NICHOLAA JOHNSON

NICHOLAA JOHNSON
Chapter 13


__ADS_3

# AUTHOR POV



"Tidak! Saya tidak bersalah, Pak!" bentak Theresa membela dirinya sendiri saat dua polisi tengah memborgol tangannya.



"Dia bersalah, Pak. Saya dan Justin adalah saksinya. Kami berada ditempat kejadian. Lagipula, dia sendiri telah mengakui di depan kami, bahkan di depan korbannya sendiri!" sahut Allura tak terima.



"Awas kau, Allura! Aku tidak pernah punya masalah denganmu tapi kenapa kau selalu ikut campur dengan urusanku!"



"Cukup, Theresa! Kau pantas mendapatkan ini semua!" sela Justin emosi.



"Bawa dia, Pak!" lanjutnya.



"Tidak, Pak! Saya tidak bersalah!!" bentak Theresa memberontak ketika dua polisi itu berlalu membawanya.



Pagi ini Justin dan Allura memang sengaja menghubungi polisi untuk menangkap pelaku penembakan terhadap Nicholaa satu hari yang lalu. Meski mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan dari Nicholaa, tapi Allura tetap menganggapnya sebagai teman. Entah kenapa, naluri terdalamnya merasa bahwa dia sangat menyayangi Nicholaa. Sangat ingin menghibur istri dari mantan kekasihnya itu.



Allura memang sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi dengan Justin. Nyatanya, tiga tahun perpisahan mereka mampu membuat rasa cinta itu hilang dengan sendirinya. Semua yang masih tersimpan dihati hanyalah sebatas teman, rindu mereka hanyalah sebatas persahabatan.



"Dan aku tidak menyangka, kebodohanku membawa Theresa pulang malah membawa malapetaka besar untuk istriku," ucap Justin saat mereka kini tengah berada di sebuah cafe.



Justin telah menceritakan semuanya kepada Allura. Tentang pernikahannya dengan Nicholaa dan tentang semua rahasia rumah tangganya. Allura benar-benar marah mendengar semua pemaparan Justin tentang perlakuannya terhadap Nicholaa selama ini. Dia tidak percaya Justin bisa sejahat itu. Sekejam itu.



"Apalagi saat aku menyetujui syarat kakakmu itu. Aku tidak pernah berfikir bahwa Tristan akan sampai menidurinya. Hatiku sesak berkali-kali lipat. Aku menyesal," lanjutnya lagi.



Allura menyeduh kopi hitamnya, "aku rasa, semua yang dikatan Javier padamu itu benar, Jus. Kau sudah jatuh cinta dari awal kalian bertemu. Nyatanya misimu gagal, kan? Dan pada akhirnya kau malah terluka melihatnya semenderita itu, bukan?"



"Aku tidak mengerti, Allura. Aku tidak tahu ini cinta atau bukan. Yang jelas, aku benar-benar takut kehilangan dia."



"Segera kau ungkapkan perasaanmu itu kepada Nicholaa sebelum semuanya terlambat, Jus."



Justin menatap mata Allura.



Allura tersenyum, "kenapa? Aku baik-baik saja. Aku sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi kepadamu. Jangan takut aku tersakiti, percaya padaku."



"Aku tidak tahu. Aku belum yakin ini perasaan cinta."



Allura menghela nafas panjangnya, "singkirkan egomu itu, Jus. Bangun dan sadarlah, kamu itu sudah mencintainya."



"Kau yakin aku harus mengungkapkan perasaanku ini padanya?"



"Ya. Tapi satu hal yang harus kamu lakukan terlebih dahulu sebelum itu."



Justin mengernyit, "apa?"



"Bongkar semua misi gilamu itu pada Nicholaa. Jelaskan padanya tentang alasanmu menikahi dia sebenarnya."



"Allura, kau bercanda?"



"Tidak, Justin! Masa lalu kalian itu sangat berkaitan. Dan ini semua sangat erat hubungannya dengan pernikahan ini. Katakan dan jelaskan saja semuanya. Biar tidak ada lagi yang ditutup-tutupi."



Justin menghela nafas panjangnya, "bagaimana kalau Nicholaa akan lebih marah padaku? Bahkan saat ini dia sudah tidak sudi lagi bertemu denganku, Allura!"



"Jelas saja dia tidak sudi bertemu denganmu. Perempuan mana yang tidak sakit jika diperlakukan seburuk itu, Jus? Nicholaa juga terlihat sangat membenciku gara-gara kamu! Kau harus tahu itu!"



"Allura?" panggil seseorang tiba-tiba.



Allura menoleh, "Lawrence?!" ucapnya terkesiap.



"Astaga, kamu berubah banget sekarang!" lanjutnya memeluk sahabat laki-lakinya itu.



Lawrence melepas Allura, "bagaimana tidak? Sekretaris dari seorang Justin Clayton harus selalu tampil perfect, bukan?"



Allura tergelak, "yaa... yaaa. I know."



"Oh iya. Bagaimana kabar Shareen? Aku sangat merindukannya," lanjutnya.



Lawrence terdiam mendengar itu. Seharusnya dia sudah bisa move on dari tiga tahun yang lalu. Tapi entahlah, perasaannya masih mati. Dia tidak bisa memahami hatinya sendiri.



"Lawrence?" panggil Allura lagi saat Lawrence mengacuhkannya.



"Shareen sudah menikah," sahut Justin membuat Allura terkesiap.



"Kau bercanda, Jus?"



Justin meneguk kopinya, "apa aku terlihat bercanda?"



"Astaga, Lawrence. Sory, aku benar-benar tidak tahu."



Lawrence tergelak, "kita itu senasib, Allura."



Allura mengernyit, "senasib?"



"Sama-sama ditinggal menikah. Hahaha....!!"



Justin menatap sekilas mata Allura, "kalian nyindir aku?"



Allura tergelak, "sepertinya kita harus pergi dan membiarkan CEO patah hati ini merenungi kisah cintanya sendiri."



"Ah, kau benar, Allura. Let's go!"



Justin menghela nafas panjangnya saat kedua sahabatnya itu berlalu pergi meninggalkannya sendiri.



Sekarang apa? Adanya Allura dan Lawrence untuk sejenak tadi, mampu menghibur kegelisahan yang dia rasa. Tapi kini, lagi-lagi, perasaan dalamnya kembali sesak saat mengingat betapa asingnya Nicholaa pada dirinya.



Justin sadar, mungkin seperti ini rasanya dijauhi oleh pasangan sahnya sendiri. Bahkan, dia juga tahu, bahwa rasa sakit yang dia rasakan saat ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit yang Nicholaa terima selama ini.


****

__ADS_1


# NICHOLAA POV



Kak Alodie keluar meninggalkanku setelah mengganti perban di kakiku pagi ini. Aku kembali melamun memikirkan semua masalah yang terjadi denganku. Dari awal Justin melamarku, hingga dia sendiri yang kini tega mencampakanku.



*"Aku benci sama kamu!!!"*



Ucapanku padanya kemarin mampu membuatku terus mengingat itu. Mungkin aku memang membencinya, sejenak. Tapi, rasa sayang yang ada dihatiku, seakan mengalahkan semua rasa sakit yang menyerangku secara bertubi-tubi ini. Aku tidak mengerti kenapa rasa cintaku padanya begitu besar. Andai boleh menyesal, mungkin dulu aku lebih memilih untuk tidak mengenal Justin sama sekali daripada harus sakit karena cintaku bertepuk sebelah tangan seperti ini.



Suamiku lebih mencintai orang lain. Bahkan dia rela berkorban, rela melakukan apapun demi bisa bertemu dengan seseorang yang dicintainya, sekalipun harus membahayakan nyawa istrinya sendiri.



Bayangan Tristan saat dia dengan teganya mencelakaiku kemarin masih terlintas jelas dibenakku. Saat itu ketakutanku benar-benar berkumpul menjadi satu. Seolah hati ini mendorong sisi lemahku untuk kuat dan berjuang mati-matian menyelamatkan diri sendirian.



Ya Tuhan, aku mencintai suamiku. Tapi tubuhku masih terlalu lemah dan perasaanku masih seluka ini jika aku harus kembali dan memaafkannya sekarang. Bukan aku tidak berperasaan. Tapi aku pun hanya seorang manusia yang memiliki rasa kesedihan. Ini salah dia. Seharusnya dia tidak setega ini dalam mempermainkan istrinya, bukan?"



Ckleeek!



"Nichola?!" kak Alodie datang mengejutkanku.



Bergegas kuhapus air mataku lalu menatapnya.



"Pamanku masuk rumah sakit. Dan Megan harus mengantarkanku kesana. Kau... tidak masalah di rumah sendiri?"



Aku tersenyum, "kalian pergilah, aku baik-baik disini."



"Aku sudah menyiapkan makanan untukmu di bawah. Maaf kalau tidak ada yang mengambilkannya untukmu. Kau harus hati-hati menuruni tangga nanti. Kakimu masih luka."



"Tenang saja, Kakak Ipar. Aku bisa melakukannya sendiri."



"Baiklah, kami pergi dulu."



"Sampaikan salamku pada Paman."



Kak Alodie tersenyum dan berlalu pergi.



Makan? Rasanya aku benar-benar tidak lapar. Masakan kak Alodie memang begitu lezat, tapi nafsu makanku berkurang.



Aku benar-benar rapuh saat ini. Apa yang harus aku lakukan pagi-pagi di rumah tanpa teman seperti ini? Dalam keadaan tubuh dan hati yang sama-sama tidak sehat.



Mungkin lebih baik aku tidur. Dengan begitu, rasa sakit dan beban yang kutanggung akan hilang, untuk sejenak.


****


# JUSTIN POV



*"Bongkar semua misi gilamu itu pada Nicholaa. Jelaskan padanya tentang alasanmu menikahi dia sebenarnya."*



Ucapan Allura pagi tadi benar-benar membuatku frustasi. Apa benar aku harus mengatakan semuanya? Apa dendamku akan berakhir sampai disini dan apa ini artinya aku kalah dengan semua misi yang aku buat sendiri?



Ya Tuhan, kenapa semua tidak berjalan sesuai dengan apa yang aku rencanakan? Semua misiku telah tersusun rapi, tapi pada kenyataannya... Kau berkehendak lain. Apa ini artinya Kau tidak meridhoi keputusanku? Maafkan aku, Tuhan. Maafkan aku. Jika Nicholaa adalah jodoh dunia dan akhiratku, bantu kami untuk saling memperbaiki segalanya. Hamba menyesal, Tuhan.



Aku menghela nafas panjang setelah mobilku berhenti tepat di halaman rumah Tuan Megan. Aku harus berani. Aku harus menyelesaikan semua masalahku dengan Nicholaa hari ini juga. Atau aku akan terus dihantui rasa bersalah di sepanjang malamku.




Ku ketuk pintunya dengan pelan. Tubuhku gemetar, takut-takut Tuan Megan akan mengusirku.



Setelah ku rasa tidak ada jawaban. Aku menekan bel rumah yang ada di dinding sebelah pintu ini. Aku rasa dengan memecet bel ini, kak Alodie akan mendengar dan membukakan pintu untukku. Sekalipun di dapur keberadaannya.



But, nothing!



Tidak ada jawaban apapun dari dalam. Apa mereka tidak ada di rumah. Lalu, Nicholaa? Pergi kemana mereka?



Ku coba untuk menarik handle pintu itu.



Ckleekk!



What? Tidak dikunci?



Perlahan, ku langkahkan kakiku untuk masuk. Sepi. Apa benar-benar tidak ada orang di sini?



"Kak?" panggilku pelan.



"Kak Megan?"



"Kak Alodie?"



"Kakak Ipar?"



"Petter?"



Isshhh apa kau gila, Jus? Jika kak Megan dan kak Alodie saja tidak menjawab panggilanmu. Apalagi Petter? Astaga!



Seketika, tatapanku mengarah pada tangga yang menghubungkan lantai bawah dengan lantai dua. Kamar Nicholaa berada di sana, rumah sepi. Nicholaa istriku dan aku suaminya. Tidak akan dikatakan sebuah kesalahan jika aku pergi kesana, bukan?



Perlahan, kulangkahkan kakiku menapaki tangga dengan pelan. Saat langkahku tiba tepat di depan pintu kamarnya, ku tarik handle pintu itu lalu terbuka.



Saat itu juga air mataku jatuh mendapati Nicholaa yang sedang tertidur lemah dengan selimut tebalnya itu. Tubuh mungilnya meringkuk bagai tak berdaya. Matanya sembab dan pipinya basah. Hatiku perih melihatnya seperti ini.



Aku masuk dan berjongkok menghadapnya, "beristirahatlah dengan pulas, Sayang," bisikku pelan sambil mengelus lembut rambutnya.



Aku ingin bicara banyak dengannya, tapi rasanya tidak tega membangunkan Nicholaa saat mengetahui keadaannya seperti ini. Ingin sekali rasanya aku memeluk dia. Menghapus air matanya. Membuatnya tenang dalam dekap dan pelukku. Mengobati luka-luka yang selama ini aku torehkan pada perasaan tulusnya itu.



Semua belum terlambat, kan?



Aku beringsut menjauh saat dia bergerak untuk pindah posisi. Tubuhnya kini miring berhadapan denganku. Semoga dia tidak bangun. Aku tidak mau dia marah dengan adanya aku di sini sekarang.



Lihatlah wajah tulus istriku itu. Sudah berapa kali aku menampar dan mengasarinya? Tapi dengan rasa hormat, dia tetap memuliakanku. Astaga, suami macam apa aku?



"Justin!" kak Alodie berdesis memanggilku dan membuatku terkejut.

__ADS_1



Aku menoleh kearahnya, "sssstttttttt!!! Nanti dia bisa bangun."



"Apa yang kau lakukan disini? Bagaimana kau bisa masuk?" tanyanya pelan menghampiriku



"Kau yang lupa mengunci pintunya, Kakak Ipar!"



"Oh, benarkah?"



Aku menepuk jidatku saat merasakan sifat lola kakak iparku ini. Ya, kak Alodie memang lucu bagiku.



"Dimana Tuan Megan?"



"Itu dia. Beruntung tadi aku turun di depan gerbang dan Megan langsung pergi ke kantor. Kalau dia ikut masuk ke halaman rumah, dan terkejut melihat ada mobilmu di situ, kau akan dikubur hidup-hidup. Mengerti?



Aku tersenyum tipis. Ya, mungkin sebegitu sayangnya Tuan Megan pada Nicholaa. Dan dia tidak akan segan-segan memberi pelajaran kepada siapa saja yang menyakiti adiknya.



Apa jadinya jika suatu saat Tuan Megan tahu tentang sikapku selama ini?



"Kau yang menidurkan Nicholaa?" tanyanya membuyarkan lamunanku.



"Bukan, dia tidak tahu aku ada disini."



Kak Alodie menarik tanganku dan membawaku keluar, "kalau dia bangun dan tahu kau ada di sini, rumah ini bisa menjadi kapal pecah!"



Aku menghela nafas, "aku hanya merindukan istriku, Kak."



"Huh, ikut denganku!"



Ku ikuti langkah kak Alodie yang turun menuju lantai bawah. Aku mengernyit saat dia duduk di ruang keluarga dengan tangannya yang dilipat di dada.



"Sini duduk!!" perintahnya padaku.



Aku berjalan dan duduk di sampingnya, "ada apa?"



"Ceritakan padaku sekarang juga! Apa sebenarnya masalahmu dengan Nicholaa?"



"Apa Nicholaa tidak bercerita?"



"Tidak. Dia hanya bilang bahwa kalian berbeda pendapat, itu saja."



Mataku berair. Segitu besarkah Nicholaa menjaga kehormatan dan harga diriku? Sampai-sampai, dia tidak juga menceritakan masalah ini pada siapapun. Lalu, saat aku bercerita kepada Allura tadi, apa itu artinya aku merendahkan harga diriku sendiri? Nicholaa dulu sangat marah aku bertengkar dengan William di tempat umum. Dan mungkin, jika Nicholaa tahu aku menceritakan keburukan sikapku sendiri kepada Allura, dia akan lebih marah lagi dari ini. Maafkan aku, Nicholaa. Aku memang tidak sepandai kamu dalam menyembunyikan luka.



"Justiiiin!!!!"



"Ah, iya, Kak. Ada apa? Bagaimana?" tanyaku gelagapan saat kak Alodie membentakku tiba-tiba.



"Kau ini tuli atau bagaimana? Aku memanggilmu dari tadi."



"Maaf, Kak. Aku, aku sedikit melamun tadi. Jadi, ada apa?"



"Ceritakan padaku! Apa masalahmu dengan Nicholaa?"



"Aku... emmm... Nicholaa... kamii... emmmm...."



"Justin, bicaralah yang benar. Aku tidak segan-segan memarahimu jika kau terus gagap seperti itu."



"Iissshhh kau dulu begitu menghormatiku, Nyonya Alodie."



"Berfikirlah yang benar, Tuan Justin. Semua sudah berbeda. Kau sudah menjadi adik iparku sekarang, mengerti?"



Prriiiaaaangggg!!!!



Kami terkejut saat tiba-tiba Nicholaa datang dan dengan sengaja memecah vas bunga di hadapan kami.



"Nicholaa, apa yang kau lakukan?" tanya kak Alodie dengan raut terkejutnya itu.



Nicholaa menatap tajam kearahku dengan rahangnya yang mengeras.



Aku beringsut mendekatinya, "Nicholaa?" lirihku pelan menggenggam tangannya.



Nicholaa menghempaskan tanganku dengan kasar, "jauhkan tubuhmu ini dariku!" desisnya tajam.



Mataku berair mendengar itu, "kenapa kamu selalu mengulang kalimat itu, Nicholaa? Maaf jika aku pernah melakukan hal yang serupa. Tapi percayalah, ak-,"



"Diam kau, Justin!!!"



Aku terkejut saat Nicholaa membentak dan memotong pembicaraanku dengan lantang.



"Pergi kamu dari sini!!!" lanjutnya kemudian berlalu pergi.



Aku bergegas mengejar dan memeluknya dari belakang, "cukup, Nicholaa! Cukup.... Maafkan aku...," pintaku terisak.



"Aku benci kamu ada di sini," Nicholaa menitikkan air matanya, "jadi sekarang aku mohon jauhkan tubuhmu ini dan enyahlah kau dari hadapanku!!!" lanjutnya lantang.



Aku membalikkan tubuhnya untuk menghadapku, "katakan, Nicholaa!! Katakan, apa yang harus aku lakukan supaya kau memaafkanku?!!!"



Plaaaakkkk!!!



Nicholaa menamparku!



"Aku tidak butuh apapun darimu! Aku cukup mau kau pergi dari sini!!!"



Air mataku lolos dari pertahanan. Rasanya sakit. Sakit sekali. Mungkin memang ini belum saatnya, harus memberikan waktu untuk Nicholaa tenang terlebih dahulu.



Aku melepasnya, "jaga diri kamu baik-baik, aku permisi," ucapku tertunduk kemudian berlalu pergi.

__ADS_1


****


__ADS_2