Nikah Kontrak Di Penthouse

Nikah Kontrak Di Penthouse
Ada dia diantara kita


__ADS_3

Arran keluar dari lift kediaman Kakek Lysander. Dengan wajah yang serius dan tatapan yang tajam ia melangkah ke pintu keluar. Kakek yang berjalan di sampingnya juga memasang ekspresi sesih dan kecewa. Seakan pertemuan tadi adalah sebuah bencana besar.


"Baiklah, aku pulang sekarang ya Kek." Arran lalu menjabat tangan Kakek.


Kakek kemudian menghela nafas panjang. Wajahnya tampak sangat tertekan. Kakak kemudian menjabat tangan Arran dengan berat hati.


"Kumohon, lakukan yang terbaik untuk kedua cucuku." Kakek menatap wajah Arran dengan sangat dalam.


"Akan ku usahakan dengan semampuku." Jawab Arran datar.


Arran kemudian melangkah pergi. Ia didampingi oleh kepala keamanan Lee. Mereka lalu melangkah pergi kembali ke Achilles Place.


Sesampainya di Griya Tawang, Arran langsung menyusul Aleris. Wanita itu tengah berada di lantai atas dengan Zion, mereka tengah memantau perkembangan adik Zion yang masih diinkubasi. Arran kemudian mendekati Aleris.


"Bagaimana kondisinya sekarang?" Ucap Arran.


"Dia bertahan dengan baik. Dokter bilang bulan depan dia akan bisa dilepas dari tempat ini." Aleris tampak sangat antusias.


"Baguslah, berarti bulan depan aku akan menjalankan rencanaku." Ucap Arran dalam harinya.


"Om Ran, kenapa dia begitu kecil?" Zion tiba-tiba berceletuk.


"Karena dia baru lahir. Kau juga seukuran itu ketika lahir. Tetapi setelah kau diberi makan yang banyak maka ukuranmu bertambah seperti sekarang." Jawab Arran.


"Berarti Om Ran telah banyak makan ya? Soalnya tubuh Om Ran kan jauh lebih besar dari Zion." Ledek Zion. Mereka kemudian tertawa kecil.


Beberapa bulan kemudian....


Pagi itu Aleris bangun dengan bersemangat. Pagi itu adalah hari bahagianya. Adik Zion akan bisa dibawa ke lantai bawah hari ini. Zion ternyata tak kalah antusiasnya. Ia sudah berada di depan pintu kamar Aleris saat Aleris baru bangun. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah Arran. Pria itu sudah tidak ada di kamarnya.


Aleris dan Zion kemudian mencari Arran ke sekeliling rumah. Tetapi Arran tidak ada di mana pun. Kemana pria itu pergi sepagi ini? Tanya Aleris dalam hatinya. Akhirnya Aleris dan Zion pergi ke lantai atas tanpa Arran.


Dokter sudah menyambut mereka berdua di depan pintu kamar rawat.


"Dia sudah sangat sehat untuk kau rawat dengan normal." Kata dokter dwngan senyum lebarnya.


"Syukurlah. Jadi aku bisa membawanya turun ke bawah sekarang kan?" Tanya Aleris dengan tak sabar.


"Tentu Nyonya. Mari kita hampiri dia. Dari tadi dia sudah tidak sabar untuk segera menemui kita." Dokter lalu membawa mereka masuk.


"Hallo adik kecil." Ucap Zion dengan begitu senang.


"Dia mirip denganmu Zion." Kata Aleris sambil menatap haru bayi mungil itu.


"Kita namai siapa dia?" Tanya Zion.


"Dia perempuan Zion. Apa ya nama yang cocok untuknya?" Aleris masih tersenyum pada bayi mungil itu.


"Apa ya?" Zion berpikir keras.


Belum sempat Zion membalas, tiba-tiba terdengar dering panggilan masuk dari handphone milik Aleris. Aleris bergegas mengangkat panggilan itu. Panggilan itu dari nomor tidak dikenal.


"Halo." Sapa Aleris.

__ADS_1


"Arran, kenapa kau menggunakan nomor lain?"


Tiba-tiba telpon terputus.


Tak lama muncul sebuah pesan singkat.


'Tunggulah di rumah. Aku akan segera ke sana sekarang. Berpura-pura lah berbaring di kasur bersama bayi itu. Rhea dan aku akan ke Griya Tawang sekarang.' bunyi pesan singkat itu.


"Arran...dan Rhea? Ke Griya Tawang? Bukankah ia sudah berjanji tidam akan mengizinkan Rhea untuk masuk ke Griya Tawang?" Aleris bingung.


"Ah, sudahlah. Lebih baik aku bergegas."


Aleris kemudian turun bersama Zion dan adiknya. Ia melakukan apa yang telah Arran perintahkan.


"Zion, nanti saudari Tante akan datang ke sini. Zion masih ingat kan dengan clue nya?" Aleris memastikan.


"Masih Tante. Jangan panggil Tante dan Om Ran dengan panggilan itu. Sebaliknya, Zion harus panggil Tante dan Om Ran dengan Tuan dan Nyonya Bos saat ada orang lain." Ucao Zion dengan lancar.


"Anak pintar." Aleris lalu mengusap kepala Zion dengan lembut.


Tak lama, datanglah Arran digandeng dengan Rhea. Anehnya, mereka nampak bergandengan dan begitu mesra. Arran lalu mengajak Rhea untuk menemui Aleris di kamarnya.


"Tuk-tuk." Ketuk Arran dengan sedikit kasar.


Aleris kemudian membukakan pintu.


"Arran, kau sudah pulang." Aleris berpura-pura bersikap romantis pada Arran.


"Cukup. Aku sudah muak denganmu. Berhenti menyentuhku lagi." Arran nampak kesal dengan Aleris.


"Kenapa kau berkata begitu sayang? Apa kau ada masalah di kantor?"


"Cukup!" Arran menaikkan nada suaranya.


"Bagus Arran. Sudah seharusnya kau bersikap seperti itu padanya. Dia memang pantas diperlambat seperti itu." Rhea menimpali dengan sombong dan angkuh.


"Sayang, tidak baik ribut di sini. Anak kita sedang tidur. Lebih baik kita bicarakan di lusr saja." Kata Aleris dengan nada lembut.


"Aku tak mau! Aku sudah benar-benar muak denganmu! Sekarang aku telah berhasil mengambil alih saham keluarga mu. Aku telah mengambil semua saham milik keluarhgamu! Aku tidak butuh kau lagi! Lupakan semua rencana kita. Untuk apa aku harus terus melindungimu? Toh kita hanya nikah kontrak!" Arran membeberkan soal pernikahan kontraknya di depan Rhea.


Mendengar ucapan Arran, reaksi Rhea hanya biasa-biasa saja. Sepertinya Rhea sudah mengetahui hal ini.


"Apa? Tega sekali kau berkata seperti ini! Ada apa denganmu Arran?" Aleris kini benar-benar kaget.


"Aku sudah memutus semua perjanjian dengan Kakek. Hah! Mau saja kau aku bohongi. Jujur saja, aku tak tertarik denganmu sedikit pun. Rhea jauh lebih baik daripada dirimu. Tetapi semua kekayaan Kakek bukan atas namanya. Sialnya, semuanya atas namanu! Jadi aku harus repot-repot berpura-pura untuk semua ini!" Arran kini tertawa licik. Rhea ikut tertawa.


"Arran? Apa ini semua benar?" Aleris masih tak percaya.


"Kau masih saja tak percaya ya? Lihat! Kami sudah tunangan! Arran melamarku semalam. Kini giliran kau yang dicampakkan!" Rhea menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya dengan angkuh kepada Aleris.


"Sekarang, pergi dari tempat ini! Kau tidak pantas untuk berada di tempat seindah ini. Kembalilah ke tempat asalmu. Sebuah apartemen sempit di pinggiran kota. Dengan nama aslimu, Aleris!" Ucap Arran.


Mendengar itu, Aleris menangis. Tak sangka jika selama ini Arran hanya memanfaatkan nya. Hatinya begitu teriris. Harga dirinya sudah jatuh dihadapan kakak angkatnya. Arran sudah mempermalukan Aleris habis-habisan.

__ADS_1


"Ku kira kau bukan orang yang seperti ini Arran." Aleris menghapus air mata yang jatuh ke pipinya.


"Hah, dasad bodoh. Sekarang bawa anakmu itu! Juga keponakanku. Aku tak butuh mereka. Mereka menggangguku. Aku ingin berduaan dengan kekasihku tanpa diganggu oleh siapapun! Cepat, pergi sekarang juga! Bawa mereka semua!" Arran mengusir Aleris.


"Aku kecewa padamu Arran. Mungkin aku tak akan pernah lagi mau menerima mu dihidupku." Aleris hanya bisa menangis.


"Aku juga tak sudi." Ucap Arran


Dengan hati yang hancur, juga derai air mata, Aleris meninggalkan Griya Tawang. Zion dan adiknya juga ikut dibawa pergi. Bocah kecil itu begitu bingung dengan semua ini. Ia bahkan menagis tak mau pergi meninggalkan Om nya. Aleris terpaksa menjelaskan sedikit demi sedikit pada bocah itu.


"Tapi Zion tidak mau. Zion mau sama Om Ran." Zion masih merengek.


"Zion, Zion harus ikhlas ya." Aleris lalu menuntut Zion pergi dari Griya Tawang.


Sementara Rhea dan Arran menonton kepergian mereka dari belakang.


"Sungguh pertunjukan yang manis. Tak ku sangka kau akan cepat berbalik kembali untuk mencintaiku Arran." Ucap Rhea dengan senyum puasnya.


"Aku tidak pernah tidak mencintaimu Rhea." Arran menatap manis pada wanita yang ada di hadapannya itu.


Sementara Aleris, kepergiannya dari Griya Tawang menjadi tontonan para penghuni. Semua orang di lobby menyaksikannya. Mereka bahkan bergunjing di belakang.


"Tega betul Tuan Arran. Padahal istrinya baru saja melahirkan. Tapi kurasa Nyonya Hera lebih cantik daripada wanita selingkuhan itu. Tapi cinta memang buta." Ucap salah seorang yang sedang menyaksikan kepergian Aleris.


"Betul, padahal kurang apa nyonya Hera. Dia cantik, keibuan, anggun, elegan dan kaya raya pula. Tetapi masih diselingkuhi. Apalagi selingkuhannya tak lain adalah kakaknya sendiri. Jika aku jadi Nyonya Hera, entah bagaimana perasaanku sekarang. Mungkin sangat hancur." Ucap orang lain yang ada di sebelahnya.


Aleris kemudian meninggalkan Achilles Palace dengan taksi. Ia masih menangis. Tak lama sebuah telpon kembali masuk. Dari kakeknya. Mungkin kakeknya sudah mendengar berita ini.


"Halo." Aleris mencoba mengatur suaranya.


"Nak? Kau tidak apa-apa?" Tanya Kakek.


"Tidak Kek. Aku yanya sedikit terguncang." Jawab Aleris.


"Kakek benar-benar syok saat mendengar apa yang terjadi padamu. Kakek tak menyangka jika pria brengsek itu akan berbuat seperti itu. Sekarang, kau dimana?"


"Aku sedang di taksi Kek. Aku akan pulang ke apartemen lamaku."


"Baiklah, berhati-hatilah. Kakek tidak bisa membawamu ke sini karena Rhea juga masih tinggal di sini. Tetapi Kakek berjanji akan memberikan penjagaan dan perlindungan ekstra kepadamu selama kau di sana. Kakek akan berikan apalun yang kau mau. Atau kau butuh rumah? Kau juga punya rumah nak. Rumah orang tuamu masih berdiri dengan baik. Atau kau mau rumah baru? Apartemen yang lebih besar? Kakek bisa menyiapkannya sekarang juga."


"Tak perlu Kek. Sudah cukup aku jatuh pada dunia mewah. Aku sudah terlalu silau. Aku ingin kembali ke tempat asalku. Di sana aku akan bisa hidup dengan tenang."


"Baiklah jika itu yang kau mau. Tapi berjanjilah kau akan selalu berkabar dnegan Kakek. Hubungi Kakek jika kau membutuhkan sesuatu. Kau janji?"


"Baik Kek."


Tak lama telpon pun berakhir.


"Siapa tadi Tante?" Tanya Zion.


"Kakek Tante." Jawab Aleris


"Tante kita mau kemana?" Tanya Zion dengan ekspresi khawatir.

__ADS_1


"Kita akan ke rumah Tante. Di sana Zion bebas bermain sepuasnya. Zion jangan sedih lagi ya. Tante janji, Tante akan jaga Zion selalu. Tante sayang Zion dan adik Zion." Aleris lalu memeluk Zion.


"Zion juga sayang Tante." Zion memeluk Aleris dengan Erat.


__ADS_2