Nikah Kontrak Di Penthouse

Nikah Kontrak Di Penthouse
Menikahlah Denganku


__ADS_3

Higeia Hospital 01 Juni pukul 21:00


Aleris terbaring di ruang rawat inap khusus yang sudah dipesankan oleh sang Kakek. Napasnya kini mulai teratur, namun ia belum kunjung sadarkan diri. Dokter bilang jika sebentar lagi ia akan sadar. Sang Kakek dengan setia menemani Aleris. Berkali-kali ia memperhatikan jam tangannya sambil mondar mandir. Sesekali, ia juga mengecek kondisi Aleris berharap akan melihat tanda-tanda sadarkan diri. Wajah sang Kakek sudah mulai terlihat cemas, apakah cucunya akan segera sadar? Ia baru saja hendak keluar ruangan dan menyuruh dokter untuk mengecek kembali kondisi cucunya sebelum ia menyadari bahwa Aleris kini mulai sadarkan diri. Sang Kakek buru-buru menghampiri cucunya itu. Aleris terlihat membuka matanya perlahan-lahan.


"Kau sudah sadar Nak?". Tanya sang Kakek.


Bola mata Aleris tampak bergerak ke kanan dan ke kiri, sepertinya ia tengah mencoba mengenali kondisi di sekitarnya. Ia berusha untuk bangun perlahan-lahan.


"Jangan dulu bangun Nak, kau masih lemah. Sebentar, aku panggilkan dokter dulu ya untuk mengecek kondisimu". Sang Kakek lalu keluar ruangan meninggalkan Aleris sendirian di ruang itu.


Tak lama pintu ruangan itu terbuka, tetapi bukan sang Kakek ataupun dokter yang datang melainkan Arran, lelaki yang sudah menyekap Aleris. Wajah Aleris yang lemas dan pucat pasi berubah menjadi kaget dan ketakutan. Ia hendak bangun dan mencoba melarikan diri tetapi ia tak memiliki tenaga untuk bangun dan bangkit. Arran semakin mendekati Aleris, wajahnya begitu dingin. Langkahnya begitu cepat, ia seperti menyimpan amarah dalam hatinya.


"Kenapa aku harus berurusan dengan wanita seperti dirimu?". Ucap Arran.


"Kau, kenapa kau ke sini? Apa maumu?". Kata-kata yang keluar dari mulut Aleris terdengar pelan, ia mencoba menggunakan sisa tenaganya untuk menghadapi lekaki yang ada di hadapannya itu.


"Aku juga tak sudi untuk terus berurusan dengan mu tetapi gara-gara surat wasiat sialan ini aku jadi harus terus berurusan denganmu". Arran melemparkan sebuah amplop cokelat kepada Aleris.


"Apa ini ?". Aleris bertanya-tanya.


Ia kemudian membuka amplop itu dan membaca isi dari surat yang ada di dalam amplop itu. Ia kaget dan tak percaya saat mengetahui isi surat itu. Berkali-kali ia membaca kembali surat itu dan wajahnya masih menunjukkan ekspresi yang sama.


"Tidak, belum tentu juga kalau aku cucu dari Kakek Lysander. Bisa jadi ini hanya kesalah pahaman. Belum ada bukti yang jelas yang menunjukkan bahwa aku adalah cucu sahnya Kakek Lysander". Aleris ragu dengan identitasnya sendiri.


"Aku sudah mengecek identitasmu. Aku sudah melakukan tes DNA dan mencocokkannya dengan hasil tes DNA dari mendiang Tuan Eryx putra tunggal Tuan Lysander. Hasilnya cocok. Kau adalah pewaris tunggal dari keluarga Lysander yang hilang dua puluh tahun yang lalu".jelas Arran. Ia menyerahkan amplop lain kepada Aleris yang mana isinya adalah hasil tes DNA-nya.


Aleris tertegun untuk beberapa saat. Ia mengembalikan kembali kedua amplop itu pada Arran. Beberapa hari ini telah begitu banyak mengubah hidupnya. Dari mulai pertemuan yang tak disengaja dengan Arran yang berujung pada penyekapan dan pertemuan dengan Kakek kandungnya. Juga terungkapnya identitas dirinya yang sebenarnya. Di satu sisi ia bahagia karena ternyata ia masih memiliki keluarga dan tak sendirian tetapi di sisi lain ia begitu khawatir dan syok dengan kenyataan bahwa dirinya akan dijodohkan dengan Arran, pria yang ada di hadapannya itu. Aleris tidak bisa menerima perjodohan ini karena ia sudah dilamar oleh Tryan, tetapi perjodohan ini adalah surat wasiat yang ditandangani langsung oleh orang tua Arran dan orang tua kandungnya. Ada sangsi juga apabila surat wasiat itu tidak terpenuhi. Tetapi Aleris tidak begitu mencemaskan sanksinya karena toh dari kemarin ia baik-baik saja meski tanpa warisan dari keluarga kandungnya. Tetapi bagaimana dengan nasib Arran apabila tiba-tiba harus kehilangan seluruh kekayaannya. Tak seharusnya Aleris memikirkan orang lain di saat seperti ini.

__ADS_1


"Dengar, menikahlah denganku. Kau tak usah khawatir aku sudah menyiapkan sebuah rencana". Arran tiba-tiba membujuk Aleris.


"Dan aku juga sudah punya rencana". Tiba-tiba Kakek datang dan menghampiri mereka berdua.


"Kau tak memberi tahuku dahulu bahwa kau akan menemui cucuku Tuan Arran". Ucap sang Kakek.


"Aku merahasiakan kedatanganku Tuan Lyasander. Ini demi kebaikan kita semua". Arran kini berhadapan dengan sang Kakek.


"Ya, ya. Aku tahu. Kau tak usah repot, aku juga sudah menyiapkan rencana untuk kalian. Aku juga belum setuju jika cucuku harus menikah denganmu sekarang, apalagi setelah kejadian penyekapan kemarin. Tetapi apa boleh buat, ada bahaya besar yang mengancam kalian berdua di luar sana. Jika kalian tidak bersiap maka nyawa kalian taruhannya". Jelas sang Kakek.


"Bahaya?". Tanya Aleris. Ia semakin bingung dengan semua ini.


"Iya, bahaya yang sama dengan bahaya yang merenggut nyawa kedua orang tuamu, kedua orang tua dari Tuan Arran dan Tuan Cornelius. Kalian adalah sasaran selanjutnya. Maka dari itu, Ayahnya Arran membuat surat ini. Ia telah menyiapkan rencana untuk keselamatan kalian dan kekayaan dari kedua belah keluarga". Jelas Sang Kakek sambil menatap Aleris dan Arran secara bergantian.


"Maka dari itu menikahlah dengan Tuan Arran untuk sementara". Ucap sang Kakek.


"Menikahlah denganku hingga kita berhasil menangkap dalang dari pembunuhan yang telah menewaskan kedua orang tuamu, kedua orang tuaku dan Tuan Cornelius". Arran ikut menjelaskan.


"Tapi kenapa harus dengan cara menikahimu?". Aleris bertanya lagi.


"Pelakunya mengincar setiap pewaris dari keluarga Lysander dan keluarga Xavier juga orang-orang penting yang terkait dengan keluarga kita. Mereka mengincar harta dari keluarga kita dan keluarga tuan Arran. Jika kalian menikah maka harta dari kedua keluarga akan terpusat menjadi satu dan tidak terpecah belah. Keamanan akan terfokus dan terpusat, juga kita bisa bekerja sama untuk menangkap dalang dari rantai teror panjang ini". Jelas sang Kakek.


"Kita bisa bercerai jika kasus ini sudah berakhir. Aku sudah menyiapkan surat perjanjiannya, kau hanya perlu menandatanganinya setelah pernikahan diselenggarakan". Arran lalu menyodorkan selembar surat pada Aleris. Aleris membacanya perlahan-lahan.


"Bagaimana Nak? Kau bersedia kan untuk menikah dengan Tuan Arran?". tanya Sang Kakek.


Aleris begitu bingung, di satu sisi nyawanya kini dalam bahaya tetapi di sisi lain ia juga tak ingin menghianati Tryan. Ia hanya bisa terdiam. Berjuta pertanyaan membeludak di pikirannya. Padahal beberapa hari yang lalu hidupnya baik-baik saja. Tetapi sekarang semuanya berubah, ia bahkan bingung harus memulainya dari mana.

__ADS_1


"Ya, aku bersedia". Kata-kata itu keluar dari mulut Aleris dengan tersendat-sendat. Ia mengucapkannya dengan setengah hati.


"Baiklah, besok begitu kau keluar dari rumah sakit aku dan Tuan Arran akan menyiapkan pernikahan secara rahasia. Tidak boleh ada yang mengetahuinya kecuali yang berkepentingan. Semuanya harus tertutup dan serahasia mungkin. Kau bisa kan Tuan Arran?". Ucap sang Kakek.


"Tentu, tapi kenapa harus besok?". Tanya Arran.


"Karena pelaku sudah mengetahui bahwa cucuku sudah kembali. Ia sekarang sedang mengincar cucuku. Kalau tidak cepat-cepat pasti akan sangat fatal". Jelas Kakek.


"Ya, aku mengerti". Arran lalu tertegun.


Aleris syok saat mengetahui bahwa dirinya sedang diincar. Ia menatap wajah Kakeknya. Kakeknya lalu memegang lengan Aleris. Entah kenapa perasaanya berubah menjadi tenang setelahnya.


"Kau tak usah khawatir Nak, aku akan selalu di sampingmu. Aku akan selalu melindungimu". Kakek itu menatap Aleris dengan penuh kasih sayang. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca.


"Oh, aku hampir lupa. Namamu yang sebenarnya adalah Hera. Rivera Hera Lyasander. Sebentar, aku masih menyimpan gelangnya. Gelang yang bertuliskan namamu". Kakek lalu merogoh sakunya. Ia mengeluarkan sebuah gelang silver berhiaskan berlian dengan ukiran nama di dalamnya.


"Ini. Gelang ini milikmu. Ibumu berniat memberikannya saat ulang tahunmu yang ke sepuluh. Tetapi saat usia lima tahun kau hilang. Jadi aku masih menyimpannya sampai saat ini. Sekarang sudah saatnya ku kembalikan pada pemiliknya". Kakek lalu memasangkan gelang itu pada lengan Aleris. Gelang itu tampak cantik melingkar di lengan Aleris yang lentik.


Klik.


Suara pintu terbuka. Kepala keamanan Lee tiba-tiba muncul. Wajahnya tampak tegang dan napasnya cepat.


"Tuan, mereka mengetahui keberadaan kalian. Aku takut terjadi hal yang sama dengan Tuan Cornelius pada kalian semua. Kalian harus meninggalkan tempat ini sekarang. Aku sudah menyiapkan kendaraan khusus untuk kalian". Jelas kepala keamanan Lee.


"Sudah kubilang mereka akan memulainya sekarang. Kita semua harus segera bersiap". Ucap sang Kakek.


"Aku akan membopongmu, kau masih belum pulih sepenuhnya". Arran menawarkan bantuan pada Aleris.

__ADS_1


Aleris tampak ragu dan malu, tetapi apa boleh buat, ini kondisi yang genting. Mereka lalu pergi ke luar. Di luar pintu tampak tiga orang yang sudah bersiaga untuk mengawal mereka. Tampaknya mereka membawa sebuah pistol di saku mereka masing-masing. Nampaknya ini kondisi yang genting. Padahal besok adalah hari pernikahan Aleris dan Arran. Akankah mereka berhasil menyelelenggarakan pernikahannya? Akankah mereka selamat kali ini?


__ADS_2