
"Zion, lebih baik kita lanjut berjalan ya. Tamannya ada di depan sana, ayo!" Aleris mencoba mengalihkan perhatian Zion dari penguntit itu. Aleris tak mau Zion merasa cemas dan mengalami ketakutan. Hari ini Aleris telah berjanji padanya akan membuatnya bahagia. Aleris tak boleh mengecewakan Zion.
"Baiklah, Ayo!" Jawab Zion. Untungnya dengan cepat Zion bisa melupakan penguntit itu. Semoga saja bodyguard suruhan Aleris berhasil menangkap penguntit itu.
Merekapun berjalan menuju taman bermain yang letaknya tak jauh dari tempat mereka saat ini. Saat sampai, Zion begitu antusias dan langsung mencoba berbagai permainan yang ada di taman itu. Aleris tertawa melihat Zion yang bermain dengan riang.
"Tante ayo ke sini! Mari bermain denganku." Zion menaiki jungkat-jungkit dengan bersemangat.
"Baiklah. Tunggu Tante Zion." Aleris menghampiri Zion.
Mereka puas menjajal setiap permainan yang ada di taman bermain itu. Aleris merasa terharu, ia belum pernah melihat Zion segembira ini. Setelah Zion merasa puas bermain Aleris lalu mengajaknya untuk makan es krim yang tadi mereka beli.
Mereka duduk di bangku taman. Sambil menyantap es krim mereka menikmati waktu yang kini sudah menjelang sore.
"Tante, terima kasih ya karena sudah mau menemani Zion bermain. Zion benar-benar senang hari ini." Zion tersenyum lebar pada Aleris.
"Sama-sama Zion." Aleris mengusap kepala Zion.
"Tan, ada satu hal lagi yang ingin Zion lakukan."
"Apa itu?"
"Zion mau bermain petak umpet. Nanti Zion bersembunyi dan Tante akan mencari Zion."
"Petak umpet ya? Baiklah. Ayo!"
Zion dengan bersemangat lalu bersembunyi. Aleris menutup matanya untuk beberapa saat. Ia menghitung sampai hitungan ke sepuluh. Lalu ia mulai mencari Zion saat hitungan usai.
"Saatnya Tante Cari Zion."
Aleris mencari Zion di sudut-sudut taman, di semak-semak bahkan di antara celah permainan. Tapi Zion tak bisa ditemukan. Apakah anak itu begitu pandai bersembunyi hingga Aleris tak bisa menemukannya? Aleris masih terus mencarinya ke sekeliling taman. Aleris mulai cemas karena Zion belum kunjung ditemukan. Tiba-tiba terdengar suara jeritan Zion.
"Tante!" Zion berteriak.
Aleris kini benar-benar cemas. Ia mulai mencari arah suara itu berasal. Dari ujung taman. Aleris lalu berlari ke sana. Dengan panik ia mendekati arah suara itu.
"Zion!" Aleris melihat Zion yang tengah ditahan oleh seseorang dengan jubah hitam.
__ADS_1
"Lepaskan Zion!" Ucap Aleris.
"Akhirnya kita bertemu juga Nona Aleris." Ucap sosok misterius itu.
"Siapa kau sebenarnya? Jangan ganggu Zion!"
"Siapa aku? Itu tidak penting. Aku akan melepaskannya asal kau mau menyerahkan dirimu sekarang juga."
Aleris bingung, harus bagaimana ia sekarang. Jika ia tidak menyerahkan dirinya maka Zion akan dalam bahaya. Tetapi jika ia menyerahkan dirinya maka justru dirinya yang akan dalam bahaya.
"Baiklah." Aleris lalu mulai mendekati orang itu.
Orang itu lalu melepaskan Zion dari cengkramannya. Tetapi kini Alerislah yang ditarik dan dicekal. Kini irang itu mulai mencekik Aleris dengan lengannya.
"Tidaaak! Tanteee!!!" Zion panik melihat Aleris yang dicekik.
"Bruk"
Dari arah belakang seseorang memukul orang misterius itu. Seketika orang misterius itu ambruk dan Aleris berhasil melepaskan diri. Ia langsung berlari ke arah Zion. Saat berbalik ternyata seseorang yang telah menolongnya adalah Arran.
Arran dan sosok misterius itu saling serang satu sama lain. Berkali-kali sosok itu menyerang Arran dengan pukulan yang kuat. Tapi Arran tak menyerah begitu saja. Ia mengerahkan segala tenaganya untuk melawan sosok itu. Sayang sekali, sosok itu berhasil melarikan diri.
"Awas kau!" Arran berteriak pada sosok misterius yang tengah lari itu.
"Kalian tidak apa-apa?" Arran lalu menghampiri Zion dan Aleris.
"Ya kami tidak apa-apa." Jawab Aleris.
"Wajah Om Ran terluka." Zion dengan wajah meringis menunjuk ke arah wajah Arran.
"Tidak usah khawatirkan Om, ini tidak sakit kok." Hibur Arran pada Zion.
"Untung kau datang di waktu yang tepat Arran." Kata Aleris.
"Ya, bodyguard yang menjagamu menelponku. Katanya ia baru mengalami penyerangan oleh sosok misterius yang mengikuti kalian. Ternyata benar. Untung saja aku belum terlambat."
"Aku begitu takut Arran."
__ADS_1
"Tak usah takut, lebih baik kita pulang sekarang."
Mereka bertiga pun pulang ke Achilles Palace. Saat tiba, orang-orang menatap dengan heran kedatangan mereka. Terutama Arran, tentu saja karena kini wajahnya babak belur. Seperti biasa orang-orang mulai menggunjingkan mereka.
Saat tiba di Griya Tawang Tante Lira panik bukan main. Melihat keponakannya yang babak belur, ia mulai merasa cemas dan gelisah. Aleris mulai menjelaskan semuanya secara perlahan-lahan padanya. Tante Lira pun mulai memahami dan menerima apa yang baru saja terjadi.
"Aku makin takut untuk membiarkan Zion kembali keluar." Ucap Tante Lira dengan wajah cemas.
"Tak usah khawatirkan soal itu Tan. Aku akan selalu memastikan bahwa semuanya akan selalu baik-baik saja." Jawab Arran.
"Entahlah, aku tak yakin."
"Kriing." Telpon rumah berbunyi.
Aleris mengangkat telpon itu, ternyata dari Kakek Lysander. Aleris teringat bahwa malam ini ia dan Arran sudah membuat janji temu dengan kakeknya di rumahnya. Tetapi dengan kondisi Arran yang babak belur, apakah mereka masih bisa pergi ke sana?
"Apa? Kalian dibuntuti oleh orang misterius?" Tanya Kakek dalam telpon.
"Iya Kek, tapi Kakek tak usah cemas. Kami semua baik-baik saja. Hanya saja, kurasa malam ini kami tidak bisa bertemu dengan Kakek. Arran..."
"Arran kenapa?" Nada Kakek mulai terdengar panik.
Arran lalu merebut gagang telepon itu dari Aleris. Ia lalu berbicara pada Kakek. Dengan nada yang tampak meyakinkan Arran berbicara pada Kakek.
"Tidak Kek, kami tidak apa-apa. Kami akan ke rumah Kakek malam ini. Sampai nanti Kek."
"Tuuut." Telpon itu pun terputus.
"Kenapa kau berkata begitu pada Kakek?" Tanya Aleris. Ia sedikit takut, jika kakeknya tahu yang sebenarnya.
"Kenapa? Kita kan memang harus ke sana malam ini dan aku juga toh tak kenapa-kenapa." Jawab Arran dengan yakin.
"Tapi wajahmu, Kakek akan bertanya-tanya soal itu. Kita tidak bisa memberitahunya soal penyerangan di taman tadi. Kakek akan begitu khawatir." Ucap Aleris sambil mengigit bibirnya.
"Tapi kita juga tidak boleh menyembunyikan sesuatu dari Kakek. Kita sudah berjanji akan menyelesaikan semua ini bersama." Arran mencoba meyakinkan Aleris dan menenangkan kehawatiran yang tengah Aleris rasakan.
"Tapi...." Hati Aleris tak tenang. Kegelisahan mulai menyelimutinya. Bagaimanapun Kakek adalah kakeknya. Kakek pasti akan sangat khawatir jika mengetahui cucunya hampir dibunuh oleh seseorang yang misterius. Aleris tak bisa membiarkannya. Jika ia dan Arran tetap pergi malam ini tak hanya Kakek yang akan menghawatirkan kondisinya, tetapi keselamatan mereka juga akan dipertaruhkan. Sosok misterius itu berhasil kabur. Dan mungkin kini tengah menunggu mereka untuk muncul dan bersiap kembali menyerang mereka.
__ADS_1