NICHOLAA JOHNSON

NICHOLAA JOHNSON
Chapter 21


__ADS_3

# NICHOLAA POV


Langit biru sudah berubah warna menjadi gelap, tapi tidak dengan hatiku, dia masih pekat. Luka ini kian malam kian memar. Terlebih saat air mata tak mampu membasuh perih yang mengendap kuat di dalam sana.


Siapa yang sepenuhnya mampu merasakan apa yang aku rasakan? Siapa yang mampu memahami batinku yang penuh dengan sayatan sayatan luka ini? Tidak ada. Melainkan Tuhan dan diriku sendiri.


Bayangkan saja bagaimana malangnya menjadi perempuan sepertiku. Yang berhari-hari merasakan sakit hati. Bahkan saat luka kemarin belum sembuh, luka yang lain sudah turut melaburi. Lagi dan lagi.


Aku tidak menyangka, bahwa keputusanku menerima lamaran Justin adalah sebuah malapetaka. Malapetaka cinta yang kupelihara sedemikian sadisnya. Sedemikian teganya.


Dan aku tidak mengerti. Kenapa Tuhan membuatku jatuh cinta kepada manusia yang dengan semena-mena menyiksaku sesuka hati. Bahkan saat tubuhku memar luar dan dalam, aku masih diberikan rasa mencintanya begitu besar.


Tetapi aku tetaplah manusia yang memiliki titik lelah untuk mengalah pasrah. Aku memaksa diriku sendiri untuk berhenti bertahan pada manusia-manusia yang aku sendiri tidak mengerti siapa mereka sebenarnya. Aku memilih pamit, dan aku memilih sudah.


Sekalipun perasaan ini tidak senada dengan apa yang baru saja aku katakan.


Cukup dengan segala luka yang selama ini aku dapatkan. Aku tidak lagi sudi bertemu dengan pemuda itu. Tidak. Aku menyerah untuk mencintainya. Aku menyerah. Dan untuk keluarga Johnson. Entah, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada mereka. Aku bersyukur mereka bersedia merawat dan mendidikku hingga seperti sekarang. Tapi aku kecewa karena mereka telah menyembunyikan kebenaran itu hingga aku sedewasa ini.


Aku kerap kali tidak mengerti, kenapa dunia begitu kejam dalam mempermainkanku. Bahkan mempermainkan hatiku.


"Maafkan aku yang belum bisa memaafkanmu, Jus. Karena pada sejatinya aku adalah sebagian dari perempuan yang hatinya rentan terhadap luka. Patah tatkala kau berhasil membuat air mataku tumpah meruah. Lalu berakibat memar pada kalbuku, pula lebam pada relung terdalamku. Kemudian tidak ingin lagi berurusan denganmu, selamanya."


Tok tok tok!!


Seseorang mengetuk pintu kamar semantaraku di rumah William.


Aku menghapus air mataku, "ya, Will?" jawabku parau.


"Maaf, Nona. Ini bibik, Tuan William memerintahkan saya untuk mengajak Nona Nicholaa makan malam bersama."


"Bilang padanya, terimakasih. Tapi aku tidak lapar."


"Ta-,"


"Jangan memaksaku, Bik."


"Baiklah, saya permisi."


Tubuhku kembali meringkuk dan menarik selimut tebalku. Air mataku kembali jatuh. Apa memang hanya William satu-satunya orang yang masih peduli denganku di dunia ini? Aku hidup sebatang kara sekarang. Aku tidak memiliki siapapun selain dia. Dan dari kecil memang benar-benar dia yang selalu ada untukku. Bahkan saat aku hanya mencari keberadaannya ketika terluka saja. Dia, tetap memberikan dadanya untukku memecah tangis. Memberikan bahunya untukku bersandar tenang. Pun memberikan rengkuhan tangannya supaya aku lebih bersabar.


Aku memejam erat kedua mataku. Tuhan. Siapa orang tuaku sebenarnya? Bagaimana wajah mereka? Kenapa Kau mengambilnya begitu cepat? Bahkan saat aku baru lahir menyapa dunia. Aku bukan mengeluh Tuhan, aku bukan protes. Aku hanya mengadukan keluh kesahku. Memaparkan betapa malangnya nasibku.


Ckleekkk


Seseorang membuka pintu kamarku.


"Saat hatimu terluka, bukan berarti kau juga membiarkan perutmu itu sengsara, Nicholaa," suara William membuyarkan lamunanku.


Mataku terbuka, "aku berada dalam titik terlemahku, Will."


"Aku tahu apa yang kamu rasakan," tuturnya berjalan menghampiriku, "tapi jika kamu seperti ini, itu akan membuat tubuhmu semakin lemah lagi."


Aku duduk dan menyandarkan punggungku diranjang. Air mataku lagi-lagi lolos dari pertahanan. William duduk dan membelai lembut pipiku. Mengusap bulir-bulir kristal yang mengaliri wajahku.


Isakanku semakin terdengar keras tatakala merasakan perihnya luka di dada. William menarik dan mebawaku ke dalam erat dekapannya.


Tangisku, meledak di sana.


****


# AUTHOR POV


William tersenyum setelah membuka kamar Nicholaa. Batinya tentram melihat perempuan itu akhirnya bisa tidur setelah semalaman menangis hinga matanya sembab.


Entah, William seakan turut merasa pecah melihat perempuan itu sedemikian sengsaranya. Dia sudah terlalu menganggap Nicholaa seperti saudara bahkan adik kandungnya. Dia suka melindungi Nicholaa. Dan memastikan bahwa perempuan itu harus tetap baik-baik saja, seolah sudah menjadi tanggung jawabnya.


Setelah puas memandang Nicholaa dari kejauhan, William kembali menutup pintu kamar itu. Langkahnya dengan pelan menuruni anak anak tangga. Lalu berjalan menuju dapur untuk menemui pembantu rumahnya.


"Bik, siapkan sarapan untuk Nicholaa dan letakkan dikamarnya. Aku harus menemui seseorang untuk memberikan pesanan lukisan padanya."


Wanita paruh baya itu tersenyum, "baik Tuan.


****


"Mungkin saja ada teman Nicholaa yang bisa kau hubungi?" tanya Allura yang tengah menemani Justin yang masih terbaring frustasi di sofa ruang tamunya.


"Ada. Alice dan Richard, suaminya. Tapi mereka mengatakan Nicholaa sama sekali tidak berkunjung kerumahnya, Lura!"


"Yang lain?"


"Nicholaa juga berteman baik dengan Shareen. Tapi, tidak mungkin. Nicholaa tidak mungkin bersembunyi disana."


Lura menghela nafasnya, "setelah mengantar Molly di rumah sakit kemarin. Aku berkunjung ke rumah Shareen. Tapi tidak ada siapapun disana!"


Justin memejamkan matanya, "apa ini artinya aku akan kehilangan dia, Lura?"


Allura hanya bisa terdiam. Dia tidak tahu pun tidak bisa menebak apa yang akan terjadi pada Justin kedepannya. Ini terlalu rumit untuk dipikir secara nalar begitu saja.


"Aku tidak akan bisa kehilangan dia, Lura. Tidak akan," sambung Justin beranjak bangun.


"Kau mau kemana, Jus?"


"Pergi."


"Kemana?"


"Mencari istriku!!"


"Tapi, Jus! Kamu masih demam. Tubuhmu lemas."


"Aku tidak perduli itu, Lura!"


Allura menarik lengan Justin yang hendak keluar, "sesuatu bisa saja terjadi padamu!! Lihatlah, demammu bahkan semakin meninggi."


"Demam ini tidak berarti apapun saat aku belum menemukan Nicholaa!!!"

__ADS_1


"Jangan keras kepala! Istirahatlah! biarkan Lawrence dan beberapa anak buahnya untuk mencari Nicholaa!!"


"Tidak semudah itu! Orang lain tengah bersusah payah mencari Nicholaa. Sedangkan aku, suaminya? Bertidur ria di rumah saja begitu? Aku tidak akan menjadi bodoh untuk yang kesekian kalinya, Lura! Camkan itu!!"


Allura pasrah dengan kuatnya tenaga Justin melepas diri. Tidak bisa melakukan hal lain. Perempuan berambut pirang itu hanya bisa menggeleng pelan kepalanya melihat Justin dengan cepat menancap gas mobil dan berlalu pergi meninggalkan pekarangan rumah ini.


****


# JUSTIN POV


Persetan dengan demam tinggi yang kini tengah melandaku. Aku tidak akan pernah bisa tinggal diam saat Nicholaa tak juga ditemukan. Pikiranku sudah mengarah yang tidak-tidak akan kondisi dan keadaan istri muliaku itu. Dimana dia menghabiskan air matanya semalam? Dimana?


Pandanganku menyelidiki setiap inci tempat di sepanjang perjalanan yang aku temui. Tapi tidak ada satu pun tanda-tanda tentang Nicholaa disana.


God, help me!!!


Drrrrttttt.... Drrtttttt....


Aku tergerak cepat begitu Lawrence mengubungiku.


"Ya, bagaimana?"


"Aku sudah mengunjungi panti asuhan tempat Nyonya Kayonna mengadopsi Nicholaa dulu. Tapi kata penjaganya disana, tidak ada siapapun yang berkunjung kesini dari kemarin, termasuk Nicho-,!!"


Tuuttt!!!


"Aaggggghrrrrr!!!"


Justin mendadak menutup saluran teleponnya saat tidak ada kabar baik yang dia dengar mengenai istrinya.


Lagi-lagi matanya sudah berkaca-kaca. Dia tidak bisa membayangkan betapa akan rapuhnya dia jika hidup tanpa Nicholaa. Dan dia akan terus dihantui rasa penyesalannya itu.


****


Terik matahari membuat William mengunci otomatis mobilnya dan bergegas masuk ke dalam rumah. Rutinitas hariannya membuatnya kini sedikit merasa lelah.


Saat dia hendak memanggil pembantu rumahnya untuk membuatkan minuman, tiba-tiba saja Nicholaa sudah menghampirinya dengan membawa sesuatu ditangannya.


William terkejut melihat itu, "Nicholaa?"


Nicholaa tersenyum, "terpuruk terlalu lama tidak baik untuk mataku yang sudah membengkak sebesar ini. Silahkan diminum, Tuan William," ucapnya menghidangkan segelas Jus mangga kepada William.


William meneguk Jusnya, "aku tenang melihatmu yang..., setidaknya lebih baik dari semalam."


Nicholaa tersenyum, "aku harus ke dapur. Memasak bersama pembantumu merupakan suatu ketenangan sendiri bagiku."


"Emm, Nicholaa?" panggil William membuatnya terhenti.


"Jangan melulu menjatuhkan air matamu. Atau aku akan lebih sesak lagi sebab itu."


Nicholaa menghela nafasnya, "terimakasih, Will," ucapnya kemudian berlalu pergi.


William tersenyum. Tidak. Dia tidak mencintai Nicholaa. Dia sudah menganggap perempuan itu benar-benar seperti adik kandungnya. Tidak lebih.


Nicholaa perempuan yang tangguh, dan William mengakui itu.


"Bray!!!" seseorang membayarkan pikiranya.


"Lawrence?"


Lawrence yang penuh peluh di dahinya, seketika menyambar dan meneguk Jus William begitu saja. Lalu menghempaskan tubuhnya di sofa.


"What happen with you, Brother?" tanya William menggeleng pelan kepalanya.


"Pekerjaan yang sangat melelahkan!!!"


William terkekeh, "sebenarnya kau ini berkerja dimana? Huh?"


"Sudah, tidak usah banyak tanya. Setidaknya berikan sepupumu ini segelas Jus!"


"Hahaha, It's oke."


William beranjak menuju dapur. Setibanya dia disana, satu pemandangan membuatnya tersenyum lega. Nicholaa tengah asyik mengolah adonan tepung bersama pembantu yang seakan sudah menjadi ibu bagi William itu.


"Ah, Will?" panggil Nicholaa membuyarkan lamunannya.


"Ada apa? Kau mau kubuatkan Jus lagi?"


William tersenyum, "iya. Tapi kali ini bukan untukku."


Nicholaa mengernyit.


"Sepupuku kemari. Buatkan satu jus lagi dan bawa kedepan," ucapnya kemudian berlalu pergi.


Nicholaa masih melongo dengan apa yang baru saja diucapkan William.


"Sepupu?" batinnya.


"Bik?" panggil Nicholaa pelan.


"Iya, Nona?"


"Sejak kapan William punya sepupu? Kenapa aku baru tahu?"


"Iya, Tuan William memiliki sepupu laki-laki. Usianya juga tidak jauh berbeda dengannya."


Nicholaa terdiam. Apa hanya dia yang benar-benar hidup sebatang kara? Tanpa disadari, lagi-lagi air matanya lolos dari pertahanan. Luka-lukanya kembali menganga. Dan entahlah, rasa sakit yang kerap kali kambuh, rasanya masih sama. Tak kunjung mereda.


"Emm, Bik!" panggil Nicholaa lantang saat dia menyadari bahwa perempuan paruh baya itu hendak membawakan jus ke depan.


"Iya, Non?"


Nicholaa menghampiri, "biar aku saja yang membawakannya," ucapnya merebut nampan yang berisi segelas jus itu dari bibik.


Dengan sesak yang masih mengarang di dada, Nicholaa berjalan membawakan segelas jus segar itu untuk sepupu William yang belum dia ketahui siapa namanya.

__ADS_1


"Haha. Tidak hanya itu, dulu Bibi juga sering memarahimu sebab keusilanmu padaku," suara William mulai terdengar dari posisi Nicholaa.


"Hahahaa," sepupunya tertawa.


Dan, Shit!


Langkah Nicholaa terhenti mendengar suara tawa itu. Suara yang tidak asing bagi telinganya.


"Tapi, siapa?" batin Nicholaa.


Dengan pelan, Nicholaa kembali berjalan menuju ruang tamu. Jantungnya berdegup kencang begitu melihat seseorang yang tengah duduk memunggunginya. Langkah Nicholaa lagi-lagi terhenti, punggung itu tidak asing baginya. Sangat tidak asing.


Tapi lagi-lagi batinnya bertanya, "siapa?"


"Nicholaa? Kemarilah!" panggil William yang seketika membuat sepupunya turut menoleh dengan cepat.


Sontak.


Mata Nicholaa melebar terkesiap.


Lawrence, ada di hadapannya!


Dengan terkejut, Lawrence berdiri dan menghampiri istri sahabatnya itu, "Nicholaa??"


Prriiiaaaaangg!!!!


Mendadak, dengan sengaja Nicholaa memecah gelas jus itu dan mengambil pecahannya.


"Jangan mendekat!!" teriak Nicholaa lantang seraya meletakkan pecahan gelas itu tepat pada pergelangan tangannya.


Lawrence terkejut, "Nicholaa, apa yang kamu lakukan?!!!"


"Jangan mendekat atau aku akan menggoreskan benda tajam ini tepat diatas urat nadiku!!!"


Melihat semua ini, William benar-benar bingung dibuatnya. Dalam batin, dia bertanya. Bagaimana bisa Nicholaa dan Lawrence saling mengenal? Padahal dia belum pernah mempertemukan mereka. Bahkan, William benar-benar terkejut, apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka?


"Nicholaa, jangan lakukan itu!!" cegah William sedikit melangkah maju.


"Jangan mendekatiku atau aku akan benar-benar membunuh diriku sendiri!!!"


Lawrence menggeleng kepalanya, "Nicholaa, ayolah. Kami semua mencemaskanmu! Justin demam menunggu kepulanganmu, Nicholaa!!!"


Nicholaa tersenyum miris, "kau pikir aku perduli? Tidak!! Dan katakan kepada Bosmu, manusia tak berperasaan itu, bahwa aku tidak akan pernah kembali lagi padanya! Camkan itu!!!"


"Aku tahu, sangat sulit memafkan Justin mengingat betapa besarnya kesalahn dia padamu. Tapi, Nicholaa, setidaknya pulanglah demi mamahmu!"


"Dia bukan mamahku, Lawrence!! Ralat ucapanmu!!"


"Apapun yang terjadi, dia tetaplah Ibumu!!"


"Tidak! Aku hidup sebatang kara!!"


"Tidak!! Kau hidup bersama kami semua!!"


"Pergi kau, Lawrence!! Pergi kataku!!!"


Tidak peduli dengan ancaman Nicholaa, perlahan, Lawrence melangkah maju mendekatinya.


Nicholaa menggeleng cepat kepalanya. Tidak terima jika Lawrence akan berhasil membawanya lari dan kembali bersama Justin.


"Jangan mendekat, Lawrence. Aku mohon!!"


"Kemarilah, Nicholaa!!"


"Hentikan langkahmu sekarang juga!!"


"Kemarilah...."


"Tidak!!"


"Pulang bersamaku, Nicholaa."


Nicholaa menggeleng cepat kepalanya.


"Ayolah...."


"Tidak, Lawrence!! Aku kata tidak! Tidak!!! Aaawwwwww!!!!!!!"


"Nicholaaaaaa!!!!"


Sontak.


Lawrence dan William dikejutkan dengan Nicholaa yang mendadak berlari namun tidak sengaja kakinya menginjak tajamnya pecahan-pecahan gelas itu.


Darah segar mengalir deras hingga membuat pandangannya mengabur.


"Jangan.... ba... wa.. akuh... Pul...ang...," ucapnya terbata dan jatuh pingsan.


Melihat tubuh Nicholaa yang jatuh terkulai lemas. Lawrence dan William dengan segera menghampirinya. Begitu juga dengan wanita paruh baya, pembantu Lawrence, yang dari tadi mengintip keribuan ini dari belakang, mendadak berlari menghampiri Nicholaa.


"Nicholaa, bangun!! Bangun, Nicholaa!!" ucap William menepuk-nepuk pipi Nicholaa dengan cemas.


"Nicholaa.... Bangunlah, jangan membuat kita semakin cemas!" tambah Lawrence tak kalah cemasnya.


"Tuan, sebaiknya kita bawa saja langsung ke rumah sakit. Sebelum luka di kakinya mengakibatkan sesuatu yang tidak kita inginkan."


"Iya, benar."


"Ayo, angkat tubuhnya biar aku yang menyiapkan mobilnya. Bibik, ikutlah!!!" ucap Lawrence menginstruksikan.


Bibik mengaguk.


Dan dengan sigap William mengangkat tubuh Nicholaa untuk segera membawanya ke rumah sakit.


****

__ADS_1


__ADS_2