
Malam itu tepat pukul 12. Sesosok manusia berpakaian serba hitam turun dari mobil dengan gerak-gerik yang mencurigakan. Pakaiannya serba tertutup. Sesosok itu ditemani oleh dua penjaga yang kekar juga seorang wanita bersetelan kemeja hitam dengan rambut diikat ketat.
"Bawakan koperku dengan hati-hati." Ucap sosok misterius itu.
"Tenanglah, kau tidak akan kehilangan ini. Kurasa kau terlalu paranoid." Timpal wanita itu dengan sedikit kesal.
"Jika koper itu hilang maka mereka semua akan memangsa kita." Sosok itu kini terlihat marah di depan wanita itu.
"Terserah kau." Mereka berdua lalu berjalan ke sebuah club malam. Tujuan mereka sebenarnya bukan untuk ke sana. Melainkan ke sebuah ruangan rahasia yang ada di balik club itu. Sebuah tempat untuk perkumpulan para sekte misterius.
Sosok misterius itu lalu memasuki ruang perkumpulan dengan kesal.
"Sudah kubilang jangan terlambat. Selalu saja begini! Bagaimana kita bisa menghancurkan lawan jika kita sendiri saja sudah bobrok." Sosok itu kini mulai menyerocos.
"Santailah. Jangan terlalu serius. Kau sudah terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini." Wanita iru kini duduk di sebelah sosok itu.
"Ini semua gara-gara Meeran! Andai dia tak gegabah, pasti aku tak perlu repot-repot begini!" Sosok itu kini meneguk sebuah wine mahal dari Prancis.
Tak lama para anggota kumpulan hadir satu persatu.
"Ketua, rupanya kau sudah datang." Ucap salah satu anggota yang baru datang.
"Cukup basa-basinya. Aku sudah muak."
"Maaf ketua." Anggota itu lalu mundur perlahan.
Perkumpulan belum juga dimulai. Nampaknya sosok misterius yang dipanggil ketua itu tengah menunggu seseorang. Benar saja, tak lama muncul sesosok pria dengan digandeng olwh seorang wanita paruh baya yang mengenakan setelan semi formal.
"Akhirnya kau datang juga. Kukira kau tidak akan datang karena kau merasa sudah tidak butuh kami lagi." Sidir ketua itu.
"Mana mungkin ketua. Aku bukan apa-apa tanpa ketua." Timpal pria yang baru datang itu.
"Duduklah, rapatnya akan segera dimulai." Ketua mempersilahkan duduk pria yang baru datang itu.
"Aku sudah geram dengan semua ini. Kurasa kalian juga begitu. Kegagalan rencana kita sebelumnya menjadi pukulan yang keras bagi rencana kita. Tetapi untungnya, rencana lainnya berhasil berkat Tuan Elson dan istrinya." Ketua lalu bertepuk tangan. Yang lainnya mengikuti.
"Kalian semua tahu, rencana kita sudah dibangun sejak dua puluh tahun yang lalu. Rasanya cukup panjang, tapi bersabarlah. Kita semakin dekat ke tujuan kita. Kita akan sampai pada puncak itu. Kita akan melenyapkan semua keturunan Xavier dan Lysander, hingga tak ada yang bisa mengingat nama itu lagi."
"Lalu, apa langah kita selanjutnya?" Ucap salah satu anggota.
__ADS_1
"Kita akan ke tahap selanjutnya. Melenyapkan istri Xavier." Sang ketua berkata dengan sorot mata yang berapi dan seulas senyum licik.
Semua orang lalu saling tatap. Mereka nampaknya masih bingung.
"Inilah saatnya. Tinggal beberapa langkah lagi maka puncak itu akan menjadi milik kita. Aku sudah menyusun rencana untuk semua ini. Tetapi...."
Semua orang tampak tegang dan penasaran.
"Tetapi akan ada yang dikorbankan."
"Apa?" Semua orang kaget mendengar hal itu.
"Tenanglah. Kita memang akan mengorbankan anggota kita. Tetapi dia bukan salah satu dari yang berkumpul hari ini." Serentak terdengar embusan nafas lega dari semua orang.
"Siapa itu ketua?" Tanya salah satu anggota.
"Keluarga Lysander sendiri."
Semua orang saling tatap tatap muka dan tersenyum puas.
Mereka lalu mendiskusikan rencana mereka. Banyak perdebatan dalam diakusi itu. Tetapi semuanya selesai dan rencana berhasil dibuat saat itu juga.
Mereka begitu puas dan tertawa terbahak-bahak saat membayangkan jika rencana mereka berhasil. Padahal, tanpa mereka ketahui, pertemuan mereka telah berhasil disadap oleh seseorang.
"Semuanya sudah disimpan Tuan." Ucap kepala keamanan Lee.
"Baguslah. Aku akan menemui Kakek sekarang. Memang brengsek mereka semua. Mereka benar-benar musuh dalam selimut." Arran lalu meludh ke bawah. Wajahnya begitu kesal.
Arran laku merogoh sakunya. Ia membuka layar smartphonenya kemudian menghubungi Kakek Lysander.
"Hallo." Ucap Arran.
"Kakek, aku harus menemuimu sekarang. Aku berhasil memperoleh telur emas itu. Aku akan ke sana sekarang." Yang dimaksud telur emas itu adalah informasi pertemuan itu.
"Baik."
"Tuut." Telpon lalu terputus.
"Tuan Lee, ayo berangkat sekarang." Arran lalu memberikan laptop itu kepada kepala keamanan Lee. Dengan hati-hati kepala keamanan Lee membawa laptop berisi informasi penting itu.
__ADS_1
Mereka kemudian melesat menuju kediaman Kakek Lysander. Sesampainya di sana, Arran langsung disambut oleh Kakek. Mereka berdua lalu berjalan menuju ruang pribadi Kakek Lysander.
Tetapi di tengah jalan, mereka dihadang oleh Rhea. Entah kenapa, wanita itu selalu muncul dimanapun Arran berada.
"Arran? Kau mau apa ke sini? Ah, pasti kau mau menemui ku." Goda Rhea.
"Rhea, ini bukan saatnya untuk kegatelan. Aku tengah buru-buru." Ucap Arran dengan kesal.
"Buru-buru? Memangnya ada apa?" Rhea menatap Arran dengan curiga.
"Rhea, kumohon! Menjauhlah! Aku tak mau berdekatan denganmu!" Arran tiba-tiba membentak Rhea.
"Arran..." Rhea kaget saat dibentak oleh Arran.
"Tega sekali kau...." Rhea tampak sedih, ia laku berlari menjauhi Arran.
"Maaf Kek, aku tak bermaksud menyakiti cucumu." Arran merasa tak enak.
"Ah, sudahlah. Kita sedang dalam keadaan genting. Ayo cepat!" Kakek dan Arran lalu berjalan cepat menuju ruang pribadi Kakek.
Mereka akhirnya sampai di ruang pribadi Kakek. Kakek lalu mengunci rapat pintu ruangan. Padahal tidak akan ada siapa-siapa yang bisa memasuki ruangan ini. Bagaimana bisa, ruangan ini berada di 10 meter di bawah permukaan tanah. Bekum lagi akses untuk masuk ke ruangan ini saja sagat sulit. Perlu pengenal beruba sandi dan sidik jari di setiap pintu masuk. Ruangan ini memiliki keamanan yang berlapis.
"Jadi, bagaimana hasilnya?" Kakek memulai percakapan mereka.
"Buruk sekali. Aleris benar-benar dalam bahaya. Tetapi untuk waktu sekarang, Rhea juga dalam bahaya." Jelas Arran.
"Rhea? Bagaimana mungkin? Bukankah dia juga termasuk dalam perkumpulan sialan itu?" Kakek terlihat kaget dan syok saat mendengar penjelasan dari Arran.
"Mereka ternyata hanya memanfaatkan Rhea."
"Apa?"
"Mereka akan mengorbankan Rhea."
"Dasar bodoh! Aku sudah melarangnya untuk tidak berbuat macam-macam. Sekarang, lihatlah akibatnya!" Kakek kini menangis.
"Meski dia bukan cucu kandung ku. Tetapi dia tetaplah cucuku. Aku menyayanginya sama seperti aku menyayangi Aleris. Tapi dia tdiak pernah menyadari hal itu. Dia diliputi oleh rasa benci dan cemburu terhadap saudaranya. Sekarang, dia harus menanggung akibat dari perbuatannya!" Kakek mengusap air matanya.
"Tenanglah Kek, ini masih belum terlambat." Arran mencoba menenangkan Kakek.
__ADS_1
"Bagaimana caranya?"
"...."