
"Tante tidak menyetujuinya." Ucap Tante Lira.
Ia lalu termenung sejenak, entah apa yang ada dalam pikirannya itu. Arran dan Aleris kecewa saat mendengar pernyataan dari Tante Lira. Terutama Aleris, ia sudah berharap banyak. Zion juga ikut sedih saat mendengar keputusan dari Mamah nya itu.
"Kenapa Tan? Arran rasa semuanya akan baik-baik saja dan ini juga demi kebaikan Zion. Arran harap Tante mempertimbangkannya kembali."
"Tante sebetulnya senang saat mendengar keputusan kalian, tetapi setelah Tante pikir-pikir ini terlalu beresiko. Apakah orang akan percaya pada kalian begitu saja? Coba kalian pikir, dalam waktu dekat kalian akan memiliki anak, tetapi tiba-tiba kalian mengangkat seorang anak? Apakah ini tidak mencurigakan?"
"Kalau begitu begini saja, Zion terpaksa tinggal bersama Bi Tuti karena orang tuanya mencampakkannya. Bi Tuti akhirnya membawa Zion kemari karena Zion tidak memiliki siapa-siapa lagi. Aleris dan aku lalu memutuskan untuk mengizinkannya tinggal di sini dan menyekolahkannya. Bagaimana?".
Arran kini mengubah rencananya. Aleris pun mengangguk tanda bahwa ia juga menyetujui rencana yang satu ini. Tante Lira masih terdiam dan kembali mempertimbangkan rencana yang baru saja dijelaskan. Semua orang kini tengah menunggu keputusan dari Tante Lira. Tante Lira lalu menengok Zion, bocah itu terlihat sangat sedih.
"Zion Apakah kamu benar-benar ingin keluar?" Ucap tante Lira sambil mengusap pipi Zion.
"Iya mah Zion benar-benar ingin melihat dunia luar. Boleh ya Mah?" Muka Zion kini terlihat memelas.
Tante Lila menarik nafas perlahan ia lalu kembali berbicara pada Aleris dan Arran.
"Sejujurnya hatiku masih ragu, tetapi melihat Zion yang begitu menginginkan akan hal ini maka aku harus menyetujuinya." Kembali tante Lira menatap wajah Zion, ia kini tersenyum pada Zion.
Zion pun menjadi senang karena mendengar hal tersebut. Aleris dan Arran menyambut bahagia keputusan dari tantenya itu. Sontak Arran memeluk Aleris karena saking bahagianya. Aleris menjadi malu karena perlakuan Arran barusan.
"Maaf." Arran lalu melepaskan pelukannya.
"Bagaimana Bi?" Arran kini meminta persetujuan dari Bi Tuti.
"Tentu saya bersedia Tuan, Nyonya." Jawab Bi Tuti.
Makan malam itu pun berakhir dengan sebuah harapan baru. Zion begitu terlihat sangat gembira dan tidak sabar menunggu hari esok. Ia ingin segera melihat dunia luar.
Esoknya, pagi-pagi sekali Aran membawa Bi Tuti dan Zion untuk menaiki helikopter pribadinya meninggalkan Griya Tawang. semua ini harus dilakukan secara tertutup agar tidak ada orang yang mengetahuinya. Aleris dan Tante Lira menyaksikan mereka pergi menaiki helikopter. Tante Lira merasa ada yang mengganjal di hatinya saat melihat Zion pergi bersama Arran dan Bi Tuti. Tetapi sebagai seorang Ibu ia juga harus mengesampingkan perasaan pribadinya dan mengutamakan kebahagiaan anaknya. Helikopter itu pun terbang meninggalkan Griya Tawang.
Aleris lalu bersiap untuk melaksanakan rencananya. Ia terus mengamati jam dan berjalan mondar-mandir. Tak lama helikopter itu kembali dan kini hanya membawa Arran seorang. Aleris lalu menyambut kedatangan Arran.
"Bagaimana?" Tanya Aleris. Ia tampak begitu cemas.
"Semuanya berjalan sesuai rencana." Jawab Arran.
__ADS_1
"Syukurlah."
Mereka lalu masuk ke dalam rumah. Seperti pagi sebelumnya Arran akan bersiap untuk pergi ke kantor. Aleris telah menyiapkan semua keperluan Arran untuk pergi ke kantor dari mulai sarapan hingga baju kerjanya. Setelah Arran selesai bersiap, Arran ditemani aleris lalu turun ke bawah. Aran lalu menelpon Bi Tuti untuk segera datang ke Achilles Palace.
Saat pintu lift terbuka Bi Tuti pun masuk bersama Zion. Bi Tuti tampak begitu sedih sambil menggandeng Zion. Zion pun tampak begitu kebingungan. Orang-orang di sekitar lobi memperhatikan kedatangan Bi Tuti dan Zion. Arran dan Aleris lalu mendekati Bi Tuti.
"Tuan, aku benar-benar minta maaf karena telah lancang dengan membawa cucuku ke sini." Bi Tutik ini berlutut di hadapan Arran dan Aleris.
"Apa maksudmu dengan membawa dia ke sini?" Aran memasang wajah dinginnya.
"Arran kita dengarkan saja dulu penjelasan dari Bi Tuti." Ucap Aleris.
"Tuan mohon kasihanilah aku dan cucuku. Anak dan menantuku baru saja mengalami kecelakaan. Mereka kini telah meninggalkan cucuku sendirian. Cucuku kini tidak memiliki siapapun di dunia ini kecuali aku. Aku tak tega meninggalkannya sendirian di rumah jadi aku membawanya kemari."
"Kamu pikir rumahku adalah tempat penampungan? Boleh seenaknya membawa orang asing dari luar untuk tinggal di rumahku hah?" Arran terlihat murka.
"Aran biarkanlah." Bujuk Aleris.
di tengah-tengah drama itu tiba-tiba muncullah kakak dan ibu tiri Arran.
"Heh! Ini bukan urusan kalian! Jadi jangan ikut campur." Ucap Aran dengan marah kepada ibu dan kakak tirinya.
"Tenanglah kami hanya akan menyaksikan saja." Ucapan Rowena.
"Aran tidak baik membuat keributan di pagi hari ini. Lagi pula Bi Tuti sudah bekerja cukup lama di Griya Tawang. Dia sudah seperti keluarga bagi kita. Jadi izinkanlah dia untuk membawa cucunya tinggal bersama kita." Aleris kini mencoba membujuk Arran.
"Tidak bisa Aleris. jika kita membiarkannya membawa cucunya ke rumah kita maka dia akan semakin semena-mena. Hari ini mungkin dia hanya membawa cucunya besoknya lagi mungkin dia akan membawa seluruh keluarganya."
"Tidak Tuan, keluargaku yang tersisa hanya cucuku." Ucap Bi Tuti membela diri.
Kini semakin banyak orang yang menyaksikan perdebatan mereka. Suami istri Kim dan Tuan Elson bersama istrinya serta Profesor Meeran beserta istri dan anaknya juga ikut menyaksikan perdebatan itu. Lobby itu kini penuh dengan orang-orang yang tengah menyaksikan pertontonan drama itu.
"Kau berjanji akan mengikuti semua keinginanku jadi sekarang aku minta kau mengijinkan mereka untuk tinggal di Griya Tawang." Aleris mendesak Arran agar mau menyetujuinya.
"ARRRGGGHHH! Baiklah. Dengar ya, ini karena istriku kau boleh membawa cucumu untuk tinggal bersama kami. Kalau tidak maka aku sudah menolak mentah dari awal." Arran kini luluh dengan bujukan Aleris.
"Terima kasih Tuhan. Terima kasih banyak Nyonya." Bi Tuti kini bertekuk lutut kepada Aleris dan Arran.
__ADS_1
"Tidak. Berdirilah Bi." Ali Rizki nih ikut menekukkan kakinya.
Bi Tuti pun bangkit, iya berkali-kali mengucapkan terima kasih pada Aleris dan Arran.
"Kemarilah Nak." Ucap Aleris.
Anak itu pun mendekati Aleris.
"Siapa namamu?" Tanya Aleris.
Anak itu terlihat malu-malu. Dengan kepala yang tertunduk ia menjawab pertanyaan Aleris.
"Zion." Jawab anak itu.
"Hallo Zion. Aku Aleris dan ini suamiku Arran." Aleris memperkenalkan dirinya kepada anak itu.
"Dan aku pacarnya Arran." Tiba-tiba masuklah seorang wanita sambil menenteng koper dari pintu lobby.
Dia adalah saudara angkat Aleris, Rhea Lydander. semua orang begitu kaget saat melihat kedatangan Rhea. Mereka kaget karena apa yang telah Rhea katakan barusan.
"Bagaimana kabar pernikahan mu dengan pacarku Adik? Apakah kalian bahagia?" Rhea kini berdiri di hadapan Aleris dan Arran.
"Kakak, kenapa kau kemari?" Aleris tampak kebingungan.
"Kau jangan asal bicara Rhea. Aku bukan pacarmu lagi." Ucap Arran.
"Oh, kau sudah melupakan semuanya karena wanita ini?" Rhea kini terlihat marah. Ia menatap tajam muka Arran.
"Baiklah, jika kau sudah lupa akan aku bantu ingatkan kembali. Aku masih punya banyak waktu di sini karena sekarang aku telah pindah ke sini."
"Apa? Kau jangan asal bicara Rhea!" Arran begitu kesak kepada Rhea.
"Aku tidak asal bicara Arran sayang. Benarkan Tuan Elson? Tuan Kim? Profesor Merran?" Rhea kini menatap orang-orang itu.
Tuan Elson, Tuan Kim, dan Profesor Meeran menganggukkan kepalanya.
Suasana ini tambah runyam. Arran kira rencananya akan berjalan lancar. Ia tak mengira jika akan terjadi hal seperti ini. Bagaimana bisa Rhea masuk dan menjadi salah satu penghuni dari Achilles Palace. Arran kini tak bisa mempercayakan kembali perekrutan penghuni apartemen pada Heaven Club. Kemarin Ibu dan Kakak tirinya bisa tinggal di apartemen ini tanpa sepengetahuannya dan kini Rhea juga begitu. Apakah Arran akan membiarkan Rhea tinggal di Apartemen ini? Apakah benar jika Rhea adalah kekasih Arran?
__ADS_1