
# NICHOLAA POV
"Sempurna," puji Shareen mengakhiri aktivitas meriasnya pada diriku.
Aku berdiri dan tersenyum melihat bayanganku di depan cermin. Ini anggun sekali. Shareen benar-benar handal memoles make up bahkan menata rambutku. Gaun hitam yang nantinya akan selaras dengan warna tuxedo Justin, membuatku terlihat lebih elegan dan natural. Aku menyukainya, sangat menyukainya.
"Aku yakin Tuan Justin pasti akan terpukau melihatmu, Nyonya," bisik Shareen membuatku dag dig dug.
Benarkah? Apa Justin akan terpukau lalu jatuh cinta denganku malam ini? Ah, malam ini tidak melebihi malam pesta pernikahanku dulu. Bahkan saat itu Justin tengah berdansa dan memuji kecantikanku. Tapi pada kenyataannya, itu sama sekali tidak membuatnya jatuh cinta.
Aku tersenyum, "kau ini bisa saja, Shareen."
"Aku tidak bercanda. Seumur hidup, aku baru kali ini merias perempuan secantik dirimu," ucapnya mulai membereskan make up di meja riasku.
Aku tergelak, " hei..., kau berlebihan...."
"Sungguh. Dan kau tahu? Aku selalu mendapatkan banyak job untuk merias artis-artis di negara ini. Seharusnya aku punya begitu banyak pegawai untuk mereka. Tapi mereka mau aku yang melakukannya. Dan di sepanjang rutinitasku itu, aku tidak pernah menjumpai artis secantik dirimu."
Aku menggeleng kepala tak percaya, "hahaha, jangan terlalu memujiku seperti itu, Shareen. Aku bisa sesak nafas nanti."
Shareen tergelak, "sudah... sudah. Aku pulang dulu. Senang bertemu denganmu, Nyonya Clayton."
"Begitu juga denganku, Shareen. Terimakasih."
"Segeralah keluar, Tuan pasti sudah menunggumu di bawah. See you," ucapnya kemudian berlalu pergi.
Aku tersenyum.
Setelah kepergian Shareen, sejenak aku kembali mengamati diriku di depan pantulan cermin. Lihatlah putrimu, Papah. Tumbuh dewasa dan berkembang dengan baik. Seharusnya kau masih ada di dunia ini untuk menyaksikan perkembanganku. Untuk tau dan terus memastikan bagaimana keadaanku. Sebab sedewasa apapun diriku, bagi sesosok papah aku tetaplah gadis kecil yang masih membutuhkan momongan darimu. I Miss you so much, Pah.
Aku mengerjap sebelum air mataku lolos dari pertahanan. Aku tidak boleh terlihat sedih. Atau Justin akan memarahiku lalu membatalkan rencana kami untuk menghadiri pesta pernikahan itu.
Braakkk!!
Aku terkejut begitu pintu kamar ini dibuka dengan kasar oleh Justin.
"Kau ini kenapa lama sekali, Nicholl...," ucapnya terhenti begitu matanya bertemu dengan bayangan diriku dicermin.
Aku berbalik dan menghadapnya.
"Kamu cantik," ucapnya memuja.
Aku menundukkan kepalaku menahan malu. Pipiku memerah dan hatiku tersipu. Meski nada bicaranya begitu dingin. Tapi tetap saja, Justin telah memujaku.
****
# JUSTIN POV
Jantungku berdebar saat tangan mungil Nicholaa dengan posesif melingkar di lenganku. Shareen benar-benar merubahnya menjadi bak seorang Ratu. Gaun hitam elegan dan juga tatanan rambutnya membuatku tak bisa melepas pandanganku darinya.
Ah, sial. Seharusnya aku tidak perlu terlalu memujanya seberlebihan ini. Kendalikan dirimu, Justin. Kau tidak mungkin terjebak dalam rencana yang telah kau buat sendiri.
"Justin, ini indah sekali," ucapnya memuji dekorasi pernikahan yang kami hadiri di hotel malam ini.
Mata Nicholaa terus beredar menyelidiki setiap inci dekorasinya. Lalu tatapannya berhenti tepat pada lighting yang tengah menyorot sepasang pengantin sedang berdansa. Bisa kulihat dari senyumnya, Nicholaa terharus dan kebawa perasaan melihat pemandangan itu.
Namun seketika mataku melebar saat kudapati seseorang tengah lewat di depanku begitu saja tanpa dosa. Rahangku mengeras dan kepalaku memanas.
"Tristan!!" panggilku melepas tangan Nicholaa dan bergegas menghentikan langkah pemuda sialan itu.
"Hai, Jus. Apa kabar?" ucapnya berbalik menghadapku.
"Kali ini kau tidak akan lepas dariku lagi, Tristan!!" ancamku sedikit berbisik.
Tristan tergelak, "why? Kau masih menjadikanku buronan?"
"Tetap sebelum kau memberitahuku dimana Allura!!!"
"Dia istrimu?" tanyanya mengalihkan tatapan matanya pada sosok dibelakangku.
Aku menoleh untuk memastikan Nicholaa sejenak, "Ya," jawabku.
"Siapa namanya?"
"Nicholaa."
"Jika kau ingin tahu dimana Allura, temui aku besok sore di Cafe biasa."
"Jangan main-main denganku, Tristan! Kau pikir kau bisa membodohiku begitu saja??!"
"Tenang, aku tidak bercanda kali ini. Percaya padaku!!"
"Jika kau lari dan tidak menepati janjimu. Maka aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu, Sialan!!"
"Yes, I am promise!" ucapnya menepuk pundakku dan berlalu pergi.
****
# NICHOLAA POV
"Justin, ini indah sekali," ucapku memuji.
Pesta pernikahan ini begitu megah bagiku, meski pada kenyataannya tidak melebihi megahnya malam pernikahanku dulu. Tapi aku terharu melihat sepasang pengantin yang berdansa di bawah sorot lighting itu. Pasti mereka saling mencintai dan begitu bahagia sebab hari yang di nanti-nanti akhirnya tiba. Beda dengan diriku dan Justin. Aku yakin malam itu hanya aku yang merasa bahagia, sebab pada kenyataannya Justin tidak pernah mencintai pengantinya sendiri.
"Tristan!!" panggil Justin melepas tanganku lalu mengejar seorang pria yang baru saja lewat di depan kami.
Tristan? Aku seperti pernah mendengar nama itu, tapi dimana?
Ku lihat Justin tengah berbicara begitu serius dengan pria itu. Aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, aku tidak mampu mencuri dengar suara Justin sedikit pun.
Aku menunduk begitu lawan bicara Justin, Tristan, yang tiba-tiba tersenyum menatapku. Lalu disusul Justin yang juga menoleh kebelakang dan menatapku. Kenapa? Mereka membicarakanku?
Tidak lama kemudian Tristan menepuk pundak Justin dan berlalu pergi. Matanya beradu tatap denganku saat langkahnya terhenti tepat di depanku.
"Aku Tristan, rekan kerja suamimu. Senang bertemu denganmu, Nicholaa. Maaf tidak bisa menghadiri pernikahan kalian. Aku baru pulang ke Indonesia," ucapnya meneguk segelas wine di tangannya.
Aku tersenyum, "tidak masalah. Terimakasih, Tristan, senang bertemu denganmu."
"Aku kesana dulu. See you...."
"See you."
Sesaat pandanganku teralih pada Justin yang tengah berbincang ria dengan Lawrence dan rekan-rekan kerja lainnya. Seharusnya dia membawaku kemanapun dia berada. Bukan meninggalkanku berdiri sendiri mematung tidak ada artinya seperti ini.
Tunggu dulu, seharusnya kak Megan ada disini, bukan? Tapi kenapa aku tidak menjumpai kak Alodie ataupun Petter sama sekali? Ini benar-benar membuatku jengah. Aku tidak mengenali satu orangpun disini. Apa aku keluar dan menunggu Justin di mobil saja? Ya, kurasa seperti itu lebih baik.
Suasana malam di depan hotel ini sangat romantis. Semilir angin seakan menemani langkahku menuju halaman parkiran hotel. Aku jadi teringat saat-saat dimana Justin selalu membawaku ke pantai pada malam hari, berteman dengan angin juga desiran ombak yang menjadi pengiring gerakan dansa kami. Lihatlah masa itu, sangat berbeda dengan apa yang terjadi saat ini.
"Nicholaa?" panggil seseorang menghentikanku.
Aku terkejut mendapatinya, "William? Kau ada disini?"
William tersenyum, "aku datang bersama sepupuku."
"Aku benar-benar tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini."
"Ya, setelah akhirnya kau memilih menghilang dariku."
"Bukan seperti itu, Will. Ponselku rusak untuk itu aku tidak bisa menghubungimu."
"Baiklah, kau dapat salam dari mamahmu."
"Seriously? Kau menjenguk mamah?"
"Ya, mamahmu juga memberitahuku siapa suamimu dan aku tidak menyangka bahwa kau adalah istri pemuda terkaya itu."
Aku tergeletak, "kau kenal dengan suamiku?"
"Oh, ayolah, Nicholaa. Siapa yang tidak kenal dengan seorang Justin Clayton? Ha?"
"Ya yaa..., aku mengerti."
"Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa kau bertemu dengan manusia sesempurna itu?"
Aku ******** senyuman. Andai William tahu bahwa aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa takdir bisa mempertemukanku dengan seseorang yang sama sekali tidak mencintaiku bahkan justru membenciku.
"Nicholaaaaa!!!" lantang teriakan suara itu membuatku berjingkat terkejut.
Justin?
__ADS_1
Ku lihat langkahnya dengan marah menghampiriku. Sungguh, firasatku berkata bahwa akan terjadi hal yang tidak baik-baik saja saat ini juga.
"Justin, aku-,"
"Sudah kuperingatkan jangan berani selingkuh dibelakangku!!"
"Tunggu dulu, aku hanya tem-,"
"Aku tidak bicara padamu, Sialan!!" bentak Justin mengelak William yang hendak menjelaskan.
"Justin pelankan suaramu," bisikku seraya mengusap lembut dadanya. Aku tidak mau dia emosi lalu menghabisi William di tempat umum seperti ini.
"Dengar! Nicholaa istriku dan jangan coba-coba kau berani merebutnya dariku! Camkan itu!!"
"Justin...."
Bugghhhh!!
"Itu pelajaran karena kau sudah berani berani mendekati perempuan yang sudah bersuami!!!"
Bughhhh!!
Bughhhh!!
"Justin, cukup, Justin. William bisa terluka parah jika kamu terus memukulinya seperti itu."
Bugghh!!
"Justin...."
Bughhhh
Astaga, bahkan Justin sama sekali tidak mendengarkan ucapanku. Dia benar-benar sudah marah. Ya Tuhan, tolong kendalikan Justin.
Bughhhh!!
Air mataku jatuh melihat William yang sudah nampak tidak berdaya dengan lumuran darah yang memenuhi wajahnya.
"Justin, aku mohon berhenti...."
Justin menarik kerah kemeja William, "seharusnya kau tidak main-main denganku, Sialan!"
William hanya mampu menatap kosong kearah lain dengan nafasnya yang sudah terengah-engah. Aku yakin, kekalahan William bukan berarti dia tidak mampu melawan Justin. Tapi sebab dirinya tidak mau menyakiti seseorang yang aku cintai.
"Tatap mataku, bodoh. Aku sedang memberimu peringatan!!" bentak Justin semakin memperkuat tarikannya pada kerah William.
"Kau harus melindungi istrimu sekarang," lirih William pelan.
Aku mengernyit.
"Apa maksudmu?" tanya Justin dingin.
"Cepat bawa Nichollaa pergi sekarang."
"Tatap mataku jika kau sedang berbicara denganku, Bodoh!!"
"Cepatlah, Justin...."
Justin tergeletak, "caramu terlalu receh untuk melepaskan diri dariku, Sialan. Kau ingin lolos dengan menyuruhku membawa Nicholla pergi. Begitu, bukan?"
William terdiam.
"Jawab, Bodoh!!"
William mendorong kasar tubuh Justin dan menarik lenganku seketika, "Nicholaaa, awaaass!!!"
Doooorrrrrr!!!!
Aku berjingkat terkejut dan seketika memeluk William erat-erat. Jantungku berdebar kencang menahan takut yang berdesir disetiap aliran darahku. Suara apa itu? Tembakan peluru itu tertuju padaku? Lagi?
Justin menarik tubuhku dari pelukan William, "seharusnya kau lihat bagaimana kekasihmu berusaha mencelakai istriku atas rasa kecemburuannya selama ini."
"Ku peringatkan kepadamu sekali lagi. Jangan coba-coba kau dekati istriku, camkan itu!!"
Ucap Justin kemudian membawaku pergi.
****
# JUSTIN POV
Aku menyeret kasar Nicholaa dan menghempaskan tubuhnya di ranjang kamarku. Aku benar-benar marah melihatnya berduaan dengan laki-laki lain bahkan saat dia sedang pergi bersamaku.
Nicholla memecah tangisnya di hadapanku, "dia William, Justin, teman masa kecilku. Aku berani bersumpah kepadamu bahwa kami tidak memiliki hubungan apapun," ucapnya terisak.
"Dengar, Nicholaa! Aku tidak peduli siapa dia dihidupmu. Yang jelas aku tidak suka kau bersama laki-laki lain tanpa seizinku! Kau mengerti?!!!"
"Seharusnya kamu tidak melakukan itu kepada William, Justin. Kamu boleh saja memarahiku, menyiksaku, menghabisiku bahkan membunuhku sekalipun!! Tapi tidak untuk memperlihatkan kekerasanmu itu kepada orang lain. Selama ini aku bersusah payah menjaga kehormatanmu sebagai suamiku!! Tapi malam ini dengan mudahnya kamu merusak harga dirimu sendiri!!" bentaknya sedikit lantang.
Aku sungguh terkejut dia berbicara sekeras itu. Bahkan dia sudah mulai berani bersuara lantang padaku.
Kujambak rambutnya kuat-kuat, "berani kau menasihatiku, Jalang?!"
"Lepas, Justin, sakiit...," rintihnya terisak.
"Berani kau berbicara seperti itu padaku? Hah??!!!"
"Aku hanya memberitahumu tentang sebuah kebenaran."
"Oh, jadi kau merasa benar dan aku yang salah? Begitu!!!"
"Aku tidak merasa seperti itu tapi kali ini kamu benar-benar salah...."
Pllaaaakkkk!!!
Tamparanku mendarat tepat di pipi kirinya. Aku tidak terima dia menyalahkanku, bahkan menasehatiku seperti tadi. Aku laki-laki dan aku suaminya, dia tidak berhak mengatur hidupku!
Nicholaa memegang pipinya lalu menatapku kecewa, "pada sejatinya tanganmu bukanlah untuk memukul rusukmu sendiri!!" ucapnya kemudian berlalu pergi.
Hatiku mendadak sesak setelahnya.
****
# NICHOLAA POV
Bahkan hingga matahari terbit aku tak juga mampu memejamkan mata. Tubuhku masih setia bersandar di jendela kamarku. Ya, kamarku. Kamar yang kupilih saat pertama kali berpisah ranjang dengan suamiku sendiri. Kamar yang selalu kuisi dengan suara-suara tangisku. Dengan getar sakitku.
Karena semua ini begitu menyakitkan. Aku lelah memikirkan segalanya, semuanya. Penderitaanku tidak pernah sudi untuk berakhir. Berbagai macam tragedi terus menerus menyayatku tanpa permisi. Dari perubahan sikap Justin hingga adanya dua perempuan lain yang masuk dalam rumah tangga kami. Aku tidak tahu siapa perempuan malam itu, dan aku juga tidak tahu siapa Allura yang ada di foto itu.
Belum lagi suara tembakan yang akhir-akhir ini selalu mengincarku, juga sikap Justin yang selalu kasar terhadapku. Tubuhku sakit luar dalam. Air mataku menjadi hujan di setiap malam, bahkan tak kunjung mereda sekalipun mentari telah bersinar.
Pundakku masih terguncang hebat memecah tangis sialan ini. Aku benci kelemahanku. Aku benci ketidakberdayaanku. Seharusnya aku mampu tegar dan melewati semuanya dengan kesabaran. Tapi semua rasa sakit yang merasuk sukmaku tak mampu ku bendung lagi.
Aku semakin tidak mengerti siapa Justin. Aku semakin tidak mampu memahami jalan pikiran suamiku sendiri. Semua sikapnya susah kutebak. Dia yang dengan berani membawa perempuan lain masuk ke rumah kami membuatku yakin bahwa Justin benar-benar tidak mencintaiku. Tapi sikap posesifnya yang tidak mau melihatku bersama William semalam menunjukkan bahwa dia tidak rela aku direbut orang lain.
Sudahlah, aku lelah. Biarlah aku bertahan dengan bagaimanapun sikap Justin kepadaku. Aku hanya butuh mencintainya setiap hari, itu saja. Aku tidak perlu memaksanya untuk mencintaiku. Atau memaksa diriku sendiri untuk membantu Justin menemukan dirinya yang dulu. Biar saja aku mencintai seseorang yang sama sekali tidak aku mengerti. Aku hanya butuh bertahan. Karena sampai kapanpun, Justin akan tetap menjadi sosok yang misterius bagiku.
Aku berbalik dan terkejut saat dengan terlambat menyadari bahwa Justin tengah berdiri dibelakangku entah dari kapan lamannya. Mendadak dengan cepat aku menyeka sisa-sisa air mataku.
Aku tertunduk, aku tidak tahu harus berucap apa. Bersikap bagaimana.
"Maafkan aku," suara lembut itu lolos dari bibir Justin.
Aku terkejut dan mendongak menatapnya.
Tangan Justin terulur dan menyentuh pelan pipi kiriku,"pipimu sudah terluka karenaku semalam. Jangan menangis membanjirinya atau hatiku akan semakin sesak," ucapnya.
Aku tidak sedang bermimpi, kan?
"Aku harus ke kantor. Kau istirahat dan jangan pergi kemana-mana," lanjutnya lagi kemudian berlalu pergi.
Ini pertama kalinya Justin meminta maaf kepadaku. Dadaku mendadak lega merasakan sentuhan jemarinya. Lihatlah seberapa besar aku mencintaimu, Justin. Bahkan setelah apa yang kamu lakukan kepadaku semalam, pagi ini, hanya dengan kau bersikap seperti itu sudah membuatku luluh kembali.
Tapi maafkan aku, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu untuk tidak pergi kemana-mana. Aku mau menjenguk mamah hari ini. Aku rindu dengannya, sangat rindu.
****
# AUTHOR POV
Siang ini Javier tengah berjelajah mencari objek foto yang akan menjadi sasaran targetnya. Panas polusi udara yang memenuhi ramai dan padatnya jalanan kota, telah berhasil dia tangkap dan abadikan di dalam memorinya.
__ADS_1
Saat terik membuat keringatnya semakin terkuras, Javier memutuskan pergi ke taman kota untuk bersantai dan melihat-lihat hasil karya bidikannya.
"Perfect," ucapnya memuji dirinya sendiri.
Saat kameranya beralih memunculkan foto-foto candid Nicholaa, Javier tersenyum tipis mengamati betapa cantik dan anggunya kakak iparnya itu.
Semakin lama Javier semakin tidak bisa menahan perasaannya sendiri. Dari rasa kecil yang ingin selalu melindungi Nicholaa, kini berubah menjadi rasa tulus yang selalu ingin menjaganya hingga menua. Dia tidak pernah mengada-ada akan ucapanya kepada Justin bahwa dia mencintai Nicholaa. Semua itu nyata dia rasakan pada palung terdalamnya.
Gadis selembut Nicholaa, tidak pantas berada dalam pelukan seseorang yang justru membawa malapetaka baginya. Javier berjanji akan terus melindungi dan membawa Nicholaa dalam dekapan juga pengayomannya. Dia tidak perlu mencegah Justin untuk menjalankan misinya. Jika Justin bertekat menyakiti, maka dia pun bersiap melindungi.
"Nicholaa?" matanya melebar saat mendapati perempuan yang dari tadi memenuhi pikirannya itu, kini tengah berada di trotoar.
Tubuh Javier pun mendadak tegang saat matanya tidak sengaja menangkap sosok serba hitam yang siap melesatkan tembakannya kearah Nicholaa saat itu juga.
Dengan bergegas mengalungkan kameranya ke leher, Javier berlari kencang menuju trotoar untuk segera melindunginya.
"Nicholaaaaaaa!!!"
Dooooorrrr!!!!
Beruntunglah Javer segera menyeret Nicholaa dan mendekapnya erat-erat. Lagi-lagi peluru itu gagal mencelakai targetnya.
Jantung Nicholaa berdebar sesak saat mendengar suara tembakan itu mengarah kepadanya. Bibirnya tersekat menahan kejut.
"Nicholaa, kau baik-baik saja?" tanya Javier dengan deru nafasnya yang terengah-engah.
Nicholaa menggeleng pelan kepalanya.
"Apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau sendirian? Lihat bagaimana orang itu terus mengincarmu, Nicholaa. Seharusnya kamu lebih bisa menjaga dirimu dengan baik," lanjut Javier penuh khawatir.
Nicholaa menitikan air matanya. Dia tidak tahu kenapa ada orang yang berniat mencelakainya. Dosa apakah dirinya hingga peluru itu terus mengancam nyawanya.
Javier menghela nafas, "baiklah, kita pulang sekarang."
****
Setelah mendapat kabar dari Javier bahwa lagi-lagi Nicholaa dalam bahaya. Justin dengan bergegas meninggalkan semua pekerjaan dikantor dan memanuver mobilnya untuk pulang ke rumah. Di tengah perjalanan bibirnya terus menggerutu kesal merasakan Nicholaa yang tak pernah mau mendengarkan ucapanya.
"Sudah kuperingatkan kepadamu untuk jangan pergi kemana-mana, Nicholaa! Kenapa kau keras kepala sekali??!! Hah!" bentaknya lantang memukul kemudi mobilnya.
Saat mobilnya memasuki pekarangan rumah dan berhasil berhenti tepat di garasinya. Dengan langkah yang tak lagi mampu manahan amarah, Justin bergegas masuk dan menemui Nicholaa di ruang keluarga.
"Braaakkk!!!!"
Justin menggebrak meja kayu yang ada dihadapan Nicholaa dengan keras. Nicholaa mengerjap terkejut dengan bibir bawahnya yang digigit kuat-kuat.
"Apalagi, Nicholaa? Apalagi sekarang? Hah?!!!" bentaknya semakin membuat Nicholaa ketakutan.
"Sudah kuperingatkan kepadamu jangan kemana-mana!! Kenapa kau membangkang sekali pada suamimu?! Keras kepala!!!" lanjutnya lagi.
Nicholaa menyeka air matanya, "maaf, Jus. Aku hanya ingin bertemu mamah, itu saja."
"Kau bisa menungguku pulang, Nicholaa! Kita bisa pergi sama-sama!!"
"Iya, aku minta ma-,"
"Maaf!! Maaf!!! Selalu maaf!!!! Percuma kau minta maaf jika terus membangkang, Nicholaa!! Kau ini tuli atau bagaimana? Hah?!!"
"Cukup, Sialan!! Kau tidak pantas bicara sekasar itu pada Nicholaa!! Dia sedang ketakutan, dia sedang terancam!! Seharusnya kau tenangkan dia! Kau hibur lukanya!! Kau bantu jantungnya untuk berdetak dengan tenang!! Bukan memarahinya seperti ini!!" sahut Javier tak tahan.
"Persetan dengan ucapanmu, Bodoh!! Dia Nicholaa! Dia istriku!! Aku berhak atas dirinya!! Apa urusanmu mencampuri rumah tangga kami!!"
"Kau selalu mengakui Nicholaa sebagai istrimu! Tapi kau tak pernah memperlakukan dia layaknya seorang istri!!"
Bugggghhhhh!!
Satu pukulan berhasil mendarat disudut bibir Javier. Emosi yang tersulut dalam kepala Justin tak mampu lagi dia bendung. Nicholaa hanya mampu menangis terisak menyaksikan kerasnya dua laki-laki yang ada dihadapannya ini. Lantang suara keduanya semakin membuatnya pening.
Buggghhh!
Javier membalas tak kalah keras.
"Berani kau!!"
Bugghhh!
Bugghhhhh
Buggghhhh
"Kalian cukuuuuuppp!!!" teriak Nicholaa yang sama sekali tak dihiraukan oleh keduanya.
Bugghhhhh
"Justin, cukup!"
Bugggghhhh
"Javier, sudah. Hentikan, Javier!!"
Bugghhhhh!!
Di tengah kerasnya pergelutan itu, tiba saja kepala Nicholaa terasa berat. Pandangannya kabur dan tubuhnya luruh. Dia mencoba untuk meneguk sedikit air yang dibawakan Javier tadi. Tapi tak mampu membuat kekuatannya bertambah.
Tubuhnya semakin lemas.
Priaaaanggg!!!
Nicholaa pingsan.
"Nicholaa!!" teriak keduanya bersamaan saat mendengar suara pecahan gelas yang berhasil menghentikan aksi mereka.
"Nicholaa, bangun, Nicholaa...," ucap Javier menepuk lembut pipi Nicholaa.
"Jangan sentuh istriku!!" bentak Justin membuang tangan Javier ke arah lain.
Dengan sorot mata yang penuh khawatir, Justin mengangkat Nicholaa dan membaringkan istrinya itu dikamarnya.
Molly datang membawakan beberapa minyak-minyak herbal untuk membantu menyadarkan Nicholaa. Justin terus mengusap-usapkan minyak itu ke tangannya lalu mendekatkannya ke indra penciuman Nicholaa.
"Nicholaa, bangun, Nicholaa," ucapnya cemas.
Tidak lama dari itu. Perlahan mata Nicholaa terbuka. Justin dengan segera menyodorkan segelas air putih kearahnya.
"Minumlah."
Nicholaa meminumnya hingga habis. Tenaganya benar-benar terkuras dengan segala hal yang selalu membuatnya lelah akhir-akhir ini.
"Justin, maafkan aku," lirihnya pelan.
Justin menatap mata Nicholaa dengan tenang. Perasaannya kacau sekali mendapati istrinya semenderita ini. Dadanya sesak mengingat semua perlakuan kasarnya terhadap Nicholaa.
Entah, perasaanya berubah tak menentu. Seharusnya dia tidak perlu secemas dan sekhawatir ini saat ada yang berusaha membunuh Nicholaa. Seharusnya itu kabar baik untuk dirinya. Ya, seharusnya seperti itu. Tapi akhir-akhir ini kemarahannya kepada Nicholaa bukan kemarahan karena benci, melainkan kemarahan atas rasa khawatir yang terus memenuhi diri.
"Justin?" panggil Nicholaa menyadarkannya.
"Ya."
"Kamu kenapa? Kamu sedih?"
Justin mengusap kepalanya, "Aku ada janji sama Tristan sore ini. Kau istirahat, jangan kemana-mana dan tolong! Jangan membangkang! Mengerti?"
Nicholaa mengaguk.
Justin bergegas keluar dan seketika terkejut saat mendapati Javier tengah berada di depan pintu kamarnya.
"Ku rasa kau telah gagal menjalankan misimu, Sialan!" ucapnya tenang.
"Apa maksudmu?"
Javier tergelak, "bagaimana tidak? Kau mulai cemas dan melindungi sasaranmu sendiri. Seharusnya kau bertepuk tangan saat ada yang mencelakai Nicholaa. Bukan malah kalang kabut hanya untuk melindunginya!"
"Dengar, Javier. Kau tidak tahu apapun tentang misiku! Aku melindungi Nicholaa karena aku ingin membunuh Nicholaa dengan tanganku sendiri!!" ucapnya kemudian berlalu pergi.
****
__ADS_1