Nikah Kontrak Di Penthouse

Nikah Kontrak Di Penthouse
Hari Ulang Tahun Ku


__ADS_3

Kala itu, Kota tengah diguyur hujan....


Arran tak pernah menginjakkan kakinya di genangan hujan sebelumnya. Bahkan terkena cipratan air hujan pun tak pernah. Tetapi kali ini ia terpaksa harus menembus hujan rintik-rintik demi Aleris. 


 


Pagi itu tepat empat bulan usia pernikahan mereka. Memang bukanlah pernikahan yang diinginkan. Bahkan hanya sekedar nikah diatas kontrak. Tetapi perasaan yang terjalin selama empat bulan itu tak bisa diremehkan.  Misalnya pada pagi hari ini, Aleris terpaksa harus jalan kaki menuju tempat kerjanya karena beberapa orang telah mencurigainya. Ia terlalu sering muncul dan hilang secara misterius. Hingga pada satu hari ia tertangkap basah oleh Chef Arges saat hendak menaiki mobil milik Arran. Jadi, akhirnya ia harus mengubah strateginya. Salah satunya dengan berjalan kaki dari apartment lamanya, agar mereka percaya bahwa Aleris memang tinggal di sana. 


 


Tetapi Arran tak bisa membiarkan Aleris berjalan sendirian. Karena ia telah diberi kepercayan oleh Kakek Lysander untuk menjaga Aleris dan perasaan aneh yang ia rasakan, Arran akhirnya harus mengantar jemput Aleris. Kini, Arran telah berubah banyak. Dulu ia terkenal dengan sifat dingin dan tegasnya. Tetapi kini, Arran perlahan mulai menaruh empati dan perhatian pada orang-orang di sekelilingnya. Aleris telah berhasil menbuat seorang Arran Xavier berubah drastis.


 


Aleris kini menutup payungnya. Arran tiba-tiba langsung mengambil payung itu.


 


"Aku akan membawanya ke mobil. Berjanjilah kau akan menjaga dirimu selama di sini." Kata Arran dengan wajah datar.


 


"Ya." Jawab Aleris sembari merapikan kemejanya.


 


"Aku akan pergi sekarang, sebelum orang lain mengetahui keberadaanku. Aku pamit." Arran lalu berbalik badan.


 


"Sampai jumpa nanti malam." Aleris melambaikan tangannya kepada Arran.


 


 


Usai menunggu Arran pergi, Aleris lalu melangkah menuju Atlanta Hotel. Saat masu ke dalam ruangan, seperti biasa Chef Arges akan mengkritik kedatangannya. Aleris selalu mendapat kritikan yang paling pedas dari Chef Arges. Padahal karyawan lain tidak pernah di kritik oleh Chef Arges.


 


"Kau terlambat satu menit." Ucap Chef Arges ketus. 


 


"Kan Chef bilang jika hari ini ada toleransi waktu 15 menit karena kemarin aku melakukan lembur secara sukarela." Aleris mengingatkan janji Chef Arges padanya.


 


"Banyak sekali alasannya. Cepat, sekarang ke pantry dan siapkan segala keperluan memasak untuk hidangan yang akan kita buat." Chef Arges mengacungkan telunjuknya pada Aleris.


 


"Baik Chef." Jawab Aleris dengan wajah cemberut.


 


 


Siang pun tiba, saatnya istirahat bagi semua Karyawan hotel. Aleris tengah mengantri di parasmanan untuk mengambil makan siangnya. Kemudian ia dikagetkan dengan kemunculan Tryan di kantin. Pria itu datang dengan setelan casual dan membawa bingkisan di tangannya. wajahnya sumringah saat menatap Aleris.


 


 


"Kak Tryan?" Aleris kaget.


 


 


"Al, aku sengaja tidak memberi tahumu teebiy dahulu karena aku ingin membuat kejutan kecil untukmu." 


 


 


"Tak usah repot-repot Kak.." 


 


"Tidak repot kok. Hari ini kan hari ulang tahunmu. Sebelumnya, setiap tahun kita selalu merayakan ulang tahunmu bersama. Apakah tahun ini aku juga masih boleh merayakannya denganmu?" 


 


 


"Emmm..." Aleris tampak sungkan.


 


"Terimalah, aku membawa kue ulang tahun huatanku dan hadiah spesial untukmu." Arran menyodorkan hadiah itu pad Aleris.


 


 


"Maaf kak, aku tidak bisa." Aleris menolak pemberian dari Tryan.


 


 


"Kenapa?" Tryan heran.


 


"Karena kita sudah bukan siapa-siapa lagi. Aku sudah menikah kak. Aku tak bisa lagi menjalin hubungan yang special bersama laki-laki lain. Tolong mengertilah." Aleris terlihat murung.


 


 


"Tapi aku datang ke sini sebagai teman baikmu. Kita masih bisa berteman kan?" 


 


 


"Aku...., Aku..., Aku harus pergi sekarang!" Aleris tiba-tiba pergi begotu saja dari hadapan Tryan.


 


 


Ia berlari menuju wc. Ia menangis sesegukan. Ia tak mampu melihat wajah Tryan yang kecewa saat ditolak mentah-mentah olehnya.  


 

__ADS_1


 


"Maafkan aku kak. Andai aku bisa memilih..." Aleris lalu menghapus air matanya.


 


 


Waktu pun beranjak malam. Kini, tiba saatnya Aleris untuk pulang. Ia terlihat begitu lelah dan lesu. Ia kembali berjalan kaki menuju apartment nya. Ia menghentikan langkahnya saat tiba di rumah mewah yang sering ia lalui saat pulang kerja dulu. Tak disangka jika rumah mewah yang sering ia dambakan saat masih tinggal di apartment nya adalah rumah kedua orang tuanya. Ia mengetahui kebenaran ini dari Arran. Bahwa dulu, ketika masih kecil, Aleris tinggal bersama kedua orang tuanya di rumah mewah ini. Aleris mulai berhayal masa kecilnya yang bahagia waktu itu.


 


 


"Jika waktu boleh ku putar kembali, dan jika takdir boleh ku pilih sesuka hati... Mungkin aku ingin selamanya berada di masa itu. Masa ketika kebahagiaan itu tersemai setiap hari bersama kalian berdua." Aleris kembali menitikan air matanya.


 


Tiba-tiba datang seseorang dari arah belakang yang dengan ceat menutup kedua matanya.


 


"Lepaskan!" Aleris reflek berteriak.


 


"Tenanglah, ini aku. Arran." Arran lalu melepaskan tangannya dari muka Aleris.


 


"Kenapa kau mengagetkanku seperti itu?" Aleris mendumel.


 


"Karena aku ingin memberimu sebuah kejutan." Arran kemudian merogoh saku celananya.


 


 


"Hari ini hari ulang tahunmu. Aku hanya mengingat ulang tahunmu saja. Bahkan ulang tahunku sendiri pun kadang aku lupa. Ku harap kau mau menerimanya. Aku khusus memilihkan dan merancang modelnya untukmu." Arran membuka sebuah kotak perhiasan yang isinya gelang bertabur berlian yang cantik nan elegan. 


 


 


Aleris berkaca-kaca saat melihatnya. Ia diam bagai patung untuk beberapa saat. 


 


"Kau..., Kau sungguh telah berubah." Kata-katanya itu spontan terlontar dari mulut Aleris.


 


"Maksudmu?" Tanya Arran heran.


 


 


"Tidak." Aleris kikuk.


 


"Pakailah. Akan sangat indah bila dipakai olehmu." Arran lalu mengeluarkan gelang itu dan memasangkannya pada lengan Aleris.


 


 


 


"Ya." Jawab Arran sembari menatap lekat wajah Aleris. 


 


 


 


"Kau menyukainya?" Arran bertanya dengan sangat penasaran.


 


 


 


 


"Tentu. Aku sungguh sangat menyukainya." Aleris memandangi gelang itu dwngan rasa penuh kagum.


 


 


 


 


"Ku harap, hal-hal kecil ini mampu menyembuhkan mu dari luka di masa lalumu." Arran lalu memandangi rumah mewah itu dengan tatapan kosong.


 


 


 


 


Aleris melihat ke arah wajah Arran, ia lalu ikut memandangi rumah mewah itu. Ia kembali berkaca-kaca saat teringat kenangan dari rumah itu.


 


 


 


"Arran, benarkah itu?" Tanya Aleris yang kini sembab matanya.


 


 


 


 

__ADS_1


 


"Apa?" 


 


 


 


 


"Benarkah aku begitu bahagia bersama kedua orang tuaku saat itu?" Aleris kini menangis.


 


 


 


 


"Kau adalah gadis yang paling bahagia saat itu." Arran mencoba menegarkan hatinya.


 


 


 


 


Aleris percaya begitu saja dengan perkataan Arran tanpa mencurigai bagaimana Arran bisa mengetahui semua itu? Dari mana ia bisa mengetahui tentang masa lalu Aleris? 


 


 


 


 


Aleris kini kembali menatap wajah Arran dengan haru.


 


 


 


 


 


"Apakah aku begitu dicintai oleh mereka?" Aleris kembali bertanya.


 


 


 


 


 


 


"Kau adalah Tuan puteri mereka. Kau disayangi sepenuhnya oleh mereka." Arran menelan ludahnya. Ia lalu memalingkan wajahnya dari tatapan Aleris. 


 


 


 


 


"Syukurlah, aku lega mendengarnya." Aleris lalu negusap air matanya.


 


 


 


 


 


Tak lama Kepala keamanan Lee datang. Ia langsung menghampiri Arran.


 


 


 


 


 


 


"Mobilnya sudah siap Tuan." Kata Kepala keamanan Lee.


 


 


 


 


 


 


 


"Baguslah, kalau begitu mari kita pulang sekarang." Arran mengajak Aleris.


 


 


 

__ADS_1


Mereka berdua laku berjalan pulang menuju Penth House. 


__ADS_2