Niken Areline

Niken Areline
Portal dan Nasi Lengko


__ADS_3

    Lagi-lagi hujan deras mengguyur malam di kota Tegal. Lampu jalanan menerangi genangan air yang terus bergelombang. Lalu lalang kendaraan juga menjadi bagian tersendiri dari panorama suasana malam di bulan November. Di dalam kamarnya, Nada berbaring memandangi atap. Wanita itu menarik selimutnya yang sewarna dengan piyamanya, merah muda. Suara hujan lirih terdengar dari dalam sini. Wajah Nada melongo sedang memikirkan sesuatu. Lebih tepatnya sebuah memori yang sempat mewarnai hatinya. Itu terjadi satu tahun yang lalu. Mungkin baginya sehari yang lalu.


Satu tahun yang lalu.


    Mentari mulai hadir,


    menyapa ufuk di sebelah timur.


    Raganya menebar kirana di sepanjang cakrawala.


    Awan putih yang membahu, nampak menyelimuti Bumi.


    Dari puncak Semeru, yang nyata hanyalah keajaiban.


    Mereka duduk berdua menatap cakrawala. Tidak ada puisi yang bisa melukis semua ini, melukis tentang kebebasan. Kebebasan ketika yang ada hanyalah aku dan kamu di puncak tertinggi se-Jawa.


    “Kamu bisa ngucapinnya sama mentari,” ujar Dimas kepada Nada yang duduk menyandar di bahunya.


    “Aku harus ngomong gimana?”


    “Kalo kita lebih biersinar dari pada dia pagi ini.”


    “Hahaha, dasar,” tawa Nada sembari melingkarkan kedua tangannya di pinggang Dimas.


    “Ada kalimat yang lebih tepat, yang bisa aku katakan kepadanya pagi ini.” ujar Nada.


    “Apa?”


    “Kalo kita bangun duluan, hahaha,” jawabnya dengan tawa yang membuat kedua mata Nada semakin sipit. Dimas mencium kening Nada.


Sekarang


    Setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran wanita berwajah imut yang sekarang sedang manyun. Lalu Nada memperhatikan jari manis di tangan kirinya. Nampak bekas lingkar cincin yang sempat dipakainya. Dimas telah melupakannya, semenjak mengalami kecelakaan di sebuah pendakian, ingatannya tentang Nada telah hilang.


Meski semua foto dan bukti hubungannya masih ada, namun perasaan di hati Dimas telah hilang begitu saja bersamaan dengan ingatannya.


    Saat itu Dimas mendadak pingsan dalam perjalan turun di gunung Slamet. Satu hari setelahnya, Dimas terbangun di kamar rumah sakit tanpa mengenali tunangannya sendiri, Julia Nada. Hingga akhirnya kedua pihak memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang sebenarnya sudah terjalin selama dua tahun.


*


    Alan bangun lebih awal dari ayam jago ataupun mentari. Pukul setengah tiga, dia menyalakan lampu kamar lalu duduk di meja belajar dan membuka laptop. Dia mulai menulis sesuatu tentang apa yang diceritakan Niken Areline di dalam mimpinya. Dari mulai siapa Niken, keadaan Kana, sihir, peri hingga kutukan.


    Kini Alan duduk menyandar setelah mengisi tiga halaman penuh dengan pengetahuan sekilasnya tentang Niken. Rasanya seperti baru saja masuk ke dalam kelas dan mendengarkan kuliah dari dosen yang cantik.


*


    Pukul tujuh pagi, Alan menarik kencang sepeda motor matic berwarna hitam miliknya. Roda dua itu membelah jalanan kota Tegal di pagi hari. Jalanannya basah, namun, langit sangat cerah, nyaris tidak ada awan di atas sana. Melewati jalan Setia Budi dan berbelok ke kiri di perempatan. Aroma gula dan mentega, tercium dari toko roti Paman Jek, Paman Jek adalah ayah dari Julia Nada. Dia memiliki toko roti yang terbaik di kota ini. Kak Vivi berkerja paruh waktu di sana.


    “Aku laper banget,” tiba-tiba terdengar suara Niken di telinga Alan. Sontak Alan terkejut dan menepikan sepeda motornya kepinggir jalan. Di bawah rambu pertigaan, dia berhenti.


    “Astaga!” Alan menyumpah sambil mematikan mesin lalu melepas helmnya. “Apa itu kamu?”


    “Ya, aku laper.”


    Hah? Terus gimana cara dia makan? Alan membatin.


    “Terus gimana cara kamu makan? Kamu kan di dalem tubuhku.”


    “Aku nggak tau,”


    “Ya ampun.” Alan menggaruk rambut kepalanya sendiri. Apa kalo aku makan, ntar dia bakalan ikut kenyang? Sesuatu seperti itu terpikirkan dalam benaknya.


    “Alan, cari tempat yang sepi!” suruh Niken.


    “Hah? Ngapain?”


    “Aku mau keluar.”


    “Apa?” Alan terkejut namun bertanya lagi untuk memastikan apa yang di katakan oleh Niken.


    “Aku mau keluar dari tubuhmu.”


    “Emang bisa?”


    “Udah, cepetan cari tempat yang sepi aja, di sini banyak orang lewat.”


    “Oke, oke tunggu,” ucap Alan sembari menyalakan kembali motor dan memakai helmnya lagi.


    Dia mencari tempat yang sepi, namun matanya terus memperhatikan jam tangan di pergelangan kirinya. Tiga puluh menit menjelang jam kerja. Alan memasuki sebuah gang yang sempit. Bola matanya melirik ke sana kemari mencari tempat yang pas. Setelah melewati dua belokan, dia menemukan sebuah bangunan yang tidak terawat dengan halaman yang lumayan lebar dan rerumputan tinggi tidak terawat.


    Dia menengok ke depan dan belakang, memastikan tidak ada orang di sekitarnya. Lalu, belum sempat Alan mempersilahkan Niken untuk keluar dari tubuhnya, tiba-tiba rasa sakit terasa di jantungnya.


    “Aw,” gumam Alan sembari memegang dadanya.


    Bulatan cahaya berwarna merah, keluar dari dada. Melesat ke depan dan kemudian membesar. Lantas dengan perlahan menjelma menjadi sosok wanita. Sekarang dia sudah berdiri tepat di hadapannya. Niken Areline, si putri berparas cantik dari Kana. Alan melongo, tanpa sadar rasa sakitnya sudah hilang. Lalu dengan panik, dia menengok ke sana kemari.


    “Pakaianmu!” ucap Alan.


    “Hah? Pakaianku?” tanya Niken, dia kebingungan.

__ADS_1


    “Ya, pakaianmu, orang bakal liatin kamu kalo kamu keliatan kayak putri raja dari jaman perang Majapahit!”


    Alan masih menengok ke sana kemari, memperhatikan jalanan sepi dengan membayangkan ada orang yang akan melintas lalu melihatnya. Mungkin hendak berangkat ke sekolah ataupun pergi untuk berkerja, mengingat sebelum pukul tujuh pagi adalah waktu yang krusial, di mana semua orang akan sibuk memulai aktivitasnya.


    “Gini?” ucap Niken.


    Lantas Alan terpaku melihatnya, dia melotot. Jelas sekali Niken tidak bisa membedakan mana pakaian yang layak dipakai di pagi hari atau tidak. Wajah Alan memerah saat pandangannya tertuju kepada belahan dada si tuan putri yang hanya mengenakan bikini biru bergambar Hiu.


    “Oi, nggak yang seperti itu!” ucap Alan. “Lagian, dari mana kamu ngerti pakaian kayak gitu?” Kayaknya itu bikini nggak asing.


    “Lah terus gimana? Aku niru pakean cewek yang ada di sampul buku di meja kamarmu.”


    Saori Hara, Alan membatin. Saori Hara adalah salah satu wanita bintang film dewasa di Jepang. “Ya ampun,” ucap Alan kaget menyadari Niken sudah sempat memperhatikan majalah dewasanya. “Pakean kek gitu nggak pantes di pake sekarang, kamu ganti yang kayak orang-orang di jalan tadi loh!”


    Slap! Seperti pesulap, Niken mengganti pakaiannya. Kali ini dia mengenakan seragam putih abu-abu khas anak SMA dengan rok yang panjang. Rambut yang tadinya panjang terurai, kini sudah rapih terikat ke belakang dengan poni lurus menyentuh alis.


    “Gini?”


    “Ya udah,” ucap Alan, meski sedikit bingung dengan bet nama di seragam SMA yang bertulis Yuni Imelda.


    Kemudian Niken berjalan menghampiri Alan, perlahan dia naik ke jok belakang motor. Bukan penampilannya saja yang berubah, namun aroma tubuhnya juga. Mirip kayak parfum kak Vivi. Breeem, Alan menyalakan kembali motornya.


    Mereka berdua melewati jalan raya lagi. Angin membuat rambut panjang Niken berkibar-kibar. Sementara masih banyak pertanyaan di dalam kepala Alan. Seperti: Apakah Niken harus keluar dari tubuhnya setiap kali dia lapar lalu ingin makan? Seperti apa makanan yang disukainya? Apa dia mau menyantap makanan seperti makanan yang aku


makan? Uangku tidak akan cukup jika aku harus menuruti menu makan seorang putri raja. Lalu bagaimana jika dia ingin buang air?


    Namun, dari semua pertanyaan itu, Alan cukup kesulitan untuk melayangkan satu di antaranya.


    “Kamu sih nggak sarapan!” ucap Niken menyalahkan Alan.


    “Hah? Apa hubungannya sama aku?”


    “Aku laper apa enggak, itu tergantung kamu!”


    Kriuk, suara perut Alan. Lantas Alan baru menyadari rasa laparnya.


    “Aku emang nggak biasa sarapan,” katanya.


    “Kenapa?"


    “Aku mulai makan jam dua belas.”


    “Itu kan makan siang.”


    “Ya.”


    “Kenapa kamu enggak sarapan?”


    “Ngirit?"


    “Ya, ngirit. Aku sama kakakku lagi nabung buat bayarin rumah itu, kami masih ngontrak.”


    “Jadi masalahnya uang?”


    “Ya.”


    “Ya ampun,” ucap Niken.


    Alan sempat memikirkan sesuatu tentang kekuatan sihir Niken. Kalo dia bisa ganti pakean mudah gitu, dia bisa nyiptain duit nggak ya?


    “Aku bisa bantuin kamu,” ucap Niken.


    “Jadi kamu bisa bikin duit gitu?”


    “Hmmm, enggak.”


    “Lah terus bantuin gimana?”


    “Jadi gini, sihir itu nggak bisa buat bikin benda-benda secara instan. Kayak seragam yang aku pakek sekarang. Sebenernya aku cuma nuker gaun yang aku pakek sama orang yang lagi pakek seragam ini. Nah, kalo uang, aku juga bisa nuker sama benda-benda lainnya, kayak batu misalnya, selama orang yang punya uang itu gak punya


kekuatan sihir untuk menangkalnya.”


    Astaga, apa mungkin itu bikini punya Saori Hara beneran? Terus juga, mungkin ada bocah sekolah yang tiba-tiba pakek gaun putri jaman perang Majapahit! Gilak. Alan membatin sambil tersenyum.


    “Tapi kan sama aja nyuri?” ucap Alan.


    “Iya sih.”


    “Lah dasar.”


    “Terus gimana dong? Aku laper banget!”


*


    “Ini namanya makanan apa?” tanya Niken.


    Mereka berdua duduk di warung makan nasi lengko yang terkenal di kota Tegal, Nasi Lengko Prapatan. Nasi Lengko sendiri merupakan makanan organik khas masyarakat pantai utara yang disajikan dengan nasi, tahu, tempe, ketimun, yang diiris kecil-kecil. Ada juga tauge dan daun kucai, lalu disiram dengan bumbu kacang dan kecap manis ke semua bahan. Tidak lupa bawang goreng dan kerupuk.


    “Nasi lengko,” jawab Alan, dalam hatinya bertanya: Apa dia bakalan doyan?

__ADS_1


    Lengko, pikir Niken setelah menyadari bahwa warung ini bernama Nasi Lengko Prapatan. Di antara mereka nampak juga pengunjung lainnya yang lahap menyantap nasi lengko. Beberapa di antara mereka merokok setelah menghabiskan sarapannya.


    “Gini,” ucap Alan sembari menunjukan cara makannya. Pertama dia menggunakan garpu dan sendok untuk mengaduk nasi dengan segala taburan di atasnya hingga merata. Kemudian melahapnya, sesendok demi sesendok.


    Niken mengikuti apa yang dilakukan Alan. Begitu satu suapan sendok masuk ke dalam mulutnya, nasi yang telah bercampur dengan bumbu kacang dan kecap, irisan ketimun, tahu dan bahan-bahan lainnya, semua rasa yang dipadukan itu meledak di dalam mulutnya. Gilak! Niken membatin. Mengunyah, menelan lalu kembali ke suapan sendok berikutnya. Ini enak banget.


    Alan melirik dan melihat Niken tersenyum lahap menyantap sarapannya. Fiuuw, Alan merasa lega.


    “Niken, aku mau nanya,” ucap Alan selesai minum teh hangat.


    “Ya?” jawab Niken sambil mengunyah.


    “Aku mikir gini, Kana itu kek kerajaan di jamanku dulu. Bangunan dan semua perabotannya. Meski Kana keliatannya jauh lebih kuno dari duniaku, tapi sihir bisa nggantiin semua peralatan canggih yang ada di duniaku. Misalnya kayak cermin yang bisa dipake buat teleport orang, sementara di duniaku orang harus capek-capek jalan buat nyampe tujuan. Karena itu, Kana nggak mbutuhin segala teknologi yang ada di duniaku, bahkan sebenernya bisa dibilang Kana lebih maju dari pada duniaku, bener nggak?”


    “Ummm, ada benernya,” ucap Niken menyadari gagasan pintar teman barunya. “Tapi masalah


cermin itu bukan buat teleport semua orang. Cuman Jaka yang bisa.”


    “Jadi cuman Jaka yang bisa ngelakuin itu.”


    “Huum,” Niken mengangguk. Lalu sesuatu mendadak terlintas dalam pikirannya. “Portal!” ucap Niken.


    “Hah? Portal?”


    “Kita harus menutup portalnya!” ucap Niken mendadak berdiri dan menjatuhkan sendoknya ke piring, membuat bunyi benturan yang nyaring. Semua orang di sana sontak memperhatikannya. Mungkin mereka mengira ada sepasang kekasih yang sedang bertengkar di pagi hari.


*


    Alan memacu kendaraannya sembilan puluh kilo meter per jam. Menyalip motor, mobil dan becak bagai pembalap profesional. Bahkan aku belum menggigit tempenya. Pikir Alan  meratapi sarapan paginya.


    “Portal apa? Jelasin!” tanya Alan dengan keras.


    “Kana! Ummm, sebenernya bukan portal, tapi sebuah menara.”


    “Menara?” Alan semakin bingung.


    “Dalam radius tertentu, menara itu membuat penyihir bisa bikin portal antara Bumi dan Kana.” Alan mencoba memahaminya. Mungkin sistem kerjanya seperti hardware wi-fi, jika hardware wi-fi itu dimatikan, maka tidak ada yang bisa menyambungkan koneksi internet di sekitar jangkauan wi-fi.


    “Jadi kalo menara itu diancurin, nggak bakal ada penyihir yang bisa bikin portal?”


    “Ya, kayak gitu,” jawabnya. “Tapi nggak bisa diancurin. Menara itu kekal, udah ada sejak lama.”


    “Terus mau diapain menaranya?”


    “Aku bisa pake sihir buat ngilangin kekuatan menara itu, tapi itu juga nggak lama.


Mungkin sekitar dua bulan lagi menara itu bakalan aktif. Kalo sihirku melemah.”


     Lantas pemikiran Alan tentang menyamakan menara dengan hardware wi-fi terasa sedikit benar.


     “Emangnya di mana menaranya?”


     “Di sana!” Niken menunjuk ke arah lampu rambu di sekitar rel perlintasan kereta api.


*


     Mana sih menaranya? Alan membatin. Dia kebingungan berjalan di tengah rel perlintasan kereta api. Namun, dia tidak menemukan satupun benda yang setidaknya bisa dibilang sebuah menara. Hanya ada kerikil, rel dan rambu-rambu. Alan terus mengikuti langkah Niken, wanita itu yang nampak yakin dengan apa yang sedang ditujunya. Menemukan gelas air plastik dan beberapa sampah lainnya.


    Tidak lama kemudian Niken berhenti. Langkah Alan juga ikut berhenti. Masih di tengah rel dengan rumput dan alang-alang yang tinggi di sekitarnya, Niken jongkok lalu menapakkan tangan kirinya ke tanah.


    Garis cahaya merah, turun dari langit dan menyentuh telapak tangan kiri Niken. Gelombang angin yang datang, menghempaskan rerumputan, baju dan rambut Niken. Alan terkejut melihat apa yang sedang terjadi. Lantas, sekian detik cahaya itu menghilang. Niken mengangkat telapak tangannya dari tanah lalu berdiri.


    “Udah,” ucap Niken masih membelakangi Alan.


    “Jadi, menara itu emang nggak keliatan?”


    “Ya,” jawabnya. “Sekarang mereka nggak bisa masuk di sekitar sini lagi.”


    “Orang-orang yang jahatin kamu?”


    “Huum, tapi mereka bisa masuk lewat menara-menara di tempat yang lain.”


    “Hah? Jadi ada lagi ya menara kayak gitu?”


    “Banyak, tapi ini menara yang paling deket. Menara lainnya ada di luar pulau ini.”


    “Jadi kamu tau pulau selain ini?”


    Lalu Niken membalikan badan menatap Alan.


    “Ayahku punya petanya, kalo nggak salah ini namanya pulau Jawa kan?”


    “Ya, bener.”


    “Aw,” Niken memegang keningnya sendiri. “Aku pusing sekali.”


    Pijakannya goyah, kepalanya terasa sangat berat dan tubuhnya melemas. Kemudian Niken tumbang, Alan menangkap tubuhnya. Sempat terpikir di kepala Alan, dari mana dia bisa tahu bahwa ini adalah pulau Jawa? Sementara dia tidak pernah melihat Niken keluar untuk mempelajari sesuatu ataupun pergi ke dunia ini sebelumnya. Lalu terselip juga pemikiran lainnya seperti: Mungkin Niken bisa mempelajari sesuatu yang aku ketahui, seperti bahasaku misalnya. Tapi tetap saja Alan tidak tahu cara Niken melakukannya.


    “Hei? Kamu nggak apa-apa kan?” Alan khawatir sembari menampar-nampar kecil pipi Niken.

__ADS_1


    Slap! Niken berubah menjadi bulatan cahaya merah yang kecil lagi, lalu melesat masuk ke dalam jantung Alan.


    “Arggh!” Alan merasakan nyeri sekilas saat cahaya itu masuk ke jantung. Hei? Kamu baik-baik aja kan? Dia membatin, mengkhawatirkan tuan seorang putri yang baru saja pingsan. Hingga dia melihat ke arah jam tangannya, waktu sudah menunjukan pukul delapan lebih tujuh belas menit. Dia sudah terlambat untuk pergi ke kantor. Aku harus sarapan! Dia membatin.


__ADS_2