Nikah Kontrak Di Penthouse

Nikah Kontrak Di Penthouse
Sebuah Tes


__ADS_3

Achilles Places, 02 Juni pukul 13 : 00


Siang itu sebuah mobil mewah keluaran Jerman melesat ke jalan raya meninggalkan hunian mewah Achilles Palaces. Mobil itu sepertinya baru pertama kali menginjakkan jalanan kota ini. Pengendara mobil itu pastilah bukan orang biasa karena mobil ini limited edition. Benar saja, pengendara mobil ini ternyata adalah pemilik hunian mewah itu, juga pemegang saham terbesar sekaligus presiden dari perusahaan Armor Group, Arran Xavier. Statusnya kini sudah tak lajang lagi, seorang wanita dari keluarga terpandang telah dijodohkan dengannya. Hari ini adalah hari pertama wanita itu menginjakkan kakinya di Achilles Palaces. Ia kini dinobatkan sebagai Nyonya pemilik Griya Tawang, Hera Xavier. Semua orang begitu memimpikan kedudukannya saat ini. Bagaimana tidak, menjadi seorang istri dari Presiden Armor Group dan tinggal di griya tawang sekaligus sebagai pewaris tunggal dari keluarga Lyasander membuat semua orang tentu sangat iri padanya. Tetapi ia sendiri malah sebaliknya, ia begitu bingung dengan kondisinya saat ini.


***


Aleris baru saja meneguk segelas air putih yang di berikan oleh Bi Tuti. Ia terlihat tengah memikirkan suatu hal. Tentu saja, setelah semua hal yang ia lewati beberapa hari yang lalu pasti membuatnya begitu mumet. Terutama tentang rencana yang baru saja ia setujui. Keputusannya untuk membuat pernikahan mereka seolah terjadi karena kecelakaan begitu membebaninya saat ini. Banyak hal yang ia pertimbangkan terutama soal dirinya dan calon anak yang akan diangkatnya. Aleris mencemaskan tentang keselamatan dirinya dan calon anak itu jika rencana mereka ternyata tak berjalan lancar. Tetapi nasi sudah menjadi bubur, ia sudah menyetujui rencana itu. Ia juga sudah kehabisan akal untuk menutupi pernikahan kontraknya dengan Arran. Jika tidak demikian, maka orang-orang akan curiga dan bertanya-tanya mengapa ia mau menikah dengan Arran secara sembunyi-sembunyi dan mendadak.


Aleris lalu menghembuskan nafasnya perlahan. Ia meraih ponsel yang ada di sampingnya. Sudah lama ia tidak memegang ponselnya itu. Begitu banyak notifikasi yang masuk. Pesan singkat, panggilan tak terjawab, notifikasi pesanan paket, dll. Ia mulai membereskannya satu persatu. Belum sempat ia membereskan semuanya tiba-tiba Aleris terkejutkan dengan sesuatu yang memutari kakinya. Ternyata itu adalah seekor kucing berwarna putih dengan kalung merah hati yang melingkar di lehernya. Aleris lalu memangku kucing itu.


"Garfield?" Aleris membaca nama kucing itu yang terukir di liontin kalungnya.


"Benarkah pria itu memelihara seekor kucing?" Aleris bertanya pada dirinya sendiri.


"Halo Garfield" aleris kini mengusap kucing itu.


"Hey Garfield, kau mendahului kami ya".


seorang anak laki-laki tiba-tiba muncul dari arah depan diikuti oleh seorang wanita yang duduk di kursi roda. Anak itu kini mengambil Garfield dari pangkuan Aleris.


"Dia begitu gendut kan Tan?" Tanya anak lelaki itu pada Aleris.


Aleris bingung, ia tak mengenali kedua orang yang ada di hadapannya ini.


"Dia belum mengenalimu Zion". Wanita yang duduk di kursi roda itu pun angkat bicara.


"Dia putraku, Zionaver. Kenalkan Aku Elira, Bibi nya Arran kau bisa memanggilku Tante Lira seperti Arran". Wanita itu memperkenalkan dirinya.


"Ah, ya. Arran sudah menceritakan tentang Tante Lira pada saya. Saya al, maksud saya, saya Hera, hehe". Aleris kini menjabat tangan Tante Lira.


"Kau begitu cantik, tak salah Arran memilihmu". Puji Tante Lira.


Wajah Aleris berubah merah padam. Ia tersipu malu.


"Tante, Ini Garfield. Garfield ini Tante Hera. Dia Istrinya Om Ran. Kau senang kan mendengarnya? Sekarang kalo Om Ran sibuk kau akan tetap terawat karena ada Tante Hera. Tolong rawat dia dengan baik ya Tante. Mungkin makannya akan agak banyak, tolong di maklum ya, hehe". Ucap Zion memperkenalkan Garfield pada Aleris.


"Nah Zion kau sudah melihat wajah Tante mu kan ? Sekarang kau boleh kembali ke kamarmu dengan Garfield" ucap Tante Lira menyuruh Zion untuk masuk kamar.


"Ah, mamah! Padahal aku masih ingin mengobrol dengan Tante Hera". Rengek Zion.


"Sudah, sana!" Ucap Tante Lira.


"Padahal tidak kenapa kok. Aku juga senang bisa ngobrol dengan Zion" ucap Aleris.

__ADS_1


"Dia akan terus menanyaimu sepanjang hari" ucap Tante Lira sembari tersenyum.


Aleris ikut tersenyum, ia lalu terdiam untuk beberapa saat. Tante Lira lalu mendekati Aleris. Ia sepertinya akan menyampaikan sesuatu.


"Arran sudah memberitahuku tentang rencana kalian". Ucap Tante Lira mengawali perbincangan.


"Ah, soal rencana itu..... Aku juga belum yakin. Apabila Tante tidak setuju kami bisa membatalkan rencana kami kok, jadi Tante tidak usah khawatir". Jawab Aleris. Ia begitu canggung saat memulai pembicaraan soal rencana itu.


"Jangan dibatalkan. Aku justru senang saat mendengarnya. Sejujurnya aku begitu khawatir dengan nasib anak-anakku. Kau tahu kan kondisiku saat ini tidak memungkinkan untuk terus berada di samping mereka. Aku sangat hawatir jika mereka akan kesepian. Dokter bilang jika aku tak bisa bersama dengan mereka untuk waktu yang lama".


"Jangan berkata seperti itu Tante, aku yakin Tante pasti akan sembuh dan bisa selalu bersama mereka". Ucap Aleris sambil memegang lengan Tante Lira.


"Sejujurnya dokter menyuruhku untuk menggugurkannya, mengingat kondisiku saat ini. Tetapi aku bersikeras untuk tetap mempertahankannya semampuku. Aku yakin ada alasan dibalik semua ini".


Kini kedua mata Aleris berkaca-kaca. Ia begitu terharu saat mendengarkan penjelasan dari Tante Lira.


"Arran, meskipun ia terlihat dingin dan tak peka terhadap orang lain, sebenarnya ia adalah sosok yang begitu perhatian dan penyayang. Ia rela melakukan apapun demi membela keluarganya. Semenjak aku sakit, Arran lah yang menjaga dan merawat Zion. Bahkan ia juga merawatku dengan baik. Ia juga membantu kasus suamiku. Maka dari itu aku yakin ia juga akan mampu merawat anak ini. Apalagi sekarang ditambah dengan kehadiranmu. Aku percaya kau akan menjadi ibu sambung yang baik untuknya dan untuk Zion".


"Tante...." Aleris ingin mengatakan sesuatu tetapi seolah terhenti begitu saja.


"Kau dan Arran adalah orang baik, aku akan sangat bahagia bila mereka bisa tumbuh dan besar dalam perawatan kalian. Aku yakin kalian akan membesarkan anak-anakku dengan tulus dan penuh kasih sayang".


"Tante, kita akan membesarkan mereka bersama-sama. Tante akan bisa melihat mereka tumbuh dewasa. Tante harus yakin". Aleris menatap wajah Tante Lira dengan penuh kesungguhan.


Aleris kemudian melepas pelukan Tante Lira karena ada panggilan masuk ke telponnya. Tertulis nomor tidak di kenal di layar smartphone nya itu. Aleris kemudian mengangkat panggilan itu.


"Ya Halo, dengan siapa ya?". Ucap Aleris.


"Arran?". Aleris terkejut saat mengetahui bahwa panggilan itu berasal dari Arran. Ia lalu agak menjauh dari Tante Lira untuk melanjutkan percakapannya dengan Arran di telpon.


"Dari mana kau dapat nomorku? Ah, itu tidak penting. Kenapa kau memanggilku hah? Ada apa?". Tanya Aleris.


"Apa? Undangan makan malam di rumah kita? Bagaimana aku harus menyiapkannya jika kau hanya memberiku waktu beberapa jam untuk mempersiapkannya.... Oh, baiklah. Ya, ya. Ya aku tahu bawel!"


"Tuut". Aleris menutup telponnya dengan kasar. Ia terlihat emosi saat mengakhiri telpon dari Arran.


"Dasar pria itu! Seenaknya saja main undang orang lain ke rumah ini tanpa persetujuan dariku. Mentang-mentang ini adalah rumahnya!". Gerutu Aleris.


Aleris lalu menghampiri kembali Tante Lira yang tengah terdiam memandang ke arah luar dari jendela.


"Tempat ini begitu menjulang tinggi. Terlalu menyilaukan. Hingga bisa membutakan pandangan orang yang menatapnya terlalu lama". Ucap Tante Lira.


"Maksud Tante?". Aleris tak mengerti dengan ucapan Tante Lira.

__ADS_1


"Ah, bukan apa-apa. Tadi Arran menelponmu ?".


"Iya Tante".


"Ada apa ?".


"Arran mengundang semua penghuni apartment untuk makan malam di sini malam ini. Ia bilang dalam rangka perkenalan diriku pada semua penghuni apartment. Sejujurnya aku kurang setuju, aku hanya takut soal keamanan saja. Tetapi Arran bilang tak apa. Jadi aku menyetujuinya".


"Ya, kalau begitu kau harus bersiap dari sekarang".


"Benar. Pasti akan butuh banyak persiapan. Arran sudah meminta beberapa orang untuk membantu jadi aku tidak akan terlalu repot".


"Syukurlah. Kalau begitu Tante kembali ke kamar Tante ya".


"Aku antar ya Tante".


Aleris lalu mengantarkan Tante Lira ke kamarnya. Kamar Tante Lira ada di lantai dua. Aleris harus menggunakan lift husus untuk sampai ke sana. Saat sampai di kamar Tante Lira, Aleris melihat Zion dan Garfield yang tengah asik bermain.


"Tante!". Sapa Zion, ia lalu memeluk Aleris.


"Zion, kau seharian main di kamar ya? Kau tidak bosan? Kenapa kau tidak main ke luar saja? Di bawah ada taman bermain, banyak anak-anak seusiamu di sana. Begini saja, besok Tante ajak Zion main ke bawah ya, Zion mau?" Tanya Aleris.


"Zion dilarang main ke luar oleh Mamah dan Om Ran". Ucap Zion sambil tertunduk.


"Ah, begitu ya". Aleris tak tega saat melihat wajah Zion yang murung.


"Aku hanya mencemaskan keselamatannya. Semua orang di apartment tidak ada yang mengetahui keberadaan kami di sini. Jadi akan menjadi masalah jika Zion tiba-tiba muncul di hadapan mereka". Jelas Tante Lira.


"Emm, Aku akan mendiskusikan hal itu dengan Arran. Kami akan mencari solusi untuk masalah ini. Aku tak tega melihat Zion terus-terusan main sendiri di kamarnya". Jelas Aleris pada Tante Lira.


"Terima kasih sebelumnya". Jawab Tante Lira.


"Kalau begitu aku turun ke bawah ya Tante. Aku akan melakukan persiapkan untuk makan malam".


"Tunggu". Ucap Tante Lira sambil memegang lengan Aleris.


"Ini. Ambilah". Tante Lira memberikan sesuatu ke lengan Aleris.


"Apa ini Tan....., tes pack? Untuk apa Tante?" Aleris heran saat mengetahui barang pemberian dari Tante Lira.


"Hanya berjaga. Jika di makan malam nanti kau dicurigai gunakan ini. Mereka semua akan bungkam jika melihat hal ini". Jelas Tante Lira.


"Ah, aku mengerti". Ucap Aleris.

__ADS_1


Ia kemudian mengambil tes pack itu dan memasukkannya ke saku bajunya. Aleris lalu kembali turun ke bawah. Ia sudah mulai menyadari bahwa malam ini bukan hanya sekedar makan malam biasa, melainkan akan menjadi tempat interogasi besar-besaran secara terbuka dari para penghuni apartment. Jadi ia harus mempersiapkan dirinya dengan baik.


__ADS_2