Nikah Kontrak Di Penthouse

Nikah Kontrak Di Penthouse
Kisah dari Keluarga Elson


__ADS_3

Malam itu, usai pemakaman Abigail, Leonard pergi mengunci dirinya di kamar sendirian. Sekujur tubuhnya kini disesaki oleh rasa bersalah yang akan abadi selamanya. Kepergian Abigail adalah kesalahan yang tak akan pernah termaafkan dalam hidupnya. Gadis itu adalah belahan jiwanya. Separuh hatinya telah ikut pergi bersama kepergiannya.


Leonard hanya bisa mengutuk dirinya sendiri. Juga menyalahkan dirinya atas semua hal yang telah terjadi pada kekasihnya itu. Andaikan waktu itu ia tak menjauhi Abigail setelah malam itu, mungkin saat ini gadis itu akan masih di sini. Tetapi Leonard begitu pecundang, ia merasa jijik atas dirinya sendiri setelah merusak mahkota gadis cantik itu. Meski mereka melakukannya atas dasar cinta dan ditutup oleh hawa nafsu, tetapi hati nuraninya tetaplah berbicara. Leonard mengutuk dirinya dan membenci perbuatannya. Ia merasa bersalah dan bahkan berfikir bahwa kesalahannya tidak akan termaafkan.


Tetapi ia baru sadar, ia terlalu bodoh hingga ia melupakan Abigail sendiri. Gadis itu sendirian, begitu kesepian tanpa Leonard. Ia mungkin menjadi gila karena dikucilkan. Hingga ia berfikir bahwa kematian adalah cara satu-satunya untuk menyelesaikan semua ini. Andai saja malam itu Leonard mampu mengontrol dirinya, mungkin semua tidak akan berakhir seperti ini. Andai saja video itu tidak menyebar luas, andai saja....


Leonard hanya bisa menyesalinya.


Ia kemudian beranjak dari kasurnya setelah mendengar panggilan dari ibunya. Leonard tak bisa membantah apapun perintah dari orang tuanya. Leonard adalah bocah laki-laki di bawah kendali kedua orang tuanya.


"Leonard! Buka pintunya!" Teriak Nyonya Elson.


Leonard lalu membuka pintu dengan enggan.


"Kau masih menangisi gadis murahan itu?" Tanya Nyonya Elson dengan ketus.


"Berhenti bilang Abigail gadis murahan! Dia kekasihku!" Leonard tampak kesal dan berapi-api.


"Plak" nyonya Elson menampar pipi anak semata wayangnya.


"Sekali lagi kau sebut gadis itu sebagai kekasihmu maka akan aku keluarkan kau dari rumah ini. Kau akan tahu betapa sulitnya hidup tanpa kedua orang tua mu."


"Aku tidak peduli! Kalau perlu, bawa aku juga untuk ikut dengan Abigail. Setidaknya kami tidak terpisah lagi!" Leonard kini menangis.


"Beraninya kau melawan orang tuamu. Kau bahkan masih menangis! Jangan sok-sokan mau menentang kami."


"Aku muak dengan kalian semua!"


"Bruk" Leonard menutup pintu dengan sangat keras.

__ADS_1


Mendengar keributan tersebut, Tuan Elson kemudian menghampiri istrinya.


"Ada apa lagi dengan bocah itu?" Tanya Tuan Elson.


"Dia sudah tidak waras! Gadis itu sudah benar-benar meracuni pikiran anak kita. Walau sudah meninggal pun anak kita masih saja memikirkannya." Nyonya Elson tampak kesal.


"Biarkan saja."


"Biarkan saja? Dia bilang rela mati agar bisa bersama lagi dengan gadis sialan itu!" Nyonya Elson menaikkan nada suaranya.


"Mana mungkin dia berani. Membunuh seekor semut pun dia tak bisa. Dia sedang dalam kesedihan. Kekasihnya, maksudku gadis sialan itu kan baru saja pergi, jadi mungkin dia masih terpukul. Tapi perlahan, dia akan segera melupakan gadis itu. Kau tidak usah khawatir."


"...."


"Lagi pula, kau harusnya senang, rencana kita untuk menyingkirkan kutu sialan itu dari sekte kita telah berhasil." Tuan Elson kini tersenyum licik.


"Ya, kau benar juga."


"Baguslah. Aku sudah muak untuk terus berpura-pura baik pada istrinya. Wajahku pegal saat harus terus memasang senyum palsu padanya."


"Aku sebenarnya masih membuka kesempatan untuknya jika ia berhasil melakukan rencana kode merah waktu itu. Tetapi ia gagalkan. Memang benar-benar tak becus dan yak berguna! Rugi betul aku terus menahannya di sampingku."


"Benar, apalagi kita dimarahi dan dipermalukan besar-besaran oleh kepala di pertemuan sebelumnya karena menggagalkan rencana penting itu. Padahal itu bukan kesalahan kita."


"Andai saja pria sialan itu tidak menggunakan trik racun murahan itu, pasti kita akan berhasil."


"Ku kira dia akan membuat rencana yang bagus, seperti rencana-rencana sebelumnya. Tetapi aku sudah salah duga."


"Dia membuat kita dipermalukan. Tapi untunglah, Rencana Hitam kali ini kita yang meng-handle. Makanya berhasil."

__ADS_1


"Jangan bicarakan itu di sini."


"Tentu sayang. Lagi pula malam ini akan ada pertemuan. Di gedung xxxx. Pasti Kepala akan memabahas soal keberhasilan rencana ini. Siap-siap saja, kita akan dipuji habis-habisan. Di depan semua orang." Tuan Elson tampak kegirangan.


"Ya, semoga saja." Nyonya Elson tampak masih murung.


"Apa lagi?"


"Rencana kita memang berhasil, tapi apakah kau yakin anak kita akan baik-baik saja? Kau harus ingat! Dia anak kita satu-satunya. Jika sesuatu terjadi padanya, maka aku akan menyerangmu terlebih dahulu."


"Tenanglah, dia akan baik-baik saja. Ku rasa kau terlalu mencemaskannya, lagi pula dia kan sudah besar. Masa meng handle diri sendiri saja belum bisa? Mau sampai kapan dia akan terus bergantung pada kita?"


"Aku rela jika dia terus bergantung pada kita. Kau lupa ya? Aku juga masih bergantung pada Ayah ku. Seluruh kekayaan kita adalah milik ayah ku yang diwariskan padaku. Tanpanya, kau tidak akan bisa memiliki saham terbesar di Armor Group. Walau masih nomor dua."


"Ya, aku tahu itu. Kau tak perlu terus menerus mengingatkannya."


"Supaya kau sadar. Bahwa rencana kita juga tujuannya untuk keberhasilan keluarga kita. Jadi bagaima bisa aku mengesampingkan keselamatan anakku demi kelancaran rencana kita?"


Aku tidak bermaksud untuk mengesampingkannya sayang." Tuan Elson kini memegang pundak Nyonya Elson.


"Jangan mencoba untuk menghiburku." Nyonya Elson melepaskan lengan suaminya dari pundaknya.


"Santai sayang. Keluarga kita akan berhasil. Kita akan menjadi pemilik Achilles Palace dan tinggal di Griya Tawang. Semua orang akan segan pada kita. Tapi, setelah kita berhasil menyingkirkan para kutu sialan itu." Tuan Elson kini membelai rambut istrinya.


"Ya, sudah semestinya kita yang berada di puncak Achilles Palace. Kita memang terlahir untuk menguasainya." Nyonya Elson kini balik memegang tangan Tuan Elson. Mereka saling bertatapan.


"Benar sekali sayang." Tuan Elson lalu memeluk mesra istrinya.


Tetapi kenyataannya ia tersenyum licik di balik pundak istrinya. Tuan Elson adalah pria bermuka dua. Sebenarnya nama aslinya adalah Raga Sadewa. Pria itu berasal dari keluarga miskin. Ia begitu berambisi ingin menjadi orang kaya, sampai segala hal ia halalkan. Termasuk membohongi wanita yang tengah ia peluk. Ia berpura-pura menjadi Tuan Elson agar bisa menikahinya. Tuan Elson yang asli adalah anak muda yang dulu ia rawat tatkala masih muda. Tuan Elson asli meninggal dunia karena sakit-sakitan. Usai kematian Tuan Elson, Raga membunuh kedua orang tua Tuan Elson asli dan mengkalim semua aset dan kekayaan keluarga Elson.

__ADS_1


Tuan Elson palsu adalah seorang monster yang lapar akan harta. Ia tak akan pernah puas dan kenyang meski telah dijejali oleh harta yang banyak. Jiwanya akan terus merasa kurang dan akan selalu berambisi untuk naik ke puncak atas dan menyingkirkan siapapun yang mengahalangi jalannya.


__ADS_2