Nikah Kontrak Di Penthouse

Nikah Kontrak Di Penthouse
Aleris dan Arran


__ADS_3

'Ting'


Pintu lift Griya Tawang terbuka. Arran keluar dari dalamnya ditemani oleh Kepala keamanan Lee dan dua bodyguardnya. Pagi itu dirinya tampak lelah karena tak tidur semalaman. Ia juga harus ke kantor siang ini karena akan ada meeting yang amat penting. Arran berjalan menuju pintu kamarnya dengan lesu. Berharap ia masih bisa mendapatkan waktu tidurnya walau itu cuma semenit. Ia membuka pintu dan langsung di sambut oleh istrinya.


"Kau sudah pulang?" Aleris membukakan pintu kamar untuk Arran.


"Kau sudah sehat?" Tanya Arran.


"Em. Aku beristirahat dengan baik malam tadi" Aleris lalu mengambilkan Arran segelas air putih.


"Kau pasti tidak tidur semalaman kan? Kau tadi shalat subuh?" Aleris bertanya pada Arran dengan nada lembut.


"Ya. Aku shalat subuh di masjid. Kau tolong keluar dulu, aku mau mandi" jawab Arran lalu meneguk air putih dari Aleris.


"Kenapa harus keluar? Kau malu ya? Kenapa harus malu dengan istri sendiri Tuan Arran?" Aleris menggoda Arran.


"Uhuk" Arran keselek air yang di teguknya saat mendengar ucapan dari Aleris barusan.


"Aih, malu ternyata". Aleris tersenyum lebar.


"Aaaku memang suamimu tapi pernikahan kita diatas surat kontrak. Walau aku dan kau menikah sah secara agama dan negara tapi kita telah menandatangani kontrak perjanjian. Kau juga tahu itu kan?" Arran yang salah tingkah menjawab gurauan Aleris.


"Ya aku tahu Tuan Arran Xavier. Aku juga tahu betul isi surat itu. Salah satunya aku ataupun kau boleh menyentuh dengan syarat atas persetujuan dan kerelaan dari keduanya. Nah, kan! Kenapa kau malu?" Aleris semakin menggoda Arran.


"Aaaku... aku..." Arran ketar ketir.


"Ahaha. Aku bercanda Arran. Sana mandilah. Aku juga tak mau melihatmu tanpa busana. Risih!" Ucap Aleris lalu keluar kamar.


Arran lalu pergi mandi. Aleris telah menyiapkan air hangat dan handuk serta keperluan mandi lainnya untuk Arran. Arran begitu tersentuh saat mengetahuinya. Sebelumnya, belum pernah ada yang memperhatikan dirinya. Tapi sekarang tidak lagi. Saat selesai mandi Arran kembali dibuat tersentuh saat ia melihat pakaian yang telah Aleris siapkan untuknya. Ternyata Aleris juga telah mengetahui selera Arran, buktinya ia telah memilihkan pakaian yang sesuai untuk Arran kenakan. Arran lalu mencoba membuang rasa tersentuh itu dari benaknya. Ia takut bila akan jatuh hati pada Aleris. Wanita itu bukan sepenuhnya milik Arran. Ia hanya singgah sesaat di hidup Arran. Suatu saat nanti ia akan pergi meninggalkan Arran. Arran akan kembali kesepian seperti dulu. Jadi ia tidak boleh terlalu nyaman dengan Aleris.


Arran mengenakan pakaiannya lalu menyisiri rambutnya. Tak lama Aleris lalu kembali mengetuk pintu kamarnya.


"Ya, masuklah aku sudah pakai baju kok" ucap Arran.


Aleris lalu masuk, wajahnya nampak sumringah. Ia memandangi Arran dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Arran lalu salah tingkah sebab ditatap oleh Aleris.


"Benar kata orang kalau kau gila kerapihan dan kebersihan. Sangat tercermin dari caramu berpakaian dan berdandan. Kau mengenakan baju yang telah aku pilihkan. Berarti kau menyukai pilihanku?" Aleris lalu mendekati Arran dan berhenti tepat di depannya.


"Bukan Arran namanya jika tak rapih dan tampan. Pilihanmu boleh juga". Ucap Arran.


"Diih, pede sekali anda". Aleris mendelik, ia lalu duduk di kasur dan merebahkan kakinya.


"Aku memang selalu penuh aura dan percaya diri". Jawab Arran. Ia kini ikut duduk di sisi lain kasur.


Mereka lalu terdiam beberapa saat. Arran dengan ragu memutar wajahnya ke arah Aleris. Ia ingin mengatakan sesuatu. Tetapi belum sempat Arran membuka mulutnya Aleris berbicara duluan.

__ADS_1


"Arran, aku ingin mengatakan sesuatu padamu". Aleris kini menatap wajah Arran.


"Apa? Katakanlah?"


"Kau tahu kan sebelumnya aku juga punya kehidupanku sendiri. Aku tahu aku kini Hera Lyasander, juga istrimu. Aku tak kekurangan apapun. Tetapi satu hal, aku masih ingin menjalani hidupku yang sebelumnya. Aku ingin kembali ke duniaku, bekerja dan memasak. Aku juga harus menyelesaikan beberapa hal yang aku tinggalkan selama ini. Ada seseorang yang harus aku temui. Ada janji yang belum sempat aku penuhi. Tapi aku juga tak akan meninggalkan duniaku saat ini. Karena sekarang aku sudah menjadi istrimu, aku meminta izin padamu untuk kembali bekerja dan menuntaskan beberapa urusanku. Bolehkah?"


Aleris kini tertunduk setelah menyelesaikan pernyataannya. Ia ragu jika Arran akan menyetujuinya. Ia begitu deg-degan saat ini.


"Tentu. Aku tak akan melarangmu untuk kembali ke duniamu. Kau akan sangat bosan jika duduk di rumah ini sepanjang hari. Aku juga tahu jika kau masih memiliki seorang kekasih kan? Pergilah. Temui dia. Lagi pula suatu saat nanti kita akan berpisah. Kau akan kembali lagi ke kehidupanmu yang dulu sepenuhnya. Ku harap saat itu kekasihmu masih mau menerimamu agar kau tidak sendirian setelah semua ini".


Arran mengakhiri kalimatnya dengan wajah sendu. Sejujurnya hatinya pedih saat membahas tentang kepergian Aleris dan kekasih Aleris. Entah kenapa ia begitu tak rela kehilangan Aleris saat ini. Padahal ia baru bersama gadis itu beberapa hari. Arran begitu bingung dengan perasaan yang tengah ia rasakan saat ini.


"Terima kasih karena telah mengizinkanku. Tetapi kau perlu tahu satu hal, seseorang yang kau sebut kekasihku itu bukan kekasihku. Dia memang sudah melamarku tetapi aku belum memberinya jawaban. Hari disaat aku akan menyatakan jawabanku padanya adalah hari saat kau mengurungku. Jadi dia mungkin masih menunggu jawabanku saat ini. Maka dari itu aku harus menemuinya saat ini. Aku harus mmberikan jawaban itu padanya"


Perkataan Aleris tiba-tiba terhenti. Ia seperti setengah ragu saat mengatakan hal itu.


"Jadi apa jawabanmu untuknya?" Tanya Arran. Ia lalu menatap lekat-lekat wajah Aleris.


"Nanti kau juga akan mengetahuinya". Jawab Aleris.


***


siang itu Aleris dan Arran shalat dzuhur bersama untuk pertama kalinya. selesai shalat Arran memimpin doa. Aleris dengan khyusuk meng aminkan setiap doa yang Arran lantunkan. Aleris lalu mencium tangan Arran setelah selesai shalat. Arran ragu saat mengulurkan tangannya pada Aleris. Aleris hanya memberikan senyuman pada Arran lalu mencium tangannya.


"Kau tak usah menyiapkan makan siang untukku karena aku akan makan siang di kantor". Jawab Arran.


"kalau begitu akan kubuatkan smoothies saja ya. Kau tak boleh pergi ke kantor dengan perut kosong". Ucap Aleris bersikeras.


"Terserah kau saja". jawab Arran.


Arran selesai mengenakan pakaian kantornya. Aleris lalu datang membawa dasi. Ia lalu memakaikan dasi itu di leher Arran. Wajahnya lalu tersenyum saat Arran telah selesai berdandan.


"Jika nanti di kantormu ada yang memuji penampilanmu bilang saja kalau itu karena istrimu yang telah menyiapkannya untukmu". Ucap Aleris sambil tersenyum.


"Jadi kau membantuku sebab ingin dipuji oleh orang lain?" Tanya Arran dengan wajah cemberut.


"Entahlah. Oh, aku harus membuat smoothies. Kau tunggu sebentar ya". Aleris lalu pergi ke dapur.


ia lalu kembali ke hadapan Arran dengan membawa segelas smoothies.


"Tuan Arran, ini smoothies spesial yang dibuat langsung oleh istrimu, minumlah". Aleris memberikan smoothies itu pada Arran.


Arran ragu untuk menerima smoothies itu. Ia hanya diam. Aleris memaksanya untuk meminum smoothies itu. Arran lalu meminumnya. Arran kaget saat mengetahui rasa smoothies itu begitu enak. Ia lalu mengahbiskan smoothies itu tanpa tersisa.


"Tadi malu-malu, eh ternyata habis juga. Hehe" Ucap Aleris.

__ADS_1


"Aleris, Aku harus pergi ke kantor sekarang". Ucap Arran. Ia kembali dibuat salah tingkah di hadapan Aleris.


"Baiklah. Hati-hati di jalan ya. Oh, aku juga akan pergi ke tempat kerjaku. Hampir saja aku lupa".


"kalau begitu aku akan mengantarkanmu. Aku sudah berjanji pada Kakek akan menjagamu. Jadi kau tak bisa menolaknya".


"Baiklah. Aku siap-siap dulu ya".


Aleris lalu ganti baju. Tanpa waktu yang lama ia lalu kembali ke hadapan Arran.


"Yuk". Aleris mengajak Arran untuk pergi sekarang.


mereka lalu pergi bersama. Orang-orang di apartment kaget saat melihat mereka berdua. Apalagi setelah kejadian semalam. Seperti biasa bisik-bisik pun kembali terdengar. Tetapi Arran dan Aleris memutuskan untuk mengacuhkannya. Mereka berdua keluar Apartment lalu menaiki mobil mewah milik Arran. Arran dan Aleris di kawal oleh bodyguard dan Kepala keamanan Lee. mereka berdua terpaksa harus selalu diikuti oleh keamanan demi keselamatan mereka.


Mobil berhenti di dekat Cafe Kelana. Aleris yang telah mengganti dandanan dan penampilannya kini turun dari mobil. Ia kini benar-benar menjadi Aleris kembali. Orang-orang di Apartment sepertinya tidak akan bisa mengenali Aleris yang sekarang. Ia kini benar-benar seorang Aleris dengan penampilan yang lusuh dan acak-acakan bukan lagi seorang Hera yang glamour dan elegan.


"Kau yakin turun di sini?" Tanya Arran.


"Ya. Aku tak mau orang-orang melihat kedatanganku denganmu Arran. Terlebih Kak Tryan. Kalau begitu aku pergi dulu ya". Jawab Aleris. Ia lalu salam pada Arran.


"baiklah. Jaga dirimu baik-baik". Ucap Arran. Ia lalau menutup kaca mobilnya dan pergi meninggalkan Aleris.


Aleris lalu berjalan menuju Kafe Kelana. Ia berubah kaget saat melihat Tryan di depan Kafe dan tengan melihat ke arahnya. Aleris lalu menghampiri Tryan.


"Hai Kak" Aleris tampak ragu menyapa Tryan duluan.


"Al! Kau kemana saja? Aku sudah mencarimu ke mana-mana, ke Lestoran, ke Apartment tapi tidak ada. Kau kemana selama ini?" Tryan langsung mencerca Aleris dengan banyak pertanyaan.


"ah, ya. Aku minta maaf karena telah membuatmu cemas Kak. Panjang sekali ceritanya".


"Ya, kau bisa menjelaskannya di dalam Kafe. Ayo kita masuk".


"em".


Aleris dan Tryan pun masuk Kafe. Tryan lalu menghidangkan Aleris secangkir Latte kesukaannya. Aleris begitu tersentuh saat meilhatnya.


"Al, aku minta maaf ya. Aku takut jika


kau pergi karena kau takut dan belum siap dengan lamaran dariku". Tryan memulai pembicaraan.


"Engga kok Kak. Bukan karena itu. Ngomong-ngomong soal lamaran. Aku sudah meenyiapkan jawabannya. Akan ku katakan sekarang".


"sungguh? jadi apa jawabanmu Al?"


wajah Tryan terlihat begitu penasaran. Ia setengah tegang saat mendengar ucapan dari Aleris. Perasaannya kini campur aduk. Ia juga harus bersiap dengan segala hal yang akan Aleris putuskan. Apakah Aleris akan menerima lamarannya atau sebaliknya?

__ADS_1


__ADS_2