Nikah Kontrak Di Penthouse

Nikah Kontrak Di Penthouse
Cucu Kakek Yang Sebenarnya


__ADS_3

Aku cucu Kakek yang sebenarnya


Diadem Palaces 01 Juni Pukul 23 : 15


Sebuah gaun satin putih tergantung dengan cantik. Aleris berdiri di dekat gaun itu, ia mengagumi rupa dari gaun itu. Seorang wanita paruh baya lalu menghampirinya. Ia adalah penata rias pengantin untuk Aleris malam ini. wanita itu mengenakan rok span dengan kemeja putih dan topi bundar dengan hiasan bulu merak di atasnya. Aleris kemudian tersenyum padanya.


"Memang benar kata Bi Ani kalau cucu dari Tuan Lysander begitu cantik. Aku sepertinya tak perlu memolesmu dengan tebal. Cukup dengan make up natural saja aura cantikmu akan terpancar jelas". Puji penata rias.


Aleris hanya bisa tersenyum lagi. Ia lalu duduk di meja rias. Penata rias itupun mulai memoles Aleris. Sepanjang proses rias tersebut penata rias itu banyak bertanya pada Aleris. Kebanyakan ia mempertanyakan tentang bagaimana ia bisa kenal dengan Arran, Calon suaminya dan kenapa pernikahannya diselenggarakan secara tertutup. Aleris merasa tak nyaman dengan pembicaraan itu. Ia begitu kewalahan dengan pertanyaan yang diajukan oleh penata rias itu.


"Aku sangat lancang karena telah menanyakan hal ini tapi agar aku tidak berpikiran yang aneh padamu bolehkah aku bertanya satu hal Nona?". Sebenarnya ia sudah banyak bertanya tetapi sepertinya ini adalah puncak dari semua pertanyaannya.


"Emmm, ya. Silahkan". Aleris sebenarnya sudah enggan meladeninya tapi ia harus tetap duduk dengannya karena proses rias belum selesai.


"Sebelumnya aku minta maaf Nona, tapi anda menikah bukan karena kecelakaan kan?". Benar saja, penata rias itu telah sampai di inti dari pertanyaannya.


"Apa maksud Anda?". Aleris terperanjat saat mendengar pertanyaan itu.


"Ah tidak, anggap saja ini hanya prasangka buruk ku. Nah, sudah selesai". Jawab sng penata rias.


Aleris kini menatap dengan ketus pada sang penata rias. Tak sangka jika penata rias itu akan berpikiran seperti itu. Kecelakaan? Yang benar saja. Ia bahkan belum pernah berciuman dengan pria manapun. Andai saja wanita itu tahu apa yang sebenarnya terjadi ia pasti sudah bungkam dari tadi.


"Tugasmu hanya membuat cucuku terlihat cantik malam ini Nyonya, hanya itu. Tak usah berbicara atau perpikiran yang aneh-aneh".


Kakek berdiri di depan pintu kamar. Ia lalu menghampiri Aleris. Sang perias terperanjat saat mendengar ucapan dari Kakek. Ia lalu terdiam dan tertunduk malu.


"Ah, lihatlah dirimu Nak. Aku bahkan tak mampu mengenalimu saat ini. Kau terlalu cantik!". Puji Kakek pada Aleris.


"Kakek bisa saja". Aleris tersipu malu.


Mata Kakek lalu berkaca-kaca. Wajahnya berubah sendu. Ia lalu memegang lengan Aleris dan mengusapnya dengan lembut.


"Nak, kau mirip sekali dengan ibumu. Aku jadi teringat padanya. Tetapi senyummu, senyum itu milik ayahmu. Setiap kali kau tersenyum padaku, aku merasa seakan putraku tengah tersenyum padaku". Sang Kakek lalu menitikan air mata.

__ADS_1


Aleris begitu sedih saat mendengar tentang kedua orang tuanya. Entah kenapa ia jadi begitu merindukan mereka, padahal Aleris sudah lupa dengan wajah mereka. Tetapi hatinya begitu pedih saat mendengar nama mereka di sebut.


"Jangan menangis Kek, biar aku hapus dulu air mata Kakek ya". Aleris menarik selembar tisu lalu mengusap air mata sang Kakek dengan lembut.


"Padahal aku baru sebentar denganmu tetapi kini aku harus menyerahkanmu pada orang lain. Tolong sering-seringlah berkunjung ke Diadem Palaces, aku akan selalu menunggu kedatanganmu Nak". Ucap sang Kakek.


"Tentu Kek". Jawab Aleris. Ia lalu memeluk kakeknya tersebut.


"Ah, sudah saatnya". Ucap sang Kakek. Ia lalu melepaskan pelukan Aleris.


"Baiklah, Kakek keluar dulu ya Nak".


Aleris mengangguk lembut. Kakek lalu keluar ruangan. Aleris terus memandangi kakeknya sampai tak terlihat. Ia kembali menengok ke arah sang perias. Perias itu lalu memandang ke arah Aleris.


"Ah, ya. Aku harus membantumu mengenakan gaun". Sang Penata rias kini salah tingkah.


Aleris lalu mengenakan gaun putih itu. Gaun itu begitu pas dengan badan Aleris. Seolah gaun itu mengikuti bentuk lekuk tubuh Aleris. Penata rias itu berdecak kagum melihat Aleris yang mengenakan gaun itu. Baginya Aleris adalah pengantin tercantik yang pernah ia rias. Ia begitu puas saat melihat Aleris selesai dirias.


Aleris kembali tersipu malu. Ia memandangi dirinya di depan cermin, ia hampir tak mengenali dirinya. Apakah ini Aleris yang sama dengan Aleris yang mengenakan pakaian memasak dengan rambut yang selalu diikat asal-asalan saat bekerja? Pikirnya. Wajahnya lalu berubah sedih. Ia kembali teringat Tryan. Ia berharap bahwa Tryanlah yang akan menemaninya sebagai pengantin pria malam ini. Ia merasa tak enak saat mengingat lamaran dari Tryan beberapa hari yang lalu. Aleris lalu larut dalam lamunan.


"Nona, sudah saatnya". Seseorang mengetuk pintu kamar Aleris.


Aleris lalu tersadar dari lamunannya. Ia lalu bersiap untuk pergi ke pelaminan. Aleris diapit oleh dua orang pendamping pengantin wanita. Ia berjalan perlahan menuju pelaminan. Aleris kemudian menuruni tangga perlahan-lahan. Saat ia menuruni tangga tatapan semua orang tertuju padanya. Nampaknya semua orang kini tengah mengagumi penampilan Aleris. Mereka berdecak kagum melihat Aleris.


Aleris memasang wajah tersenyum bahagia, ia lalu melihat ke arah Arran. Pria itu kini melihat dirinya. Entah kenapa Aleris merasa malu saat dilihat oleh Arran. Aleris hampir lupa bahwa pria itu kini adalah suaminya. Aleris kini sampai di hadapan Arran. Ai duduk bersanding dengan Arran. Ia dan Arran lalu menandatangani beberapa berkas termasuk buku nikah.


Aleris merasa malu saat disuruh untuk mencium tangan Arran, tetapi ia harus melakukannya. Ia mencium tangan Arran lalu menatap wajah Arran. Entah kenapa wajah pria itu kini terlihat tegang dan kikuk. Hampir saja Aleris tertawa terbahak-bahak saat mengetahui ekspresi Arran sekarang tetapi ia berhasil menahannya. Aleris mencoba bersikap setenang mungkin.


Semuanya berjalan lancar sampi terdengar keributan dari Aarah lift. Tiba-tiba datang seorang wanita dengan setelan baju musim dingin sambil menenteng koper. Wajahnya terlihat kesal.


"Pernikahan ini tidak sah!". Wanita itu tiba-tiba berteriak dengan kencang. Membuat semua orang yang ada di ruangan itu tampak kaget.


"Ada pernikahan yang diselenggarakan secara tertutup di rumah ini? Yang benar saja Kakek! Siapa sih yang Kakek nikahkan ini? Mereka bilang cucu Kakek? Aku cucu Kakek! Siapa yang Kakek sebut cucu Kakek hah?". Wanita itu kini menghampiri kakek.

__ADS_1


"Tenanglah Rhea, Kakek bisa menjelaskan semuanya nanti. Tapi sekarang kau harus menunggu acara pernikahan ini selesai. Kau mengerti?". Kakek mencoba menenangkan wanita yang bernama Rhea itu.


"Tenang? Aku tak bisa tenang saat mengetahuin bahwa Kakek ternyata menyimpan rahasia dariku. Andai aku tidak memutuskan pulang dari Aussie hari ini mungkin aku tidak akan mengetahuinya sampai kapanpun". Wanita itu tampak kesal di hadapan Kakek.


"Kumohon Rhea, tunggu sebentar lagi dan Kakek akan mengungkapkan semuanya". Kakek mencoba bersabar di hadapan wanita itu.


"Tidak. Aku tidak bisa diam. Kalian semua pergi dari tempat ini sekarang! Pernikahan Ini tidak sah! Karena akulah cucu kakek yang sebenarnya! Wanita yang duduk dekat Arran hanyalah orang yang berpura-pura menjadi diriku. Jadi tolong bubarlah sekarang! Bubar!". Wanita itu kini sudah meluapkan semua emosinya. Ia meledak-ledak dihadapan semua orang.


Plak!


Kakek menampar wanita itu. Wajah Kakek begitu marah dan nampaknya sudah kehilangan kesabaran.


"Sudah kubilang untuk tenang. Pak Yosep! Bi Ina. Bawa Rhea ke kamarnya sekarang!". Ucap Kakek. Napasnya tampak cepat. Matanya melotot dan alisnya terangkat.


Kepala keamanan Yosep dan Bi Ina langsung membawa Rhea secara paksa ke kamarnya. Rhea tampak tak terima dan mencoba melawan.


"Lepaskan aku! Lepaskan aku!". Rhea mencoba memberontak. Tetapi ia tenaganya tak sekuat kepala keamanan Yosep.


Kakek lalu menghampiri Aleris yang tengah syok dengan kejadian barusan. Ia masih terperanjat. Bagitupun dengan Arran dan semua orang yang ada di ruangan. Mereka semua kini menatap wajah Kakek seakan tengah meminta penjelasan atas kejadian barusan.


Aleris tampak menjauhi Kakek saat kakek mencoba mendekatinya.


"Jangan! Jangan dekati aku! Entah apa yang sedang kalian rencanakan terhadapku. Aku menolak pernikahan ini. Batalkan semuanya sekarang!".


Wajah Aleris tiba-tiba ketakutan, matanya berkaca-kaca lalu segera air mata menetes ke pipinya.


"Seharusnya aku curiga dengan semua ini. Kenapa kau melakukan ini padaku! Kau berpura-pura menjadi Kakekku untuk melakukan rencana busukmu. Tega sekali kau mempermainkan kehidupan seorang wanita sepertiku!". Aleris begitu marah. Air mata kini tumpah di wajahnya.


Ia melepas cincin pernikahannya dan membuangnya di hadapan sang Kakek.


"Tenanglah! Kita akan segera tahu kebenarannya setelah pernikahan ini selesai. Kau jangan gegabah atau rencana kita akan berantakan". Ucap Arran. Ia lalu memegang lengan Aleris.


Tubuh Aleris gemetaran, Arran langsung memeluknya. Arran mencoba menenangkan Aleris. Tetapi terlambat, Aleris tiba-tiba jatuh pingsan. Semua orang yang ada di ruangan itu kaget dan panik. Suasana berubah menjadi ketegangan dan kepanikan. Apakah pernikahan ini akan dibatalkan? Benarkah wanita yang bernama Rhea itu adalah cucu dari Kakek Lysander yang sebenarnya?

__ADS_1


__ADS_2