
Diadem Palaces, 01 Juni Pukul 00.00
Terdengar suara alunan musik dari balik lift utama. Orang-orang tengah berdansa di bawah sorot lampu panggung dansa. Kebahagian, keromantisan dan kehangatan memenuhi udara di panggung dansa. Ketika lagu berganti, mereka merubah posisi dansa mereka dan mulai mengganti gerak tarian. Semua orang di ruangan itu tampak bersuka cita merayakan pernikahan cucu Lysander malam ini.
Di kursi pelaminan Aleris dan Arran tengah menyaksikan pertunjukan dansa. Aleris berpura-pura menikmati pertunjukan itu sedangkan Arran hanya duduk diam tak berekspresi. Aleris menepuk Arran dan menyuruhnya untuk memasang wajah tersenyum bahagia. Tetapi bukan Arran namanya jika ia dengan mudahnya menuruti perintah orang lain.
Musik dansa pun terhenti, orang-orang yang memenuhi lantai dansa kini kembali ke kursinya masing-masing. Seorang MC pun maju dan membacakan acara selanjutnya.
"Wah, pesta dansanya sangat asik ya. Aku sampai lupa untuk memberikan giliran pada kedua mempelai. Baiklah langsung saja kita persilahkan Tuan Arran dan Nyonya Hera untuk berdansa berdua. Tuan dan Nyonya dipersilahkan untuk memasuki panggung dansa. Tepuk tangan semuanya". MC itu berbicara dengan nada yang penuh semangat.
Aleris kaget saat harus disuruh untuk berdansa dengan Arran. Ia tak pernah berdansa seumur hidupnya. Bagaimana jika nanti di atas panggung ia malah mempermalukan dirinya sendiri. Tetapi Arran malah sudah bangkit dan menggandeng lengan Aleris.
"Ayo kita lakukan. Kita harus meyakinkan semua orang bahwa kita memang benar-benar menikah". Ucap Arran dengan penuh percaya diri.
"Tapi aku tidak bisa dansa. Aku belum pernah dansa sebelumnya". Ucap Aleris dengan wajah yang tegang.
"Apa? Kau tak pernah berdansa? Pantas saja. Ah, aku tidak peduli. Begini, kau hanya perlu mengikuti gerakanku saja. Lagi pula ini hanya dansa biasa. Bahkan anak kecilpun bisa melakukannya". Ucap Arran dengan nada meremehkan.
"Tapi,...tapi..." Aleris kini ketakutan.
"Sudahlah ayo!". Arran menarik Aleris.
Mereka berdua akhirnya memasuki lantai dansa. Orang-orang memberikan tepuk tangan yang meriah pada mereka berdua. Tepuk tangan mulai terhenti saat musik mulai mengalun. Arran lalu memegang lengan Aleris dan mulai berdansa. Aleris begitu kaku dan kikuk saat mengikuti gerakan Arran. Mereka berdua berdansa dengan alunan musik romantis di bawah sorot lampu.
"Aw! Kau menginjak kakiku". Ucap Arran sambil meringis kesakitan.
"Aku minta maaf. Sudah kubilang kalau aku tak bisa berdansa". Ucap Aleris dengan wajah gugup dan khawatir.
__ADS_1
"Kau hanya perlu mengikuti gerakanku sampai musik ini berakhir. Kau mengerti". Ucap Arran.
"Berputarlah". Arran memberi tahu Aleris.
"Apa?". Jawab Aleris kebingungan.
Aleris lalu berputar lalu lengannya ditarik oleh Arran. Arran lalu memangku Aleris ke atas kemudian menurunkannya kembali dan melakukan gerakan dansa lagi.
"Mudahkan?". Ucap Arran.
"Kau gila ya? Aku kaget! Kau tak memberi aba-aba dulu!". Omel Aleris.
"Kan sudah kubilang tadi. Tak apa, dansanya hampir usai". Jawab Arran.
Musik pun mulai memelan, Arran lalu menghentikan gerakan dansanya. Ia lalu membungkuk pada Aleris. Aleris bingung, Arran lalu memberi isyarat untuk melakukan hal yang sama. Alerispun menurutinya. Arran lalu memegang lengan Aleris, Arran lalu mencium lengan Aleris. Semua orang lalu bertepuk tangan.
"Nak, besok Tuan Arran akan membawamu ke Achilles Places. Mulai hari ini kau akan mengikutinya kemanapun ia pergi. Aku tahu kau tak akan kekurangan apapun darinya tetapi aku tetap tak akan membiarkanmu pergi dari sini tanpa membawa apapun". Kakek lalu menyodorkan Aleris beberapa buku tabungan dan black card. Aleris kaget saat menerimanya.
"Terimalah Nak. Ini memang milikmu". Ucap Kakek membujuk Aleris.
"A..aa..aku, aku...". Aleris begitu bingung.
"Ambil saja, lagi pula semua itu sudah atas namamu". Timpal Arran.
"Benar Nak. Semua aset orang tuamu memang sudah atas namamu. Termasuk yang ini". Jelas Kakek.
Aleris bertambah kaget saat mengetahui hal itu. Ia tak pernah membayangkan sebelumnya bahwa ternyata di dunia ini ada unlimited card yang sudah dibuat atas namanya dan harta yang bahkan ia tak mampu menghitungnya. Padahal sebelumnya ia menghidupi dirinya dengan susah payah dan kadang kekurangan. Ia merasa tengah mengalami mimpi untuk saat ini.
__ADS_1
"Hey! Malah melamun". Arran lalu menyadarkan Aleris dari lamunannya.
"Aku bingung. Aku tak pernah membayangkan hal ini sebelumnya". Aleris begitu polos. Ia berkata hal itu pada Kakeknya.
"Aku begitu sedih saat mengetahui kondisimu selama ini Nak. Tapi aku berjanji mulai sekarang kau tak akan kekurangan sedikitpun. Tuan Arran, tolong jaga cucu ku dengan baik". Ucap Kakek.
Arran lalu mengangguk. Kakek lalu duduk di hadapan Arran dan Aleris. Ia sepertinya akan menyampaikan hal lain.
"Kau sudah mengatur keamanan untuk cucuku kan selama ia ada di sana?" Tanya Kakek.
"Ya. Aku dan kepala keamanan Lee sudah mempersiapkannya. Kau tak usah khawatir". Jasab Arran.
"Baiklah. Sekarang bagaimana dengan rencanamu untuk pelaku itu?". Tanya Kakek.
"Aku akan menjelaskannya di pertemuan kita lusa depan. Tetapi aku sudah menyiapkan rencananya dengan baik". Jawab Arran.
"Baguslah, aku tak sabar untuk mendengarnya. Untuk malam ini kau beristirahat di kamar tamu. Pak Jang akan mengantarkanmu. Sedangkan Kau Nak, Bi Ani akan mengantarmu ke kamarmu. Beristirahatlah, ini sudah begitu larut. Sebentar lagi fajar, manfaatkan waktu istirahat kalian dengan baik". Jelas Kakek.
Mereka lalu meninggalkan ruangan itu. Malam itu merupakan malam terpanjang bagi Aleris. Ia merasa tubuhnya begitu remuk. Belum lagi kondisinya kini masih belum pulih sepenuhnya. Ia lalu merebahkan dirinya di atas ranjang yang empuk itu. Pikirannya sedang mengelana jauh dari tempat ini. Ia kini tengah memikirkan Tryan. Harusnya kemarin ia bertemu dengannya dan menerima lamaran dari Tryan tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Ia kini malah menikah dengan pria lain. Aleris bingung, bagaimana ia akan menjelaskannya pada Tryan. Aleris bahkan takut untuk bertemu dengan Tryan sekarang. Tapi ia juga harus pergi ke Caffe Kelana untuk mengundurkan diri. Dan tentu di sana ia akan bertemu dengan Tryan. Aleris juga tak masuk kerja hari ini, Chef Arges pasti sudah menelponnya ribuan kali. Aleris baru tersadar akan handphone nya yang hilang saat memikirkan Chef Arger.
Aleris baru ingat bahwa handphone itu ada di tasnya. Tas itu pasti ada di Arran, ia yang menyekapnya. Pasti tas itu ada padanya. Aleris lalu keluar dari kamarnya dan menuju kamar Arran. Ia menggerutu sepanjang jalan. Ia terus mengutuk Arran atas kejadian penyekapan itu. Pria itu begitu gegabah saat menuduh Aleris sebagai pelaku dari pembunuhan Tuan Cornelius.
Aleris lalu menempelkan sebuah kartu di gagang pintu kamar Arran lalu pintu itupun terbuka. Aleris masuk begitu saja tanpa mengetuk atau izin sebelumnya. Ia diliputi kemarahan, jadi ia lupa untuk minta izin masuk terlebih dahulu.
"Aaaaaaaaaa!!!!!!!". Aleris berteriak kaget.
Teriakan Aleris berhasil membangunkan semua orang yang ada di sekitaran kamar Arran. Pak Jang dan Bi Ani serta pembantu lain sontak menghampiri arh suara itu berasal. Mereka semua kaget saat sampai di tempat itu.
__ADS_1