Niken Areline

Niken Areline
Prolog


__ADS_3

Manusia butuh sekitar lima hingga tujuh menit untuk tertidur dan tiba di alam bawah sadar. Di dalam mimpinya, Alan bertemu dengan sosok wanita berkebaya putih yang sedang duduk di ayunan sebuah pohon besar. Pohonnya aneh, daunnya berbentuk bintang dan berwarna emas. Sinar matahari membuat dedaunan itu nampak silau sebab, memantulkan gemerlap cahaya keemasan. Wanita itu duduk tanpa menggerakkan ayunannya. Diam seperti mayat.


Dari depan, Alan berjalan menghampiri si wanita. Alan hanya mengenakan piyama tanpa alas kaki. Kakinya menginjak rerumputan kering dan tanah berbatu yang sedikit hangat. Kemudian, salah satu daun yang gugur, tertiup angin lalu hinggap di dada Alan. Alan memungutnya, dia ingat bahwa mimpi ini memang sudah terjadi selama satu minggu berturut-turut. Namun, dia merasa bahwa mimpi ini belum pernah sampai hingga sejauh ini. Biasanya, ketika dia berjalan mendekati wanita itu, mimpi akan berakhir dan dia akan terbangun di malam hari.


Namun tidak untuk kali ini, dia memegang daun itu dan melanjutkan langkahnya. Alan sudah berada sekitar tiga meter di depan wanita misterius. Dia mengenakan mahkota perak dengan batu berlian biru berbentuk hati. Rambut hitam panjangnya terhelai angin. Kalung emas dengan pernak-pernik berlian biru, menghiasi leher hingga ke bagian belahan dada yang sedikit terlihat.


“Hei,” Sapa Alan.


Wanita itu menatap. Rautnya sedih, matanya berkaca, lalu dengan cepat dia mengusap air mata yang mungkin masih tersisa. Seolah terkejut menyadari seorang pria menyapanya.


“Hei,” wanita itu membalasnya, dia mencoba tersenyum.

__ADS_1


“Kamu siapa?”


“Niken,” jawabnya. “Niken Areline.”


“Niken,” gumam Alan. “Kamu berasal dari mana? Kenapa selalu masuk ke mimpiku?”


“Kana.”


Lalu Niken mengangkat bahunya, dia mulai menjelaskan sesuatu yang mungkin akan sedikit rumit untuk didengar Alan. Niken merasa seperti hendak menaruh benang yang panjang dan kusut di dalam kepala pria itu, mungkin akan membuatnya kehilangan akal sehat.


“Aku berasal dari dunia lain, kamu bisa menyebutnya Kana,” lantas Niken berdiri, ternyata tubuh Niken sedikit lebih tinggi dari Alan. Kedua kaki indah tanpa alas itu, melangkah mendekati Alan. Lalu Niken mengulurkan tangan kanannya dan menatap mata Alan. Alan menyadari bahwa wanita itu memiliki wajah kejawaan yang mempesona. Kedua bola matanya berwarna hitam, hidung yang mancung dan bibir sedikit tebal. Aroma melati menyengat dari tubuh Niken saat angin berhembus ke arah Alan.

__ADS_1


Cantik sekali, Alan membatin sekaligus merinding, bulu romanya berdiri.


“Sentuh aja, kamu bakalan ngerti semuanya,” ajak Niken.


Gluk, Alan menelan air liurnya sendiri. Lantaran takut dan gugup bercampur aduk. Alan termasuk sosok yang terbilang cupu di antara pria seusianya. Dia jarang sekali membaur dengan teman kerja atau kuliahnya, pergi ke pesta bahkan berkencan dengan seorang wanita. Alan lebih senang menghabiskan waktunya untuk menyendiri, memakan cemilan di rumah dan membaca beberapa novel horror terjemahan karya Stephen King, Robert Lawrence Stine ataupun Anne Spollen.


“Apa harus pegangan tangan?”


Niken Areline menjawabnya dengan senyum dan menganggukan kepalanya. Lalu Alan menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Dia menjatuhkan daun emas yang dipegang, lalu dengan perlahan, Alan mengulurkan tangan kanannya. Jemarinya sudah menuju ke jemari tangan kanan si putri cantik.


*

__ADS_1


Begitu menyentuh jari telunjuk Niken, Alan roboh dan tersungkur di tanah. Tumbang seperti pohon yang baru ditebang. Alan masuk ke tempat yang lebih dalam dari alam bawah sadarnya. Alan berdiri di suatu tempat beralas hitam putih, bak papan catur namun tanpa ujung. Di mana wanita itu? Dia membatin.


__ADS_2