NICHOLAA JOHNSON

NICHOLAA JOHNSON
Chapter 16


__ADS_3

# AUTHOR POV



"Nicholaa, aku akan menjenguk mamah di rumah sakit pagi ini. Kau mau ikut?" tawar Alodie di tengah-tengah sarapan mereka.



"Tidak perlu. Kau pergilah, dan sampaikan salamku pada Mamah."



"Kau yakin? Megan akan pergi bekerja dan mamah merindukan Petter, jadi akupun akan membawanya. Kau di rumah sendiri?"



Nicholaa tersenyum, "aku akan pulang pagi ini."



Uuhghhhkkkk!!


Megan tersedak mendengar itu.



"Kau sudah memaafkannya?"



"Ya, seperti saranmu padaku."



Alodie mencibir, "bilang saja rindu dan sayangmu padanya lebih besar."



"Jelas saja. Berfikirlah yang benar, Nyonya Alodie. Sesakit apapun hati ini, cinta tetaplah cinta. Dan naluri seorang wanita memang seperti itu, bukan?"



Megan tergelak, "ya..., ya...."



"Jangan menertawaiku. Aku mencintai Justin begitu besar. Tak heran jika dengan cepat aku bisa memaafkannya."



"Lain kali jika ada masalah jangan kabur begini. Selesaikan dengan baik. Dasar kau ini!" ucap Megan mengacak-acak rambut adik tercintanya itu.



Nicholaa terdiam. Benaknya berfikir, apa yang akan terjadi jika keluarga Johnson tahu bagaimana sebenarnya sikap Justin selama ini? Apa Tuan Megan akan diam dan tidak mencampuri? Atau Justru akan meminta Nicholaa untuk menggugat cerai suaminya? Nicholaa menggeleng ngeri. Tidak. Dia memang sakit, tapi dia mencintai Justin. Dan dia tidak mau berpisah dengan suami misteriusnya itu.



Apapun yang terjadi.



"Nicholaa, kemarin aku bertemu dengan William di jalan. Dia menanyakan kabarmu. Apa kalian tidak pernah bertemu?" tanya Alodie membuat Nicholaa tersadar.



"William. Setelah kejadian malam itu, William benar-benar menghilang dari hidupku. Dia benar-benar menghormati Justin sebagai suamiku. Bagaimana bisa aku lupa bahwa masih ada William di hidupku? Aku merindukannya. Aku ingin meminta maaf atas kejadian itu. Dan juga berterimakasih karena telah menyelamatkanku dari tembakan Theresa, wanita jalang tak berperikemanusiaan itu," gumam Nicholaa di hati.



"Nicholaa, are you oke?" tanya Megan membuyarkan lamunannya.



"Ah iya. Kita jarang sekali bertemu. Lagipula aku tidak memiliki ponsel, jadi William tidak bisa menghubungiku."



"Baiklah, cepat selesaikan sarapan kalian. Setelah ini kita pergi sama-sama. Sayang, aku antar kamu dahulu ke rumah sakit, setelah itu lanjut mengantar Nicholaa pulang ke rumah suaminya," atur Megan membuat mereka mengaguk.


****



Setelah meneguk air putih untuk mengakhiri sarapan paginya, Javier menghampiri Justin yang sedang berkutat dengan layar monitor di ruang kerjanya.



Javier duduk dan merenggangkan badannya di sofa, "kau sudah rapi?"



"Ya."



"Jangan lupa sarapan."



Justin mengernyit heran, "sejak kapan kau perhatian denganku?"



"Aku hanya mengucapkan sepatah kalimat yang seharusnya diucapkan istrimu."



Justin terdiam. Kepergian Nicholaa memang membuatnya tersadar, bahwa sepenggal kalimat-kalimat sederhana itu ternyata sangat berarti dan mampu membuat paginya berbeda.



Dia rindu.



"Jika kau memang mencintainya, akui saja kekalahanmu."



Justin menghela nafas, "aku harus berangkat sekarang," ucapnya melangkah pergi.



"Brother!" panggil Javier membuat langkahnya terhenti.



"Pendam egomu itu. Sudahilah semuanya jika kau ingin Nicholaa kembali! Percuma dia memaafkanmu jika setelah ini masih ada perihal besar yang kau sembunyikan darinya!"



Braaakk!!



Justin menghempas kasar tas kerjanya.



"Kau tidak mengerti, Javier! Sulit untuk membongkar dan memaparkan itu semua! Dari mana kau bisa menjamin Nicholaa akan kembali setelah aku menyudahi semuanya?"



"Terlalu banyak hal yang kau sembunyikan dan terlalu banyak pula perilakumu yang membuatnya kecewa. Lihatlah betawa dia mencintaimu begitu dalam. Sekarang katakan!! Kau mencintai Nicholaa, bukan?"



"Tidak."



"Ya! Jika kau tidak mencintainya. Kau tidak akan repot-repot memintaku pergi ke rumah Tuan Megan hanya untuk membujuknya!"



Justin terdiam. Dia mengakui kekalahan itu. Ya, dia mengaku kalah. Tapi bukan berarti Javier harus mengetahui isi hatinya yang sebenarnya. Seorang Justin Clayton tidak akan rela dipermalukan oleh sepupunya atas permainan yang dia buat sendiri, bukan? Dia tidak mau harga dirinya hancur di hadapan Javier.



"Dulu kau bilang bahwa kau melindungi Nicholaa hanya karena ingin membunuhnya dengan tanganmu sendiri. Tapi nyatanya apa? Bahkan sampai sekarang kau tidak mampu melakukan itu!"



"Tidak! Aku tidak mencintai Nicholaa!" egonya berbicara.

__ADS_1



"Matamu berbeda, Brother!"



"Aku tidak mungkin jatuh hati pada seseorang yang sudah merenggut kebahagiaanku, Javier!"



"Boleh! Kau boleh berbicara seperti itu! Tapi lihatlah dirimu sendiri, dengarkan apa yang hatimu teriakan. Apakah sama dengan kalimat receh yang selalu keluar dari bibir pengecutmu itu!!"



Buugggggg!!!!



Satu pukulan mendarat tepat di sudut mata Javier.



"Berani kau berbicara seperti itu?!"



Javier tergelak seraya menyeka darah di pelipisnya, "memang pada kenyataannya seperti itu, kan? Bibirmu pengecut, Jus!! Kelu dan tak berani mengatakan apa yang sebenarnya kau rasakan!!



Aaaaggghhhhh!!!



Justin mengusap kepalanya frustrasi.



"Oke!! Okeee!!! Aku memang kalah! Aku... memang... kalah.... Tapi satu hal yang harus kau tau, Javier. Sekalipun hatiku telah jatuh pada Nicholaa, tapi batinku kerap kali masih merasa sesak tatkala mengingat semua derita yang kurasakan akibat perbuatan keluarganya!!," Justin mendekat dan menatap lekat-lekat mata Javier, "dan rasa sakit itu tidak akan pernah bisa hilang!!" lanjutnya.



"Lalu apa? Kau sendiri yang membiarkan batinmu itu tersiksa, Jus. Kau hanya perlu ikhlas, sudah. Relakan semua yang terjadi di masa lalu. Toh, saat kau mampu membuat Nicholaa merasakan apa yang kau rasakan, kedua orang tuamu juga tidak akan kembali hidup lagi, kan?"



"Cukup, Javier! Tutup mulutmu dan jangan campuri urusanku!"



"Aku tidak akan tutup mulut sebelum kau membongkar semuanya kepada Nicholaa. Karena aku tidak akan bisa tinggal diam saat kau masih terus menyakitinya, lagi dan lagi. Camkan itu!!"



"Brengsek kau!!!"



"Lebih baik menjadi berengsek sekalipun daripada seperti kau!! Mampu mencintai tapi pengecut dengan perasaanya sendiri!"



"Seharusnya kau tidak selancang itu padaku, Javier!"



"Mentang-mentang kau lebih tua bukan berarti aku tidak bisa memperingatimu, Justin!"



"Cukup!"



"Tidak akan!!! Apa susahnya, Jus? Apa susahnya mengaku kalah dan menyudahi dendammu pada Nicholaa dan keluarganya? Hah!!!"



"Dendam apa yang kalian maksud!!"



Damn!



Justin menghela nafas dan menghampirinya, "Nicholaa? Sejak kapan kamu berada di sini?" tanyanya lembut.



"Sejak kau memerintahkan Javier untuk diam dan tidak mencampuri urusanmu!"



Justin memeluk Nicholaa, "kau pulang? Aku merindukanmu, Nicholaa."



"Lepaskan aku, Justin!" bentak Nicholaa berontak, "jelaskan padaku sekarang juga! Dendam apa yang kalian maksud? Hah!!"



"Kamu salah paham, Nicholaa. Javier hanya bercanda tadi."



"Tidak!" sahut Javier lantang, "aku tidak bercanda dengan ucapanku, Nicholaa!"



Nicholaa memandang kecewa mata Justin, "apa lagi yang kau sembunyikan dariku, Jus? Hah? Apa lagi!!!!"



"Nicholaa, tenanglah...."



"Bagaimana aku bisa tenang? Kau tahu? Pagi ini aku pulang ke rumah untuk memaafkanmu dan kembali tinggal bersamamu. Tapi apa yang telingaku dengar barusan, membuat berubah pikiranku!!"



"Tidak, Nicholaa."



"Katakan, Justin! Katakan dendam apa yang kalian maksud! Rahasia apa yang kamu sembunyikan dariku selama ini!! Katakan!!!"



"Tidak ada rahasia apapun, Nic-,"



"Cukup, Justin!" potong Javier lantang, "paparkan saja semuanya kepada Nicholaa. Cukup dan sudahi saja semuanya! Ini sudah saatnya Nicholaa tau. Kau jangan jadi pengecut yang berkepanjangan seperti itu!!"



"Aku mungkin mudah kau tipu berkali-kali, Jus. Aku mungkin bisa kau sakiti sesuka hatimu. Tapi pada sejatinya aku tetaplah perempuan lemah yang hanya bisa mencintamu. Untuk itu tolong..., tolong jangan sembunyikan apapun dariku," sambung Nicholaa mulai terisak.



"Kau lihat mata tulus istrimu, Jus. Bibir getarnya berbicara cinta suci padamu. Kau tega? Kau tega menyakitinya terus menerus seperti itu? Hah?"



Justin menatap lekat-lekat mata Nicholaa. Ada kecewa juga cinta yang tulus di dalam sana, Justin tau itu. Tapi tetap saja, gemuruh luka di dada sebab masa lalu itu masih berkobar kobar membuat panas perasaannya. Membuat bimbang hatinya.



Tapi, sampai kapan dia bertahan dalam keadaan seperti ini? Nicholaa sudah cukup menderita. Mungkin Javier benar, ini sudah saatnya Nicholaa tahu semuanya. Sudah saatnya Nicholaa tahu apa alasan Justin menikahi Nicholaa sebenarnya.



Perlahan, Justin berjalan dan membuka laci meja kerjanya. Tangannya terulur mengambil selembar foto usang yang selama ini selalu menjadi sarana untuknya mengadu rindu, untuknya bercerita dan melepas dahaga.



"Ini foto keluargaku," ucap Justin menyodorkan foto itu kepada Nicholaa.



Dengan gemetar tangan Nicholaa menerimanya. Dan seketika, Damn! Bibir Nicholaa tersekat melihat sosok pahlawan hidupnya ada di sana.


__ADS_1


"Papah!!!" ucapnya tak percaya.



"Tidak mungkin! Apa maksud dari semua ini, Jus! Jelaskan padaku!! Kenapa Papahku bisa bersama Ibumu dan...," kalimat Nicholaa terhenti saat dia menyadari bahwa laki-laki kecil yang ada di foto itu juga sama persis dengan foto laki-laki kecil yang selama ini selalu dilihat mamahnya diam-diam di rumah sakit.



Nicholaa menggeleng tak percaya, "Justin, apa anak kecil ini kau?"



"Ya."



"Aaaaaggggg!!!!" teriak Nicholaa frustasi, "kenapa semuanya penuh teka-teki! Apa yang terjadi di masa lalu! Kenapa Papah bisa bersamamu dan mamah Denaya! Kenapa?!!!"



"Karena Tuan Dalbert John adalah suami Mamahku!"



Mata Nicholaa melebar, "tidak! Dia papahku dan dia suami dari mamah Kayonna!!"



"Dia papahku dan dia suami mamahku! Ibumu merebutnya dari keluarga kami! Tuan Dalbert selingkuh dibelakang mamah Denaya dan memiliki hubungan dengan janda beranak dua seperti Ibumu!!"



Plaaakkk!!!



Satu tamparan panas mendarat tepat di pipi Justin.



"Jaga ucapanmu dan katakan sekarang bahwa itu semua tidak benar!!"



"Itu semua kenyataan Nicholaa!!"



Tangis Nicholaa pecah seketika. Dia tidak menyangka, ternyata selama ini dirinya dan Megan bukanlah anak kandung dari seorang Dalbert John, pahlawan hidup yang sangat mereka sayangi.



Nicholaa sangat terpukul. Dadanya sesak mengetahui kenyataan ini. Kenapa mamahnya tega menyembunyikan perihal besar seperti ini. Nicholaa lelah. Nicholaa lelah selalu berada dalam kebohongan orang-orang disekitarnya.



"Dan inilah, Nicholaa! Inilah alasanku menikahimu! Karena luka di masa lalu! Aku ingin kau merasakan derita yang aku rasakan dulu!! Hanya karena Tuan Dalbert memilih keluargamu, mamah Denaya akhirnya sakit-sakitan dan pergi meninggalkan dunia ini! Setelah sebelumnya papah Dalbert meninggal karena kecelakaan itu!!"



Tangis Nicholaa semakin pecah berantakan mendengar semuanya. Hal-hal yang selalu menjadi keganjalannya selama ini akhirnya terjawab sudah. Justin memang tidak pernah mencintainya, dia menikahinya hanya karena dendam. Dendam masa lalu yang seharusnya tidak menjadi salah Nicholaa seutuhnya.



"Aku kehilangan segalanya, Nicholaa. Aku kehilangan Papah, aku kehilangan Mamah dan aku kehilangan kasih sayang mereka! Bisa kau bayangkan betapa tersiksanya aku hidup sebatang kara di usiaku yang bahkan belum beranjak dewasa!" Justin memecah tangisnya. Luka-luka di masa lalu kembali berbicara, mengobarkan api emosi yang selama ini memerangi benaknya.



Nicholaa bersimpuh. Matanya bagai mendung hitam yang tak mau redakan hujan. Javier berjongkok membelai pundaknya. Memberikan sentuhan sentuhan lembut yang Javier sendiri yakin tidak akan bisa mengurangi rasa sesak yang Nicholaa rasakan.



"Aku hancur, Nicholaa. Aku tidak memiliki siapapun lagi selain Javier dan keluarganya!! Aku menderita Nicholaa, aku sakit!!"



Justin kembali menyeka air matanya, "dan aku bersyukur Tuan Megan memiliki hutang kepada perusahaanku. Dengan begitu aku bisa memintamu sebagai gantinya. Aku bisa menikahimu lalu menyakitimu sepuaskuuu!!!"



"Cukup, Justin!!" bentak Megan yang tiba-tiba datang membuat mereka semua terkejut.



"Lelucon apa yang kau katakan?! Semua pradugamu selama ini salah besar! Salah besar!!"



"Apa maksudmu, Kak?"



Megan menghampiri Justin dan menatap lekat-lekat matanya, "jadi kau adalah putra dari Nyonya Denaya? Hah?"



"Ya."



"Kalau begitu seharusnya aku yang menyakitimu karena dendam masa lalu. Bukan kau!!!"



Justin mengernyit, "apa maksudmu?"



"Kau salah! Mamah kami tidak pernah merebut Tuan Dalbert dari keluargamu! Justru Ibumulah yang merebutnya dari kami!!



"Cukup, Tuan Megan!! Itu semua tidak benar!



Megan tergelak, "kenapa? Kau tak terima mendengar kenyataan itu? Jus... aku yang lebih dahulu lahir ketimbang dirimu. Aku yang lebih mengetahui segalanya yang terjadi dimasa lalu. Aku dan Nicholaa adalah anak kandung dari Tuan Dalbert dan Ibumu adalah Istri keduanya!!"



Damn!


Justin dan Nicholaa tersekat mendengar itu.



"Apa?!!" Nicholaa berdiri menghampiri Megan, "mamah Denaya adalah istri kedua papah?!" lanjutnya tak percaya.



"Ya."



Nicholaa menggeleng tak percaya, "itu artinya... itu artinya apa, Kak? Apa? Aku dan Justin adalah saudara se Ayah??!! Astagaa...." tangis Nicholaa kembali pecah.



Justin dan Javier benar-benar tidak percaya dengan apa yang terjadi sebenarnya. Tidak mungkin. Justin tidak terima mendengar kenyataan ini. Dia dan Nicholaa tidak mungkin saudara se Ayah. Dia mencintai Nicholaa. Dia mencintai Nicholaa.



"Sekarang apa, Justin? Puas kau? Puas kau menjadikan pernikahan haram ini sebagai sarana balas dendammu? Hah? Puasss kau membuatku jatuh cinta kepadamu? Kakakku sendiri!!"



Justin hanya bisa terdiam merasakan tangan Nicholaa yang dengan kecewa memukuli dada bidangnya. Justin masihlah tidak percaya, ini semua tidak benar. Ini semua tidak mungkin.



"Kamu jahat, Justin... kamu jahaat!!"



"Tidak, Nicholaa! Aku yakin apa yang dikatakan kak Megan itu tidaklah benar. Kita bukan saudara se Ayah!! Bukan!! Percaya padaku!!"



"Aku tidak mengerti siapa yang benar diantara kamu dan kak Megan!! Yang jelas keduanya membuatku luka! Aku tidak siap menerima bahwa Papah bukanlah papah kandungku! Pun aku tidak siap menerima bahwa kamu adalah kakak se Ayahku!!" Nicholaa tak henti-hentinya memukuli dada bidang milik Justin. Hatinya benar-benar hancur, dua kenyataan pahit itu mampu membuatnya merasa kehilangan dirinya sendiri.



"Sudahlah.... Lebih baik kita ke rumah sakit. Hanya mamah Kayonna yang tau, dan hanya mamah Kayonna yang bisa menjawab semua kebenarannya," ucap Javier menenangkan mereka.


****

__ADS_1


__ADS_2