
Hari itu, Aleris tengah menjemput Zion. Anak itu kini telah bersekolah di TK Socrates. TK itu merupakan TK elite yang didirikan khusus bagi para penghuni Achilles Palace. Tidak sembarang orang bisa diterima di TK itu. Perlu surat rekomendasi dari anggota Club agar bisa masuk dan menyekolahkan anaknya di tempat itu. Para orang tua yang menyekolahkan anaknya di sana juga membentuk sebuah perkumpulan yang dinamakan perkumpulan Himawari. Usai pulang dari sekolah para orang tua akan mengantarkan anaknya pergi ke les lalu mengadakan perkumpulan di cafe-cafe mewah yang ada di kota ini.
Perkumpulan itu juga punya tujuan, yakni saling bertukar informasi penting terkait relasi bisnis dan lain sebagainya. Aleris adalah salah satu anggota yang jarang hadir. Bahkan ia tidak mengikutsertakan Zion dalam les manapun. Karena bagi Aleris, di usia Zion adalah saatnya untuk bermain. Biarkan Zion puas bermain hingga ia siap bersekolah dan belajar di waktu yang tepat. Tapi meskipun tidak mengikuti les, Zion tidak tertinggal dari anak-anak lainnya. Bahkan bisa dibilang unggul. Zion selalu belajar lebih cepat dari anak lainnya. Bahkan orang tua lainnya curiga kepada Aleris bahwa mungkin Zion diberi les private khusus di rumahnya. Tetapi, itu tentu tidak benar. Zion memang anak yang pintar.
Aleris dan Zion kini berjalan kaki menuju lobby. Belum sampai di pintu lift, tiba-tiba Bi Tuti datang menghampiri mereka dengan tergesa-gesa. Baik Aleris maupun Zion menjadi ikut panik karena sikap Bi Tuti. Bi Tuti lalu berbisik ke telinga Aleris.
"Nyonya, Nyonya Lira mengalami pendarahan." Bisik Bi Tuti. Ekspresinya begitu ketakutan.
"Apa?" Aleris reflek berteriak. Membuat semua orang yang ada di lobby jadi melihat ke arahnya.
"Ayo kita ke sana sekarang." Mereka pun tergesa-gesa menuju ke Griya Tawang. Aleris menggunakan lift khusus untuk menuju griya tawang. Lift itu memang dibuat khusus untuk pemilik Griya Tawang.
Mereka akhirnya tiba di Griya Tawang. Aleris langsung berlari ke kamar Tante Lira. Betapa kagetnya Aleris saat melihat kondisi Tante Lira yang tergeletak di lantai dengan darah yang membalut sekujur kakinya.
"Ke mana suster Ammy?" Tanya Aleris pada bi Tuti.
"Suster Ammy tidak masuk hari ini. Orang tuanya baru saja di rawat di rumah sakit." Jawab Bi Tuti.
"Lalu bagaimana ini bisa terjadi?"
"Bibi juga kurang tahu Non. Bibi tengah memasak, kemudian mendengar suara ambruk dari kamar Nyonya. Bibi kaget, bibi langsung ke sana. Ternyata benar, Nyonya tengah terluka."
"Aku akan panggil Arran sekarang." Aleris lalu merogoh handphone dari tas nya. Ia lalu menelpon Arran.
"Hallo?"
"Arran, Tante Lira mengalami pendarahan."
"Pendarahannya masih baru. Tapi darahnya keluar banyak."
"Baik. Aku tunggu."
"Tuut." Aleris menutup telponnya.
"Bagaimana Nyonya?" Tanya Bi Tuti.
"Arran akan memanggil Dokter ke sini. Kita harus membawanya ke lantai tiga. Ke ruang perawatan. Tolong panggilan penjaga lainnya."
"Baik Nonya." Bi Tuti bergegas pergi.
__ADS_1
"Tante..., Mamah kenapa?" Zion kini bersuara.
"Zion..., Mamah mu sedang sakit. Di harus diobati sekarang. Zion jangan takut ya. Mamah Zion pasti cepat sembuh." Aleris berkaca-kaca saat menjelaskan hal itu kepada Zion.
Zion kemudian memeluk Aleris.
Aleris menangis saat Zion memeluknya.
Tak lama para penjaga dan Bi Tuti datang. Tante Lira di bawa ke lantai tiga dengan tandu oleh para penjaga. Di lantai tiga adalah rumah sakit pribadi milik penghuni Griya Tawang. Arran sengaja membangunnya untuk Tante Lira.
Usai membaringkan Tante Lyra di ruang perawatan. Tak lama sebuah helikopter datang. Turun beberapa dokter dan perawat juga Arran yang menyertai mereka. Para petugas kesehatan langsung menangani Tante Lira dengan segera.
"Bagaimana hal ini bisa terjadi?" Arran tampak panik.
"....." Aleris lalu menjelaskan kronologi kejadian.
"Mengapa bisa ada kekosongan. Jika suster Ammy tidak masuk, kenapa Bi Tuti tidak menyuruh suster lain untuk berjaga?" Arran langsung memarahi Bi Tuti.
"Maafkan Bibi Tuan, ini murni keteledoran Bi Tuti." Bi Tuti hanya bisa tertunduk malu.
"Arran, sudahlah. Ini juga salahku. Aku yang kurang dalam menjaga Tante Lira. Jika kau mau salahkan seseorang maka salahkan aku. Lagi pula sekarang bukan saatnya untuk ribut. Kita harus fokus pada kondisi kesehatan Tante Lira." Aleris mencoba membela Bi Tuti.
"Argh." Arran kemudian mendengus kesal.
"Bagaimana kondisinya Dok?" Tanya Arran tak sabar.
"Kami sudah berusaha dengan sangat keras. Kami juga sudah mengupayakan semuanya. Tapi semuanya ada batasan. Kalian harus memilih, menyelamatkan bayi nya atau Ibunya?" Dokter berterus terang.
"Apa?" Aleris kaget mendengar hal itu.
Sementara Arran hanya bisa terdiam untuk beberapa saat.
"Selamatkan Ibunya." Aleris langsung membuat keputusan tanpa berfikir panjang.
"Tapi rencana kita bisa gagal total. Bagaimana nasibmu dan keamanan mu? Bagaimana harga dirimu jika ketahuan tah berbohong?" Tanya Arran.
"Aku tidak peduli. Sekali yang terpenting adalah keselamatan Tante Lira. Zion masih membutuhkannya." Aleris kini menangis.
"Tapi...," Arran masih tak yakin.
__ADS_1
"Dokter, selamatkan Ibunya." Aleris berkata tegas.
"...." Arran hanya bisa terdiam. Sang dokter lalu melirik ke arah Arran. Arran kemudian mengangguk.
"Baiklah. Kalau begitu Tuan Arran akan di pandu oleh suster kami untuk menandatangani beberapa perjanjian. Baru tindakan bisa dilaksanakan." Jelas dokter itu.
Usai menandatangani beberapa surat keputusan. Akhirnya operasi kembali dilakukan. Kali ini memakan waktu yang cukup lama. Keesokan harinya. Tepatnya dini hari. Operasi baru selesai. Dokter yang menangani operasi pun keluar.
Dokter itu tampaknya sudah sangat lelah, wajahnya menyiratkan keputusasaan. Aleris dan Arran mulai merasa tak enak hati saat melihat raut wajah sang dokter.
"Bagaimana?" Arran langsung bangkit berdiri.
"Dengan segenap hati, kami meminta maaf yang sebesar-besarnya. Sekali lagi kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi Tuhan telah berkehendak. Nyawa ibunya tidak bisa kami selamatkan. Kondisinya sudah terlalu lemah dan ia juga memiliki riwayat penyakit kronis."
"Apa? Tidak! Itu tidak mungkin." Aleris menangis.
"Tenangkan dirimu." Arran langsung memeluk Aleris.
"Kami benar-benar minta maaf. Tetapi..."
"Tetapi apa?" Tanya Aleris.
Baik Aleris maupun Arran penasaran.
"Bayinya berhasil kami selamatkan."
Mendengar itu, tidak membuat mereka menjadi senang. Mereka masih sedih karena kematian Tante Lira. Aleris teringat Zion. Bagaimana ia akan menjelaskan hal ini kepada bocah itu. Apakah Zion akan siap mendengar dan menerima hal ini?
"Tetapi bayinya juga dalam kondisi kritis. Usianya masih tujuh bulan kandungan. Jadi mungkin ia akan dalam perawatan intensif dan diinkubasi hingga ukuran dan beratnya dalam kondisi normal." Jelas dokter itu.
"Boleh kami melihat kondisi Ibu dan bayinya?" Tanya Arran.
"Kami masih perlu melakukan tindakan pasca operasi pada jenazah. Juga pada bayinya. Kalian baru bisa melihatnya setelah jenazah dan bayi di pindahkan ke ruang lain."
"Baiklah."
"Ada satu hal lagi..."
"Apa?" Tanya Arran.
__ADS_1
"Ini terkait kondisi sang bayi. Selain krisis, ia juga mengalami..."
Mereka begitu kaget dan penasaran.