NICHOLAA JOHNSON

NICHOLAA JOHNSON
Chapter 14


__ADS_3

# JUSTIN POV



"Permisi, Pak," ucap seseorang membuyarkan lamunanku.



Aku mengerjap, "ya, masuk," jawabku dingin.



"Ini, Pak," lanjutnya menyodorkan amplop padaku.



"Apa ini?"



Tidak menjawab pertanyaan dariku, perempuan yang menjabat sebagai karyawanku di bidang marketing ini, tiba-tiba tertunduk takut.



Aku mengernyit, "duduklah," perintahku yang kemudian langsung di laksanakan olehnya.



Aku membuka isi amplop tersebut dan seketika terkejut membaca isi lembarannya.



"Resign?" tanyaku tak percaya.



"Iy-iya, Pak," jawabnya gugup.



"Kenapa? Apa gaji yang diberikan perusahaan untukmu itu kurang?"



Matanya melebar, "ti-tidak, Pak. Bukan seperti itu. Justru saya senang bisa berkerja di sini. Tapi, ada sesuatu yang membuat saya harus berhenti."



"Kau salah satu karyawan yang bisa aku handalkan di sini, Chelsea. Seharusnya kau tau itu!"



"Terimakasih atas kepercayaan yang Bapak berikan kepada saya. Tapi, sekali lagi maaf, Pak."



"Kenapa?"



Chelsea tertunduk, "saya hamil muda, Pak. Dan suami saya ingin saya menjaga baik-baik janin ini. Saya tidak diperbolehkan untuk kelelahan apalagi berkerja."



Aku tersentak mendengar alasannya. Sesuatu menikam ulu hatiku dengan sempurna. Seperti itukah yang dinamakan suami yang baik? Sedangkan aku apa? Menjaga Nicholaa saja tidak pecus. Bahkan, luka-luka yang Nicholaa dapatkan selama ini, akulah empunya.



Aku menatap haru mata Chelsea, "tapi perusahaan kami butuh karyawan cekatan sepertimu, Chelsea."



"Saya tahu, Pak. Tapi saya yakin, Bapak akan mendapatkan ganti yang lebih baik lagi nantinya."



"Tidak!" sahutku cepat, "kamu bisa cuti selama hamil. Dan kamu bisa kembali berkerja lagi setelah persalinan nanti."



Chelsea tersenyum menatapku, "terimakasih, Pak. Tapi mohon maaf. Saya tidak bisa menerima tawaran Bapak."



Aku tercengang heran, "kenapa?"



"Karena saya ingin belajar menjadi istri dan ibu yang baik untuk suami dan anak-anak saya kelak. Saya ingin fokus mengurus mereka, mengurus urusan rumah tangga. Dan untuk masalah nafkah, insyaallah itu sudah menjadi tanggung jawab suami saya."



Aku bungkam. Niat baik Chelsea seketika membuatku teringat dengan Nicholaa. Dia istri yang begitu baik. Bahkan dalam keadaan apapun, dia tetap memuliakanku, menjaga kehormatan dan harga diriku.



*"Darimana ada sebuah kesalahan dari seorang istri yang ingin memasak untuk suaminya, Justin?"*



Ucapan Nicholaa saat aku menghukumnya malam itu kembali terngiang di telingaku. Seharusnya aku bersyukur memiliki istri sebaik Nicholaa. Dia begitu peduli dan teliti dalam mengurus kehidupanku. Bahkan saat dia dengan berniat baik melayaniku sepulang berkerja, untuk menyiapkan makan malamku, aku malah menghukumnya dan membuatnya pingsan kedinginan di dalam kolam.



Apa aku benar-benar telah menjadi suami yang durhaka? Astaga! Sumpah demi apa mataku sudah berair sekarang. Aku merindukan Nicholaa. Aku ingin memeluk dan mendekapnya erat-erat. Mengucapkan beribu-ribu maaf padanya, sekalipun satu dari maafku tidak ada yang termaafkan.



"Tuan Justin, anda baik-baik saja?" tanya Chelsea mengembalikan kesadaranku. Aku mengerjap beberapa kali supaya air mataku tidak lolos dari pertahanan.



"Pak?" panggilnya lagi.



Aku menghela nafas panjang, "baiklah, Chelsea. Terimakasih atas waktu yang kau luangkan untuk perusahaan kami selama ini," ucapku menandatangani surat pengunduran dirinya.



Chelsea tersenyum, "terimakasih kembali atas segala kebaikan yang Bapak dan perusahaan ini berikan kepada kami."



"Sampaikan salam hangat saya untuk suamimu."



"Baik, akan saya sampaikan nanti."


****


# AUTHOR POV



Kayonna tengah memandangi satu-satunya foto sosok kecil yang selama ini menjadi daftar pencariannya. Masa lalunya yang teramat kelam itu mampu membuatnya terus melinangkan air mata.



Kemana lagi dia bisa mencari? Dimana lagi dia bisa mendapatkan informasi tentang-, ah..., yang bahkan dia sendiri tidak tahu siapa namanya. Yang jelas, selagi umur masih menyertainya, dia akan terus berusaha mencari buah hatinya. Dia akan membongkar dan memaparkan semua kebenarannya.



Rambutnya yang sudah mulai memutih menandakan akan umurnya yang sudah tua. Apalagi dirinya yang kini sedang dirawat di rumah sakit membuatnya tak pernah lelah berdoa supaya Tuhan tidak mencabut dulu nyawanya sebelum dipertemukan dengan sosok yang selama ini dirindukannya, sosok yang selama ini menjadi rahasia besarnya.



"Mungkin sekarang sudah saatnya Megan dan Nicholaa tahu bahwa sebenarnya mereka memiliki saudara lain. Dengan begitu, mereka pasti akan membantuku untuk mencarinya," ucapnya haru.



"Dalbert John, suamiku..., aku sangat merindukanmu," ucapnya terisak.



"Denaya, maaf aku belum bisa menemukan putra kita. Tapi aku berjanji padamu, aku akan terus mencarinya hingga titik darah penghabisanku," lanjutnya lagi teringat akan sahabat perempuannya yang sudah meninggal 16 tahun yang lalu.



Cklleeekkk!



"Selamat pagi, Mah," seseorang datang dan mengejutkannya.



Buru-buru Kayonna memasukan foto itu ke dalam saku piama rumah sakitnya dan bergegas menghapus air matanya dengan segera.



"Alodie?"

__ADS_1



Alodie meletakkan sesuatu di atas nakas, "aku membawakan buah untuk mamah. Di makan ya nanti. Mamah sudah sarapan?"



Kayonna tersenyum merasakan kelembutan sikap menantunya ini, "sudah. Kamu kesini sendiri?"



"Iya, Megan harus segera ke kantor karena ada meeting dengan klien di jam pagi."



Kayonna tercengang, "astaga, lalu kenapa Petter kau tinggal sendirian di rumah?"



"Mamah tenang saja, Petter aman sama Nicholaa di rumah."



"Nicholaa?!"



Shit!



Mata Alodie melebar, "eeee... tidak. Maksudku-,"



*Ah bodoh sekali aku! * rutuknya membatin.



"Nicholaa di rumah? Sama Justin?"



"Nah iya!" jawab Alodie gugup, "tadi pagi mereka main ke rumah. Begitu...."



"Justin tidak berkerja?"



Lagi-lagi mata Alodie melebar, "eee... mereka sangat merindukan Petter, katanya."



Kayonna mengernyit merasakan kegugupan menantunya yang satu ini, "kau kenapa, Alodie?"



"Ti-tidak, Mah. Alodie baik-baik saja. Mamah makan buahnya, ya. biar Alodie kupaskan," jawabnya mengalihkan pembicaraan.



*Semoga mamah tidak curiga. Aku tidak ingin mamah tahu tentang keadaan rumah tangga mereka, atau jantung mamah akan kambuh lagi nantinya.*



Batin Alodie takut.


****



"Batalkan semuanya!!!!" perintah Justin ketus ketika Lawrence datang dan membacakan jadwal Meetingnya hari ini.



"What???!!!!" Lawrence terkejut.



"Tidak bisa seperti itu, Bos. Mereka semua klien-klien penting kita," lanjutnya panik.



"Atau kau yang akan menghandle semuanya."



Lawrence menghela nafas panjangnya. Dia tahu, pikiran Bosnya ini sangat sibuk dengan Nicholaa. Hatinya berkecamuk memikirkan istri terbaiknya itu. Lawrence mengerti, Justin tidak akan bisa fokus jika keadaannya seperti ini.




Justin tersenyum, "nanti akan kunaikkan gajimu."



Mata Lawrence melebar, "sepertinya kegalauanmu membawa keberuntungan bagiku," ucapnya tergelak, "sering-sering saja seperti itu."



"Kau ingin memerasku begitu?"



"Hei, tidak. Aku, kan, berkerja. Tidak menerima bayaran darimu secara cuma-cuma."



"Aku harus menemui Nicholaa hari ini. Kau urus semuanya baik-baik," ucap Justin beranjak.



"Tunggu, Bos," Lawrence menghentikan langkahnya.



"Menurutku kau jangan ganggu istrimu terlebih dahulu. Berikan dia beberapa waktu lagi atau dia akan lebih membencimu."



"Tidak bisa, Lawrence. Rasa bersalah ini terus menghantuiku."



"Bukan rasa bersalah. Tapi rasa cinta yang menyakiti dirimu sendiri."



Justin berbalik, "apa maksudmu?"



"Itu bukan rasa bersalah. Tapi perasaan cinta yang membuatmu sakit karena kau telah menyakitinya."



Lawrence menghampirinya, "come on, Justin. Kau tidak akan merasa sesakit ini jika kau tidak mencintai Nicholaa. Untuk apa kau menyesal telah menyakitinya jika kau hanya menganggap Nicholaa sebagai sarana balas dendammu?"



Justin menghembuskan nafasnya gusar, "aku tidak percaya seorang Justin Clayton bisa skak mat dengan misinya sendiri."



Lawrence tergelak, "sudah kubilang dari awal, misi gilamu ini tidak akan berhasil."


****



Justin menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah Tuan Megan.



*"Menurutku kau jangan ganggu istrimu terlebih dahulu. Berikan dia beberapa waktu lagi atau dia akan lebih membencimu."*



Ingatannya tentang ucapan Lawrence tadi membuat nyalinya menciut. Dia tidak ingin Nicholaa semakin membenci dan tidak sudi bertemu dengannya. Lawrence benar, mungkin dia harus memberikan Nicholaa waktu beberapa hari untuk menenangkan hati. Ini juga menjadi kesempatan untuk dirinya sendiri ber intropeksi diri.



"Kau sedang apa di dalam sana, Nicholaa? Apa air matamu berjatuhan lagi dan lagi? Aku mohon, hentikan tangismu dan izinkan aku memelukmu," gumamnya di hati.



Justin menghela nafas panjang kemudian kembali menancap gas mobilnya setelah puas memandangi jendela kamar Nicholaa dari kejauhan.


****


__ADS_1


Kamar yang dulu selalu menjadi tempat untuk Nicholaa memecah tangisnya, kini menjadi ruangan pertama yang Justin tuju setelah masuk rumah.



Selimut tebal yang dengan setia melindungi tubuh mungil Nicholaa, menghangatkan dan menyelimuti hancur hatinya, pun kini menjadi sesuatu yang tak kunjung berhenti Justin sentuh.



Dia merindukan Nicholaa. Dan hanya kamar ini satu-satunya kenangan yang Nicholaa tinggalkan di sini. Harum aroma strawberry menjadi parfum khas yang melekat di sini, persis seperti aroma Nicholaa. Membuat Justin benar-benar frustasi meratapi penyesalannya.



"Ini!!"



Justin terkejut saat tiba-tiba Javier datang dan menghempaskan beberapa lembar foto di atas ranjang.



"Foto Nicholaa," ucapnya lagi membuat Justin menatap haru foto-foto itu.



"Aku tahu kau merindukannya, dan aku juga tahu kau tidak memiliki apapun tentang Nicholaa," lanjutnya berlalu pergi.



Justin meraih foto itu dengan pelan. Air matanya seketika lolos saat melihat betapa manisnya foto-foto candid Nicholaa. Justin tidak menyangka sebanyak ini Javier memotret Nicholaa secara diam-diam. Mengabadikan senyum Nicholaa yang mungkin saat itu tidak bertahan lama.



*"Justin, aku minta maaf jika kau cemburu melihat Javier memotretku tadi."*



*"Tidak masalah."*



*"Tapi tadi kau terlihat seperti sedang menahan amarah."*



*"Untuk apa aku marah."*



*"Seriously?"*



*"Ya."*



Foto manis Nicholaa saat menggendong Petter mengingatkan Justin akan kejadian itu. Dia benar-benar merasa bodoh saat ini. Bodoh karena telah memperlakukan Nicholaa semena-mena.



*"Pada sejatinya tanganmu bukanlah untuk memukul rusukmu sendiri!!"*



Ingatannya akan ucapan Nicholaa malam itu benar-benar membuat dadanya sesak. Bersahut-sahutan dengan....



*"Nicholaa tulang rusukku. Tidak mungkin aku menyakitinya."*



Ucapannya kala itu.



Justin tidak mengerti. Seharusnya bukan Nicholaa sasaran dendamnya atau seharusnya dendam itu sama sekali tidak terjadi. Yang jelas, Justin menyesal telah menjadikan pernikahan mereka sebagai sarana balas dendamnya.


****



Sedangkan di kamarnya sendiri, Javier tengah mencoret nama Nicholaa dalam buku diarynya. Nama yang selama ini dia jadikan sebagai judul-judul puisi cintanya.



Walau perasaan cintanya itu sebenarnya nyata, tapi semakin lama Javier semakin sadar. Bahwa pada sejatinya, Justin mencintai Nicholaa. Dan dia tidak mau menjadi perusak kebahagiaan kakak sepupunya sendiri. Meski terkadang, Justin menjadi saudara yang begitu sialan baginya, tapi Justin adalah satu-satunya keluarga yang dia punya. Dan dia tidak mau kehilangan sosok berharganya itu.



*"Jangan menangis, Justin. Kamu, kan, masih punya aku. Mamah sama papahku juga orang tua kamu. Kamu akan tinggal di rumah kami, kamu tidak sendiri," ucap Javier menenangkan saat sosok Ibu meninggalkan Justin 16 tahun yang lalu*



*"Kenapa mereka meninggalkanku, Jav? Belum lama Papah meninggal karena kecelakaan itu, sekarang mamah juga pergi menyusul papah. Haaaa hiks... hiks...."*



*"Jangan sedih, kita kan saudara. Kita akan terus bersama sampai kapanpun. Sampai maut memisahkan kita,"*



*Justin kecil menyeka air matanya, lalu mengacungkan jari kelingkingnya, "janji?"*



*"Iya, Janji," balas Javier kecil menautkan jari mereka.*



Kejadian 16 tahun yang lalu itu kembali terlintas di benak Javier. Membuatnya tersenyum juga meneteskan air mata. Apapun, bagaimanapun, Justin dan Javier tetap dua saudara yang saling menyayangi. Sekalipun mereka gengsi menunjukkan rasa itu semenjak beranjak dewasa.


****



"Tidak!!" bentak Allura menyangkal permintaan Tristan yang sedang bersimpuh menemuinya dengan penuh linangan air mata itu.



"Aku mohon...."



"Sekali tidak artinya tidak! Aku tidak mungkin melaporkanmu kepada polisi. Kau gila? Kau itu kakak kandungku, Kak!" lanjutnya lagi tak percaya saat Tristan memohon-mohon untuk menghukumnya ke penjara.



"Tapi aku sudah bodoh menculik adikku sendiri. Aku menyesal, Lura. Dan pada akhirnya apa yang aku dapat? Tidak ada satupun rencanaku yang berhasil. Aku juga merasa hina karena telah mencelakai Nicholaa malam itu."



"Aku sudah memaafkanmu, Kak. Untuk merubahmu menjadi sosok yang lebih baik tidak harus menjebloskanmu ke penjara. Kau satu-satunya keluarga yang aku punya. Kau cukup bertaubat dan berjanji untuk tidak mengulangi semuanya."



Tristan menunduk sedih, "kamu pulang, ya, sama kakak. Kakak tidak tega melihatmu tinggal di kontrakan kecil seperti ini."



Allura tersenyum dan memeluk sosok tinggi itu, "terimakasih, Kak. Aku seneng kakak berubah," ucapnya terisak.



Sosok almarhumah ibu yang saat itu datang ke dalam mimpi Tristan dengan keadaan menangis membuat Tristan sadar, bahwa orang tuanya di sana pasti sedih melihat anjingnya kelakuan dia di dunia.



Tristan merasa gagal menjadi sosok kakak untuk Allura. Kakak macam apa dia yang sempat tega memaksa Allura untuk menikah dengan orang yang tidak dicintainya hanya demi sebuah uang? Dia menyesal telah memelihara kebodohan sendiri. Dia merasa malu karena selama ini telah menjadi sosok yang pengecut, pecundang, bahkan bajingan.



Astaga.



Tristan mengutuki dirinya sendiri.



"Aku berjanji akan menjadi sosok yang baik untuk menjaga dan membahagiakanmu, Lura," lirihnya mendekap erat-erat tubuh mungil adik perempuannya itu.


****



Langit gelap menyapa alam dengan ramah. Angin berbisik riuh bercengkrama dengan semesta. Semburat cahaya bulan tak pernah meninggalkan bumi. Dan gemerlap tabur bintang masih setia memperindah cakrawala.



Tapi semua itu tak mampu melebur rasa sakitnya. Tak mampu mengembalikan patah hatinya. Perasaan yang dulu handal dalam bersabar, kini telah terkapar lemah tak berdaya. Bibir yang dulu mampu menyembunyikan keterlukaannya, kini memilih bungkam begitu saja. Mata yang dulu selalu berbinar pancarkan cinta, kini turunkan hujan yang tak pernah kenal reda.


__ADS_1


Saat larut semakin menyesakkan dada. Nicholaa menarik selimutnya. Untuk yang kesekian kali, malamnya kembali berduka.


__ADS_2