
Hujan deras membasahi sekujur tubuhnya. Menyamarkan air mata yang sudah bercampur dengan darah dari luka di pipi dan bibir. Alan berlutut memeluk jasad Vivi. Berharap dia terbangun dan mungkin mengajaknya pulang ke rumah. Tetapi tidak, Vivi sudah membeku pucat.
Di puncak air terjun, dia tidak mau pulang. Membiarkan tubuhnya membeku bersama dengan jasad kakaknya, membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan. Deru tangisnya sederas sungai dan hujan. Mungkin dia berteriak, meluapkan perasaan atas hatinya yang telah hancur. Namun sekali lagi, bahana di sekitar meredam jerit histerisnya.
*
Dari arah sungai, nampak sesuatu bergerak dari dalam air. Sebuah ular sanca berukuran besar keluar mendekati mereka berdua. Ular berwarna hitam dengan corak kuning itu mengelilinginya, namun tidak melilit bahkan berniat memangsanya. Lalu kepala ular itu berdiri tegak di hadapan Alan. Alan melihatnya, mereka berdua saling menatap. Namun, Alan sudah tidak lagi peduli dngan apa yang akan terjadi. Bahkan jika ular besar itu memangsanya.
__ADS_1
“Apa kamu menyadarinya?” ular Sanca itu berbicara dengan nada suara seorang wanita, sedikit serak dan dalam. Alan tidak menjawabnya, dia hanya terus menatap mata ular itu. Mungkin Alan sudah tidak sanggup lagi untuk bicara, dia masih menderu tangis. Atau mungkin malah berharap agar ular itu memakannya. “Kelicikan mereka,” katanya, ular itu berbicara sambil bergerak memutari Alan. “Tapi sekarang, kamu memiliki kekuatanku.” dalam kesedihannya, Alan mengingat sebuah tulisan yang sempat di lihatnya di pohon Hirena, saat dirinya berpisah dengan Niken Areline. Sebuah tulisan yang berbunyi: KAMU MEMILIKI KEKUATANKU. Saat itu Alan berpikir bahwa tulisan itu dibuat oleh Niken. Tetapi sekarang, sepertinya Alan mulai menyadarinya. “Sihir bola kaca, kamu pikir itu kebetulan? Semuanya udah diatur! Mungkin Niken nggak sadar, tapi Jaka sengaja membuat sihir bola kaca dan memilihmu sebagai tempat Niken terlindungi. Tau kenapa? Itu karena kamu lemah! Kamu mudah banget jatuh cinta sama Niken. Justru kekuatan cintamu yang Jaka manfaatkan untuk melindungi Niken dari kekuatan batu Metta. Setelah Jaka mengira bahwa ratu Rahma bunuh diri sesuai dengan bunyi kutukan, Jaka menggunakan sihir bola kaca dan mengirimkannya tepat di hadapan kakakmu. Jaka tahu, mereka akan segera mengejar Niken dan menghukum mati dengan menggunakan batu Metta, karena itu, peranmu di sini jadi sangat penting. Lihat apa yang terjadi? Niken berhasil lolos dari hukuman matinya sore tadi! Dan, liat apa akibatnya? kakakmu yang nggak ngerti apa-apa jadi korban!” lalu, ular Sanca berbicara tepat di telinga kiri Alan. “Satu-satunya keluarga yang kamu punya, apa mereka peduli? Bahkan mereka belum sempet mengucapkan terima kasih untuk kamu.”
Tangis Alan berhenti, bibirnya sudah tidak lagi mewek. Wajahnya menjadi serius, dengan tatapan tajam, dia bertanya kepada ular itu.
“Apa yang kamu mau dariku?”
Lantas ular Sanca menjauh dari telinga Alan dan kembali berputar mengelilinginya.
“Aku nggak mau apa-apa, aku cuma mau ngasih tau kamu. Mereka enggak sadar tentang kutukanku di darah Niken. Sihir bola kaca membuat jantung kalian bersatu, secara nggak sadar, aku bisa masuk ke dalam aliran darahmu. Dan, lihat!” ular Sanca berhadapan dan bertatapan lagi dengan Alan. “Sebagian dari diriku berdiri di hadapanmu. Aku udah ada di dalam aliran darahmu sekarang,” wajah ular itu semakin mendekat, lidahnya menjulur-julur. “Jika kamu bertanya apa yang aku inginkan? Aku akan berkata sebaliknya. Apa yang kamu inginkan dengan kekuatanku yang berada di darahmu saat ini?”
*
__ADS_1
Paginya, Alan melapor kepada pihak kepolisian, bahwa seseorang sudah membunuh kakaknya. Alan tidak menceritakan yang sebenarnya, dia hanya memberitahu bahwa seorang pembunuh mengejarnya hingga ke sungai. Di sana mereka tidak bisa bertahan, Alan tidak bisa menyelamatkan nyawa kakaknya. Alan sempat menyerang pembunuh itu hingga terluka lalu membuatnya kabur ke dalam hutan. Alan menceritakannya dengan sangat tenang dan, lolos dari alat pendeteksi kebohongan.
*
__ADS_1
Setelah itu, Vivi di makamkan di tempat pemakaman umum dekat dengan rumahnya. Di pemakaman, Julia Nada dan ayahnya menangis. Nada menyandar di Nisan baru yang bertuliskan Silvia Wulandari (Nama asli Vivi). Tapi tidak dengan Alan, dia berdiri tegar di hadapan kuburan kakaknya. Satu-satunya keluarga yang dia miliki telah pergi. Penampilan Alan juga sudah berubah, gaya rambut poni Fringe itu telah hilang. Rambutnya kini di sisir ke belakang, terlihat seperti seorang pria yang tangguh. Tidak lagi ada raut sedih di wajahnya, dia sangat tenang. Benar-benar tenang, dan dalam.