NICHOLAA JOHNSON

NICHOLAA JOHNSON
Chapter 22


__ADS_3

# NICHOLAA POV


Aku terbangun saat kurasa ada seseorang yang menggenggam tanganku begitu erat. Jantungku berdegup kencang saat kulihat Allura, Javier, William, Lawrence, dan juga kak Megan yang sedang mengelilingiku dengan penuh kecemasan.


Pandanganku teralih pada tanganku yang sedang di infus. Lalu kepada tangan seseorang yang tak juga melepaskan genggamannya dari tanganku.


"Nicholaa?" panggilnya membuatku menatapnya.


Dan, Shit!


Seolah kesadaranku baru benar-benar terkumpul saat kutatap mata jahat manusia itu.


"Lepaskan aku!!!" berontakku mendorong kuat dadanya.


Tapi apalah dayaku. Tenagaku benar-benar belum ada untuk melawan kekarnya tubuh manusia misterius itu!


"Nicholaa, tenanglah, Sayang...."


"Jangan memanggilku dengan sebutan itu dan lepaskan aku!!" rontaku sekuat yang aku bisa.


"Tidak, Nicholaa. Tenanglah, kau perlu istirahat!!"


"Jangan memperdulikanku! Aku tidak sudi menatap dan berbicara padamu! Camkan itu!!!"


"Nicholaa, jangan berontak seperti ini. Kami semua mencemaskanmu dari siang tadi!!" timpal kak Megan.


Aku menatap pahit matanya, "kau!! Perintahkan adikmu ini untuk melepas tanganku sekarang juga!!!"


Justin memecah tangisnya, "apa yang kau bicarakan, Nicholaa? Maafkan aku!!"


"Lepaskan aku!!"


"Lepas!!"


"Aku bilang lepas!!!"


"Tidak, Nicholaa! Tidak!!"


"Aaaagggghhhrr!!"


Braaakkk!!


Sekuat tenaga aku mendorong tubuh Justin hingga membuatnya terhuyung dan terhempas ke lantai.


Memanfaatkan kesempatan ini, aku bergegas menarik selang infus yang menyalur dipunggung tanganku lalu segera bergegas pergi.


"Aawwwww!!!"


Namun lagi-lagi aku terjatuh saat kurasakan nyilu dan memar yang teramat dalam di telapak kakiku. Hingga membuat air mataku lolos dari pertahanan. Lagi dan lagi.


"Nicholaa, kau ba-,"


"Jangan sentuh aku!!!" bergegas ku dorong tubuh William saat dia tengah berusaha menolongku.


Saat William terjatuh, aku dengan cepat beridiri dan berlari semampuku. Menahan rasa nyeri di kaki yang mungkin sekarang sudah berdarah lagi.


"Nicholaa!!!" bisa ku dengar suara Justin mengejarku. Dan bisa ku rasakan langkah mereka semua turut berlari mengejar kami.


Dengan air mata yang berlinang memenuhi pipi, aku berhasil keluar dari rumah sakit menyakitkan ini. Sorot jingga cahaya matahari di ufuk barat sana menemaniku berlari tertatih-tatih ditengah perjalanan yang sudah mulai lengang.


Hatiku kembali sesak, nyilu, memar. Lebih sakit dari apapun, lebih sakit dari perihnya luka yang aku rasakan dikaki saat ini.


Aku tidak perduli dengan ribuan pasang mata yang kini tengah menyorotku. Aku hanya butuh berlari, berlari sejauh-jauhnya dari mereka yang tak lagi sudi aku temui. Aku muak.


Aku benci dengan Justin! Aku benci dengan Allura! Aku benci dengan Javier pun Lawrence! Aku benci dengan William pun kak Megan!!! Aku enggan!! Aku enggan menemui mereka semua!!!


Karena kemanapun aku berlari dan menumpah tangis. Pada akhirnya, mereka tetap akan lagi dan lagi membawaku kembali kepada manusia misterius yang tidak berperasaan itu. Manusia yang berhasil membuatku patah berkali-kali. Membuatku jatuh terluka sepanjang hari!!


"Nicholaa, berhenti!! Kakimu masih luka, Sayang!!!"


Tidak ku perdulikan sama sekali suaranya yang bahkan sudah terdengar dekat. Aku masih fokus melangkahkan kaki rapuhku ini semampu dan sekuat yang aku bisa.


Aku tidak perduli dengan banyaknya darah segar yang sudah kupijakkan dari kaki. Aku tidak perduli. Sungguh, apapun. Aku tidak lagi perduli!!!


"Nicholaa, berhenti!! Aku mohon!!"


Aku membiarkan air mataku mengalir dengan sepuasnya. Aku enggan untuk mengusap dan memberhentikannya. Biarlah, biarlah bulir-bulir bening yang keluar dari setiap sudut kelopak mataku ini menjadi saksi. Menjadi saksi atas derita yang dialami oleh seorang perempuan sepertiku. Perempuan yang hanya hidup sebatang kara. Perempuan yang selalu menjadi tempat untuk orang-orang memainkan aksi jahatnya.


Senja, kini kau memancar sebegitu rekahnya. Lihatlah... Lihatlah langkahku yang terseok-seok membawa luka-luka juga derita. Lihatlah... Lihatlah hatiku yang sudah hancur tak berbentuk lagi dengan sempurna. Lihatlah... Lihatlah betapa tidak berdayanya jiwa pun ragaku ini.


Lihatlah!!


Dan semoga alam semesta ini menjadi saksi. Bahwa aku, pernah mengalami perih sesadis ini!!


"Nicholaa, maafkan aku!!" teriaknya.


"Maaf, Nicholaa!! Aku sadar aku begitu bodoh telah mempermainkanmu semena-mena!!! Penyesalan besar ini sudah teramat menghantuiku!! Jadi aku mohon... Mohon, Nicholaa. Maafkan akuuuu!!!"


"Apapun akan aku lakukan supaya kamu mau memaafkanku, Sayang!! Apapun!!!"


"Aku sadar!! Selama ini aku menjadi suami yang durhaka padamu!! Aku sadar!!! Mungkin kini aku hina di mata Tuhan!! Dan aku pun sadar!! Mungkin ribuan malaikat telah melaknat langkahku sebab telah menyakiti istri semulia kamu, Nicholaa!!"


"Aku sadar!! Aku sudah tidak pantas lagi untuk mendapat maaf darimu!!"


"Aku sadaaaar!!"

__ADS_1


"Tapi, Nicholaaaaa...!!! Satu yang harus kamu tahu!!!"


"Bahwaaa....!!!"


"Aku mencintaimu, Nicholaa!!!"


Shit, langkahku terhenti!!


Ini kali pertama dia mengatakannya padaku, mengatakan bahwa dia mencintaiku. Oh, God! Kenapa baru sekarang? Kenapa saat hatiku telah memilih lelah dan menyerah mencintainya?


Perlahan, aku membalikkan badanku. Ku lihat Justin tengah berdiri sekitar satu meter dihadapanku. Bibirnya bergetar, matanya penuh dengan bulir-bulir air yang mengalir membasahi pipi.


Oh lihatlah, manusia jahat itu!! Matanya bengkak hanya karena menangisi seorang perempuan yang kerap kali ia anggap sebagai Jalang dalam hidupnya!


"Maafkan aku, Nicholaa. Aku menyesal. Lihatlah.... Lihatlah mata tulusku ini! Dia berbicara Cinta padamu!! Dia menyimpan beribu rasa sakit. Rasa sakit sebab tidak siap kehilanganmu, Nicholaa!"


Aku tersenyum miris mendengar itu. Begitukah cara seorang laki-laki merayu perempuannya? Dengan gombalan-gombalan receh yang begitu enteng keluar dari bibir pengecutnya.


Aku memandang lekat-lekat mata Justin. Benarkah yang dia katakan? Aku tidak percaya. Manusia jahat yang sering mencampakanku kini berucap Cinta?


Cih!!


Justin menghela nafasnya, "aku mencintaimu, Nicholaa! Harus dengan apa lagi aku membuktikannya? Aku mencintaimu dan aku menyesali semua sikapku padamu selama ini!!"


Aku tersenyum miris dan menggeleng, "aku.... tidak peduliiii!!!!" teriakku dan kembali berlari.


"Harus dengan apa aku meminta maaf kepadamu, Nicholaa!!"


"Apa aku harus membunuh diriku sendiri supaya kau memaafkankuuuu???!!"


Shit.


Seketika itupun, langkahku kembali terhenti!


Aku berbalik dan berteriak, "sekalipun tubuhmu telah hilang ditelan bumi, rasa sakit yang pernah kau torehkan akan tetap menancap di dasar hati!!"


Aku mendekat dan menatap lekat-lekat matanya, "matilah! Aku, tidak peduli!!!"


Aku kembali berlari.


Brraaaakkkkkk!!!!


"Justiiiiiiinnn!!!!"


Shit!


Lagi-lagi, langkahku terhenti!!


Jantungku berdegup kencang saat kudengar suara dentuman keras dan juga suara orang-orang yang tengah berteriak memanggil nama Justin. Sekujur tubuhku menegang! Darahku berdesir!


Perlahan, kuputar tumitku. Seketika, mataku melebar saat kudapati Justin telah terkapar dengan darah yang melumuri tubuhnya.


Bisa kulihat bahwa Justin masih tersadar dan memandangku dengan nanar. Bibirnya terbuka seolah menyebut namaku. Tangannya terangkat lemah seolah ingin meraih dan merengkuhku. Dan tidak lama dari itu, Justin tidak sadarkan diri seiring dengan orang-orang yang berhambur menghampirinya.


Aku tersenyum miris, kemudian kembali berlari dengan darah di kaki yang masih setia menemaniku melangkah.


Cukuplah! Aku benar-benar tidak peduli dengan keadaan Justin. Bahkan apa yang saat ini terjadi padanya tidak sebanding dengan apa yang selama ini Justin lakukan kepadaku.


Ini bukan dendam. Aku hanya membiarkan Tuan misterius itu merasakan apa yang seharusnya dia dapatkan. Mungkin benar apa katanya barusan. Ribuan malaikat melaknat langkahnya sebab telah menyakiti hati seorang perempuan, yang perempuan itu belum bisa memaafkan dirinya. Entah sampai kapan.


Tuhan, saat mungkin orang-orang menilaiku telah jahat membiarkan suaminya sendiri terkapar penuh darah di jalanan, hanya Kau semata yang mengetahui bagaimana hatiku sebenarnya.


Sungguh, aku menangis penuh peluh. Orang jahat sepertiku berawal dari orang baik yang di spelekan, bukan?


Maafkan aku!


Saat kurasa sudah tidak ada lagi seseorang yang mengajarku, aku memperpelan langkah kakiku. Rasanya sakit, sakiit sekali. Air mataku tak juga kunjung berhenti. Merasakan derita luar dan dalam yang aku alami.


Aku merasa menjadi sosok yang sangat mengerikan petang ini. Tubuku lusuh, ragaku luruh dan jiwaku rapuh. Langkahku terseok menapaki jalanan kota. Perban putih yang membalut dibawah sana sudah sepenuhnya berwarna merah. Mendandakan betapa banyaknya darah segar yang mengalir.


Ya Tuhan, tubuhku serasa ingin jatuh. Aku tidak ingin pingsan dan merepotkan orang-orang dijalannan. Mohon kuatkan aku sedikit lagi. Aku ingin berkunjung ke rumah sakit mamah. Aku ingin bersimpuh dan meminta maaf. Aku tidak ingin menjadi anak yang durhaka. Sekalipun aku bukan anak kandungnya, tetapi Mamah telah merawatku hingga seperti ini.


Beri aku kekuatan, Tuhan.


Help me!


"Nicholaa?" seseorang memanggilku dan membuatku terkejut.


Bergegas aku beringsut dan menghindar darinya.


"Jangan coba-coba mendekatiku!!" ancamku padanya.


"Tenanglah, Nicholaa. Aku tidak akan menyakitimu lagi. Kenapa kakimu? Pakaianmu? Kau kabur dari rumah sakit? Kenapa? Apa yang terjadi? Tanyanya penuh cemas."


"Bukan urusanmu!!"


"Aku minta maaf atas apa yang terjadi beberapa hari lalu, Nicholaa. Aku hilaf!!"


"Hilaf? Bukankah kau sengaja melakukan barter dengan Justin? Kau menyerahkan adikmu padanya lalu kau mendapatkanku, begitu maumu, bukan?"


"Aku minta maaf...."


"Memaafkan seseorang yang hampir melecehkan harga diriku, begitu maksudmu?"


"Kau boleh, Nicholaa. Kau boleh memakiku sepuasmu! Tapi aku benar-benar sudah berubah! Dan aku benar-benar ingin meminta maaf kepadamu!"

__ADS_1


Aku terdiam melihat keseriusan yang terpancar dari kedua matanya. Bisa kuraskaan dia benar-benar nyata berubah dan ingin meminta maaf padaku.


Tapi, lukaku tetaplah luka. Dan sulit untuk melupakan apa yang sempat hampir terjadi antara aku dan dia. Dulu.


Aku kembali berjalan dan menghindarinya.


"Kau mau kemana, Nicholaa? Biar aku yang mengantarmu."


"Aku tidak membawa apapun, Tuan Tristan. Aku tidak membawa uang, perhiasan, dan barang berharga lainnya. Dan aku juga tidak sudi berkenan jika kau meminta tubuhku sebagai bayarannya!"


"Apa yang kau pikirkan, Nicholaa? Aku berniat baik ingin membantumu. Tidak ada sedikitpun pikiranku yang mengarah kesana. Sudah ku katakan, aku khilaf, aku meminta maaf dan aku sudah berubah."


Mendengar itu, aku berlalu meninggalkan Tristan begitu saja. Bisa kurasakan langkahnya mengikutiku dibelakang. Biarlah. Aku percaya dia tidak akan macam-macam padaku. Setidaknya, ada yang menjagaku saat nanti terjadi sesuatu padaku.


Aku tidak mengerti dengan orang-orang yang aku jumpai akhir-akhir ini. Kenapa mereka gemar melukai lalu meminta maaf saat korbannya telah pasrah dan menutup hati?


Mungkin kata 'penyesalan selalu ada di akhir' memang benar-benar terbukti.


****


"Terimakasih," ucapku pada Tristan sesampainya aku tiba di depan ruang rawat mamah.


Tristan tersenyum, "sama-sama. Jika kau membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk mencari dan meminta pertolonganku. Anggap saja semua itu sebagai permintaan maafku padamu."


Aku tersenyum, lalu Tristan berlalu pergi meninggalkan tempat ini.


Aku menghela nafas dan membuka ruang rawat mamah. Air mataku kembali jatuh melihat sosok yang aku sayangi itu tengah terbaring lemah diatas sana.


"Nicholaa?" ucap mamah yang memergokiku berdiri di ambang pintu. Kak Alodie yang tadinya tengah menyuapi Petter pun, mendadak turut menatapku.


Aku berlari dan berhambur memeluk mamah. Tangisku pecah. Bisa kurasakan tangan lembut mamah membelai rambutku dengan kasih sayang. Seharusnya aku tidak marah kepada wanita semulia mamah, bukan?


"Maafkan Nicholaa, Mah. Maaf Nicholaa sudah pergi dari mamah!!!"


Mamah turut memecah tangisnya, "mamah menyayangimu, Sayang. Jangan berbicara seperti kemarin. Mamah sudah menganggapmu sebagai anak kandung mamah sendiri!"


"Aku sayang sama mamah. Aku tidak pernah membenci mamah. Mungkin kemarin aku hanya belum bisa menerima kenyataannya. Maafkan Nicholaa, Mah."


"Mamah sudah memaafkanmu, Sayang. Hapus air mata kamu. Mamah tidak suka melihatmu menangis seperti ini."


Kak Alodie turut membelai rambutku. Menenangkan tangisku yang sedang terguncang hebat. Aku merindukan sentuhan-sentuhan lembut dari keluarga kecil ini. Aku sangat rindu!


Mamah melepas pelukannya, "apa yang terjadi denganmu, Sayang? Kenapa kau memakai pakaian rumah sakit seperti ini?"


"Nicholaa? Kakimu? Kakimu kenapa?" tambah kak Alodie yang melihat kakiku penuh dengan darah.


"Permisi," seorang suster masuk membawakan makan malam untuk mamah.


Saat setelah meletakkan semangkuk bubur itu di atas nakas, dia memperhatikanku dengan cemas.


"Nona, apa yang terjadi? Anda terluka?" ucapnya menatap kakiku.


"Anda butuh perawatan, Nona."


"Tidak!" jawabku tegas, "tidak perlu, Sus. Aku baik-baik saja."


"Apa yang dikatakan suster benar, Nicholaa. Kamu harus dirawat."


"Tidak, Kak!" aku kembali memeluk mamah, "aku hanya butuh mamah, semua lukaku akan sembuh hanya dengan mamah."


Kak Alodie menghela nafasnya, "baiklah, Sus, terimakasih tawarannya. Cukup bawakan obat dan peralatan lainnya untuk mengganti perban Nicholaa tiap sore dan pagi."


"Baik, Nyonya," Suster itu mengaguk kemudian berlalu pergi.


Kak Alodie membelai lembut kepalaku, "sebentar lagi suster akan mengganti perbanmu. Setelah itu gantilah pakaianmu. Aku tidak membawa banyak baju ganti. Kau bisa memakai kemeja kebesaran megan yang ada di tas kami."


Aku mengaguk menyetujui.


Sesaat, pandanganku tertuju pada Petter yang tengah bermain di atas sofa dengan mainan mainannya. Langkahku tertuju untuk menghampirinya. Tanganku terulur dan memangkunya.


Oh, God.


Aku sangat merindukan malaikat kecil ini.


"Apa kabarmu, Jagoan? Aku sangat merindukanmu," ucapku mencubit pipinya yang lucu itu.


Petter tertawa menatapku. Bisa kurasakan dia turut bahagia melihat aku ada di hadapannya.


See?


Javier benar, seharusnya aku bersyukur karena Tuhan telah menghadirkan mereka semua sebagai keluargaku. Sebagai seseorang yang akan menyayangiku sepanjang hayat. Menjaga dan melindungiku dari berbagai ancaman. Bahkan mendidikku hingga sedewasa dan sebesar ini.


Tuhan,


Maaf sempat berontak dan menyalahkan keadaan. Maaf sempat menjadi hamba yang kurang bersyukur atas segala nikmat yang Kau limpahkan kepadaku. Maaf.


Aku menautkan dahiku dan Petter. Mataku terpejam merasakan sesuatu dalam diri. Mendadak pikiranku melayang pada kejadian petang tadi.


Justin.


Ya Tuhan. Bagaimana keadaannya? Bagaimana kondisinya sekarang?


Aaggghhrrrrr!!


Apa yang aku pikirkan? Bukankah aku sudah mengatakan tidak peduli? Sekalipun tubuhnya telah hilang ditelan bumi.

__ADS_1


****


__ADS_2