Nikah Kontrak Di Penthouse

Nikah Kontrak Di Penthouse
Ada yang Mengikuti Kita dari Belakang


__ADS_3

"Arran, aku membawakanmu chocolate mousse kesukaanmu. Semoga setelah ini kau akan mengingat tentang kita lagi." Rhe menyodorkan kotak hadiah berwana merah hati pada Arran.


"Bawa kembali itu ketempat asalmu. Aku tak ingin kau dekat-dekat denganku penipu."


"Apa? Tega sekali kau panggil aku penipu. Padahal kau tahu sendiri kan siapa penipu yang sebenarnya." Rhea tersenyum licik pada Arran.


"Jangan berbelit-belit dan cepat pergi dari sini."


"Aku tidak akan meninggalkan tempat ini tanpamu Arran. Bahkan aku rela berada di sampingmu bersama adikku."


"Jangan gila ya, kau tidak pantas bersanding denganku."


"Begitukah ? Bagaimana dengan janjimu sepuluh tahun yang lalu? Atau aku harus menceritakan semuanya di sini? Jangan-jangan adik juga belum diberitahu soal ini. Kasihan sekali dia, ku harap kau tak menyembunyikan apapun darinya Arran."


"Diam! Sekali lagi kau bicara maka aku akan..."


"Akan apa? Meninggalkanku lagi seperti dulu? Aku tidak takut dengan ancamanmu, toh aku tetap bisa kembali lagi kepadamu kan seperti sekarang ini."


Aleris tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Ia sebenarnya tak peduli tentang hubungan yang terjadi antara Arran dan Rhea. Lagi pula nampaknya Arran sudah tak perduli lagi terhadapnya. Tetapi yang Aleris cemaskan adalah terkait Arran yang menyembunyikan sesuatu darinya. Apa yang Arran sembunyikan dari Aleris?


"Kubilang pergi sekarang!" Arran tampak murka.


"Tunggu dulu Tuan, kita tidak bisa membiarkannya pergi. Dia dan Heaven Club sudah menandatangani kontrak untuk salah satu hunian di apartemen ini. Jika kita mengusirnya maka kita akan tersandung kasus hukum." Jelas Tuan Elson


"Bagaimana bisa kalian membuat kontrak hunian tanpa persetujuan dariku?"


"Anda sudah menandatanganinya Tuan."


"Sejak kapan aku menandatanganinya? Aku tak pernah merasa menandatangani kontrak terkait hunian ini. Tunggu, jangan-jangan...."


Arran kembali teringat saat Tuan Elson menyodorkan sebuah berkas padanya di kantor waktu itu. Cerobohnya Arran ia langsung saja menandatangani berkas itu tanpa mebaca isinya terlebih dahulu. Arran langsung terdiam kaku.


"Anda sudah menandatanganinya. Jadi kami mohon anda mau menerima Nyonya Rhea untuk tinggal di sini."


Aleris merasa cemas dan bingung, jika Rhea tinggal di sini maka ia tidak akan bisa tinggal dengan tenang di sini. Ia melihat Arran yang kini tengah terdiam, bagaimana bisa pria itu menandatangani surat kontrak tanpa ia tahu. Arran benar-benar ceroboh.


"Ah sudahlah. Aku harus membawa barang-barang ku ke atas. Hari ini aku akan sibuk menata rumah baruku. Ku harap aku juga bisa tinggal di griya tawang sepertimu adik." Rhea menenteng kopernya menuju lift.


Arran tidak bisa lagi mencegah Rhea untuk tinggal di sini. Rhea dengan bebas bisa tinggal di sini berdampingan dengan Arran dan Aleris. Arran benar-benar menyesali kecerobohannya.


"Bagaimana sekarang Arran?" Tanya Aleris.


"Aku, aku, ..."


"Kriing." Handphone Arran berbunyi.

__ADS_1


Sebuah panggilan masuk, dari Kakek Lysander. Hati Arran mencelos, bagaimana ia bisa menjelaskan semua yang terjadi pada Kakek. Dengan setengah hati Arran lalu mengangkat panggilan itu.


"Hallo."


"Baik, aku mengerti. Ya." Arran lalu menutup panggilan itu.


"Kakek menyuruh kita untuk datang ke rumahnya malam ini." Arran menerangkan isi panggilan itu pada Aleris.


"Ku harap Kakek bisa memberikan solusi atas apa yang kita alami." Jawab Aleris.


"Em. Kalau begitu aku pergi ke kantor sekarang."


"Ya."


Arran lalu pergi ke kantor, kerumunan yang ada di lobby langsung mengurai. Mereka bubar tanpa harus disuruh. Aleris lalu mengajak Bi Tuti dan Zion untuk kembali ke Griya Tawang. Rencana mereka ternyata tidak berjalan dengan baik. Tapi setidaknya kini Zion bisa bebas keluar tanpa harus merasa takut diincar.


"Tante, Tante kan istrinya Om Ran tapi kenapa wanita itu bilang ia kekasihnya Om Ran?" Celoteh Zion saat di dalam lift.


"Zion dia Kakaknya Tante. Jadi dia juga masih keluarga kita. Mungkin maksud Tante Rhea ia adalah teman Om Ran, makanya Tante Rhea ke sini. Ia ingin menemui teman lamanya." Jelas Aleris.


"Tapi kenapa Om Ran marah-marah pada Tante Rhea? Mereka kan berteman jadi tidak boleh bertengkar, begitu kata Mamah." Ucap Zion dengan wajah polosnya.


"Ahaha, keponakan Tante ternyata sangat pintar sekali ya." Aleris lalu mengusap rambut Zion.


Mereka pun sampai di Griya Tawang, Tante Lira telah menunggu kedatangan mereka.


"Zion." Tante Lira lalu memeluk Zion.


"Bagaimana? Apa semuanya berjalan lancar?" Ucap Tante Lira.


"Anu Nyonya..." Bi Tuti hampir saja memberi tahu Tante Lira soal keributan yang terjadi di bawah. Tetapi berhasil dihentikan oleh Aleris.


"Ah iya, semuanya berjalan dengan lancar Tan, ya kan Zion?" Aleris lalu mengedipkan sebelah matanya pada Zion.


Zion lalu paham apa maksud dari Aleris ia lalu menganggukkan kepalanya pada Ibunya.


"Syukurlah." Tante Lira merasa lega.


"Tante, karena mulai sekarang Zion boleh keluar, hari ini Zion ingin jalan-jalan seharian dengan Tante dan Bi Tuti. Boleh ya?" Zion memasang wajah memelasnya sehingga siapapun yang melihatnya tak mampu berkata tidak pada bocah itu.


"Emmm, baiklah. Boleh Tan?" Aleris meminta persetujuan dari Tante Lira.


Tante Lira lalu menganggukkan kepalanya. Zion langsung melompat kegirangan, setelah bertahun-tahun akhirnya ia bisa keluar. Ia lalu pergi ke kamarnya untuk berganti baju.


"Tapi Anda kan harus kerja hari ini Nyonya." Bi Tuti mengingatkan Aleris.

__ADS_1


"Ya aku tahu Bi, hari ini aku akan mengambil cuti. Lagi pula aku tidak akan dipecat walau aku mengambil cuti selama satu bulan. Hehe."


Tentu saja, karena Aleris adalah pemilik dari tempat kerjanya. Tidak ada yang bisa memecatnya kecuali dirinya sendiri. Aleris lalu menelpon Chef Arges untuk meminta cuti. Tentu ia tidak akan mendapatkan cuti dari Chef Arges tapi siapa peduli. Setidaknya ia sudah bilang pada Chef Arges bahwa ia tidak bisa masuk hari ini.


"Apa? Kau sakit lagi? Baru saja masuk sehari sudah mau bolos? Awas kau Aleris!" Chef Arges berteriak dengan keras sehingga Aleris berusaha menjauhkan telponnya dari telinganya sejauh mungkin.


Aleris buru-buru menutup telponnya. Telinganya sudah sakit mendengar teriakkan dan omelan dari Chef Arges. Ia lalu menghampiri Zion ke kamarnya. Zion tengah disisir rambutnya oleh Tante Lira. Zion begitu berseri-seri sambil bernyanyi saking bahagianya. Aleris lalu mengetuk pintu kamar dan masuk.


"Tante! Aku sudah siap." Zion kini menghampiri Aleris.


"Wah Zion tampan sekali." Puji Aleris.


"Tentu karena Mamah yang mendandani Zion." Ucap Zion sambil memeluk ibunya.


"Aku titip Zion ya. Zion kau jangan nakal, tuturi perintah Tantemu ya." Ucap Tante Lira.


Zion mengangguk cepat.


"Baik Tan. Kalau begitu kami pergi dulu ya." Aleris berpamitan kepada Tante Lira.


Aleris dan Zion lalu pergi meninggalkan Achilles Palace dengan mobil mewah milik Arran. Aleris dan Zion di kawal oleh seorang bodyguard dan seorang supir. Ini sudah menjadi salah satu kesepakatan pernikahan mereka.


"Zion mau kemana?" Tanya Aleris.


"Zion mau ke taman bermain, tapi sebelumnya Zion mau beli es krim yang banyak dulu. Boleh ?" Jawab Zion dengan antusias.


"Tentu boleh." Jawab Aleris.


Mereka berdua lalu turun di salah satu kedai es krim. Zion tak sabar, ia langsung masuk ke kedai itu tanpa menunggu Aleris. Aleris laku berlari kecil untuk menyusul Zion.


Setelah dari kedai es krim mereka lalu berjalan kaki menuji taman bermain. Sepanjang jalan Zion terus bernyanyi sambil menjilati es krim nya. Aleris yang menuntun Zion ikut bernyanyi bersama.


Tiba-tiba Zion berhenti bernyanyi. Aleris tampak heran melihat kelakuan Zion. Zion lalu melanjutkan langkahnya. Tetapi kini ia tak bernyanyi lagi. Ia lalu kembali mengentikan langkahnya.


"Ada apa Zion?" Tanya Aleris.


"Ada yang mengikuti kita dari belakang Tan." Jawab Zion.


"Mungkin itu bodyguard kita." Jelas Aleris.


"Tidak. Bukan bodyguard kita. Ada yang mengikuti kita dari belakang sana." Zion menunjuk salah satu gang sempit di sebelah kanan trotoar.


"Tolong kau periksa." Ucap Aleris pada bodyguardnya.


"Baik Nyonya." Bodyguard itu langsung berlari ke arah tempat yang ditunjuk Zion.

__ADS_1


"Zion tidak sedang bercanda kan?" Aleris kembali memastikan.


"Tidak Tan, Zion berkata benar." Jawab Zion.


__ADS_2