
# NICHOLAA POV
Aku mendengus pelan saat mengingat bahwa nanti malam adalah pesta ulang tahun Alice, teman masa kuliahku. Harus membeli kado apa yang pas untuk perempuan blasteran Jerman seperti dia?
"Huh, harus pakai gaun manaaa?" keluhku mengobrak abrik isi lemari pakaianku.
Lihatlah, gaunku tidak ada yang baru. Selalu itu-itu saja yang aku gunakan untuk menghadiri sebuah pesta. Pagi ini mungkin waktu yang tepat untuk pergi ke Mall membeli gaun baru sekaligus kado untuk Alice.
"Kau ini kurang kerjaan atau bagaimana?" ujar kak Alodie tiba-tiba.
"Sejak kapan kau di sini, Nyonya?"
"Baru saja. Apa yang kau lakukan? Kau membuat lemarimu berantakan lalu memintaku untuk membereskan begitu?"
"No."
"Lalu?"
"Shoping with me, please...."
"Pagi ini?"
"Ya."
"Tidak, Nicholaa. Aku tidak mungkin meninggalkan Petter di rumah sendirian."
"Bawa saja."
"Kau pikir Petter sebuah barang?"
"Maksudku, ajak dia shoping sekalian."
"Tidak!"
"Ayolah, Nyonya...."
"Aku bilang tidak! Sudah, bereskan lemarimu dan bantu aku membersihkan rumah."
"Aku janji akan menggendong Petter saat kau kelelahan nanti!"
"Kau mau beli apa?"
"Nanti malam ada party di rumah Alice."
"Pakai saja gaun yang ada."
"Ah, ayolah, Nyonya Johnson. Aku tidak mungkin selalu memakai gaun itu-itu terus. Lagipula aku juga belum menyiapkan kado untuknya."
"Isshhhh baiklah. Kau ini merepotkan."
Aku tertawa girang, "thank you so much."
"Tunggu aku satu jam lagi."
"Dengan senang hati."
****
# AUTHOR POV
"Thank you, an honor to I could cooperate with you," ucap Justin memberi hormat sebelum partner bisnisnya itu pergi meninggalkan ruangannya.
Tersungging senyum lepas dibibirnya. Merasakan kesuksesannya yang semakin hari semakin berjaya.
"Lawrence, segera siapkan segala sesuatu untuk acara pernikahanku," perintahnya kepada sekretaris sekaligus sahabatnya itu.
"Kau bercanda, Bos?" jawab Lawrence membereskan berkas-berkas.
"Tidak, aku tidak pernah bercanda."
"Tapi apa dia sudah menerima lamaranmu?"
"Belum."
Lawrence menautkan kedua alisnya, "lalu? Untuk apa kau menyiapkan semuanya."
"Tidak akan terjadi penolakan, Lawrence. Apapun yang terjadi, dia akan tetap menikah denganku. Sekalipun dia telah menolakku, aku akan membuatnya berlutut memintaku untuk menikahinya."
"Damn! Kau lupa akan perikemanusiaan."
"Dan kau lupa aku mampu melakukan apapun yang kumau."
Lawrence menghela nafasnya, "ya, setidaknya sekarang aku kembali ingat bahwa kau bukan manusia sembarangan."
"Diamlah! Siapkan acaraku maka akan aku naikan gajimu tiga kali lipat dari sekarang."
Lawrence melebarkan matanya, "kau serius, Justin?"
"Apa aku pernah bercanda?"
"Akan aku urus semuanya sekarang juga."
"Siapkan Hotel termegah di kota ini untuk pesta pernikahanku nanti."
Lawrence menutup laptopnya,"untuk dekorasi?"
"Hubungi wedding organizer terhebat yang kau tahu."
"Aku butuh beberapa partner untuk mengurus semuanya."
"Ratusan orang pun aku mampu membayarnya."
"Aku pergi, akan kuhubungi kau lagi nanti."
"Ya."
Lawrence meninggalkan ruangan bos sekaligus sahabatnya itu. Justin beruntung memiliki seorang Lawrence dalam perusahaan pun hidupnya. Dia bawahan yang setia, dari awal Justin meniti karirnya hingga sekarang, Lawrence tidak pernah berpaling. Dia sekretaris sekaligus tangan kanan yang mampu diandalkan, Justin mengakui semua itu.
****
Di lain tempat, Nicholaa tengah sibuk memilih gaun yang pas untuk tubuhnya. Beberapa Mall sudah dikunjungi, tetapi hanya kebutuhan Alodie dan Petter yang terpenuhi. Sedangkan gaun untuknya saja masih belum ia temukan. Seleranya memang susah didapat.
"Kau ini mencari warna yang bagaimana?" celoteh Alodie yang melihat Nicholaa kebingungan memilih pakaiannya.
"Semuanya terlalu terbuka untukku, Nyonya. Aku tidak suka."
"Coba yang putih itu," Alodie menunjuk sisi gaun yang dimaksud.
Nicholaa mengambilnya, "cantik."
"Ambilah, kau cantik dengan gaun yang natural seperti itu."
"Apa kau yakin?"
Ooweeeekkkkk
Petter mulai membuat keributan.
"Cepat, Nicholaa. Keponakanmu sudah lelah mengikutimu dari tadi."
Nicholaa berkacak pinggang, "diamlah, Petter. Apa kau tidak mengerti? Tante mu ini sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk acara party malam nanti," omelnya yang justru membuat Petter semakin kencang menangis.
__ADS_1
"Kau ini bodoh atau bagaimana, Nicholaa? Petter bukan orang dewasa yang bisa memahami omelanmu itu. Cepat ambil dan mari kita pulang," celoteh Alodie.
Nicholaa mendengus kesal, "ishhh baiklah."
****
# NICHOLAA POV
"Kau ini pintar sekali menata rambut, Kakak Ipar. Beruntung Tuan Megan mendapatkan istri cerdas sepertimu," pujiku yang masih berkaca diri di depan meja riasku.
Kak Alodie membereskan segala macam asesoris dan peralatan make up, "bilang saja kau juga beruntung memilikiku."
Aku mencibir mendengar itu, "ya, setidaknya ada yang mendandaniku selama mamah menginap di rumah sakit."
"Aku akan menjenguk mamah malam ini. Kau pergilah, dan jangan pulang larut malam."
"Bilang kepada suamimu, aku memijam mobilnya."
"Sebelum aku bilang kepadanya, aku yang terlebih dahulu tidak mengizinkanmu."
Aku berkacak pinggang untuk bersiap-siap memarahinya, "hei, mobil kalian ada dua, Nyonya Johnson. Apa susahnya meminjamkan satu saja untuk adikmu ini."
"Dengar! Kau belum begitu lihai memanuver sebuah mobil, Nicholaa Johnson. Aku tidak akan membiarkan kendaraan megah itu terbaret karena ulahmu," jawabnya turut berkacak pinggang di depanku.
Oh, berani sekali dia berbicara seperti itu. Dia lebih menyayangkan mobilnya daripada adik iparnya sendiri? Dasar.
"Apaa???" bentaknya tiba-tiba ketika aku mulai membuka mulut untuk kembali beradu dengannya.
"Hei, aku belum mengatakan apapun."
"Tapi kuyakin kau pasti akan memprotesku. Sudahlah, pergi dan jangan banyak bicara," ucapnya berlalu pergi.
"Heiiii, kau tidak bisa berlaku seperti itu kepadaku, Nyonyaaaa!" teriakku.
Isshhhh Alodie memang menyebalkan. Sampai kapan aku pergi harus selalu diantar jemput oleh supir taksi? Seorang adik dari Megan Johnson seharusnya mampu pergi kemanapun dengan mobil pribadinya, bukan? Tapi mereka tidak pernah mengizinkanku untuk itu. Huh.
"Jangan pulang larut malam, Nicholaa!" sambar kak Megan yang tengah membaca koran di ruang tamu.
"Ya, dan sampaikan salamku kepada mamah. Aku pergi," ucapku sebelum menutup handle pintu.
Aku terkejut begitu melihat sebuah mobil terparkir di pekarangan rumah. Sepertinya aku mengenali mobil itu. Tapi mobil siapa? Apa dia teman kuliahku yang sengaja menjemputku untuk pergi ke party bersama?
Aku menyipitkan mataku ketika pintu mobil itu terbuka, "Justin?" kejutku tak menyangka.
"Selamat malam, Nona?" sapanya.
Aku berjalan mendekatinya yang tengah bersandar di mobil megahnya itu, "apa kau sudah membuat janji dengan kak Megan? Sepertinya kau akan diusir pulang, sebab rekan bisnismu itu mau pergi ke rumah sakit malam ini."
Justin melipat kedua tangannya di dada, "aku tidak ada urusan apapun dengan Tuan Megan, Nicholaa. Aku kesini untuk menjemput calon mempelai wanita," ucapnya.
Aku menautkan kedua alisku, "maksudmu?"
"Aku mau menjemputmu."
"Aku belum menerima lamaranmu, Tuan Justin. Bagaimana bisa kau menyebutku sebagai mempelai wanita?"
"Kau memang belum menerima lamaranku, Nona. Tapi aku yakin tidak akan terjadi penolakan dari bibir manismu itu."
"Kau itu terlalu percaya diri."
"Ya, karena itu perlu."
Aku mencibir. Justin begitu menarik bagiku. Lihatlah, caranya berbicara kepadaku, tidak pernah sedikitpun untuk menghilangkan senyumnya. Dia selalu saja bersikap manis. Gayanya yang sok angkuh itu membuatku gemas ingin segera mencubit dan memeluknya. Oh, Nicholaa, kau benar-benar sudah gila.
"Masuk dan ikutlah bersamaku, Nicholaa."
"Dimana?"
"Temanku."
Justin mereput ponselku, "siapa namanya?"
"Apa yang kau lakukan? Kembalikan ponselku, Justin."
"Jawablah, Sweety...." rayunya seraya menyibukkan jarinya dengan ponselku itu.
Aku mendengus kesal, "Alice."
"Alicia Silverstone?"
"Ya. Kau mau apa, Justin?"
"Haloo?" sapanya mendekatkan ponselku ditelinganya.
Aku melebarkan mata, "hei? Kau menghubungi siapa?"
"Dengan Alicia silverstone?"
"Justin, kau menghubungi Alice?"
"Perkenalkan saya Justin, calon suami Nicholaa. Maafkan karena malam ini dia tidak bisa menghadiri pesta ulang tahumu. Ada beberapa urusan yang harus kami selesaikan."
Mataku melebar, lancang sekali dia berbicara seperti itu.
Aku berdecak pelan, "hei, urusan apa maksudmu?"
"Terimakasih. Semoga Tuhan memberkati umurmu," ucapnya menutup saluran telepon.
"Urusan saling mengenal," lanjutnya tersenyum kepadaku.
"Tapi, Justin, aku sudah menyiapkan kado untuknya. Dan kau tau? Aku terlanjur membeli gaun putih ini untuk menghadiri pestanya."
Justin tersenyum lalu mengedarkan pandangannya menyusuri penampilanku dari bawah hingga matanya berhenti tepat menatap mataku, "cantik," pujinya membuatku tersipu malu.
"Justin...," keluhku.
"Tidak ada yang sia-sia, Nicholaa. Berapa harga kado dan gaunmu itu? Akan aku ganti jika kau merasa rugi."
Aku menahan tawa, "dasar angkuh!"
Justin tersenyum, "ikut bersamaku?"
Aku meraih uluran tangannya.
****
Justin membawaku menikmati angin malam di bibir pantai. Terlalu dingin untukku yang saat ini tengah memakai gaun yang sedikit terbuka. Tapi dengan segera Justin membuka tuxedo hitamnya lalu meletakkannya dipunggungku. Oh tunggu dulu, aku baru sadar, dia masih memakai pakain kerjanya?
"Justin? Kau baru pulang dari kantor?" tanyaku.
Justin kembali duduk disampingku, "ya," jawabnya.
"Lalu, kenapa kau tidak segera pulang dan beristirahat?"
"Kau tempatku berpulang dan istirahat, Nicholaa."
Oh God. Wajahku pasti sudah memerah sekarang. Dasar Justin, raja gombal.
"Justin?" panggilku lirih.
__ADS_1
"Ya?"
"Berapa umurmu?"
"Dua puluh lima tahun. Sangat cocok untuk perempuan berusia dua puluh dua tahun sepertimu."
Mataku melebar, "hei, bagaimana bisa kau tahu usiaku?"
"Aku tau segala tentangmu, Nicholaa."
Aku mencibir.
"Kenapa? Kau terkejut? Aku mampu melakukan apapun di dunia ini, Nicholaa. Termasuk menikahimu."
Aku tertawa, "dasar, kau ini benar-benar angkuh."
"Ya, setidaknya kau tahu bagaimana diriku. Tapi kau suka, bukan?"
Aku mengedikkan kedua bahuku, "yaaaa...," jawabku ragu.
Justin tertawa. Astaga, lihatlah, dia begitu menawan. Aku yakin, pasti Tuhan sedang berbahagia saat menciptakan Justin dulu. Perempuan gila sepertiku, bebas berpendapat apapun, bukan?
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanyanya membuatku tergertak sadar.
"Ah tidak. Kau tinggal bersama siapa di rumah?"
"Bersama beberapa pelayanku."
"Orang tuamu?"
Justin terdiam, bibirnya tersenyum kecut lalu melirik tajam ke arahku. Oh, dia menjadi sangat mengerikan sekarang.
"Ke-kenapa, Justin?" tanyaku ketakutan.
Justin kembali tertawa terbahak-bahak, lebih keras dari tawanya yang tadi. Aku tercengang. Ada apa?
"Justin?" panggilku pelan-pelan.
"Ternyata kau takut juga denganku."
Aku mendengus kesal lalu berkacak pinggang, "kau mengerjaiku?"
Justin menghentikan tawanya, "baiklah, maafkan aku. Kedua orang tuaku sudah meninggal, Nicholaa."
Aku terkejut, "oh, maafkan aku, Jus. Aku tidak bermaksud."
Justin tersenyum, "tidak masalah."
"Papahku ju-"
"Ya, aku tahu papahmu juga sudah meninggal dan mamahmu tengah dirawat di rumah sakit," ucap Justin memotong pembicaraanku.
"Kau-"
"Sudah kukatakan aku tahu segala tentangmu, Nicholaa," potongnya lagi.
Aku menghela nafas, "iya baiklah. Kalau begitu aku tidak perlu berbicara apapun tentang hidupku."
"Kau hanya perlu bertanya apapun yang ingin kau ketahui tentangku, Nicholaa."
"Kenapa kau melamarku?"
"Sudah pernah kujawab, karena aku ingin menikahimu."
"Sejak kapan kau mengenalku?"
Justin tersenyum, "yang jelas sebelum kau mengenalku."
Aku tersenyum. Entahlah, Justin selalu menjawab dengan sifatnya yang misterius itu.
"Kau tidak bertanya kenapa laki-laki itu tidak mengganggumu lagi?"
Seketika aku teringat dengan rekan kerja kak Megan yang sempat memaksaku untuk menikah dengannya beberapa hari yang lalu.
"Kau? Kau benar-benar membunuhnya?"
Justin tertawa, "sangat mudah menyingkirkan manusia itu tanpa membunuhnya, Nicholaa."
Aku menautkan kedua alisku.
"Dia rekan kerja kakakmu, bukan?"
"Ya."
"Dan dia karyawan di kantorku."
Aku terkejut, "seriously?"
"Ya. Tinggal memerintahkannya untuk pergi dari hidupmu atau dia akan kehilangan pekerjaannya dikantorku."
Aku tercengang, "kau mengancamnya?"
"Sudah kukatakan, aku mampu melakukan apapun di dunia ini."
Aku menggeleng pelan kepalaku. Calon suamiku ini benar-benar begitu berkuasa atas segalanya. Calon suami? Oh gila, aku sudah mengakuinya.
"Nicholaa?" panggilnya menatap lembut kedua mataku.
"Hummm?"
"Kamu cantik."
Oh God.
Aku ingin melayang sekarang.
****
Semenjak bertemu Justin, hidupku selalu dipenuhi dengan kejutan-kejutan mendebarkan. Seperti malam ini, siapa sangka jika gaun putih yang aku beli untuk menghadiri party justru mengantarku bertemu dan kencan dengannya? Membuatnya memuji dan mengindahkan penampilanku.
Perasaanku berdebar debar saat matanya dengan lekat menatap mataku. Jantungku bahkan lupa bagaimana caranya berdetak dengan benar saat Justin dengan lembut membelai pipi atau rambutku. Sikapnya sangat manis dan menjaga. Aku selalu merasa terlindungi setiap kali dekat dengannya.
Bak Putri Raja di bangsa Eropa. Begitulah Justin memperlakukanku. Sedikitpun dia tidak pernah kasar bahkan membentakku. Beda sekali dengan rekan kerja kak Megan yang waktu itu memaksaku untuk menikah dengannya. Dia keras, arogan, pemaksa. Bahkan belum apa-apa dia sudah mampu membuat air mataku jatuh. Itu sudah menjamin bahwa aku tidak akan bahagia menikah dengannya. Aku benar-benar tidak menyangka akan kehadiran Justin dalam hidupku.
Aku selalu bermimpi untuk menikah dengan seseorang yang aku cintai, dan kini aku benar-benar mencintai Justin. Lalu, apa lagi yang aku ragukan untuk menerima lamarannya? Menjadi alat tukar sebuah hutang dari seorang Megan Johnson memang teramat menyakitkan. Tetapi jika rekan bisnis yang menagih perjanjian itu adalah seorang Justin Clayton, why not? Aku mencintainya dan dia mencintaiku. Itu lebih dari cukup, bukan?
Aku berjanji akan menjadi istri yang baik untuk pemuda yang baik pula sepertinya. Dan aku-
Drrrrtttttt...
Oh, tunggu. Ponselku berbunyi.
Selamat tidur, Tuan Putri. Selamat mengistirahatkan hati pun tubuhmu yang mungil itu. Bermimpilah yang baik. Dan bersiaplah karena hari esok aku akan membuatmu lebih berbahagia lagi.
Justin
Right?
Sudah kukatakan, hidupku selalu penuh dengan kejutan semenjak mengenalnya. Tapi, aku rasa aku tidak pernah memberikan nomorku kepada dia. Lalu? Oh aku lupa, Justin mampu melakukan apapun yang dia mau.
****
__ADS_1