Nikah Kontrak Di Penthouse

Nikah Kontrak Di Penthouse
Surat Kontrak Nikah


__ADS_3

Hegiea Hospital, 01 Juni pukul 20:00


Dua buah mobil sedan hitam melaju dengan cepat ke arah parkiran rumah sakit. Kedua mobil itu parkir dengan sembarangan. Dari mobil itu keluar beberapa orang dengan gestur yang mencurigakan. Mereka berjalan mengendap-endap dari satu mobil ke mobil lain. Mereka tampaknya menghindari CCTV yang dipasang di parkiran tersebut. Mereka berhenti di di ujung parkiran dimana tempat tersebut merupakan titik buta dari CCTV. Mereka menatap ke atas gedung rumah sakit, tak lama sebuah tali telah menggantung di hadapan mereka. Tali itu telah diikat oleh seseorang dari atap gedung.


"Ingat, target ada di lantai 18 jendela ke 24 dari kanan. Jangan sampai salah atau kita terpaksa mengulang kembali dari bawah".


Seseorang yang sepertinya adalah pimpinan mereka memberi arahan pada anak buahnya.


Mereka lalu mulai memanjati gedung rumah sakit. Tali itu mulai meregang dengan kencang saat orang-orang itu mulai memanjati gedung. Entah dari mana orang-orang itu berasal, tetapi jika dilihat dari gelagatnya mereka sudah jelas memiliki niat terselubung. Mereka telah memanjat setengah gedung rumah sakit, tetapi mendadak mereka turun kembali.


"Sial, kita ketahuan! Ganti rencana, cepat! ".


Dengan sigap anak buahnya menuruti perintahnya. Hanya hitungan menit mereka telah kembali turun. Orang-orang itu lalu berpencar ke setiap ujung gedung. Mereka masuk dari lantai paling bawah dengan membobol jendela. Target mereka sepertinya adalah seseorang yang sedang dirawat di rumah sakit ini.


Loby Rumah Sakit pukul 20:15


Arran terlihat memasuki rumah sakit dengan didampingi oleh Kepala keamanan Lee dan dua bodyguard nya. Ia tengah berjalan menuju ruang inap dimana Aleris dirawat. Ada beberapa hal penting yang harus ia sampaikan ke Aleris. Langkahnya dibuat secepat mungkin agar tidak banyak membuang waktu. Ia kini memencet tombol lift untuk ruangan di lantai 18. Hari ini seluruh ruangan di lantai 18 sudah dipesan oleh seseorang yang mana itu adalah kakeknya Aleris. Lantai itu juga dilengkapi dengan penjagaan super ketat jadi tak sembarangan orang bisa masuk.


Arran tidak memberi tahu kedatangannya pada Kakek Aleris tetapi itu tak masalah baginya. Lift kini berhenti dan pintunya mulai terbuka. Pintu itu belum terbuka sepenuhnya saat dua orang tiba-tiba masuk dan menodongkan senjata ke arah Arran dan para bodyguardnya. Tetapi orang itu kembali menurunkan senjatanya saat mengetahui bahwa ternyata Arran lah yang datang.


"Ku kira tidak akan seketat ini. Tetapi baguslah. Aku hampir terkecoh dengan serangan mendadak tadi, haha".


Arran lalu berjalan ke ruagan yang paling besar di lantai ini. Di atas pintu ruangan itu terpasang tulisan President suit yang artinya kamar inap khusus dengan fasilitas paling mewah. Dua orang lain yang berjaga di depan pintu kamar membukakan pintu untuk Arran. Arran lalu masuk ke ruangan itu.


Kepala keamanan Lee kini ikut berjaga dengan bodyguard lain dari keluarga Lysander. Ia berjalan ke arah jendela di ujung lantai itu. Dari jendela itu ia bisa melihat keadaan yang ada di bawah. Semuanya tampak normal hingga ia menyadari bahwa terdapat seutas tali yang diikat dari atap gedung rumah sakit ini yang menjuntai sampai ke bawah. Nampa bebrapa orang dari bawah tengah mencoba memanjat gedung ini dengan tali itu. Kepala keamanan Lee terus mengamati orang-orang itu. Mereka berpakaian serba hitam, tanpa mengenali wajah dari tiap-tiap orang itu Kepala keamanan Lee sudah mengetahui siapa mereka sebenarnya. Ia langsung memberi isyarat pada kedua bodyguard yang ada di dekatnya untuk menghampirinya.


Kepala keamanan Lee memberi tahu kedua bodyguard itu tentang orang-orang yang sedang memanjat itu. Mereka bertiga langsung mengeluarkan senjata dari saku mereka. Kepala keamanan Lee dan kedua bodyguard itu mengarahkan senjata mereka ke orang-orang yang sedang memanjat itu. Nampaknya orang-orang itu mengetahui bahwa mereka telah tertangkap basah. Segera mereka turun kembali.


Kepala keamanan Lee langsung pergi saat mengetahui bahwa orang-orang itu tengah mencoba kabur. Ia menghampiri Kepala keamanan Yosep.


"Ada apa Pak Lee?". Tanya Kepala keamanan Yosep.

__ADS_1


"Gawat, mereka telah mengetahui keberadaan Nona Hera. Segera suruh bodyguard mu yang berjaga di bawah untuk bersiaga. Kau dan beberapa bodyguard mu berjaga di lift. Aku dan bodyguard ku akan berjaga di pintu kamar".


"Dasar para berandalan! Awas saja jika mereka berani sampai ke lantai ini, akan ku habisi mereka tanpa ampun!".


Kepala keamanan Lee dan kepala keamanan Yosep lalu bersiap di tempatnya masing-masing. Ketegangan mulai menyelimuti seluruh lantai itu. Beberapa menit berlalu, mereka masih berjaga di posisi. Kemudian tiba-tiba pintu lift terbuka. Dengan segera Kepala keamanan Yosep mengacungkan senjatanya. Tetapi ternyata itu adalah Kakek. Kepala keamanan Yosep menurunkan kembali senjatanya.


"Ada apa ini? Kau membuatku kaget Pak Yosep". Ucap sang Kakek.


"Tidak Tuan, kami hanya sedang menjalankan tugas. Silahkan Tuan".


"Ya, aku tahu. Tetapi apakah kau akan seperti itu juga bila dokter dan suster datang? Mereka tak lama lagi akan datang untuk mengecek kondisi cucuku. Jadi tolong bersikap agak lembut sedikit ya". Perintah sang Kakek.


"Baik Tuan".


Kakek lalu berjalan ke arah pintu kamar.


"Pak Lee? Sedang apa kau di sini? Ah! Tentu. Pasti karena Arran. Kalian tak memberi tahuku dulu bawa akan datang ke sini. Ah, sudahlah". Kakek lalu masuk ke ruangan.


Kepala Keamanan Lee yang bersiaga di depan pintu kamar langsung masuk untuk memberi tahu semua orang yang ada di dalam. Kepala keamanan Lee kemvali keluar dari ruangan untuk memastikan bahwa area sekitaran kamar aman. Beberapa bodyguard yang berjaga di area kamar dalam kondisi bersiaga. Kepala keaman Lee lalu menyuruh Kakek, Arran, dan Aleris untuk keluar.


"Ikuti aku Tuan, tangga daruratnya ada di ujung lantai ini". Kepala keaman Lee dan tiga orang bodyguard lainnya ikut mengawal Arran, Kakek dan Aleris menuju tangga darurat.


Mereka akhirnya tiba di tangga itu. Segera mereka bergegas menuruni tangga itu. Untungnya area tangga itu aman, jadi mereka tidak perlu menghawatirkan apapun. Mereka akhirnya bisa sampai di loby dengan selamat. Salah seorang bodyguard lalu menghampiri petugas yang sedang berjaga di loby dan memberi tahu mereka bahwa sedang terjadi penyerangan di lantai 18. Segera petugas pun mengerahkan beberapa pasukannya dan langsung menuju ke lantai 18.


Kakek, Aleris dan Arran lalu masuk ke mobil yang sudah terparkir di depan rumah sakit. Dua mobil lainnya ikut mengawal mobil mereka dari belakang. Mereka akhirnya pergi meninggalkan rumah sakit.


Mob yang di tumpangi oleh Arran, Aleris dan Kakek dikendarai oleh kepala keaman Lee. Sedangkan para Bodyguard yang mengawal mereka berada di dua mobil yang ada di belakang mereka.


"Kau baik-baik saja kan Nak?" Tanya Kakek Pada Aleris.


"Ya, aku baik-baik saja Kek. Kita mau kemana sekarang?". Tanya Aleris.

__ADS_1


"Ke rumahmu. Maksudku rumah Kakek. Tak usah banyak tanya, kondisimu saja masih lemah begitu". Ucap Arran dengan nada ketus.


"Aku bertanya pada Kakek, bukan padamu". Eajah Aleris berubah kesal.


"Setidaknya berterima kasihlah terlebih dulu padaku. Akukan sudah membopongmu, mana tubuhmu berat lagi". Timpal Arran.


"Aku tidak memintamu untuk membopongku. Kau yang memaksaku".


"Memaksa? Enak saja. Tahu dirilah, kondisi mus saja lemah begitu. Jika aku tidak membopongmu maka kau akan menyusahkan kita semua karena jalan saja kau tak bisa. Bisa-bisa kita tertangkap duluan oleh para penyerang itu". Ucap Arran. Kini wajahnya ikut kesal juga.


"Aih, sudah-sudah. Setidaknya kita semua aman sekarang". Kakek menengahi mereka.


"Aku begitu kaget saat mengetahui kejadian tadi. Aku semakin cemas dengan kondisi cucuku. Apa boleh buat, Tuan Arran dengan sangat terpaksa aku memutuskan untuk memajukan hari pernikahan kalian".


"Apa ? Itu berarti....pernikahannya hari ini?". Tanya Aleris dengan wajah kaget.


"Ya. Tepatnya malam ini. Aku akan menelpon orang rumah untuk mempersiapkan semuanya dengan cepat. Sebentar, Kau membawa suratnya kan Tuan Arran?". Tanya sang Kakek.


"Ya. Ini". Arran mengeluarkan surat itu dari dalam jas nya.Ternyata surat itu adalah surat kontrak nikah.


"Kau boleh membacanya sebelum menandatanganinya Nak". Ucap Kakek sambil menyerahkan surat itu pada Aleris.


Aleris lalu membaca surat itu dengan serius. Ia bahkan mengulanginya beberapa kali.


"Bagaimana? Apakah kau setuju Nak?". Tanya Kakek.


"Melihat dari kondisi yang baru saja aku alami apa boleh buat. Aku tak memiliki pilihan lain selain menandatangani surat kontrak ini dan menikah denganya Kek". Jawab Aleris.


"Baiklah. Kalian bisa menandatanganinya sekarang". Ucap Kakek.


Arran yang pertama menandatangani surat itu kemudian dilanjut dengan Aleris. Ini tandanya mereka sudah bersedia untuk melakukan nikah kontrak.

__ADS_1


Aleris masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia putuskan. Jauh dalam lubuk hatinya ia merasa bersalah karena telah melanggar janjinya dengan Tryan soal lamarannya. Pikirannya kini teringat Tryan. Pria baik hati yang dengan tulus menyayangi dan menerima Aleris apa adanya. Apa yang akan dikatakan Tryan jika ia mengetahui bahwa Aleris telah menikah dengan pria lain.


__ADS_2