
"Tunggu Al". Tryan memegang lengan Aleris. Ia berusaha menahan kepeegian Aleris.
"Apa lagi Kak?" Aleris mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Tryan.
"Aku tak peduli! Aku akan tetap menunggumu hingga kapanpun! Karena hatiku hanya untukmu Al". Tryan menggenggam tangan Aleris tambah kencang.
"Lepaskan tanganku! Aku tak bisa bersamamu lagi Kak, jadi kumohon biarkan aku pergi". Aleris kini meluapkan tangisannya. Ia tak biaa membendung rasa bersalahnya yang teramat sangat dalam.
"Tidak! Meski cincin itu kini melingkar di jari manismu aku tak peduli. Aku, Tryan Ganeswara akan tetap setia padamu Al. Tak peduli apa yang telah terjadi padamu aku akan selalu padamu. Ingat itu Al". Tryan akhirnya melepaskan genggaman tangannya.
Aleris semakin menangis, ia pergi begitu saja meninggalkan Tryan tanpa berkata apa-apa lagi. Saat itu sebenarnya Aleris akan menerima lamaran dari Tryan, tetapi setelah semua kejadian yang ia alami membuat keputusannya berubah. Aleris kini sudah menjadi istri orang, ia tak bisa menerima lamanaran dari Tryan. Padahal Tryan adalah pria yang sudah ia kagumi sejak beberapa tahun terakhir. Hatinya bagai teriris saat harus menyampaikan penolakannya pada Tryan. Padahal sebenarnya ia ingin sekali menerima lamarannya. Tapi keadaan yang membuatnya seperti ini.
Aleris kini duduk termenung di kursi bus. Kenangannya dengan Tryan kini berkelebatan di benaknya. Berkali-kali air mata tumpah membasahi pipi meronanya itu. Berat sekali harus melepas Tryan dari hidupnya. Pria itu memiliki tempat istimewa di hatinya. Kisah mereka yang berawal dari rekan kerja part time kini berakhir pilu. Mungkin bagi Aleris begitu, tapi bagi Tryan sendiri tidak. Tryan masih bersikeras akan mengejar Aleris sampai kapanpun, walau ia sudah mendapat penolakan dan mengetahui bahwa Aleris sudah menjadi milik orang.
Kini Aleris tiba di Atlanta Hotel and Resto. Ia menghapus sisa air mata di pipinya dan mulai melangkah. Tempat ini adalah tempat kerjanya selama empat tahun terakhir. Ia yang merupakan seorang Cook Helper di tempat ini sebelumnya sudah banyak merasakan asam dan garam bekerja di tempat ini. Kini meski status sosialnya sudah berubah jauh ia tak melupakan tempat ini. Ia kembali lagi ke tempat ini. Tempat dimana semuanya bermula.
Sebelumnya Arran sudah memberitahunya bahwa tempat ini milik Tuan Cornelius yang mana ternyata adalah sepupu dari Ayahnya Aleris. Karena Tuan Cornelius tidak memiliki ahli waris jadi kepemilikan tempat ini kembali ke tangan Kakek. Kakek kini menyerahkan tempat ini kepada Aleris jadi mulai saat ini Atlanta Hotel and Resto resmi menjadi milik Aleris. Tapi Aleris tidak ingin siapapun tahu kalau kini ialah pemilik Atlanta Hotel. Ia tak ingin ada yang berubah, terutama hubungan kerjanya dengan tim masak Atlanta Hotel. Aleris masih ingin dikenal sebagai Aleris seperti sebelumnya. Ia tak mau orang-orang tiba-tiba menjadi berubah karena statusnya saat ini.
"Oi! Kemari kau Aleris!" Chef Arges tiba-tiba datang dari arah pintu dan meneriaki Aleris.
"Gawat ini, aku pasti akan dimarahi habis-habisan. Aku harus bagaimana ya?" ucap Aleris dalam hati. Ia panik dan langsung melarikan diri.
Aleris kabur lalu bersembunyi di belakang mobil yang terparkir dekat Atlanta Hotel. Ia lalu berpikir dan mencari cara agar ia tidak dimarahi habis-habisan oleh Chef Arges. Tiba-tiba ia terpikir untuk menyamar. Tidak, lebih tepatnya kembali menjadi Hera. Ia lalu pergi ke sebuah toko pakaian dan mengganti bajunya di sana. Alerispun keluar dari toko pakaian dengan tampilan yang jauh berbeda dari sebelumnya. Ia juga mengenakan kacamata hitam dan masker untuk menutupi wajahnya. Ia sengaja berdandan seperti ini agar tidak dikenali oleh siapapun.
Aleris lalu kembali memasuki Atlanta Hotel. Ternyata Chef Arges sudah tidak ada di depan pintu. Ia pun masuk dengan tenang. Saat Sampai di ruang makan ia terkejut karena ada Chef Arges yang tengah berdiri di meja waiters. Chef Arges nampaknya tengah berbincang dengan salah seorang dari waiters itu.
"Aku tak salah lihat Don! Gadis tadi memang benar-benar Aleris!" Chef Arges meyakinkan waiters itu.
"Jika gadis tadi benar-benar Aleris maka akan kuhabisi dia! Anak itu benar-benar tidak bertanggung jawab. Berhari-hari ia menghilang lalu tiba-tiba kembali muncul dengan wajah tak bersalah! Aku tak bisa memaafkannya" ucap Chef Arges dengan meletup-letup.
"Hadeh, dia tidak tahu kalau aku kini tengah mendengar pembicaraannya" bisik Aleris pada dirinya sendiri.
"Gadis itu memang selalu begitu. Kerja tak becus! Itulah mengapa aku tak pernah menaikkan pangkatnya".
"Bug" Aleris memukul meja dengan sangat keras.
"Siapa itu?" Chef Arges dan waiters kini menatap kearah Aleris.
__ADS_1
"Ehm.. tidak. Aku hanya ingin bertemu dengan general manager hotel ini" jawab Aleris kebingungan. Ia reflek memukul meja karena marah dan kesal dengan ucapan Chef Arges barusan.
"Ada perlu apa Anda menemui GM kami?" Chef Arges kini mendekati Aleris.
"Panggilkan saja ia kemari" jawab Aleris.
"Siapa kau berani menyuruhku seperti itu hah?" Chef Arges kini naik pitam.
Aleris sudah bersiap dengan keadaan ini. Untungnya Arran sudah memberitahunya di mobil terkait surat kepemilikan hotel itu.
"Apa ini?" Tanya Chef Arges.
"Kau boleh membukanya" jawab Aleris.
Chef Arges lalu membaca isi surat itu. Ia lalu kaget dan tiba-tiba sungkem pada Aleris.
"Kenapa kau tidak bilang sebelumnya Nyonya. Baiklah akan aku panggilakan GM sekarang" Chef Arges pun memanggil General Manager Atlanta Hotel.
"Anda Nyonya Hera Lysander?" Tanya GM itu.
"Aku sudah menerima kabar itu. Aku ucapkan selamat atas kepemilikan hotel ini. Aku dan semua tenaga kerja ini akan bekerja dengan baik Nyonya".
"Semuanya aku perkenalkan Nyonya Hera Lysander pemilik baru Atalanta Hotel and Resto" ucap GM itu memperkenalkan Aleris pada semua orang.
Tepuk tangan pun mulai terdengar. Aleris membungkukkan badan beberapa kali sebagai tanda terima kasih atas penerimaan dirinya. Ia lalu bersalaman dengan semua orang.
"Selamat datang Nyonya. Aku chef Arges, kepala Chef Atlanta Hotel. Senang berkenalan dengan Anda". Chef Arges menjabat tangan Aleris dengan kencang.
"Ya, aku tahu" ucap Aleris keceplosan.
"Anda sudah kenal saya? Benarkah?" Chef Arges kini kegirangan.
"Bukan maksud saya ya, senang berkenalan dengan Anda. Ngomong-ngomong, Chef Arges, aku ingin melakukan perombakan kabinet. Aku ingin mengganti cook Helper dengan orang baru. Dan Cook Helper yang sebelumnya dinaikkan pangkatnya. Boleh?" Tanya Aleris.
"Oh, ehmmm. Baiklah. Jika itu mau Anda Nyonya" jawab Chef Arges.
"Oh, aku juga akan memasang cctv di pantry. Hanya untuk berjaga-jaga saja. Aku takut terjadi kekerasan atau diskriminasi di tempat kerjaku. Jadi tolong berlaku adil dan baik pada semua pekerja ya". Jelas Aleris.
__ADS_1
Chef Arges lalu berubah panik.
"Bbbbaik Nyonya" jawab Chef Arges terbata-bata.
Setelah selesai memperkenalkan dirinya pada semua pekerja hotel Aleris pun pergi meninggalkan hotel. Ia kembali mengganti bajunya dengan baju masaknya. Ia kembali menjadi seorang Aleris. Ia lalu kembali ke Atlanta Hotel. Tetapi kini ia percaya diri.
Aleris tiba di pantry dengan Chef Arges yang sudah berdiri di depan pantry. Ia langsung menatap wajah chef Arges yang tengah menahan amarah.
"Kemana saja kau selama ini?" Tanya Chef Arges.
"Aaaku, aku sakit Chef". Aleris beralibi.
"Kenapa kau tidak mengangkat telponku?"
"Aaaku sakit parah dan di rawat di rumah sakit Chef jadi aku tak sempat mengabarimu. Aku minta maaf".
"Cepat kembali bekerja. Sekarang kau demi Chef. Nyonya bos mengadakan perombakan mendadak. Beruntung kau akhirnya bisa naik jabatan".
"Benarkah? Oh ya ampun betapa senangnya aku!"
Aleris berpura-pura memasang wajah bahagia.
"Sudah jangan banyak bicara dan kembali bekerja".
"Baik Chef" jawab Aleris.
Aleris pun hanyut dalam kerjanya. Ia asyik bekerja hingga seorang rekannya menegurnya.
"Al, sebaiknya kau pergi ke WC dulu" Lily menghampiri Aleris.
"Kenapa Li? Ada yang salah denganku?" Tanya Aleris.
"Kau sepertinya tengah PMS ya Al? Lihat! tembus tuh Al".
"Astaga! Untung kau memberitahu ku. Aku ke WC dulu ya. Tolong aduk dulu supnya ya. Makasih Li".
Alerispun ke WC. Ia lalu mengganti pakaiannya. Aleris tiba-tiba tertawa. Jika semua orang di Achilles Palace tahu bahwa saat ini ia tengah menstruasi maka entah apa yang akan terjadi. Untuk tujuh bulan kedepan ia harus berpura-pura tengah hamil. Tetapi di tempat kerja ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa takut ada orang yang akan mencurigainya.
__ADS_1