
"Dia mengalami kelainan di paru-parunya. Kondisinya masih terlalu kecil untuk dioperasi." Kata dokter itu dengan nada kecewa.
Betapa hancur hati Aleris mendengar ucapan dari sang dokter. Ia tak menyangka jika hal ini akan terjadi. Rasanya baru kemarin ia berkenalan dengan Tante Lira dan Zion. Sekarang Tante Lira sudah meninggalkannya. Bayinya juga dalam kondisi kritis. Aleris merasa terguncang dengan hal itu.
Arran kemudian memanggil semua dokter ternama kenalannya. Tetapi itu tak mempengaruhi apapun. Tante Lira memang sudah tak bisa diselamatkan. Dan kondis bayinya juga tak memungkinkan untuk dilakukan operasi. Baru kali ini Aleris melihat Arran menitikkan air mata. Mungkin ini menjadi pukulan yang berat bagi Arran. Tante Lira adalah keluarga satu-satunya yang ia miliki. Kini Tante Lira juga pergi meninggalkannya.
Aleris mencoba untuk sedikit menghibur Arran, meaki hatinya juga sama-sama merasa kehilangan. Namun, tak ada yang bisa menghibur hati Arran. Ia masih meratapi Jenazah Tante Lira.
"Arran, mungkin ini saatnya Tante Lira untuk beristirahat panjang. Ia tidak akan merasa kesakitan lagi. Ia kini akan beristirahat dengan tenang di sisi Tuhan. Tabahkanlah hatimu." Kata Aleris.
"Dia adalah ibu kedua ku. Sejak remaja, aku sudah tinggal bersamanya. Dia mengurusiku bagaikan anaknya sendiri. Dia adalah tempat pulangku, rumahku, tatkala rumah ku yang sebenarnya telah hilang." Ucap Arran dengan berat.
"Aku tahu, ini pasti sangat berat bagimu. Tetapi, kita harus menerimanya. Ini sudah mejadi suratan takdir. Semoga Tante Lira mendapatkan peristirahatan yang terbaik di sisi-Nya."
"...." Arran tidak berkata apapun. Ia kini mengelus halus pipi tantenya yang sudah berubah sangat pucat. Ini kali terakhir Arran bisa melihat wajahnya.
"Arran, apa kita harus memberi tahu Zion? Aku rasa Zion juga berhak untuk melihat wajah ibunya untuk yang terakhir kalinya." Tanya Aleris.
"Ya, kau benar. Kita harus membawanya kemari." Arran kemudian bangkit. Ia dan Aleris lalu turun ke lantai satu.
Aleris melihat Zion tengah asyik bermain dengan Garfield. Seketika air mata Aleris langsung mengalir deras. Bocah itu belum tahu jika ibunya sudah pergi untuk selamanya. Bagaimana jika ia tahu, bagaimana harus menjelaskan semua ini padanya? Aleris tak bisa menghancurkan senyuman dan tawa yang terpancar dari wajahnya tatkala mendengar berita kepergian ibunya.
Mereka dengan berat hati kemudian menghampiri Zion. Wajah Zion masih ceria. Ia begitu bersemangat ketika menghampiri Aleris dan Arran.
"Om Ran, Tante. Bagaimana kondisi Mama ? Dia sudah sembuh kan?" Tanya Zion bersemangat.
"Zion, dengarkan Om Ran. Zion sekarang sudah besar kan?" Arran mencoba menahan air mata yang hampir keluar dari pelupuk matanya.
"Iya dong. Zion kan sudah sekolah." Jawab Zion Polos.
__ADS_1
"Zion, karena Zion sudah besar, Zion sudah bisa segalanya. Zion sudah mandiri. Tidak merepotkan siapapun. Termasuk Mamah Zion. Mamah Zion ingin beristirahat yang lama, Tuhan lebih menyayangi Mamah Zion. Jadi Zion tidak apa kan jika mamah Zion ingin beristirahat dan menenemui Tuhan?" Arran kini tak kuasa membendung tangisnya.
Benar saja wajah Zion langsung berubah sedih. Tak tersisa sedikitpun keceriaan di wajahnya.
"Mamah? Mamah mana Om? Mamah? Mamaaah! Jangan pergi! Jangan tinggalkan Zion! Mamah!" Zion berteriak sambil menangis. Ia berlari kesana-kemari mencari Ibunya.
"Zion, tenanglah. Dengarkan Tante. Zion kan sudah berjanji pada Mamah Zion, bahwa Zion akan menjadi anak baik. Zion akan menjadi anak yang mandiri. Zion ingat?" Aleris kini merangkul Zion.
"Tapi... Zion ingin bersma Mama terus." Rengek Zion sambil menangis.
"Zion, Mamah Zion ingin beristirahat. Jadi biarkan dia beristirahat dengan tenang. Zion harus ikhlas ya. Zion kan juga masih punya Tante dan Om Ran. Kami tidak akan meninggalkan Zion." Aleris mengusap pundak Zion.
"Tapi Zion ingin bersama Mama." Zion masih menangis. Wajar jika bocah itu terus menangis. Hati anak mana yang tidak patah saat mengetahui bahwa ibunya telah pergi meninggalkannya untuk selamanya.
"Zion, apa Zion ingin menemui Mamah untuk yang terakhir kalinya?" Tanya Aleris.
"Baiklah. Ayo." Mereka pun kembali naik ke lantai atas.
Saat sampai, Zion langsung memeluk tubuh ibunya yang tertutupi oleh kain putih. Wajahnya dibiarkan terbuka agar Zion masih bisa melihat wajahnya ibunya untuk yang terkahir kalinya.
"Mamaaaa." Teriak Zion sambil sesenggukan.
"Mamah, bangun Mah! Ini Zion! Mah! Bangun, ayo kita main lagi." Zion mencoba membangunkan ibunya yang sudah tiada.
"Zion, tenanglah. Ibumu sudah tidur untuk selamanya. Jadi, biarkan dia tidur dengan tenang ya." Aleris mencoba menenangkan Zion.
"Mamah." Zion terus menangis.
Usai dimandikan dan dikafani, Tante Lira kemudian dimakamkan secara tertutup di taman pemakaman pribadi milik keluarga Xavier. Pemakaman sangat tertutup, sengaja agar tidak ada siapapun yang mengetahuinya.
__ADS_1
Dalam pemakaman itu, hanya dihadiri oleh Arran sebagai keluarga satu-satunya, Aleris, Zion, dan Kakek Lysander yang diundang khusus oleh Arran. Arran turun langsung untuk menguburkan jenazah. Ia melantunkan azan kepada jenazah kemudian menutupnya dengan tanah perlahan. Derai air mata terus mengiringi proses penguburan. Terutama Zion dan Aleris. Lebih-lebih Zion, bocah itu terus meneriakkan kata "Mamah" aambil terisak-isak.
Usai kuburan sudah tertutup rapi, mereka pun berdoa dengan dipimpin oleh Kakek. Setelah semua proses selesai. Satu-persatu orang mulai meninggalkan tempat itu.
"Nak, yang tabah ya. Semoga Tuhan memberikan kesabaran dan keikhlasan kepada kalian. Kakek pulang dulu ya." Ucap Kakek kepada Arran dan Aleris.
"Iya Kek, hati-hati di jalan." Jawab Aleris.
Kakek lalu beranjak pergi. Sekarang, hanya tinggal Arran, Zion, dan Aleris yang masih di sini. Aleris kemudian memutuskan untuk pulang, mengingat hari sudah sangat sore. Sulit sekali untuk mengajak Zion pulang. Ia bersikeras untuk tetap menemani ibunya di sini.
"Tidak mau, Zion mau sama Mamah. Kasian Mama, dia sendirian di sini." Kata Zion dengan sesegukan.
"Zion, Mamah Zion tidak sendirian. Apa Zion tidak tahu jika di bawah sana ada dua malaikat yang menjaga Mama Zion. Ada amal baik juga yang akan menemani dan menerangi tempat Mama Zion di bawah sana. Jika Zion ingin Mamah Zion tidak sendirian dan terus bahagia di bawah sana. Zion harua jadi anak yang sholeh. Doakan terus Mamah Zion selapas sholat dan jbadah lainnya. Zion mau?" Jelas Aleris.
"...." Zion hanya terdiam sambil menangis.
"Yasudah, sekarang kita pulang ya." Aleris kembali membujuk Zion untuk pulang.
Akhirnya Zion mau diajak pulang.
Tetapi Arran masih di sana. Arran beridam cukup lama di sana. Aleris membiarkannya. Aleris tahu, Arran begitu menyayangi tantenya layaknya ibunya sendiri. Maka dari itu, kepergian tantenya adalah pukulan yang mendalam bagi Arran. Aleris kemudian pulang tanpa Arran.
Usai semua orang pergi, Arran akhirnya menumpahkan semua kesedihannya di depan makam Tantenya. Ia mencoba untuk tidak menangis tetapi sulit rasanya. Dadanya begitu sesak dan jiwanya terguncang hebat.
"Tante, kau sudah janji akan bertahan hingga akhir." Kata Arran di depan pemakaman Tante Lira.
"Maafkan aku yang telah gagal dalam menjagamu." Arran kini menitikkan air mata.
"Aku berjanji akan menemukan dalang dibalik kematianmu." Kata Arran dengan tegas.
__ADS_1