Nikah Kontrak Di Penthouse

Nikah Kontrak Di Penthouse
Sebuah Pertanggungjawaban


__ADS_3

Kak aku ingin pulang


Dan bermain bersama lagi


Tapi aku kini sendiri


Duduk di kegelapan dan ketakutan


Kak tolong jemput aku


Atau paling tidak duduk di sampingku


Merangkulku dan mengusir rasa takutku


Tapi dimana kau sekarang?


Konon ketika seseorang sedang tak sadarkan diri, ia bisa mendengarkan dan menyelami alam bawah sadarnya. Seakan alam bawah sadarnya mengajaknya berbicara dan memutarkan kembali kenangan-kenangan yang sudah lama hilang dari ingatan. Seperti tengah menyaksikan sebuah film dengan alur cerita yang tak runtut. Benarkah ?


Kini ia tengah mengalami hal itu. Ketika tubuhnya tergeletak di lantai yang dingin dan masih dalam pengaruh obat bius. Lengan dan kakinya diikat dengan kencang sedang matanya ditutup oleh kain hitam. Gadis itu terkulai lemah tak sadarkan diri.


Perlahan gadis itu terbangun, telinganya mendengar suara-suara yang berasal dari dekatnya. Ketukan langkah kaki, bisikan-bisikan dan gesekan ranting pohon terdengar jelas di telinganya. Ia mencoba untuk bangkit tapi sulit, sekujur tubuhnya dalam kondisi lemah. Entah sudah berapa lama ia tak sadarkan diri. Ia khawatir jika akan terjadi sesuatu padanya.


Klik


Gadis itu mendengar suara pintu terbuka juga langkah kaki yang sepertinya tengah mengarah padanya. Siapa mereka dan mau apa mereka?


"Jika dilihat dari dosis takar yang kugunakan, sepertinya sebentar lagi dia akan terbangun". Seorang pria nampaknya tengah membicarakan gadis itu pada pria yang ada di sampingnya.


"Kau benar, kita tunggu sebentar lagi". Pria lain yang ada di samping pria tadi menimpali ucapannya barusan.


Gadis itu mencoba untuk tetap terlihat pingsan, ia bahkan mengatur nafasnya sepelan mungkin agar tak ketahuan. Tetapi kedua pria itu sudah hilang kesabaran. Ia menyeret gadis itu dan mencoba untuk mengikatkannya di sebuah kursi. Sang gadis yang tadinya berpura-pura masih pingsan kini mencoba untuk melawan mereka. Tetapi percuma saja, tenaganya tak sekuat mereka. Kini kedua pria itu membukakan tutup mata sang gadis.


Saat kain penutup matanya di buka sang gadis tampak sangat kesilauan. Ia mengerdipkan matanya beberapa kali agar mampu melihat dengan jelas. Nampak dari depan sang gadis adalah dua orang pria dengan setelan yang berbeda. Yang sebelah kiri mengenakan setelan serba hitam dan yang sebelah kanan mengenakan kemeja formal berwarna biru tua. Ia kini bisa memandangi seluruh isi ruangan itu, ruangan luas yang dicat serba putih dengan warna ubin lantai yang senada. Ruangan itu kosong, tak diisi oleh barang apapun kecuali sebuah kursi yang sedang ia duduki saat ini. Gadis itu mendadak tercengang saat menyadari siapa pria yang ada di sebelah kanan itu.


"Kau!". Gadis itu ingin marah tapi suaranya malah terdengar sangat pelan, ia sudah kehabisan energi.

__ADS_1


"Ku kira kau hanya gadis polos biasa". Ucapnya ketus.


"Apa maksudmu dengan menyekapku seperti ini? Hanya karena aku tak bisa ganti rugi bukan berarti kau berhak bertindak semena-mena terhadapku". Gadis itu masih berpikir bawa pria itu ingin meminta ganti rugi padanya.


"Berhenti mengeluarkan omong kosong dan jawab pertanyaanku dengan jujur, siapa yang menyuruhmu untuk memasangkan alat pelacak ini di mobilku?". Pria itu mengacungkan sebuah alat pelacak di depan mata gadis itu.


"Alat pelacak?". Wajah gadis itu berubah menjadi kebingungan.


"Tak usah pura-pura tidak tahu. Percuma juga bila kau mengelaknya. Sudah jelas kau pelakunya". Ucap pria itu menyudutkan sang gadis.


"Aku tak tahu apa-apa soal alat pelacak atau apapun itu. Kenapa kau dengan mudah menuduhku seperti ini?".


"Masih berani mengelak ya. Dengar, hanya kau yang menyentuh mobilku kemarin jadi siapa lagi pelakunya jika bukan kau?". Pria itu semakin menyudutkan sang gadis.


"Bukan aku pelakunya! Untuk apa aku memasangkan alat semacam itu di mobilmu? Aku bahkan tidak mengenalmu dan tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya".


"Masih mengelak, baiklah aku terpaksa menggunakan cara kekerasan agar kau mau buka mulut". Pria itu membisikkan sesuatu ke telinga pria yang ada di sampingnya.


Gadis itu tampak gelisah. Ia takut dirinya akan berada dalam bahaya. Ia tak tahu harus berbuat apa. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang sedangkan sekujur tubuhnya gemetaran. Ia mencoba melepaskan diri dari ikatan yang menjeratnya tetapi sia-sia. Jeratan itu begitu kencang dan kuat, mustahil jika gadis itu berhasil membukanya sendiri.


Sesaat kemudian pria tari datang kembali, tetapi kali ini ditemani dengan seorang wanita yang mengenakan seragam house keeping. Wanita itu membawa sebuah cambuk di tangannya. Hati gadis itu semakin berdebar. Ia akan dicambuk jika ia tak mengakuinya. Tetapi ia tak bersalah, ia tak bisa mengakui kejahatan yang tak dilakukan olehnya.


Pria itu mengetahui nama gadis itu. Aleris bertanya-tanya dari mana pria mengetahui namanya. Tetapi ini bukan saatnya untuk memikirkan hal-hal semacam itu. Keselamatannya kini dipertaruhkan. Ia sudah kehabisan akal dan tenaga untuk melarikan diri. Ia hanya bisa pasrah pada yang kuasa, berharap jika akan ada seseorang yang datang menolongnya.


"Berapa kali harus aku bilang bahwa bukan aku yang memasangkan alat itu di mobilmu".


"Baiklah, jika itu maumu".


Pria itu memberi isyarat pada wanita yang ada di dekatnya untuk maju mendekati Aleris. Dengan cepat wanita itu melangkah mendekati Aleris dan mengangkat cambuknya. Baru saja cambuk itu setengah terangkat tiba-tiba terdengar suara pintu yang di dobrak.


"Hentikan!". Tiba-tiba datanglah seorang kakek-kakek dan dua orang pria lainnya. Kakek itu adalah Kakek-kakek yang Aleris temui di halte bus.


"Tuan Arran, beraninya kau menyekap cucuku!". Kakek itu berjalan mendekati pria itu. Wajah sang Kakek terlihat begitu marah dan penuh emosi.


"Cucumu?". Arran begitu keheranan.

__ADS_1


"Ya, dia adalah cucuku yang hilang dua puluh tahun yang lalu. Lepaskan dia sekarang. Brrani sekali kau menuduh cucuku sebagai pelaku dari pembunuhan Tuan Cornelius. Bagaimana mungkin?". Kakek itu menatap wajah Arran dengan sinis.


"Gadis ini adalah cucumu? Bagaimana bisa?". Arran masih bingung.


"Aku memang baru menemukannya hari ini. Tetapi aku tahu dengan pasti bahwa ia cucuku. Sudah, lepaskan dia sekarang". Sang Kakek kini berbicara dengan nada tinggi dan wajah terangkat.


"Aku tak bisa mempercayaimu sepenuhnya. Bagaimana jika kau adalah dalang di balik kematian Tuan Cornelius yang sebenarnya. Gadis ini pasti kaki tanganmu kan?".


"Tuan Arran!". Sang kakek sudah kehilangan kesabarannya. Ia dengan spontan menampar wajah Arran dengan keras.


"Jangan berbicara sembarangan padaku. Dengar baik-baik dan camkan ini. Tuan Cornelius adalah keluargaku, dia adalah anak dari Kakakku dan akulah yang berhak mengusut kasus pembunuhannya. Akulah walinya. Kau tidak berhak ikut campur, apalagi menyekap dan melukai cucuku. Cepat! Lepaskan dia sekarang atau ku laporkan kau ke polisi karena telah menyekap cucuku". Sang kakek benar-benar sudah murka.


Arran kaget mendengar kenyataan yang baru saja ia dengar. Wajahnya tampak bingung. Ia tertegun untuk beberapa saat.


"Pak Lee, lepaskan Nona Aleris". Ucap Arran.


Pria yang ada di samping Arran maju mendekati Aleris dan membukakan ikatan yang sudah menjerat sekujur tubuh Aleris sejak lama. Begitu ikatan itu lepas Aleris terjatuh dan tak sadarkan diri.


"Hera!". Tiba-tiba sang Kakek memanggil Aleris dengan nama cucunya. Sang Kakek mendekati Aleris, ia mencoba menyadarkannya kembali. Tetapi Aleris sudah kehabisan tenaga untuk bangun. Tubuhnya sudah lemah, ia bahkan tak mampu untuk menopang tubuhnya lagi. Sang Kakek begitu cemas melihat kondisinya saat ini. Berkali-kali ia berusaha membangunkannya.


"Pak Yosep, cepat kesini!". Sang Kakek memanggil pengawalnya.


"Bawa cucuku ke mobilku dan antarkan kami ke rumah sakit". Sang Kakek memberi perintah kepada Pak Yosep.


"Baik Tuan". Ucap Pak Yosep.


Pak Yosep membopong Aleris ke mobil. Sang Kakek lalu berdiri dan menghampiri Arran.


"Kau harus bertanggung jawab atas apa yang telah kau lakukan pada cucuku". Ucap sang Kakek sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah wajah Arran.


"Aku tak tahu jika ia ternyata cucumu. Aku minta maaf atas kesalahanku". Arran memasang wajah penyesalan yang dalam. Ia bahkan membungkukkan badannya di hadapan sang Kakek.


"Tidak. Tidak cukup dengan meminta maaf. Aku ingin kau menikahnya". Ucap sang Kakek. Tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari dalam jasnya. Amplop yang sama dengan amplop yang di bawa Tuan Cornelius.


"Tuan Cornelius sudah mengorbankan nyawanya untuk amplop ini. Jadi ku harap kau melaksanakan apa yang telah Tuan Cornelius sampaikan". Kakek itu menyerahkan amplop itu ke hadapan Arran.

__ADS_1


"Menikahinya?". Wajah Arran semakin kebingungan.


Sang Kakek menatap Arran dengan tajam. Arran juga menatap wajah sang Kakek dengan ekspresi bingung dan kaget. Mereka saling berhadapan saat ini. Apakah Arran akan menyanggupi perintah dari sang Kakek?


__ADS_2