
Diadem Palaces 01 Juni pukul 22 : 00
Tiga buah mobil sedan hitam tampak memasuki gerbang Artemis Park. Butuh waktu beberapa menit untuk sampai ke hunian utama karena tempat itu begitu luas. Taman yang mengelilingi hunian utama saja sudah seluas lapangan sepak bola, belum lagi terdapat lapangan golf dan tempat berkuda yang melengkapi hunian mewah itu.
Kini ketiga mobil sedan hitam itu telah memasuki area kolam air mancur. Setiap sudut kolam menyemburkan air dengan disoroti oleh lampu yang berganti warna tiap menit. Air mancur itu terlihat bak menari-nari mengelilingi patung sepasang angsa dengan mahkota di atasnya. Membuat kolam itu terlihat mewah dan romantis di saat yang bersamaan.
Mobil kini terhenti tepat di depan pintu masuk hunian utama. Seorang pria tua yang mengenakan setelan jas hitam dengan dasi kupu-kupu merah ditemani oleh dua wanita yang mengenakan seragam house keeping tampak menyambut kedatangan ketiga mobil itu. Dari mobil paling depan keluar seorang pria yang berjalan ke sisi lain mobil lalu membukakan pintu mobil. Keluar seorang pria tua yang ternyata adalah pemilik dari hunian mewah ini. Dari pintu lain keluar seorang pria tampan dan seorang wanita yang masih mengenakan pakaian pasien rumah sakit.
"Tuan semuanya sudah siap". Pria tua itu memberi tahu pemilik hunian ini.
"Ya baguslah. Bi, tolong bantu cucucku memasuki kamarnya. Kondisinya masih lemah". Kakek menyuruh kedua wanita berseragam house keeping itu untuk menuntun Aleris.
"Terima kasih". Ucap Aleris kepada dua wanita itu.
Mereka berjalan memasuki hunian itu. Ternyata hunian itu memiliki sebuah lobby yang sangat luas. Sofa-sofa yang empuk, tanaman tropis langka, dan lampu kristal besar menghiasi lobi yang luas ini. Ada lift utama yang terletak searah dengan pintu masuk. Mereka berjalan lurus menuju lift utama.
"Selamat atas pernikahan cucumu Tuan". Pria tua itu membuka topik pembicaraan di lift itu.
"Ya, terima kasih Pak Jang". Ucap Kakek.
Mereka akhirnya tiba di lantai dua. Sebuah ruangan luas yang telah di sulap menjadi pelaminan. Kakek sudah menyuruh untuk menghiasnya sesederhana mungkin tetapi nyatanya pelaminan itu tampak mewah. Seseorang telah duduk di meja akad. Seorang pria mengenakan setelan jas hitam dengan dasi putih dan peci hitam. Pria itu menghampiri Kakek.
"Tuan". Ucap pria itu sambil menjabat tangan Kakek.
__ADS_1
"Ini mempelai wanitanya, dan itu mempelai prianya". Kakek memperkenalkan Aleris dan Arran pada penghulu itu.
"Tolong tunggu sebentar ya. Kedua mempelai akan bersiap terlebih dahulu". Ucap sang kakek.
"Baik Tuan". Jawab penghulu.
***
Arran tengah mengenakan jas pengantin prianya dengan dibantu oleh beberapa penata rias. Wajahnya yang sudah tampan dipoles sedikit sehingga terlihat sangat tampan malam ini. Jas pengantin itu membuat Arran tampak gagah dan terlihat seperti pria sejati. Rambutnya sangat klinis dan hitam legam membuat Arran sagat maskulin. Ia kini berdiri di depan cermin dan memandangi penampilannya.
Beberapa kali ia menarik napas, ia terlihat gugup. Ia sudah menghadapi banyak orang penting dan berpengaruh dalam hidupnya tetapi kali ini ia benar-benar dibuat sangat gugup. Arran yang begitu dingin dan sangat percaya diri kini berubah menjadi pria yang gugup da cemas malam ini. Ia melonggarkan ikatan dasinya tetapi tetap saja ia merasa sesak. Tak lama ia mendengar pintu di ketuk perlahan.
"Sudah saatnya Tuan". Seseorang memberi tahu Arran untuk segera pergi ke pelaminan.
Ia menarik napas sekali lagi dan menghembuskannya perlahan-lahan. Ia kemudian berjalan menuju pelaminan ditemani oleh empat orang yang ditunjuk sebagai pendamping pengantin pria. Lantai dua itu kini diisi oleh beberapa orang. Kakek yang duduk di depan penghulu, Kepala keamanan Lee yang duduk di dekat penghulu, Arran menyuruhnya sebagai saksi dari pihak Arran serta kepala keamanan Yosep dan para petugas dari keluarga Lysander yang duduk di kursi tamu. Hanya satu orang yang belum hadir, yaitu mempelai wanitanya, Aleris.
"Anda sudah siap Tuan Arran?". Tanya penghulu itu.
"Ya. Aku siap". Jawab Arran.
"Tuan Lysander, anda sudah siap?". Penghulu kembali bertanya.
"Ya aku siap". Jawab Kakek.
__ADS_1
"Baiklah, mari kita mulai". Ucap penghulu.
"Tuan Arran Anda bisa mengikuti ucapan saya jika anda tidak hapal".
"Tidak, saya sudah hafal". Jawab Arran.
"Baik". Jawab penghulu.
Arran lalu menjabat tangan Kakek dengan tengang. Wajahnya terlihat begitu serius. Ia lalu menarik napas dalam-dalam.
"Saya nikahkan cucu saya Rivera Hera Lyasander binti Eryx Lysander dengan mas kawin dibayar tunai".
"Saya terima nikahnya Rivera Hera Lyasander binti Eryx Lysander dengan mas kawin dibayar tunai".
Arran mengucapkan ijab qabul dengan sekali tarikan napas. Entah kenapa tapi rasanya ada beban yang telah hilang dari hati Arran saat ijab qabul telah berakhir. Ia kini bisa menghembuskan napas dengan lega.
"Bagaimana saksi, sah?" Tanya penghulu kepada saksi dan hadirin.
"Sah". Serentak semua orang mengucapkannya dengan bersamaan.
Dari arah tangga turun seorang wanita yang mengenakan gaun putih satin berjalan perlahan didampingi oleh dua orang pendamping pengantin wanita. Pengantin itu tampak cantik dan elegan di saat yang bersamaan. Pandangan semua orang kini tertuju pada pengantin wanita itu. Ia benar-benar menjelma menjadi ratu malam ini.
Arran memandangi Aleris dengan tak berkedip sekalipun. Ia lalu bangit dari kursinya. Aleris berjalan dengan sangat anggun ke arah Arran. Ia lalu duduk di samping Arran.
__ADS_1
Pernikahan itu berjalan lancar. Sampai tiba-tiba terdengar keributan dari arah lift. Keluar seorang wanita yang terlihat memaksa masuk ke ruang pelaminan. Wanita itu menenteng koper dan mengenakan pakaian musim dingin. Wajahnya terlihat kesal.
"Pernikahan ini tidak sah!". Wanita itu tiba-tiba berteriak dengan kencang. Membuat semua orang yang ada di ruangan itu tampak kaget. Mereka kini menengok ke arah wanita itu. Siapa sebenarnya wanita itu? Dari mana ia berasal?