Nikah Kontrak Di Penthouse

Nikah Kontrak Di Penthouse
Wajah Yang Sebenarnya


__ADS_3

"Aleris! Bangunlah!". Arran mencoba membangunkan Aleris.


Wanita itu masih terkulai lemah di pangkuan Arran. Wajahnya menyiratkan ekspresi syok dan rasa kecewa yang begitu dalam. Sudah berkali-kali Arran mencoba membangunkannya tetapi ia tak kunjung sadar.


"Tuan Arran, aku meminta tolong padamu agar kau membawa cucuku ke kamarnya sekarang. Kita tunda acara pernikahan ini sampai cucuku sadar". Ucap Kakek. Ia berada di dekat Aleris. Ia tertunduk sedih melihat kondisi cucunya saat ini.


"Aku tak tahu dengan masalah keluarga anda Tuan Lysander, tetapi aku berharap ini tak akan mempengaruhi rencana awal kita". Ucap Arran. Ia lalu membopong Aleris dan membawanya ke kamarnya.


Aleris terbaring di atas sebuah ranjang empuk nan mewah. Kakek duduk di sampingnya. Ia terus mengelus-elus lengan Aleris berharap bahwa cucunya akan segera sadar.


"Ia akan segera sadar kan Dokter ?". Tanya Kakek pada Dokter Laurent, dokter pribadi keluarga Lysander.


"Ia akan segera sadar Tuan". Jawab Dokter Laurent.


Aleris lalu mulai sadarkan diri. Ia membuka mata dan memandangi kondisi sekitar. Ia melihat Kakek yang duduk di sampingnya, Arran yang berdiri di dekatnya, seorang dokter, Bi Ani, dan wanita tadi. Aleris langsung bangkit saat melihat wajah wanita itu.


"Jangan dulu bangun". Ucap Arran.


"Aku harus pergi dari tempat ini. Tak seharusnya aku di sini". Aleris kini bangun dan mencoba berdiri. Untungnya Kakek berhasil menghentikannya.


"Apa yang kau katakan? Ini rumahmu nak. Kau tak usah kemana-mana". Kakek kini memegang kedua lengan Aleris.


"Sudah cukup pura-pura nya Kek. Aku tak ingin masuk lebih dalam lagi. Aku harus pergi sekarang". Aleris kembali bangkit dari kasurnya.


"Sudah kukatakan bahwa dia adalah Kakek kandungmu. Aku juga sudah memberikan bukti hasil DNA nya padamu kan?". Arran kini mencoba menghentikan Aleris.


"Tidak, bisa saja itu palsu. Wanita itu cucunya bukan aku". Ucap Aleris.


"Dia cucu angkatku Nak". Kakek kini memberi tahu kebenarannya pada Aleris.

__ADS_1


"Apa?".


"Ya, Rhea adalah cucu angkatku. Rhea, kemarilah". Kakek lalu melambaikan tangannya pada Rhea.


Tetapi Rhea malah keluar dari kamar dan menutup pintunya dengan sangat keras. Membuat semua orang yang ada di ruangan kaget.


"Kasar sekali dia". Gerutu Arran.


"Rhea, Rhea! Kau mau ke mana ?". Kakek memanggil Rhea.


"Arghh! Gadis itu. Dengar, Nak. Kau cucu kandungku. Kau hilang saat usiamu masih lima tahun. Aku begitu terpukul atas kejadian itu. Aku masih menyalahkan diriku sampai saat ini karena tak berhasil melindungimu. Tetapi kini kau kembali, aku berjanji pada diriku sendiri akan melindungimu dengan cara apapun. Aku tak ingin mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya". Wajah sang Kakek berubah sendu.


Aleris kini menguntungkan niatnya untuk pergi. Ia kini terdiam mendengarkan penjelasan dari Kakek. Aleris lalu menatap ke arah Arran, pria itu kini diam tak berkutik sedikitpun.


"Rhea, aku membawanya dari panti asuhan. Aku membesarkannya dengan identitasmu. Dengan harapan bahwa kau di luar sana masih hidup dan aku akan bisa menemukanmu kembali. Dan hari itu datang, aku kini berhasil menemukanmu. Orang-orang di luar sana tidak tahu akan insiden hilangnya dirimu dua puluh satu tahun yang lalu. Mereka mengira Rhea adalah dirimu. Aku sengaja merahasiakan insiden itu agar keberadaanmu di luar sana aman. Agar kau bisa kembali pulang ke hadapanku dengan selamat". Ucap Kakek. Ia menjelaskan kebenaran itu dengan menitikan air mata.


"Aku begitu bahagia saat kau kembali ke hadapanku. Tetapi aku juga dihantui rasa takut akan kehilangan dirimu lagi. Kematian Tuan Cornelius, keponakanku. Adalah pertanda bahwa mereka kini tengah memulai kembali teror dan konflik yang sudah terkubur dua puluh satu tahun yang lalu". Jelas Kakek.


"Kek, aku minta maaf". Ucap Aleris.


"Tidak Nak, akulah yang salah. Seharusnya aku telah menyampaikan kebenaran ini sebelumnya. Kau pasti sangat syok saat mendengarnya tadi". Kakek lalu mengusap kepala Aleris.


"Al.. maksudku Hera, apakah kau kuat jika kita melanjutkan kembali acara pernikahan yang tertunda ini?". Arran tiba-tiba menyela Aleris yang tengah menangis.


"Emm, ya. Lagi pula aku sudah pulih sekarang". Jawab Aleris.


Acara pernikahan itu kini berlanjut. Arran dan Aleris duduk di pelaminan. Mereka tengah melakukan sesi foto. Harus ada bukti dokumentasi bukan? Orang-orang yang ada di ruangan itu bergantian berfoto dengan kedua mempelai pengantin. Kecuali Rhea. Ia kini berdiri di sudut ruangan dengan wajah kesal dan penuh amarah.


"Aku yang seharusnya bersanding dengan Arran! Aku sudah mengorbankan hidupku selama dua puluh satu tahun untuk berpura-pura menjadi dirinya. Tetapi malah wanita sialan itu yang kini bersanding dengan Arran". Ucap Rhea sambil mengepalkan tangan.

__ADS_1


"Bagaimana bisa Kakek berhasil menemukannya? Padahal tinggal sedikit lagi penantianku. Sekarang semuanya hancur gara-gara dia! Aku tidak akan tinggal diam!". Rhea lalu pergi meninggalkan ruangan itu.


Ia nampaknya mau pergi ke suatu tempat. Ia naik lift lalu keluar dari hunian dengan terburu-buru. Ia menaiki salah satu mobil yang terpakir di halaman hunian. Ia menyetir mobil itu pergi meninggalkan Diadem Palaces. Mobil itu kini benar-benar telah meninggalkan Diadem Palaces. Mobil itu berhenti di sebuah gedung. Rhea lalu keluar dari mobil. Nampak seseorang mendekatinya dari arah gedung.


"Ada apa memanggilku selarut ini?". Orang itu menanyai Rhea.


"Cucu Lysander telah kembali". Ucap Rhea.


"Aku sudah mengetahuinya. Jika hanya itu yang ingin kau sampaikan maka aku akan pergi sekarang". Jawab orang itu.


"Tidak! Ada hal lain yang ingin aku sampaikan". Rhea menahan orang itu.


"Apa? Cepat katakan!". Orang itu nampak tak sabar.


"Lysander telah menikahkan cucunya dengan Arran Xavier malam ini". Rhea berbisik pada orang itu.


"Apa? Jadi mereka sudah memulainya duluan, baiklah". Ucap orang itu.


"Lalu kau mau apa Rhea?". Orang itu menanyai maksud dari kedatangan Rhea yang sebenarnya.


"Bunuh cucu Lysander, tak seharusnya ia bersanding dengan Arran. Akulah yang seharusnya ada di posisinya". Rhea kini mengungkapkan niatnya yang sebenarnya.


"Hanya itu?" Tanya orang itu.


"Ya. Pastikan kau tak melukai Arran sedikitpun. Jika kau menyentuhnya sedikit saja,...". Rhea kini mengacungkan tangan pada orang itu.


"Ya, aku tahu Nona Rhea Lysander". Ucap orang itu.


"Aku harus pergi sekarang sebelum mereka mengetahui kepergianku". Ucap Rhea.

__ADS_1


"Ya, silahkan Nona".


Rhea lalu meninggalkan gedung itu. Ia mengendarai mobilnya dengan cepat. Ia memiliki niat buruk pada Aleris. Kini nyawa Aleris dalam bahaya.


__ADS_2