NICHOLAA JOHNSON

NICHOLAA JOHNSON
Chapter 8


__ADS_3

# NICHOLAA POV



Paginya aku terbangun lalu tersenyum mendapati Justin tengah menyisir rambutnya di depan cermin kamar kami. Tunggu dulu, jam di atas nakas menunjukkan pukul delapan pagi. Tapi Justin masih sesantai ini?



"Justin, kamu tidak pergi berkerja?" tanyaku hati-hati.



"Bersihkan dirimu. Kak Megan beserta istrinya akan sampai kesini satu jam lagi."



Aku terkejut dan menyandarkan punggungku, "kamu serius?"



"Kau pikir aku ini pembohong atau bagaimana, Nicholaa? Hah?!!" bentaknya membuatku tersenyum pahit.



"Kau bisa menjawabnya dengan pelan, Justin. Tidak perlu membentakku seperti itu," ucapku berusaha selembut mungkin.



Dengan tetap mengacuhkanku, Justin keluar dan berlalu pergi begitu saja.


****



Setelah membersihkan diri. Aku merias wajahku secantik mungkin. Mata bengkak juga hidungku yang selalu memerah tidak boleh terlihat oleh kak Megan dan yang lainnya, atau mereka akan bertanya macam-macam kepadaku.



Saat aku turun, senyumku terlukis sempurna begitu mendapati kak Megan dan kak Alodie sudah berada diruang keluarga. Dan juga Justin yang tengah-, oh astaga, Justin tengah menggendong Petter? Lihatlah, betapa manisnya pemandangan itu bagiku. Ini pertama kalinya lagi aku melihat senyum di bibir Justin setelah dia berubah menjadi orang yang sangat asing bagiku.



Tubuhku seakan terpaku melihat harunya pemandangan ini. Air mataku ingin menangis mengingat betapa manisnya perlakuan Justin dulu terhadapku. Sekarang seakan semuanya sirna. Justin membuat dirinya sendiri asing, membuatku bersusah payah untuk mengenali siapa dia sebenarnya.



"Sayang, kenapa kamu berdiri di sana. Ayo kemari," panggil Justin menyadarkanku.



Tunggu, dia memanggilku apa? 'Sayang'? 'Kamu'? Tidak lagi 'Jalang' ataupun 'Kau', kan?



Aku tersenyum dan mendekat, "maafkan aku, aku hanya terkejut melihat kalian semua."



"Kau ini menghilang atau bagaimana, Nicholaa? Susah sekali dihubungi," celoteh kak Alodie membuatku gelisah.



Aku menatap sekilas wajah Justin, "emm, itu..., poselku mendadak rusak, Kak. Justin sudah membelikan yang baru tapi aku tidak mau menggunakannya. Ya menurutku, siapa lagi yang harus aku hubungi jika aku sudah tinggal satu rumah dengan suamiku? Lagipula dengan begini kalian pasti akan lebih sering berkunjung kesini, bukan?" Semoga saja kak Alodie bisa bercaya. Aku tidak mungkin berkata jujur bahwa Justin yang membuat ponselku rusak semenjak kejadian malam itu.



"Iya baiklah, terserah kau saja," timpal kak Megan.



"Sayang, sepertinya Petter merindukanmu. Lihatlah, dia memandangimu terus dari tadi," ucap Justin mendekatiku.



Aku tersenyum dan meraih Petter dari gendongan Justin, "hai, Sweety. I miss you to so much."



"Sepertinya kalian sudah pantas menggendong anak. Kapan kau hamil, Nicholaa?" tanya kak Alodie membuat aku dan Justin gelagapan.



"Ini baru hari kelima pernikahan kita, Kak. Bersabarlah dulu," jawab Justin tersenyum.



"Kau butuh mengajak Nicholaa untuk Honeymoon, Jus. Tinggalkan sementara pekerjaanmu, dengan begitu kau akan lebih bisa fokus dengan istrimu itu," usul kak Megan membuatku dan Justin semakin gelagapan.



Aku menatap mata Justin sekilas, "emm, sebenarnya Justin sudah pernah menawarkanku untuk pergi Honeymoon, Kak. Hanya saja, aku menolaknya," bohongku.



Kak Alodie memijit pelipisnya, "ya, kau memang manusia teraneh yang pernah aku jumpai. Baru kali ini ada seorang istri yang menolak tawaran Honeymoon dari suaminya."



"Ah, tenang saja, Kak. Nanti biar aku paksa Nicholaa untuk bersedia Honeymoon bersamaku," sahut Justin membuat kedua pipiku memerah.



Astaga, kenapa Justin berubah selembut ini denganku? Mungkin karena rasa bersalahnya atas kejadian semalam dan dia mulai menyadari bahwa sebenarnya perasaannya sangat mencintaiku. Iya, semoga saja.



"Selamat pagi semua," sapa Javier yang tiba-tiba datang menghampiri kami.



Kak Megan dan Kak Alodie terkejut melihatnya. Ya tentu saja, mereka belum pernah berjumpa dengan Javier selama ini.



"Kak, perkenalkan dia Javier, sepupu aku," ucap Justin memberitahu. Kak Megan dan kak Alodie tersenyum menanggapi.



"Hai Javier, kenapa aku baru melihatmu sekarang?" tanya kak Alodie.



"Maafkan aku tidak bisa datang ke pesta pernikahan Justin dan Nicholaa. Ada beberapa hal yang perlu aku urus di Barcelona."



"Oh, kau fotografer?" tanya kak Megan yang melihat ada kamera mengalung di leher Javier.



Javier tersenyum, "sekedar hobi."



Sesaat, perhatian kami tertarik kepada Petter yang tiba-tiba tertawa melihat Javier.



"Hai, Jagoan. Kau ingin aku potret?" ucap Javier menghampiri Petter di gendonganku.



"Nicholaa, tersenyumlah dan bimbing Petter untuk foto bersamamu," Javier menginstruksi seraya bersiap-siap membidikan kameranya kepada kami.



Ckreekkk



Satu foto berhasil dia ambil. Bisa kulihat mata Justin menyembunyikan rasa ketidaksukaan melihat Javier memotretku. Apa dia cemburu? Ah ayolah, Nicholaa. Jelas saja dia cemburu. Mana ada suami yang tidak cemburu ketika ada laki-laki lain yang menyimpan foto istrinya? Itu sakit. Kau sendiri juga sudah merasakannya, bukan? Aaiissshhh, aku akan meminta maaf kepada Justin setelah ini.



Javier tersenyum melihat hasil potretnya, "sempurna."



"Ya, jagoan kami memang selalu sempurna," sahut kak Megan.



"Baiklah, senang bertemu dengan kalian. Selamat berbincang ria. Aku harus segera pergi. See you," ucap Javier kemudian berlalu pergi. Tidak lupa untuk tersenyum kecut saat langkahnya melewati Justin.


****


# AUTHOR POV



Setelah mendapat telepon dari Justin bahwa bos nya itu tidak bisa masuk kerja hari ini, Lawrence dengan tergesa-gesa memakai sepatu kerjanya untuk segera pergi dan menghandle semua pekerjaan dikantor.



"Pagi, Bro!" sapa seseorang membuatnya terkejut.



"Sepertinya kau harus belajar bertamu di rumahku dengan baik, Tuan William," ucapnya tak mengalihkan pandangan dari sepatunya sedikitpun.



William terkekeh, "hei, aku sepupumu, Lawrence. Tidak perlulah mengetuk pintu atau berucap permisi kepadamu."



"Yaa..., terserah kau saja."



"Kapan kau menikah?"



"Ada perlu apa kau kemari?"



"Hei, kau belum menjawab pertanyaanku."



"Aku tidak ada waktu untuk menjawab pertanyaan sialmu itu."



Lagi-lagi William terkekeh, "move on, Brother! Ada begitu banyak wanita di dunia ini."



"Tidak semudah itu."



"So? Kau mau apa sekarang? Lagipula perempuan itu sudah mencampakkanmu dan menikah dengan orang lain, bukan? Seharusnya kau mampu membuktikan kepada semesta bahwa kisahmu tidak akan berakhir begitu saja. Apalagi karena patah cinta. Tidak worth it, Bro."

__ADS_1



Lawrence menggeleng mendengar ocehan sepupunya itu, "banyak bicara."



William tergelak.



"Sebenarnya kau ini ada apa kemari? Tumben sekali."



"Setelah pulang ke Indonesia, aku tidak ada pekerjaan lain selain menyelesaikan job-job melukis itu. Bolehlah jika sekali-kali kau ajak saudaramu ini pergi kemana gitu?"



"Bukankah uangmu begitu banyak? Kau bisa pergi kemanapun yang kau mau."



"Menurutmu manusia bisa bersenang-senang sendirian hanya dengan uang? Come on, Brother! Seseorang butuh orang lain untuk mengisi kekosongan hidupnya."



"Perempuan maksudmu? Kenapa pikiranmu itu selalu saja tentang cinta."



"Hei, jika aku berfikir kesana, aku tidak mungkin kemari. Dasar bodoh!"



Lawrence terkekeh, "bilang saja kau tidak punya siapapun selain diriku."



"Lebih baik sendiri dan tidak mencintai siapapun daripada gagal move on seperti dirimu!"



"Ah, sudahlah. Aku buru-buru. Kau jaga rumahku baik-baik," ucap Lawrence meraih tas kerjanya di meja.



"Dan satu lagi. Nanti malam aku akan menghadiri pesta pernikahan rekan kerjaku. Jika kau mau ikut, jangan lupa siapkan pakaianmu."



Mata William melebar, "Seriously?"



"Setidaknya aku bukan pemberi harapan palsu."



William terkekeh kemudian Lawrence berlalu pergi.


****


# NICHOLAA POV



"Baiklah, kami pulang dulu. Terimakasih atas hidangan lezat yang kalian berikan," ucap kak Alodie berpamitan.



Kini aku dan Justin tengah mengantar mereka sampai teras rumah. Sebenarnya aku masih sangat merindukan Petter, tapi hari sudah siang. Dan masih ada banyak urusan yang harus kak Megan selesaikan. Semoga lain waktu aku dan Justin bisa berkunjung ke rumah mereka.



"Kami juga berterimakasih atas kehadiran kalian. Ini sangatlah berarti bagi kami," jawab Justin tersenyum menanggapi.



"Justin, jangan lupa untuk acara nanti malam. Kau akan hadir bersama Nicholaa, bukan?" sahut kak Megan.



Aku mengernyit, ada apa nanti malam?



Justin merangkul pundakku, "oh, tentu saja. Aku akan membawa istriku untuk menghadiri pesta itu."



Pesta?



"Kau bersedia, Sayang?" lanjut Justin mempererat rangkulannya padaku.



Aku tersenyum, "oh, tentu saja."



Aku bahagia melihat Justin bersikap seperti ini padaku. Semoga ini adalah awal yang baik untuk membina rumah tangga kami menjadi lebih baik lagi. Aku merasa menemukan Justin yang dulu. Justin yang selalu tersenyum ramah dan memperlakukanku layaknya seorang Ratu.



"Kalau begitu kami pamit dulu," ucap kak Alodie memelukku.




"Justin, jaga Nicholaa baik-baik," lanjutnya menepuk pundak suamiku.



Justin tersenyum, "Nicholaa tulang rusukku. Tidak mungkin aku menyakitinya," jawabnya menatap lembut mataku.



Kak Alodie dan Kak Megan tergeletak.



Pipiku memerah. Justin, seharusnya kau menyadari itu dari dulu. Astaga, hatiku meleleh rasanya. Aku jadi bersyukur atas kejadian tadi malam. Itu membuat banyak perubahan pada diri Justin.



Kami melambaikan tangan begitu mobil kak Megan melaju meninggalkan pekarangan rumah. Jejak-jejak keharmonisan terpatri dalam setiap inci halaman rumah ini. Aku bahagia memeliki keluarga kecil ini. Andai saja mamah bisa turut berkumpul bersama kami. Pasti aku akan lebih bahagia tiada tara.



Justin mengeluarkan ponselnya dari saku, "Shareen?" panggilnya menghubungi seseorang.



"Ya. Siapkan gaun paling mahal dari butikmu untuk istriku. Dan kirim ke rumahku sebelum jam empat sore nanti!"



Mataku melebar. Justin memesan gaun untukku? Pasti untuk menghadiri pesta itu nanti malam. Ah, kau ini sweet sekali.



"Baik, terimakasih."



Tuutt.


Justin mematikan sambungannya. Matanya menatapku sekilas sebelum akhirnya berlalu memasuki rumah kami.



Aku mengikutinya, "Justin, aku minta maaf jika kau cemburu melihat Javier memotretku tadi," ucapku lembut.



"Tidak masalah."



"Tapi tadi kau terlihat seperti sedang menahan amarah."



"Untuk apa aku marah."



"Seriously?"



"Ya."



"Kalau begitu berhenti dan tataplah aku. Katakan kalau kau tidak marah padaku."



Melihat Justin yang tidak berhenti dan mulai menapaki tangga untuk menuju kamar kami, aku menghela nafasku dan masih mengikuti.



"Baiklah, aku percaya kamu tidak marah padaku."



"Memang seharusnya begitu."



"kita akan menghadiri pesta apa, Justin? Kau memesan gaun untukku?"



"Pesta pernikahan."



"Siapa yang menikah?"



"Rekan kerjaku."



"Lawrence?"



"Tidak."

__ADS_1



"Rekan kerjamu atau rekan kerja kak Megan?"



"Rekan kerja kami."



"Siapa? Apa aku tidak mengenalinya?"



"Tidak juga."



"Dimana pestanya akan digelar?"



"Hotel."



Aku tercengang, "pasti dia orang kaya sepertimu, bukan?"



"Tidak melebihiku."



Aku tergeletak, "apa kamu manusia terkaya di dunia? Aku belum menemukan seseorang yang menandingi hartamu, Justin."



"Setidaknya kau tahu siapa aku."



"Jam berapa acaranya?"



"Jam tujuh malam nanti."



"Kita berangkat berdua?"



"Ya."



"Apa Lawrence juga ikut?"



"Tentu."



"Kenapa tidak mengajak Javier sekalian?"



Justin membuka pintu kamar kami, "kau pikir kita akan berlibur atau bagaimana, Nicholaa? Untuk apa aku mengajak Javier?!"



Aku masuk dan mengikutinya.



"Lalu untuk apa kau mengajakku?"



"Cukup!! Kenapa kau banyak tanya sekali?!! Hah!" bentaknya menghadapku.



Aku yang dari tadi mengikutinya mendadak berhenti dan terkejut seketika.



"Apa aku salah?"



Justin duduk di sofa dan mengacak rambutnya dengan frustasi. Rahangnya mengeras.



"Justin, kamu kenapa?" tanyaku takut, "tadi kau bersikap lembut padaku."



Justin menghela nafasnya, "kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya kepada mereka?" tanyanya dingin.



"Maksudmu apa?"



"Kenapa kau tidak bicara saja kalau aku yang merusak ponselmu! Kalau aku tidak pernah mengajakmu Honeymoon!! Tidak pernah menyentuhmu di malam pertama bahkan sampai sekarang!!!" bentaknya tak sabar menghadapi sifat lolaku.



"Kenapa kamu bicara seperti itu, Justin? Aku tidak mungkin mengatakan itu semua kepada orang lain."



"Kenapa?!!"



"Karena kamu suamiku."



Justin mengernyit.



Aku menghela nafas dan menundukkan kepalaku, "dan sudah kewajibanku sebagai seorang istri untuk menjaga kehormatanmu."



"Setelah apa yang sudah aku perbuat kepadamu?"



Aku mengaguk.



"Kenapa kau tidak lelah?"



"Aku menunggumu berubah."



"Itu tidak akan terjadi!!" bentaknya menghampiriku.



"Seharusnya kau jengah lalu memintaku untuk menceraikanmu, Jalang! Kenapa susah sekali menyakitimu!! Hah!!!" lanjutnya.



Aku menatap matanya tak percaya, "kenapa kamu bicara seperti itu, Justin? Bahkan aku sama sekali tidak memiliki pemikiran untuk berpisah denganmu."



Justin melewatiku dan mendudukan dirinya di tepi ranjang.



Aku berbalik dan menghampirinya, "aku mencintaimu, Justin. Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkanmu."



Justin terdiam.



"Ada apa denganmu? Bukankah tadi kamu sudah bersikap baik kepadaku? Kenapa sekarang berubah lagi secepat ini?"



Justin tersenyum kecut, "kau ini pura-pura bodoh atau bagaimana, Nicholaa?! Hah?!!"



Aku mengernyit, apa maksud Justin?



"Tentu saja aku bersikap lembut kepadamu di hadapan keluarga Johnson. Kau pikir aku akan membuat harga diriku mati begitu saja? Kau ini terlalu bodoh, Nicholaa!! Bodoh sekali!!!"



Aku memecah tangisku tak percaya mendengar pernyataan Justin. Ku pikir sikapnya tadi benar-benar nyata atas rasa bersalahnya selama ini. Aku kira Justin sudah mulai menyadari bahwa sebenarnya dia begitu sangat mencintaiku. Ternyata tidak, semua dia lakukan hanya untuk pencitraan semata.



Justin benar. Aku ini terlalu bodoh. Sangat bodoh! Aku tidak mengerti siapa Justin sebenarnya. Dia mampu berdrama dengan beragam sikapnya yang membuatku kalang kabut mengartikan semuanya. Bahkan hingga aku tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi.



Tapi aku adalah aku. Semenyakitkan apapun Justin mempermainkan perasaanku, hatiku tidak pernah bisa berbohong. Aku masih menghormatinya, aku menyayanginya dan akan tetap mencintainya. Ini sebuah perjuangan bagiku, perjuangan untuk menemukan Justin yang dulu.



Aku menghela nafas dan duduk disampingnya, "berubahlah, Justin. Temukan dirimu yang dulu."



Justin berdiri menghadapku, "tidak ada diriku yang dulu dan tidak ada pula diriku yang sekarang!! Yang ada hanyalah diriku yang sesunguhnya!! Jangan mengaturku dan jangan bermimpi kau, Jalang!!"



Jebrreet!!!



Bentaknya kemudian berlalu pergi dan membanting pintu kamar kami.

__ADS_1


****


__ADS_2