Nikah Kontrak Di Penthouse

Nikah Kontrak Di Penthouse
ENDING


__ADS_3

Aleris tengah kebingungan, adiknya Zion tiba-tiba demam tinggi. Semalaman bayi itu menangis dan tak mau minum susu. Akhirnya, pagi itu Aleris membawa Adik Zion ke Poli anak terdekat.


"Tante, Zion hari ini tidak sekolah lagi ya?" Zion yang semalam tidurnya terganggu karena kondisi adiknya kini menyenderkan kepalanya di betis Aleris sambil tiduran selonjor di kursi tunggu.


"Tidak Zion. Tante berencana untuk memindahkan Zion ke sekolah di sekitar sini. Tidak papa kan?" Aleris mengelus rambut Zion dengan lembut.


"Nggak papa kok. Tapi adik akan sembuh kan?" Kini Zion mengeluarkan kehawatirannya yang sebenarnya.


"Tentu Zion. Adik hanya sakit demam, mungkun nanti sore atau besok sudah boleh dibawa pulang." Jawab Aleris.


"Semoga adik cepat sembuh." Ujar Zion.


"Aamiin." Timpal Aleris.


Ketika Aleris dan Zion berjalan untuk membeli makanan, tiba-tiba Aleris berpapasan dengan Tryan. Tetapi Tryan di sini bukan untuk menemui Aleris melainkan menemani seorang wanita yang nampaknya akan diperiksa. Aleris mencoba untuk pura-pura tidak mengenali Tryan, tetapi jalan mereka terlalu dekat sehingga pertemuan tidak bisa dielakan. Tryan yang menyadari keberadaan Aleris kemudian menyapa duluan.


"Al, apa benar ini kau?" Tryan menghentikan langkah Aleris.


"Oh, hai kak. Lama sudah tidak berjumpa." Aleris berpura-pura ramah pada Tryan.


"Yah cukup lama. Setengah tahun kita tidak bertemu. Kau apa kabar?" Tanya Tryan.


"Aku baik-baik saja kak."


"Syukurlah aku senang mendengarnya. Oh ya, perkenalkan ini Wilna, dia istriku. Kami menikah 2 bulan yang lalu. Kebetulan dia suster di rumah sakit ini. aku baru saja mengantarkan makan siang untuknya." Tryan memegang mesra lengan istrinya.


"Oh, ya. Aku ikut bahagia mendengarnya. Selamat ya untuk kalian. Oh ya aku Aleris." Aleris menjabat tangan wanita itu.


"Wilna." Wanita itu tersenyum ramah.


"Ngomong-ngomong ada keperluan apa Al kemari?" Tanya Tryan.


"putriku sedang sakit dan dirawat di rumah sakit ini." Jawab Aleris.


"Benarkah? Aku turut prihatin. Semoga puterimu segera sembuh dan sehat kembali." Tryan memasang wajah sedih.


"Terima kasih atas kepeduliannya. Kalau begitu aku pamit pergi dulu."


"Ya, sampai jumpa."


Alis kemudian berjalan cepat. Sejujurnya aliri sangat patah hati tatkala mengetahui bahwa Tryan telah menikah. Kini ya benar-benar tidak memiliki siapapun. Aran telah mencampakkannya dan kini Tryan juga meninggalkannya. Rasanya saat ini juga laris ingin terbenam sedalam-dalamnya.


"Kring." Handphone Aleris berbunyi. Ya segera membuka layar handphonenya. Kakek menelponnya. Aliran segera mengangkatnya.


"Halo Kek?" Sapa Aleris.


"Halo Nak. Nak, kau tidak ada di apartemen mu? Sedang di mana kau sekarang?" Tanya Kakek.


"Aku sedang di rumah sakit Kek, adik Zion demam tinggi semalam." Jawab Aleris.


"Kau di rumah sakit mana sekarang?"


"Rumah sakit xxxx Kek."


"Baik, Kakek akan ke sana sekarang."


"Tidak perlu Kek. Lagi pula kondisinya sudah membaik. Mungkin sore ini sudah boleh pulang."


"Ada sesuatu hal yang sangat penting yang harus Kakek sampaikan kepadamu."


"Baiklah. Aleris akan tunggu."


"Baik, kakek ke sana sekarang."


"Tuuut." Telepon terhenti.


Dan benar saja tak lama Kakek datang menemui Aleris. Langkahnya begitu cepat, wajahnya sangat serius. Ia buru-buru menghampiri Aleris.

__ADS_1


"Kakek." Aleris kemudian mencium tangan kakek.


"Nak, Arran tengah koma." Wajah Kakek tampak sangat serius.


"...." Aleris tidak menjawab apapun, ia hanya terdiam.


"Ada apa denganmu nak?" Kakek heran melihat reaksi Aleris.


"Arran sudah mengusirku dari kehidupannya. Sekarang itu sudah bukan urusanku lagi." Mata aleris berkaca-kaca.


"Dia tidak benar-benar mengusirmu Nak. Dia terpaksa melakukan hal itu demi menyelamatkan nyawamu dan Rhea."


"Apa maksud Kakek?"


"Waktu itu nyawamu dan nyawa Rhea tengah dalam bahaya besar. Arran akhirnya mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan kalian. Arran harus berpura-pura untuk kembali ke pangkuan Rhea dan mengusirmu agar kalian selamat."


"Mengapa?"


"Panjang ceritanya nak. Tetapi yang jelas, Arran memang benar-benar mencintaimu. Bahkan ketika usia kalian masih kecil. Kau tidak tahu bagaimana bahagianya Arran saat ia mengetahui bahwa aku telah berhasil menemukan mu."


"Benarkah?"


"Sekarang, ikuti Kakek. Kakek ingin menunjukkan sesuatu padamu. Agar kau percaya bahwa Arran memang benar-benar mencintaimu."


"Tapi Zion dan adiknya."


"Biar Bi Ani yang akan mengurus mereka. Nanti kau bisa kembali lagi ke sini."


"Baiklah." Aleris kemudian mengikuti Kakek.


Mereka melaju ke sebuah tempat. Ternyata tak lain dan tak bukan adalah Griya Tawang. Aleris heran saat mengetahui bahwa ia dibawa ke sana.


"Penthouse?" Aleris keheranan.


"Ya Nak, ada satu tempat di atas sana yang Arran simpan rapat-rapat darimu. Sekarang, kau harus melihatnya." Jelas Kakek.


"Gadis kecil dan pria kecil itu?"


"Adalah kau dan Arran." Jawab Kakek.


"Dia..., Pantas saja dia mengetahui semua kenangan masa kecilku bersama kedua orangtuaku waktu aku tanya."


"Karena kalian telah menghabiskan masa kecil bersama-sama. Orang tua kalian adalah sahabat dekat. Bahkan kalian telah dijodohkan sejak kecil. Dan beruntungnya, kalian sudah dekat semenjak kecil. Arran begitu menyayangimu layaknya adik sendiri."


"Prak." Aleris menjatuhkan sebuah foto. Ia merasakan sakit kepala yang teramat sangat. Beberapa kilas bayangan berkelebatan di kepalanya. Memori-memori acak mulai bermunculan. Ia kemudian melihat sebuah kilas kejadian yang menunjukkan dirinya tengah terhimpit di dalam mobil yang terguling. Seorang anak laki-laki terus meneriaki namanya.


"Hera! Hera! Kau di sana?"


Ternyata itu adalah kilas kejadian yang selalu muncul dalam mimpinya. Sekarang ia tahu, anak laki-laki yang selalu ia panggil kakak dalam mimpinya adalah Arran. Kejadian tu adalah kecelakaan yang dialami oleh keluarganya dan kekuarga Arran.


"Nak, kau tidak apa-apa?" Kakek mencoba menolong Aleris.


"Aku baik-baik saja Kek. Aku ingat sekarang. Aku ingat kejadian dua puluh tahun yang lalu. Aku ingat semuanya." Jawab Aleris bersemangat.


"Syukurlah. Kau berhasil mengingat semuanya."


"Bawa aku ke Arran sekarang Kek."


"Dia sedang koma. Entah sampai kapan. Tapi, jika itu yang kau mau. Baiklah." Kakek lalu mengantar Aleris menemui Arran.


Sesampainya di sana, Aleris sangat sedih melihat kondisi Arran yang sudah tak berdaya. Terbaring dengan alat bantu medis yang menempel di seluruh tubuhnya.


"Dia ditembak di bagian kepala. Dokter bilang, jikalau ia sadar maka besar kemungkinan ia akan mengalami kerusakan ingatan." Kakek menyampaikan hal itu dengan berat hati.


"Mengapa? Ketika aku telah mengingatnya, kini Arran yang akan melupakannya. Apakah kami memang tidak bisa bersama?" Aleris kini menangis di hadapan Arran.


"Jangan berkata demikian nak. Dokter mungkin bisa memvonis tetapi Tuhan yang lebih berkuasa dalam menentukan nasib hamba-Nya."

__ADS_1


"..." Aleris hanya bisa meratapi Arran yang terkulai lemas tak berdaya.


Bulan demi bulan berlalu, Arran masih saja tak sadarkan diri. Tetapi Aleris masih setia menunggu dan menjaganya sampai saat ini. Sore itu Aleris bersama Zion dan adiknya datang untuk menjenguk Arran. Hari ini hari libur Zion, mereka menghabiskan waktu sore itu untuk mengajak ngobrol Arran di ruang rawat.


Zion terus berceloteh pada Arran. Tetapi Arran tak menjawab sama sekali. Hati Aleris semakin hancur saat melihat hal itu. Ia hampir berputus asa, akan sampai kapan Arran dalam kondisi seperti ini?


Kemudian keajaiban itu datang, tatkala Zion menggoyangkan lengan Arran saking asiknya bercerita, tiba-tiba, tanpa Zion sadari lengan Arran bergerak pelan. Semakin lama semakin kuat. Zion kaget, ia lalu meberi tahu Aleris mengenai hal itu.


"Tante, Om Ran!" Zion panik.


"Om Ran kenapa?" Aleris yang tengah menggendong adik Zion jadi ikut panik.


"Tangan Om Ran bergerak."


"Benarkah?" Aleris lalu mengeceknya sendiri. Dan benar, Arran mulai menunjukkan tanda-tanda akan kesadaran. Segera, Aleris lalu memanggil dokter.


Dokter lalu memeriksa Arran. Tak lama Arran kembali merespon dengan napas yang cepat dan detak jantung yang ikut meningkat. Kelopak matanya mulai mencoba membuka.


Arran kemudian tersadar. Remang-remang ia mulai menerawang sekitar. Ia masih merasa asing dengan tempat sekeliling. Tetapi saat pandangannya jatuh ke wajah Aleris ia mulai merasa lega.


"Arran?" Tanya Aleris.


"Ya." Jawabnya dingin.


Betapa gembiranya Aleris saat mengetahui bahwa Arran masih mengingat nama dan ternyata Arran juga mengingat semuanya. Ternyata ketakutan yang selama ini Aleris cemaskan sirna. Arran akhirnya sadarkan diri.


****


Pagi itu Arran dan Aleris sangat sibuk. Arran tengah mendandani Zion dengan sangat buru-buru. Sementara Aleris tengah memakaikan baju ke adik Zion yang kini diberi nama Zalinara. Pagi itu mereka tengah berisap untuk acara pemotretan keluarga.


"Arran kau memasang dasinya tak benar." Aleris mengomentari Arran.


"Kau juga memandang bandonya miring." Arran tak mau kalah.


"Kakek kok belum datang ya." Aleris kini tampak cemas.


"Dia akan segera datang. Tenanglah." Jawab Arran.


Benar saja, tak lama Kakek datang ditemani oleh dua orang. Mereka lalu menghampiri Arran dan Aleris.


"Kakek tidak telat kan?" Kakek tersenyum lebar pada Arran dan Aleris.


"Hampir." Jawab Aleris.


"Itu karena Kakek mengobrol terlaku lama dengan Yaresh." Rhea yang ikut bersama Kakek menjawab.


"Itu tidak benar sayang, akulah yang terlalu asik mengobrol dengan Kakek." Yaresh, tunangan Rhea mencoba membela Kakek.


"Berhenti membelanya." Rhea memasang wajah kesal.


"Ah, sudah-sudah. Sekarang karena semuanya sudah siap mari kita mulai saja." Ujar Kakek.


"Baiklah, ayo." Arran mempersilahkan mereka untuk masuk ke studio foto yang telah disiapkan.


"Semuanya tersenyum, satu, dua, tiga." Seorang kameraman kemudian memfoto mereka.


"Cekrek." Sebuah foto keluarga berhasil diabadikan.


Semua anggota keluarga tersenyum lebar. Kebahagiaan meliputi mereka. Setelah sekian banyak badai yang mereka lalui kini saatnya mereka untuk menuai kebahagiaan di hidup mereka.


ENDING ...


mampir ke novel baru outhor


Hijrah Cinta Mafia


__ADS_1


__ADS_2