobil Allura. Perasaanku hancur mendengar apa yang baru saja diucapkannya padaku. Aku tidak pernah mengira bahwa kabar mengenai Justin sampai sedemikian sadisnya. Aku pikir, Mamah dan Lura akan mengatakan bahwa Jastin koma, kritis, butuh transfusi darah lagi, di oprasi, atau apa semacamnya. Tapi kenapa? Kenapa kabar yang mereka sampaikan lebih mengerikan dari itu semua? Kenapa?


Justin!


Aku tidak percaya. Aku tidak percaya dia akan pergi secepat ini. Aku menyesal!! Aku menyesal telah membiarkannya terkapar penuh darah dibawah rekah senja kala itu! Persetan! Persetan dengan ucapan-ucapanku kemarin! Nyatanya hatiku hancur saat mengetahui bahwa Justin akan dimakankan hari ini.


Lagi-lagi bayangan Justin saat terkapar penuh darah kala itu kembali terlintas dibenakku. Pertengkaran hebat yang mampu membuatku mengatakan acuh, pun mampu membuat Justin mengatakan bahwa dia mencintaiku, kembali terngiang jelas ditelingaku, semakin membuat dadaku sesak! Semakin membuat jantungku mendadak retak.


"*Aku sadar!! Selama ini aku menjadi suami yang durhaka padamu!! Aku sadar!!! Mungkin kini aku hina di mata Tuhan!! Dan aku pun sadar!! Mungkin ribuan malaikat telah melaknat langkahku sebab telah menyakiti istri semulia kamu, Nicholaa!!"


"Aku sadar!! Aku sudah tidak pantas lagi untuk mendapat maaf darimu!!"


"Aku sadaaaar!!"


"Tapi, Nicholaaaaa...!!! Satu yang harus kamu tahu!!!"


"Bahwaaa....!!!"


"Aku mencintaimu, Nicholaa!!!"


_____


"Harus dengan apa aku meminta maaf kepadamu, Nicholaa!!"


"Apa aku harus membunuh diriku sendiri supaya kau memaafkankuuuu???!!"


"Sekalipun tubuhmu telah hilang ditelan bumi, rasa sakit yang pernah kau torehkan akan tetap menancap di dasar hati!!"


"Matilah! Aku, tidak peduli!!!"


Brraaaakkkkkk!!!!


"Justiiiiiiinnn*!!!!"


______


Tangisku semakin pecah mengingat itu semua. Bodoh! Persetan!! Apa yang telah merasukiku hingga aku dengan lantang mampu mengatakan sebuah ketidakpedulian? Menyumpahnya untuk mati dan aku tidak peduli!! Apa? Apa yang mendorongku berkata seperti itu?


Kini, Tuhan benar-benar menghijabah ucapan seorang istri yang teraniaya. Oh, God. Jika aku boleh mengulang kembali, aku ingin mencabut kata-kata laknat yang keluar dari bibirku satu hari yang lalu!


Aku mencintai Justin, Tuhan. Aku mencintainya....


Aku menghapus air mataku dengan gusar begitu mobil Allura mendarat tepat di pekarangan rumah Justin.


Oh,God. Aku merindukan istana ini.


Bergegas, aku turun dan berlari untuk segera menemui Jenazah suamiku. Rasa-rasanya ini sebuah mimpi. Aku masih tidak percaya!!


"Aaagghhhhrrr!!!"


Kraaaaakk!!!


Aku merobek penuh luka bendera kuning yang berkibar tepat di depan rumah ini. Semua orang terkejut melihat kehadiranku yang persis dengan orang yang sudah tidak waras lagi.


Lawrence, Tristan, Richard, mereka ada di sini dengan pakaiannya yang serba hitam. Berdiri di depan pintu yang mungkin memang sengaja menungguku.


"Nicholaa," panggil Lawrence menyentuh lembut bahuku!


Plaakk!!!


Aku menampar keras wajahnya, "kenapa? Kenapa bendera kuning ini harus berkibar di depan rumah suamiku? Kenapa kau dan yang lain harus memakai pakaian serba hitam seperti itu? Hah? Tidak akan ada yang di makamkan, Lawrence!! Tidak akan adaaaaaa!!!" rontaku memukul-mukul dadanya.


Lawrence memelukku dengan tulus, "tenanglah, Nicholaa. Kau harus menerima ini semua...."


"Aaaggggghhhrrr!!!" aku mendorong kuat tubuh Lawrence hingga membuatnya terhuyung mundur.


"Ini mimpi, Lawrence! Ini hanya mimpi!!"


Bergegas aku berlari meninggalkan Lawrence disana. Langkahku terseok memasuki pintu utama rumah ini.


Ckleeekk


Ku tarik perlahan handle pintu itu. Dan....


"Justiiiiiinnnnn!!!!!"


Tangisku pecah tatkala melihat tubuhnya terbujur kaku dengan kain jarik yang sudah menutupinya dengan sempurna.


Aku berlari dan berhambur memeluknya dengan segera! Menyandarkan kepalaku tepat pada dada bidangnya. Menangis tersedu-sedu untuk menunjukkan betapa tidak siapnya aku kehilangan dia. Betapa rapuh dan lemahnya aku menjumpainya dalam keadaan yang sudah tidak bernyawa.


Bisa kudengar seisi rumah ini turut menangis pilu melihatku. Kak Alodie, kak Megan, Allura, William, Lawrence, Alice, dan yang lainya. Bahkan, Molly pun juga turut bersimpuh terisak pilu.


Aku masih memeluk Justin erat, erat dengan isakan juga air mata yang membasahinya. Aku memeluknya bagai tidak rela melepasnya, aku memeluknya bagai tidak siap jika dia akan menghilang dari bumi ini.


"Justin, kembalilah!! Siapa yang kau kejar di Surga? Aku masih di bumi, Justin! Aku masih disini!!!"


"Aku tidak serius dengan segala ucapan-ucapan kasar yang kuutarakan satu hari yang lalu. Aku tidak menumpahkanmu untuk mati! Aku peduli padamu!! Aku juga cinta padamu, Jus!!!!!"


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hampanya aku jika kau pergi!! Aku tidak siap, Justin! Aku tidak bisa!!!"


Isakku menjadi-jadi tatkala menyadari bahwa ini semua tidaklah mimpi. Sumpah demi Tuhan, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri, tidak akan!!! Justin membunuh dirinya sebab aku, Justin melakukan semua ini hanya demi bisa mendapat maaf dan membuktikan bahwa dia mencintaiku!!!


"Jus.... Bangun, Sayang.... Bangun...." lirihku pelan.


"Aku masih peduli denganmu, Jus. Semua yang aku katakan kemarin hanya karena aku masih tersulut emosi, karena aku benar-benar merasa sakit hati."


"Aku ingin kita bersama-sama dan memperbaiki semuanya. Membina rumah tangga yang tentram bahagia."


"Justin...."


"Bangun, Sayaaaang!!!"

__ADS_1


Aku menggeleng kepalaku cepat begitu tak kudapatkan sedikitpun pergerakan dari tubuhnya.


"Justin, bangun!!! Aku tidak mauuu kehilangan kamu!!!" bentakku lantang.


"Nicholaaa..., tenang...," ucap William menyentuh lembut bahuku!


"Lepaskan aku!!! Darimana ada seorang istri yang bisa tenang saat suaminya telah terkapar tanpa nyawa?? Hah!!!"


"Bangun, Justin!!! Banguun!!!!"


"Bangun atau aku akan membunuh diriku sekarang juga!!! Bangun, Jus!!" lanjutku menggoyang-goyangkan tubuhnya.


"Aaagggghhrrr!! Bangun, Jus!! Banguuunn!!! Kataku bangun sekarang jugaaaa!!! Justin, banguuunn!!!!"


"Kau harus tau aku mencintaimu setengah mati!! Justin, Bangun!!!"


"Nicholaa...."


Deg.


Isakku seketika terhenti saat suara itu memanggil lembut namaku.


Perlahan, aku menoleh ke arah sumber suara. Dan Shit! Aku terkejut mendapati Justin yang tengah duduk di kursi roda dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


Jantungku berdegup kencang dan mendadak lupa caranya berdetak dengan benar.


"Justin...?" lirihku tak percaya.


Saat kedua mataku meyakini bahwa yang aku lihat adalah benar-benar Justin, bergegas aku membuka kain jarik yang menutupi sekujur tubuh seseorang yang dari tadi aku anggap adalah dia.


Dan, God!


"Javier...?"


Mataku terbuka lebar-lebar mendapati wajah pemuda itu tengah tersenyum manis kepadaku.


Apa apaan ini?


Aku memandangi orang-orang dengan tatapan tak percaya.


Serentak mereka tersenyum lalu bersorak!!


"Happy birthday to you!! Happy birthday to you!!! Happy birthday... Happy birthday... Happy birthday... Nicholaa...."


Shit!


Mereka mengerjaiku?


Dan bahkan, bahkan aku lupa bahwa sekarang adalah hari ulang tahunku!!!


Aku memecah tangis seraya menggeleng tak percaya. Aku menatap haru mata Justin yang juga sudah berkaca-kaca. Tersungging senyum tulus dibibirnya. Terpancar rasa rindu begitu dalam yang tidak mampu dia sembunyikan dalam raut tampannya.


Justin mengaguk pelan, "kemarilah, Sayang...," ucapnya merentangkan kedua tangannya.


Justin membelai lembut rambutku dan mengecupnya penuh cinta. Jantungku berdegup, ini adalah yang pertama kalinya.


Aku melepas pelukan dan menatap rindu kedua matanya. Tanganku menangkap lembut wajahnya yang sudah penuh dengan linangan air mata. Dadaku kian sesak melihat perban putih yang melingkar dikepalanya. Terlebih saat menyadari kini dia duduk di kursi roda.


Aku menggeleng tak percaya, "maaf sudah membuat kondisimu seperti ini, Jus. Aku menyesal...," lirihku penuh isak.


Justin tersenyum dan menghapus air mataku. Tangannya menangkap wajahku dengan lembut, "tidak, Sayang. Sebab dengan begini, kau akan percaya bahwa aku mencintaimu!"


"Aku percaya kau mencintaiku, aku percaya...."


Justin, kembali memelukku.


Bisa kurasakan semua orang turut terharu. Bisa ku dengar beberapa orang terisak pelan menyaksikanku dengan Justin saat ini.


Berada di pelukan suamiku adalah tempat ternyaman yang pernah aku rasakan. Tempat termenenangkan, tempat terkasih yang selalu ingin aku dapatkan. Dan aku baru kembali menemukan tempat ini lagi, setelah sekian lama aku kehilangan sikap baik suamiku.


Teringat sesuatu, aku melepas Justin tiba-tiba. Membuatnya terkejut dan cemas yang melihatku mendadak cemberut.


"Kenapa?" tanyanya bingung.


"Jahaaaat... Kenapa kamu mengerjaiku?" ucapku manja.


Justin tertawa kecil, "jika tidak begitu, aku tidak akan mengetahui isi hati istriku yang sebenarnya. Dan aku sangat bersyukur, saat ternyata dia masih peduli dan tidak mampu kehilanganku," jawabnya seraya menyisir rambutku dengan jari-jemarinya.


"Tapi kamu membuat jantungku serasa ingin keluaaar...."


"Iya... iya.... Maaf, Sayang. Kamu juga harus marah sama mereka, mereka yang memerankan semua adegannya," celoteh Justin menunjuk mereka yang sudah menahan tawa dibelakangku.


Aku menoleh dan menatap kesal beberapa pasang mata di hadapanku, "kaliaaaaan...," gerutuku manja.


Mereka serentak tertawa.


"Ini hukuman karena kau telah mendadak menjadi orang yang tiba-tiba sangat mengerikan, Nicholaa," jawab kak Alodie tertawa.


"Dan ini juga adalah cara kita untuk menyadarkanmu, bahwa semua yang kau ucapkan itu adalah emosi belaka. Kau masih mencintai Justin, dan kau benar-benar tidak siap untuk kehilangannya," tambah William disana.


"Yaa... Dan kalian berhasil membuatku memeluk seseorang yang bukan suamiku," jawabku kesal.


Javier tertawa lepas mendengar ucapanku, "setidaknya aku pernah menjadi tempat untuk kau menangis tersedu-sedu dan berucap takut kehilanganku, Nicholaa!!"


"Diam kau, Javier! Aku marah padamu...," rengekku yang justru malah membuat semua orang tertawa.


Isshhhhh, menyebalkan!! Aku benar-benar malu sekarang!


"Sayang...," Justin membelai lembut pipiku.


Aku menatapnya.


"Maafkan aku, ya...." ucapnya sendu.

__ADS_1


Aku tersenyum dan memeluknya, "semua ini adalah ujian untuk rumah tangga kita menuju keluarga yang bahagia."


"Itu artinya, kau memaafkanku, bukan?"


Aku mengaguk pelan.


"Kalau begitu... bolehkah aku meminta tolong kepadamu?"


Aku melepas pelukannya, "apa?"


"Dorong kursi rodaku dan bawa aku ke kolam renang."


"Untuk apa?"


"Rahasia."


"Kamu tidak akan menghempaskan diriku kembali disana, kan?"


Justin tertawa, "jangan mengingatkan ku akan hal itu. Atau aku akan kembali sesak dibuatnya."


Aku tersenyum, "iya baiklah."


Bergegas, aku berdiri dan mendorong kursi roda Justin menuju tempat yang diperintahkannya. Semua orang pun mengikuti kami dibelakang.


Setibanya di tepi kolam. Lagi-lagi aku kembali dikejutkan dengan adanya mamah Kayonna disana. Yang berdiri di belakang meja yang terdapat kue besar diatasnya. Tidak hanya itu, tempat ini telah di dekorasi dengan sedemikian cantiknya. Terdapat banyak pula menu-menu makanan yang tertata rapi di sederet meja.


"Mamah!!!" kejutku tak percaya.


"Bagaimana bisa? Bukannya mamah tengah-,"


"Sebenarnya mamah sudah boleh pulang dari kemarin. Tapi karena para anak-anak muda ini meminta mamah untuk ikut memerankan skenarionya, jadi ya, mamah tunda dulu untuk pulang ke rumah."


Aku menggeleng tak percaya mendengar itu, "astaga... jadi mamah juga terlibat dalam semua ini?"


Semua orang tergelak mendengar keterkejutanku.


Mamah berjalan menghampiriku, aku pun melangkahkan kaki untuk menyambut rentangan tangan mamah yang sudah siap memelukku.


"Selamat ulang tahun, Sayang," ucap mamah mengecup lembut dahiku.


Aku tersenyum, "ini benar-benar kejutan luar biasa. Terimakasih, Mah. Mamah hebat memerankan skenario mamah," ucapku manja.


Mamah tertawa mendengar itu, "Allura yang saat itu datang dan menjelaskan semuanya kepada mamah."


Aku terdiam. Seketika ingatanku melayang pada kejadian dimana Allura menghampiriku di taman saat itu. Yang dia kata, dia berniat ingin menemui mamah Kayonna.


Oh, God! Jadi ini tujuan Allura menemui mamah? Untuk mempersiapkan segala kejutan ulang tahunku? Tapi, justru aku malah menyudutkannya yang bukan-bukan.


"Ya sudah, bagaimana kalau sekarang kita tiup lilin dan potong kue?" ucap kak Alodie memecahkan keheningan sementara tadi.


Aku tersenyum.


Mamah menuntunku berjalan menuju meja dimana kue itu diletakkan. Javier mendorong kursi roda Justin dan memposisikannya tepat disampingku.


Sejenak, aku terdiam memejamkan mata untuk berdoa kepada Tuhan dan meminta tentang apa yang aku inginkan.


*"Tuhan, ini adalah kado terindah yang pernah aku dapatkan. Terimakasih atas uniknya dinamika kehidupanku yang telah Engkau takdirkan. Aku bersyukur, karena pada akhirnya, Engkau menunjukkan hasil dari indahnya sebuah kesabaran."*


"Yeeeeeeee....!!!" sorak mereka setelah aku membuka mata dan meniup lilin-lilin yang menyala di kue besar itu.


Aku memotong kue ulang tahun ini dengan air mata yang sudah melinang membasahi pipi. Tangan mamah menjadi tempat untukku memberikan kue pertamaku. Karena mamahlah pejuang hebat dalam hidupku. Seseorang yang menyayangiku dengan sungguh meski aku bukan putri kandungnya.


Justin membelai lembut pipiku saat aku berjongkok di depannya dan memberikan potongan kue keduaku padanya. Aku tersenyum dan berkata,


"Semoga aku mampu menjadi sosok istri yang mulia untukmu."


Justin menangkap wajahku dengan kedua tangannya, "satu yang perlu kamu tau, Sayang. Kamu telah berhasil menjadi sosok istri yang sangat mulia dari hari pertama pernikahan kita," Justin lagi-lagi mengecup dahiku, "selamat ulang tahun, Sayang," lanjutnya.


Semua orang bertepuk tangan turut memeriahkan keromantisan yang mereka saksikan. Lalu kak Megan memerintahkan mereka untuk segera menyantap menu-menu makanan yang sudah terhidang rapi di deretan-deratan meja.


Mereka berpesta ria dengan diiringi musik yang sudah berdentum asyik di telinga. Aku mendorong kursi roda Justin untuk membawanya ke tepi teras. Aku duduk di sebuah kursi dan memposisikan Justin tepat dihadapanku.


Di sepanjang aku menyuapinya kue ulang yang tadi aku berikan padanya, Justin terus menatapku dengan lembut, membuat jantungku berdegup kencang dan berpeluh dingin sebab ulahnya.


"Justin...," rengekku manja.


"Kenapa, Sayang?"


"Jangan menatapku seperti itu."


"Lah, kenapa? Kamu kan istriku."


"Aku maluuuu...."


"Biarkan saja, aku lebih suka melihatmu yang malu merona seperti itu."


Mataku melebar, "Justin!!!"


"Iya, iyaa..., maaf...."


Justin merebut kue ditanganku dan meletakkannya di atas meja kecil yang ada di depan kami. Tangannya menggenggam erat kedua tanganku, lalu mengecupnya kuat-kuat.


Bisa kurasakan air matanya jatuh. Bahkan isakannya mulai terdengar di telingaku. Dadaku mendadak turut sesak melihat kondisinya sekarang. Suamiku lumpuh, dan hatinya rapuh.


"Justin?" aku memanggil lembut namanya.


Justin tidak menatapku sama sekali, justru isakannya semakin menjadi-jadi.


"Justin, kamu kenapa?"


"Hentikan air matamu, Justin. Aku sesak melihat ini."


Perlahan, Justin menatapku sayu, "Sayang, aku teramat sangat mencintaimu!"

__ADS_1


****


__ADS_2