
"dia keracunan sianida". Seorang dokter dengan APD (Alat Pelindung Diri) lengkap melangkah mendekati Arran.
"Untung saja ia tidak meneguknya. Tetapi sianida itu masuk melalui kulit. Telat sedetik saja, tamat!". Ucap dokter itu sambil menaikan kacamatanya yang melorot.
"Siapa yang telah melakukannya? Padahal keamanan sudah ku perketat. Tetapi racun itu tak membahayakan kan donter Van?". Arran lalu maju berhadapan dengan dokter Van.
Dokter Van lalu melepaskan maskernya.
"Tidak. Anda tenang saja Tuan, istri anda akan baik-baik saja". Jawab Dokter Van.
"siapa dalangnya? jangan bilang jika ia adalah pelaku pembunuhan Pak Cornelius?".
Arran berucap pada dirinya sendiri. Ia termenung sambil mengusap dagunya.
Di kamar itu Aleris tengah dirawat oleh suster dan dokter pribadi milik keluarga Xavier. Ia tak sadarkan diri karena racun sianida yang masuk lewat kulit di telapak tangannya. Nampaknya seseorang dengan sengaja meletakan racun sianida di gelas cangkir yang Aleris minum. Untuk saja ia tidak meneguknya. Tetapi karena racun itu mengenai pinggiran gelas dan tersentuh oleh telapak tangan Aleris akhirnya membuat racun itu menyerap ke dalam tubuh. Untung saja ia segera ditangani, apabila telat maka nyawanya tak tertolong.
'Plak'
Kakek menampar Arran secara tiba-tiba. Ia disertai kepala keamanan Yosep masuk ke kamar itu dengan penuh emosi dan siap meluapkannya saat ini juga.
"Sudah kuperingatkan agar kau menjaga cucuku dengan benar Tuan Arran!". Kedua kelopak mata Kakek membelalak memandang Arran. Tangan kirinya meremas kerah baju Arran dan tangan kanannya teracung ke atas.
"Aku terkecoh". Jawab Arran sembari memutar bola matanya. Kedua lengannya menarik lengan kanan Kakek dari kerah bajunya.
"Jika sampai terjadi sesuatu pada cucuku maka aku tak akan tinggal diam kau tahu". Kakek mengancam Arran.
Mereka hampir saja berkelahi. Ketika suster dan dokter selesai menangani Aleris, Kakek dan Arran lalu menghampiri Aleris. Ia tak sadarkan diri. Kakek lalu duduk di sampingnya. Ia meraih lengan Aleris sambil menatapnya dengan wajah penuh sedih. Kakek lalu meitikan air mata.
"Aaaku, aku benar-benar minta maaf". Arran mendekat ke arah Kakek dengan membungkukkan setengah badan.
Kakek hanya terdiam. Ia tak menjawab permintaan maaf dari Arran. Ia masih syok dengan kondisi cucunya.
__ADS_1
Sekarang hampir fajar, semua orang masih terjaga. Mereka menunggu Aleris sdarkan diri. Suster mengecek kembali kondisi Aleris. Suster lalu memberi tahu semua orang bahwa mungkin sebentar lagi Aleris akan bangun. Tak lama Aleris pun mulai sadarkan diri.
Entah kenapa Arran tiba-tiba bangkit dari duduknya dan langsung menghampiri Aleris. Ia lalu duduk di samping Kakek dan hampir menyentuh lengan Aleris, tetapi Kakek lebih dahulu menggapainya.
Aleris membuka kelopak matanya. Ia merasa begitu pusing dan lemas. Ia tak tahu sudah jam berapa sekarang. Ia melihat kakek dan Arran yang sekarang ada di sampingnya.
"Syukurlah kau sudah siuman. Betapa khawatirnya Kakek terhadap kondisimu Nak". Ucap kakek sambil mengelus rambut Aleris.
"Dokter, bagaimana sekarang?". Arran yang duduk lalu berdiri mengahadap dokter.
"Ia hanya perlu beristirahat yang cukup sekarang. Setelah di cek semuanya aman, organ vital dan lainnya aman. Racun itu tak menyebar ke seluruh tubuhnya. Jadi ia masih terselamatkan".
"Baiklah". Jawab Arran.
"Nona pasti mengenali bau sianida itu kan? Makanya anda tidak jadi meneguknya. Setahuku hanya 20 persen manusia yang bisa mengenali aroma sianida. Aromanya seperti 'bitter almond' ". Dokter itu mengajak bicara Aleris.
"Ya, aku mengenalinya. Tetapi aku tak mengira bahwa racunnya juga ada di seluruh permukaan cangkir". Jawab Aleris.
"Kau sudah dapat CCTV nya kan Pak Lee?" Ucap Arran sambil menengok ke arah Pak Lee.
"Berarti kau sudah mengetahui siapa pelakunya?" Kakek ikut bertanya.
"Ya, benar. Dari bukti CCTV seorang pramusaji dengan sarung tangan bedah warna putih mengantarkan cangkir itu ke meja Tuan dan Nyonya. Tetapi aku tidak bisa memastikan bahwa dia pelakunya. Mungkin saja ada orang lain yang menyuruhnya atau membantunya".
"Kau sudah mengamankan orangnya kan?" Tanya Arran.
"Ya, aku membawanya ke White Prison. Kami juga sudah menutup rapat kejadian ini agar tak menyebar luas ke mana-mana". Jelas Kepala keamanan Lee.
"Baguslah". Ucap Arran.
"Kita harus segera menyelidikinya malam ini juga. Kepala keamanan Yosep, kau akan bertugas dengan Kepala keamanan Lee untuk menyelidiki kasus ini. Temukan dalang di balik kejadian ini dan bawa pelakunya ke hadapanku. Aku akan memberi mereka pelajaran karena telah mencelakai cucuku" jelas Kakek.
__ADS_1
"Baik Tuan". Kepala keamanan Yosep dan kepala keamanan Lee pun keluar pintu kamar.
"Aku akan menyusun rencana sekaligus mencari bukti untuk kasus yang sudah terjadi. Aku terpaksa menitipkan cucuku padamu lagi. Tapi kuharap kau benar-benar menjaganya kali ini. Kalau tidak, habislah kau. Kau paham Tuan". Kakek lalu bangkit dari duduknya.
"Baik Kek". Jawab Arran.
Kakek lalu keluar menyusul Kepala keamanan Lee dan kepala keamanan Yosep meninggalkan Aleris dan Arran berduaan di dalam kamar.
"Ceroboh sekali, racunpun kau sentuh? Lucu sekali ya kau ini". Ucap Arran pada Aleris.
"Aku tak mood untuk ribut denganmu saat ini Arran. Kepalaku pusing". Ucap Aleris sambil memijit-mijit dahinya.
"Ngomong-ngomong, apakah semua tamu tahu bahwa aku keracunan?" Tanya Aleris.
"Tidak". Arran menjawabnya dengan singkat.
"Syukurlah. Karena jika ya maka berabe. Aku kan sedang berpura-pura hamil, jadi akan sangat menyulitkan jika mereka tahu".
"Kau jangan senang dulu, siapa tahu yang memberimu teh racun itu adalah salah satu tamu udangan. Aku curiga jika ia tengah mencoba mencelakai kau karena mereka kira kau benar-benar mengandung". Jelas Arran.
"Ya, kau ada benarnya juga. Tapi siapa yang meletakannya ya? Coba ku ingat-ingat".
Aleris melamunkan kembali kejadian di party itu. Arran lalu menatap wajah Aleris lekat-lekat. Ia bersiap sedia untuk mendengarkan pengungkapan pelaku yang telah menaruh racun itu.
"seorang peramu saji mengantarkan secangkir teh padaku dan pada orang-orang yang ada di meja itu. Aku sempat menatap wajahnya karena aku curiga saat ia mengenakan sarung tangan medis. mana ada peramu saji yang mengenakan sarung tangan medis kan?". jelas Aleris.
"kalau hal itu aku juga tahu. Aku justru curiga pada orang-orang yang duduk semeja dengan kita. apakah kau melihat sesuatu yang mencurigakan dari gelagat mereka?".
"Aku lupa. aku akan mencoba mengingatnya kembali".
Aleris kembali melamun. kini kedua matanya terpejam, ia tengah mengingat kejadian di meja party tadi.
__ADS_1
"ya aku ingat!". Aleris berteriak saking semangatnya. Ia lalu menatap Arran sambil mengangguk angguk.
"siapa?". Arran begitu penasaran, ia sampai mencondongkan tubuhnya ke hadapan Aleris agar bisa mendengar dengan jelas ucapan Aleris. wajahnya begitu tegang seolah seperti tengah naik panggung. Semua orang di kamar itu juga memiliki ekspresi yang sama dengan Arran. agak-agaknya siapa pelakunya?