Nikah Kontrak Di Penthouse

Nikah Kontrak Di Penthouse
GRIYA TAWANG


__ADS_3

Diadem Palaces 01 Juni pukul 01.30


Arran tengah membersihkan dirinya. Pria itu benar-benar gila kebersihan. Malam ini ia sudah mandi untuk yang kedua kalinya. Ia merasa dirinya kotor lagi karena sudah bertemu dengan banyak orang. Ia begitu paranoid dengan bakteri dan virus yang ia pikir dibawa oleh orang lain.


Setelah Arran selesai dengan ritual mandinya ia lalu melakukan kebiasaan utamanya setelah mandi, yakni megagumi bentuk tubuhnya. Ia hanya menutupi tubuhnya dengan sehelai handuk yang diikatkan di pinggangnya. Ia sengaja membiarkan tubuh bagian atasnya terbuka agar ia bisa mengaguminya. Di depan cermin yang besar ia bisa mengagumi tubuhnya sendiri. Ia terus-terusan memuji dirinya sendiri. Betapa narsistiknya pria ini.


Arran tengah tenggelam dalam kekagumannya sampai seseorang tiba-tiba masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Aleris tiba-tiba muncul di kamarnya dengan wajah sangat kaget. Ia lalu menjerit dengan sangat keras sehingga membuat Arran kaget. Saking kagetnya sampai Handuk Arran melorot ke bawah. Aleris langsung menutup kedua matanya. Arran begitu panik, ia langsung menaikan kembali handuk yang melorot itu.


"Kau!". Arran berubah menjadi pria yang yang dipenuhi amarah.


"Kenapa kau tak mengenakan pakaian?". Ucap Aleris sambil masih menutup mata.


Belum sempat Arran menjawab pertanyaan dari Aleris tiba-tiba datanglah Pak Jang dan Bi Ani dengan tergesa-gesa. Mereka mungkin kaget saat mendengar jeritan Aleris. Pak Jang dan Bi Ani langsung menutup kedua mata mereka saat tiba di kamar. Wajah Arran berubah merah padam.


"Maaf Tuan, kami kira ada apa. Ternyata..., Ah lebih baik kami keluar saja. Ayo Ani! Kita keluar sekarang". Ucap Pak Jang dengan malu sambil menarik Bi Ani keluar.


"Ah, tentu. Kita tak boleh mencampuri urusan suami istri, mari Tuan, Nyonya". Ucap Bi Ani sambil melangkah keluar.


Aleris juga berniat keluar bersama Pak Jang dan Bi Ani tetapi Arran mencegahnya.


"Hey, kau mau kemana hah?". Ucap Arran dengan memasang wajah kesal.


"Mmm, aku...aku... Harus pergi sekarang, hehe". Jawab Aleris sembari menggaruk kepala.


"Diam di situ. Kau telah mempermalukanku di depan orang lain. Masuk ke kamar orang tanpa izin! Tidak sopan!".


"Hey, aku tidak tahu kalau kau habis mandi. Lagi pula harusnya aku yang marah! Kembalikan ponselku sekarang!". Aleris kini berubah marah.


"Ponsel apa? Kau pasti sedang mengalihkan pembicaraan ya? Kau mau lari dari kesalahan mu lagi kan?". Arran tak mau kalah.


"Jangan pura-pura tidak tahu! Ponselku hilang sejak kau menyekapku waktu itu! Kau lupa ya kalau kau sudah menyekapku? Dasar penculik".


"Ah, jadi soal itu. Tetapi kau tetap bersalah atas kejadian tadi. Em, begini saja, kau memaafkanku atas kejadian penyekapan itu dan aku akan memaafkanmu atas kejadian barusan dan kejadian di restoran itu, bagaimana?". Tawar Arran.


Aleris masih kesal, enak saja ia dengan mudahnya memaafkan Arran atas kejadian penyekapan itu. Tetapi kalau dipikir-pikir ia juga akan diuntungkan, ia tidak perlu kerepotan lagi dengan masalah insiden di restroran waktu itu dan insiden barusan. Eh, tapi kan ia sudah kaya, ia punya Black card. Ia bisa membayar apapun saat ini. Masalah ganti rugi itu bukan apa-apa lagi sekarang.


"Tidak, aku tidak akan memaafkanmu atas insiden penyekapan itu. Kau pikir aku akan dengan mudahnya melupakan apa yang telah kau lakukan padaku sewaktu aku ditawan olehmu? Tidak. Pokoknya aku tidak akan memaafkanmu! Lagi pula soal insiden di restoran itu sekarang bukan apa-apa lagi. Kau lupa ya kalau sekarang aku siapa? Huahahahaha". Aleris mengakhiri kalimatnya dengan tertawa terbahak-bahak di depan Arran.


Arran begitu muak melihat muka Aleris yang nampak puas telah menyudutkannya. Ia tak bisa diam, seorang Arran tidak bisa dikalahkan oleh seorang wanita yang ada di depannya itu. Arran mencari cara agar bisa membalikkan keadaan.


"Tapi kau tetap harus bertanggung jawab atas kejadian barusan! Kau telah merusak harga diriku di depan orang lain!". Ucap Arran dengan marah.


"Itu tidak sebanding dengan apa yang telah kau lakukan padaku di ruang penyekapan itu. Ah, lupakan saja, sekarang mana ponselku?".


"Ponselmu ada di Kepala keamanan Lee. Aku akan memintanya datang besok pagi. Tapi, untuk yang barusan. Awas ya!". Arran kini mengancam Aleris.


"Apa? Kau mau apa hah?" Aleris tak mau kalah. Ia malah menantang Arran.


"Tunggu sampai kau tiba di Achilles Places, hahahah". Kini giliran Arran yang tertawa puas.


"Hey, kau sudah berjanji ke Kakek kalau kau akan berlaku baik padaku kan?". Ancam Aleris.


"Tentu, aku tak akan melukaimu Nyonya Lyasander. Tapi aku tak bisa memastikan kalau kau akan selamat dari tangan usilku, huahahahaha!". Arran kembali tertawa lebar.


Aleris lalu pergi dari kamar Arran dengan bersungut-sungut. Ia mengepalkan tangannya sambil berjalan cepat. Ekspresinya begitu kesal dan marah.

__ADS_1


"Awas saja Arran, memangnya aku akan diam apa?". Ucap Aleris sambil menutup pintu kamarnya.


Pelataran Diadem Palaces 02 Juni pukul 10:00


"Kau benar akan pulang pagi ini nak? Apa tidak nanti sore saja?". Ucap Kakek.


Kakek begitu berat hati untuk melepas kepergian cucunya ke rumah suaminya. Ia berkali-kali membujuk Aleris agar mau mengundur waktu kepergiannya. Tetapi Aleris harus pergi sekarang, Arran sudah merencanakan jadwal untuk mereka berdua saat tiba di Achilles Palaces nanti.


"Tidak Kek, aku harus pergi sekarang. Aku sungguh berterima kasih atas segala yang telah Kakek berikan dan lakukan padaku. Aku janji akan sering mengunjungi Kakek, Kakek tak usah khawatir ya". Kata Aleris sambil memegang lengan Kakeknya.


"Huft, baiklah. Nak Arran tolong rawat Aleris dengan baik ya. Kakek mempercayakan keselamatan Aleris padamu saat ini".


"Aww, eh, ehm. Baik Kek". Jawab Arran sambil meringis kesakitan. Ia baru saja disikut oleh Aleris. Aleris tertawa kecil di belakang Arran.


"Kami pergi dulu ya Kek".


Mereka berdua akhirnya pergi meninggalkan Kakek bersama Pak Jang dan Bi Ani juga pegawai lainnya. Aleris dan Arran belum sempat berpamitan dengan Rhea, saudara angkatnya Aleris karena ia sudah pergi sejak pagi buta. Entah kemana wanita itu sekarang. Aleris dan Arran kini sudah meninggalkan Diadem Palaces menuju Achilles Places.


Aleris terdiam sepanjang jalan sambil memandangi tempat-tempat yang ia lalui. Arran yang duduk di kursi depan mengintip Aleris dari kaca spion. Ia langsung menyegir tipis.


"Kau pasti ketakutan karena akan segera sampai ke rumahku kan ? Di sana tidak akan ada Kakek yang membelamu, hahahaha". Arran kini menggoda Aleris.


"Jangan macam-macam ya. Kau ingat kan isi Surat kontrak itu?". Aleris kini balik mengancam.


"Tapi disana tidak tertera bahwa aku dilarang menjahilimu kan? Huahaha". Arran kembali tertawa.


Aleris hanya mendengus pelan. Ia kembali memalingkan wajahnya pada jendela mobil yang ada di sampingnya. Sedangkan Arran kembali menatap ke arah depan.


Mereka berdua saling terdiam sepanjang sisa jalan. Sampai sebuah dering telpon memecah kesunyian. Arran lalu mengangkat panggilan telpon yang berasal dari telponnya itu


Tuuut.


Arran menutus panggilan itu. Ia teridam untum beberapa saat. Lalu memutar tubuhnya ke arah Aleris.


"Dengar, orang rumah telah memberi tahu seluruh penghuni Achilles Places tentang pernikahan kita. Jadi mereka kini mengadakan penyambutan untuk kita. Kau tahu kan kau harus apa?" Jelas Arran.


"Ya, aku tahu". Jawab Aleris.


"Aku harap kau tak membuat kesalahan". Ucap Arran.


Aleris memutar bola matanya. Ia begitu kesal dengan pria yang duduk di depannya itu. Betapa menyebalkannya ia bagi Aleris.


Mereka kini tiba di Achilles Palaces, apartment termewah yang pernah di bangun di negeri ini. Aleris begitu takjub melihat tempat itu. Benarkah ia kini akan tinggal di tempat itu. Arran lalu membukakan pintu mobil Aleris. Dengan segera Aleris turun sambil menggandeng lengan Arran. Ia langsung memasang wajah pura-pura bahagianya dan mengatur gestur tubuhnya sesuai dengan yang diajarkan oleh Bi Ani malam kemarin.


Orang-orang menyambut kedatangan mereka di Lobby utama Achilles Palaces. Lobby itu kini sudah dihiasi oleh bunga dan beberapa pita serta ornament lain. Tak lupa karpet merah yang digelar sepanjang pintu lobby sampai lift utama. Aleris dan Arran berjalan memasuki pintu lobby sambil diiringi oleh tepuk tangan dari orang-orang. Tetapi semakin masuk ke dalam Aleris dan Arran malah di sambut oleh desas desus penghuni Achilles Palaces. Seorang wanita paruh baya tengah membisikkan sesuatu ke telinga wanita yang ada di sampingnya.


"Jadi itu Istri dari penghuni griya tawang, cukup cantik juga. Tapi kurasa perutnya belum mencolok. Mungkin tiga atau empat bulan lagi". Desus wanita itu.


Dari arah lain dua wanita yang tengah bertepuk tangan tampak tengah saling berbisik juga.


"Sudah kubilang kalau pria itu pernah meniduri seorang wanita. Kini terbukti kan? Dia bukan gay. Kita tunggu saja beberapa bulan kedepan, pasti ucapanku terbukti". Wanita itu berbicara pada temannya dengan percaya diri.


Aleris begitu tak nyaman mendengar desas desus yang beredar di sekitarnya. Ia lalu melihat ke wajah Arran. Pria itu begitu tenang dan berjalan dengan percaya diri. Aleris tak habis pikir. Berapa banyak stok percaya dirinya itu sehingga ia selalu bersikap percaya diri bahkan saat sendirian di depan cermin. Kini mereka berdua berhenti di depan lift.


"Aku berterima kasih atas penyambutannya. Aku sungguh mengapresiasi hal ini. Benarkan sayang?". Tanya Arran yang kini pura-pura tersenyum pada Aleris.

__ADS_1


"Em, ah, ya benar". Jawab Aleris kikuk.


"Oh, aku hampir lupa untuk memperkenalkan istriku pada kalian. Kalian pasti bertanya-tanya kan? Tentu saja. Aku menghilang selama tiga hari lalu tiba-tiba pulang membawa seorang wanita yang sudah kunikahi. Baiklah, agar kalian tidak bertanya-tanya lagi ku perkenalkan istriku, Nyonya Hera Xavier dari keluarga Lyasander". Ucap Arran sambil mempersilahkan Aleris untuk memperkenalkan dirinya.


"Halo semuanya, senang berkenalan dengan kalian semua. Ku rasa aku tidak perlu lagi memperkenalkan diriku karena suamiku telah melakukannya. Tetapi aku begitu terharu saat mengetahui sambutan dari kalian ini. Ku harap kita bisa berhubungan dengan baik". Ucap Aleris.


Orang-orang kini kembali berbisik.


"Astaga! Aku tidak salah dengar? Wanita itu dari keluarga Lysander. Jangan-jangan dia adalah sang pewaris tunggal itu. Ya Ampun, aku tak menyangka". Seseorang berbicara pada wanita yang ada di sebelahnya.


"Kau benar. Dia dari keluarga Lysander. Maka dari itu kita harus dekat dengannya. Siapa tahu itu menguntungkan bagi kita". Jawab wanita yang ada di sebelahnya.


Aleris lalu kembali ke samping Arran. Arran dan Aleris lalu tersenyum pada orang-orang yang ada di hadapannya. Mereka lalu saling berpandangan. Arran lalu mengangguk tanda ia paham akan maksud Aleris.


"Ah, baiklah. Sudah cukup sambutannya. Kalau begitu kami izin untuk naik ke atas. Istriku sudah tidak sabar untuk memasuki rumah kami, hehe". Ucap Arran.


Arran dan Aleris lalu masuk ke lift ditemani oleh kepala keamanan Lee. Aleris nampak kesal kepada Arran.


"Apa? Aku sudah tak sabar memasuki rumahmu? Menginjaknya saja aku enggan! Kalau buka karena itu, aku sudah pergi jauh dari sini". Kata Aleris sambil mendengus.


"Sudahlah, kau harus menerimanya. Kau akan menghadapi hal seperti itu hampir setiap hari. Jadi nikmatilah". Jawab Arran sambil tersenyum licik.


"Kau tidak dengar apa desas desus dari orang-orang itu? Mereka bilang kita menikah karena kecelakaan! Yang benar saja!". Kini Aleris bertambah marah.


"Aku mendengarnya. Tapi lucu juga jika memang benar". Jawab Arran sambil tersenyum.


"Apa? Kau gila ya!". Kini Aleris melotot pada Arran.


Kini pintu lift terbuka. Aleris dan Arran tiba di griya tawang, tempat tertinggi di Achilles Palaces. Semua orang memimpikan tempat ini, puncak dari puncak nya hunian. Tempat ini bernilai ribuan triliyun dan masuk di nomor lima griya tawang termahal yang pernah ada. Tempat ini dilengkapi dengan keamanan yang super canggih, kaca yang dibuat anti peluru, CCTV di setiap sudut ruangan, alat super sensor dan perabotan rumah yang terkoneksi dengan artificial intelligence. Aleris begitu berdecak kagum saat memasuki griya tawang.


"Dengar, kurasa rencana kita akan semakin mulus jika kau berpura-pura kecelakaan". Arran kini mulai berbicara kembali.


"Apa? Maksudmu aku harus melukai diriku dan berpura-pura kalau aku kecelakaan?". Aleris kini bertanya bingung.


"Dasar lemot, bukan itu maksudku. Begini, kita buat pernikahan ini terjadi karena kita kecelakaan". Jawab Arran.


"Apa? Tidak! Aku tidak mau. Untuk rencana yang satu ini akan begitu merepotkanku. Kau enak hanya tinggal berpura-pura, sedangkan akau? Tidak! Pokoknya tidak!". Aleris dengan tegas menolak rencana Arran.


"Tapi jika bukan karena itu maka mereka akan mulai curiga. Kenapa kita menikah secara tertutup dan tiba-tiba Jika bukan karena itu? Jika kau punya alasan lain maka aku akan terima". Bujuk Arran.


Aleris kini termenung, apa yang dikatakan oleh Arran ada benarnya juga. Tapi ini akan menyulitkan dirinya. Ia juga tidak mempunyai alasan lain.


"Tapi ini akan menyulitkanku. Lagi pula jika rencana kita sudah selesai maka anak yang kita angkat akan dikemanakan? Aku tidak bisa jika harus terus mengurusnya. Aku juga punya kehidupanku sendiri untuk dilanjutkan". Jawab Aleris.


"Aku tidak berencana untuk mengangkat anak. Dia memang keluargaku. Dia anak bibiku".


"Anak bibimu?" Aleris kini bingung.


"Ya, bibiku, adik dari Ayahku. Dia tinggal di griya tawang juga. Kondisinya sangat lemah saat ini. Jika tidak salah sudah masuk empat bulan. Suaminya kini dipenjara untuk lima belas tahun kedepan. Tiga bulan lalu ia dituduh telah membunuh seseorang. Orang-orang di Achilles Palaces tidak mengetahui tentang keberadaan bibiku. Mereka hanya tahu kalau bibiku sedang di rawat di luar negeri. Ayahku sengaja merahasiakan identitas dan keberadaannya. Kau tahu kan jika seluruh keluarga Xavier itu sedang diincar?".


"Tapi belum tentu juga ia mau menyerahkan anaknya pada kita".


"Dia tidak menyerahkan anaknya pada kita. Anak itu akan terus bersama ibunya. Bibi kan juga tinggal di griya tawang. Kau hanya perlu membawa anak itu keluar jika diperlukan".


"Entahlan Arran. Ku rasa ini tidak semudah seperti yang direncanakan".

__ADS_1


Aleris kini kembali termenung. Ia ragu dengan rencana Arran. Aleris merasa bahwa meski hanya pura-pura tetapi menjadi seorang ibu itu tidak mudah. Apa lagi ia harus menyembunyikan fakta bahwa anak yang diasuhnya bukanlah anak kandungnya. Apakah Aleris akan menerima rencana Arran?


__ADS_2