Nikah Kontrak Di Penthouse

Nikah Kontrak Di Penthouse
Rengekan Zionaver Xavier


__ADS_3

Arran menutup pintu kamar. Suasana hening seketika. Aleris dan Arran kini saling terdiam. Tetapi rasa gelisah tercermin dari wajah mereka. Arran dan Aleris tengah sama-sama memerangi rasa takut dan cemas mereka. Harusnya malam ini adalah malam yang tenang bagi rumah tangga mereka tetapi hal itu runtuh saat Ibu dan Kakak tirinya datang di apartemen ini. Ibunya juga mengancam akan melakukan sesuatu pada mereka. Arran tak bisa tinggal diam.


Aleris masih menangis sejak kejadian di lobby tadi. Begitulah seorang wanita, perasaannya begitu lembut. Arran tak kuasa melihat Aleris yang masih terisak. Ia lalu duduk di samping Aleris dan mendekapnya. Arran mengusap pipi Aleris dengan lembut kemudian memegang kedua lengannya.


"Hey, kau terlihat jelek jika menangis."


Arran menatap wajah Aleris lalu menyimpulkan seulas senyum yang menawan.


Seketika Aleris pun berhenti menangis. Ia kemudian tertawa kecil.


"Aku... Aku hanya khawatir Arran."


"Kau tak usah khawatir. Selama kau di sampingku kau akan aman."


"Apa yang akan mereka perbuat pada kita Arran?" Aleris kini mulai terlihat gelisah kembali.


"Entahlah. Tapi aku tak akan tinggal diam. Mereka telah berbuat jahat pada Ayahku jadi aku tidak akan membiarkan mereka begitu saja."


"Bagaimana bisa semua orang menyetujui mereka untuk tinggal di sini?"


"Aku juga tak habis pikir. Ingin sekali aku mendepak mereka dari apartemen ini sekarang juga. Tapi apa boleh buat."


"Sekarang kita hanya bisa bersiap untuk segala kemungkinan. Aku harap aku mampu bertahan dan melewati semua ini bersamamu. Kita akan bersama menghadapi semua ini hingga selesai." Kilauan cahaya yang terpancar dari bola mata Aleris menandakan kesungguhan dalam kaliamatnya barusan.


"Benar. Dan jika semuanya telah selesai maka kita pun akan selesai. Kembali seperti sebelumnya. Dua orang manusia yang asing dan tak kenal." Tiba-tiba Arran termenung dengan kata-kata yang barus saja ia ucapkan.


Mereka berdua kemudian saling tatap. Ada sesuatu yang membuat mereka tiba-tiba saling terpaut. Arran menatap wajah Aleris begitu lama. Begitupun dengan Aleris. Aleris merasa aneh dengan perasaannya. Kenapa ia begitu sedih saat mendengar ucapan dari Arran barusan. Padahal seharusnya ia senang karena setelah semuanya selesai ia bisa kembali pada kehidupannya sendiri.


Mereka lalu memalingkan wajahnya ke arah berlawanan. Suasana canggung mulai menghinggapi mereka. Arran mulai dibuat salah tingkah. Ia bilang pada aleris kalau mau pergi mandi tetapi malah berjalan ke luar kamar. Aleris merasa sedikit terhibur dengan tingkah Arran barusan.


"Emm... Aku akan menyiapkan pakaian tidurmu." Aleris lalu bangkit dan berjalan ke ruang wardrobe milik Arran.


Saat Aleris selesai memilihkan setelan tidur untuk Arran tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Aleris lalu membukakan pintu, ternyata itu Zion. Zion yang mengenakan piyama motif dinosaurus masuk ke kamar Aleris diikuti oleh Garfield. Zion mondar-mandir mencari sesuatu.


"Om Ran di mana Tan?" Zion kini berdiri di depan Aleris.


"Dia sedang mandi. Zion mau ketemu Om Ran ya? Tunggu sebentar ya." Ucap Aleris sambil mengusap rambut Zion.


"Oke Tan." Zion lalu duduk di salah satu kursi dekat jendela.


"Zion tadi ngapain aja?" Aleris kini duduk di samping Zion.


"Ya gitu deh. Zion bosen banget. Zion pengen bisa main ke bawah Tan, pasti seru. Tiap hari Zion cuma main sama Garfield. Zion pengen banget bisa main sama anak-anak lain." Zion menumpahkan segala unek-uneknya selama seharian ini.


"Oh ya, Tante tadi kemana? Tadinya Zion mau main sama Tante, tapi Tante ga ada. Kata Bi Tuti Tante keluar."

__ADS_1


"Maaf banget ya Tante gak bisa nemenin kamu main. Tante tadi kerja."


"Kerja? Kerja di mana Tan? Zion boleh ikut gak? Zion pengen nemenin Tante kerja."


"Ahaha, kamu ada-ada saja deh Zion."


Arran telah selesai mandi. Ia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk kimono putih polos. Zion yang melihat Arran langsung menghampirinya. Ia lalu memeluk Arran. Nampaknya Zion begitu sayang pada Arran.


"Om Ran. Zion kangen." Zion lalu melepaskan pelukannya.


"Masa baru sehari sudah kangen?" Arran lalu menyentuh hidung Zion.


"Ih, beneran tahu."


"Eh, Om Ran sudah belikan lego yang waktu itu kamu minta. Tuh ada di atas meja TV. "


"Yeay! Asiiiik!" Zion langsung menyambar lego itu. Ia langsung hanyut dengan mainan barunya itu.


Aleris lalu mendekati Arran. Ia mengikuti Arran ke ruang ganti.


"Hey, kau mau ke mana? Jangan bilang kalau kau mau melihatku mengenakan pakaian?" Wajah Arran berubah merah padam.


"Gak kok. Aku cuma pengen bilang sesuatu ke kamu."


"Oh, apa?" Arran kini salah tingkah.


"Kenapa dengannya? Kulihat ia baik-baik saja."


"Ia tidak baik-baik saja Arran."


"Apa maksudmu?"


"Ia bosan dan jenuh terus menerus dikurung di Griya Tawang. Ia ingin melihat dunia luar."


"Itu hanya sekedar rengekan. Nanti juga biasa lagi. Lagi pula dari kemarin ia baik-baik saja dengan semua ini. Kau tak usah terlalu mencemaskannya."


"Tidak. Itu bukan hanya sekedar rengekan. Arran, pikirkanlah! Jika kau di posisinya, mungkin kau juga akan berkata demikian. Aku tak mau jika masa kecilnya dirampas. Ia harus hidup normal seperti anak lain di luar sana."


"Aku juga menginginkan hal yang sama. Tapi apa boleh buat, ini demi keselamatannya."


"Jika ia menjadi seorang Xavier mungkin begitu, tetapi jika ia menjadi orang lain maka semua akan baik-baik saja."


"Apa maksud dari perkataan mu?"


"Jika kita membawanya keluar sebagai Zionaver Xavier maka keselamatannya akan terancam. Tetapi jika kita membawanya keluar sebagai orang asing maka tidak akan ada bahaya yang mengincarnya."

__ADS_1


Arran menatap wajah Aleris dengan tajam. Ia tak habis pikir dengan rencana istrinya itu. Aleris kemudian tersenyum setengah pada Arran. Ia lalu mengangkat alisnya pertanda bahwa ia tengah menunggu jawaban dari Arran.


"Ku rasa kita perlu meminta persetujuan juga dari ibunya," ucap Arran.


"Tentu saja."


"Kita juga akan butuh bantuan Bi Tuti. Kurasa kita perlu membuat sedikit drama di depan semua orang untuk ini. Sama seperti saat pesta makan malam waktu itu."


"Ya, kau benar. Kalau begitu aku akan memanggil Tante Lira ke ruang makan. Kita akan mendiskusikan rencana kita padanya."


"Ya. Kau boleh keluar sekarang."


Arran lalu menutup pintu. Aleris kembali menghampiri Zion yang tengah asik dengan mainan barunya. Ternyata Zion begitu pandai memainkan lego. Baru saja beberapa menit Aleris dan Arran meninggalkannya kini ia sudah berhasil menyusun lego-lego itu menjadi sebuah bentuk yang utuh.


"Wah, kau hebat sekali dalam memainkan lego Zion." Puji Aleris.


"Makasih Tan. Nih, aku membuatkan karakter lego Tante loh. Mirip Tante gak?" tanya Zion.


"Waw, bagus sekali. Terima kasih Zion. Oh ya, Zion ikut Tante yuk. Kita hampiri Mamah Zion dan membawanya untuk makan malam."


"Yuk." Zion lalu bangkit dan mengikuti Aleris.


Aleris mengetuk pintu kamar Tante Lira. beberapa saat kemudian Tante lira membuka pintu kamarnya. Ia sepertinya habis bangun tidur, seorang suster ikut keluar saat pintu terbuka.


"Hera, kau sudah pulang ya?" Sapa Tante Lira.


"Iya Tante. Yuk kita turun ke bawah untuk makan malam."


"Baiklah, Ayo!" Ucap Tante Lira.


Di ruang makan Arran tengah duduk sambil membaca buku. Ia telah mengenakan pakaian tidur yang Aleris siapkan. Merekapun makan malam dengan suasana hangat. Setelah makan malam selesai Arran lalu mengawali diskusinya.


"Tante, aku dan Aleris hendak meminta persetujuan dari Tante terkait Zion." Ucap Arran.


"Untuk?" wajah Tante Lira berubah kebingungan.


"Tante, kami berencana untuk membawa Zion melihat dunia luar. Tetapi Tante tidak usah khawatir terkait keselamatan Zion. Kami sudah merancang semuanya." Jelas Arran.


"Iya Tante, kami berencana untuk menyekolahkan Zion di TK Olimpic. Kami harap Zion bisa tumbuh seperti anak-anak pada umumnya. Zion juga sangat ingin bisa bermain bersama teman sebayanya. Benarkan Zion?" Ucap Aleris.


Zion lalu menganggukkan kepala.


"Jadi begini Tante....." Arran lalu menjelaskan semua rencananya dengan Aleris pada Tante Lira dan Zion. Di meja makan juga ada Bi Tuti yang mendengarkan rencana mereka. Aleris sengaja menyuruh Bi Tuti untuk mendengarkan rencana mereka karena untuk rencana kali ini mereka butuh Bi Tuti.


"Bagaimana Tan? apakah kau setuju?" tanya Arran.

__ADS_1


Tante Lira terdiam untuk beberapa saat. Ia tengah menimbang-nimbang rencana yang baru saja Arran sampaikan. Zion adalah anak satu-satunya untuk saat ini. Zion begitu berarti bagi hidup Tante Lira. Zion segalanya bagi Tante Lira. Jadi Tante Lira begitu berhati-hati dalam mengambil keputusan untuk anaknya kali ini. Akankah Tante Lira menyetujui rencana Arran dan Aleris?


__ADS_2