Nikah Kontrak Di Penthouse

Nikah Kontrak Di Penthouse
Menemui Kakek


__ADS_3

"Aw!" Arran meringis kesakitan saat lukanya sedang diobati oleh Aleris.


"Maaf, aku sudah berusaha sepelan mungkin." Aleris mengusap luka Arran dengan kapas.


"Arran, bagaimana kau datang dengan kondisi seperti ini ke rumah Kakek?"


"Jangan khawatir, ini hanya luka lebam."


"ah, entahlah."


Aleris menaruh kembali obat ke tempatnya. setelah itu mereka bersiap untuk pergi ke rumah Kakek. tepat pada pukul 07.00 malam mereka keluar dari Griya Tawang. tak sangka dalam lobi mereka bertemu dengan Rhea. wanita itu sepertinya sengaja tengah menunggu kedatangan mereka berdua. begitu mereka berdua melangkah, Rhea mulai membuntuti mereka.


"Kalian mau ke mana? malam-malam begini seharusnya sepasang suami istri ada di rumah. Hal penting apa yang membuat kalian keluar?" Rhea mendekati mereka sambil tersenyum licik.


"Tutup mulutmu! itu bukan urusanmu." Ucap Arran.


"Arran, jangan terlalu kasar pada mantan kekasihmu. Apalagi sekarang aku Kakak iparmu. Jadi berhati-hatilah dalam berucap."


"Maafkan Arran Kak, kami tengah buru-buru. Kami pamit dulu ya." Aleris lalu menyuruh Arran untuk bergegas meninggalkan Rhea.


"Eh, kenapa sangat terburu-buru? aku jadi curiga." Rhea mencegah Arran dan Aleris.


"Kami mau ke rumah Kakek, sudah lama kami tidak mengunjuginya semenjak pernikahan." kata Aleris.


"Hera! kenapa kau beritahu dia soal tujuan kita." Ucap Arran.


"Maaf Arran." Ucap Aleris.


"Ah, ke rumah Kakek ya? kalau begitu aku boleh ikut? Aku juga belum berkunjung padanya hari ini."


"Apa? Kau ini sudah gila ya?" Arran begitu marah.


"Aku tidak gila Arran. Memang apa salahnya? Kakek kan Kakekku juga." Ucap Rhea.


"Jangan macam-macam Rhea!" Arran meninggikan suaranya.


"Aku tidak akan macam-macam Arran. Tenanglah, aku hanya ingin mengunjungi Kakek tersayang, itu saja."


"Rheeaaa!" Arran kini berteriak marah.


"Tenang Arran." Aleris mengusap lengan Arran.


"Jangan diladeni, lebih baik kita pergi sekarang." Bisik Aleris.

__ADS_1


"Awas jika kau berani macam-macam Rhea." Tegas Arran.


mereka pun pergi meninggalkan Achilles Palace menuju rumah Kakek. Sesampainya di sana entah bagaimana ternyata Rhea telah tiba lebih dulu. Arran semakin dibuat jengkel dengan kelakuan Rhea.


"Wanita itu benar-benar sudah gila." Arran membuka pintu mobilnya.


"Kita harus bagaimana Arran? tidak mungkin kita mengikut sertakan Rhea dalam pertemuan penting malam ini."


"Aku juga tidak sebodoh itu. Kita lihat saja nanti." Mereka berdua lalu masuk ke dalam rumah.


Di sana, terlihat Kakek tengah berdebat dengan Rhea. Jarang sekali Aleris atau Arran melihat Kakek marah. Ini kali pertama mereka berdua melihat Kakek yang marah.


"Kau tak bisa bertindak sesuka hatiny Rhea!" Ucap Kakek.


"Ah, itu mereka sudah datang. Selamat datang Adik dan Adik Ipar." Rhea pura-pura menyambut kedatangan mereka.


"Arran, maaf atas kekacauannya. Kakek tak mengira ia akan ke sini. Kakek sudah mencoba mencegahnya."


"Tak apa Kek, kita bisa bicarakan soal itu di lain waktu. Karena kini ada Rhea, lebih baik kita adakan makan malam keluarga. Betulkan sayang?" Arran menatap wajah Aleris.


"oh, ehm. Iya. Betul." Aleris sedikit bingung.


"Argh, ini gara-gara kau!" Kakek tampak marah pada Rhea.


mereka pun mengadakan makan malam yang tak direncanakan itu. Suasana makan malam tampak tegang. Tiba-tiba Rhea dengan santainya membuka topik pembicaraan.


"Kakek tahu, steik wagyu ini favoritnya Arran. Apalagi dipanggang dengan kematangan tingkat medium. Kau tahu tentang itu juga kan adik?" Rhea mendelik pada Aleris.


Aleris tampak kebingungan. Sejujurnya, ia tak mengetahui tentang itu. Aleris belum mengenal Arran secara keseluruhan.


"oh, tampaknya Adik belum tahu. Kalau begitu, lain kali akan kuberi tahu. Aku boleh kan berkunjung ke Griya Tawang? hanya sekedar untuk berbagi informasi tentang seluk beluk Arran yang belum kau ketahui."


"Tutup mulutmu Rhea! sekali lagi aku tegaskan aku bukan pacarmu! aku menyesal telah mengasihanimu selama beberapa tahun terakhir ini. Aku tidak akan melakukannya jika pada akhirnya akan berakhir seperti ini." Arran membentak Rhea.


"Arran, kau seharusnya tak berkata seperti itu pada Rhea." Ucap Aleris.


Itu membuat Rhea sedih, tiba-tiba Rhea bangkit dari makannya. Ia tiba-tiba melangkah mendekati Arran. Semua orang yang ada di meja kaget dengan tindakan yang dilakukan oleh Rhea.


"Jadi semua itu hanya belas kasihan? benarkah itu Arran Xavier?" Rhea kini memegang pundak Arran.


"Rhea, jangan bertindak di luar batas." Kakek kini angkat bicara.


Rhea mencondongkan tubuhnya sedekat mungkin pada Arran. Arran kaget, ia mencoba menghindar. Rhea lalu membisikkan sesuatu ke telinga Arran.

__ADS_1


"Dengarkan aku baik-baik Arran, kau akan jadi milikku. Selamanya akan jadi milikku." Bisik Rhea.


Setelah itu Rhea pergi dari ruang makan. Nampaknya kini Rhea meninggalkan rumah Kakek. Semua orang yang ada di meja makan terdiam untuk beberapa saat.


"Apa yang baru saja dia katakan padamu?" tanya Kakek.


"Bukan apa-apa. Kakek tak usah khawatir. Oh, ya. Aku rasa sudah saatnya kami pulang. Malam sudah semakin larut." Ucap Arran.


"Baiklah. Untuk hal itu kita bicarakan di lusa. Kau ada waktu kan?" Tanya Kakek.


"Ya, tentu."


mereka lalu beranjak dari ruang makan. Aleris mengucapkan salam perpisahan pada Kakek. Arran sudah menunggunya di mobil.


"Kek, aku pamit dulu ya." Aleris lalu memeluk kakeknya.


"Iya, Jaga dirimu baik-baik. Jika terjadi sesuatu segera hubungi Kakek." Ucap kakek, lalu melepaskan pelukan.


"Baik Kek." Aleris pun pergi meninggalkan Kakek.


Arean dan Aleris pun meninggalkan Diadem Palace. Dalam mobil, Aleris merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Aleris menatap Arran, pria itu tengah menatap lurus ke depan.


"Arran, apa yang tadi Rhea katakan?" tanya Aleris.


"Tidak, bukan apa-apa."


"Baiklah. Arran, maaf jika aku terkesan mengungkit masa lalumu. Tetapi bolehkah aku mengetahui hubunganmu dengan Rhea fi masa lalu?" Aleris agak ragu saat mengucapkan hal itu.


"Ya, pada akhirnya aku juga harus mengatakannya. Rhea, dulu adalah temanku. Hanya itu, tetapi dia selalu menganggapku sebagai pacarnya. Aku membiarkannya berpikir demikian, tetapi tak sangka jika akhirnya akan seperti ini."


"Sudah berapa lama kalian berteman?" Tanya Aleris.


"Semenjak kau hilang. Maksudku, sejak usiaku masih tujuh tahun."


"Berarti kalian sudah berteman sejak lama. Pantas saja ia mengetahui banyak hal tentangmu."


"Memangnya kenapa? apa kau cemburu?" Arran kini menatap wajah Aleris.


"Tentu saja tidak. Aku hanya penasaran saja." Wajah Aleris kinj berubah merah padam.


"Tapi pipimu menjadi semerah tomat." Arran lalu kembali menengok lurus ke depan.


Aleris sangat malu. Ia lalu menundukkan kepalanya. Dari kaca spion Arran mengintip Aleris yang tengah tersipu malu. Arran kemudian tersenyum kecil.

__ADS_1


mereka pun tiba kembali di Achilles Palace. Seperti dugaan, Rhea pun telah lebih dulu tiba di sini. Setelah memasuki lobby, mereka berdua kembali berpapasan dengan Rhea. Tapi anehnya, Kali ini wanita itu tidak lagi mencari ribut dengan Arran ataupun Aleris. Ada apa dengn wanita itu?


__ADS_2