
Dia terbaring di kamar rumah sakit. Seorang pria dengan jarum infus yang menusuk vena di lengannya. Pria itu berkulit pucat, rambutnya sedikit ikal dengan poni yang menyentuh alis. Mungkin usianya sekitar dua puluh tahun. Kelopak mata yang terpejam mulai bergerak, perlahan kedua mata itu terbuka. Dengan gerak lemah, wajahnya memperhatikan sekitar. Nampak empat bungkus bunga memandangnya sayu.
Klak, suara pintu yang terbuka. Datang seorang wanita dengan wajah sedih. Kedua matanya berbinar seketika melihat adiknya bangun dari koma.
“Alan?” panggil Vivi ketika mereka saling menatap. Dengan cepat Vivi menghampirinya, menindih kursi dan memeluknya erat. Wanita itu mengalirkan air mata. Senyum yang berkembang, mengisyaratkan betapa dia sangat bahagia bisa melihat adiknya siuman. Rambut pendeknya yang hitam, tercium wangi.
Lima hari sebelumnya
Gelap dan gemuruh awan nampak di hamparan langit malam. Sepertnya hujan yang deras akan datang. Sesekali gumpalan awan yang tebal tersinari oleh cahaya petir yang menyambar-nyambar entah kemana. Di sudut utara kota Tegal, berdiri sebuah rumah yang sederhana. Cat hijau dengan pintu kayu berwarna cokelat dan, pagar besi yang berjarak lima meter dari keset di depan pintu. Sebuah rumah yang Alan dan
Vivi tinggali.
Di dalam kamar, keduanya menatap sebuah bola kaca berwarna hitam dengan diameter empat sentimeter. Mereka berbaring di kasur dan, berhadapan memperhatikan benda yang kelihatannya tidak lebih rapuh dari sebuah bongkahan es.
“Yakin kak?” Alan menyanyakan penjelasan kakaknya tentang bola kaca itu.
Vivi bercerita bahwa bola kaca itu jatuh dari langit dan menghancurkan aspal dengan sangat keras.
Menciptakan lubang bak meteor dengan asap di sekitarnya. Lantas Vivi memungut bola kaca itu dan membawanya pulang ke rumah. Meski begitu, agaknya Alan ragu dengan cerita kakaknya. Lalu Alan mengambil bola kaca itu. Dia turun dari kasur dan berdiri di atas lantai keramik. Duag! dengan keras Alan membanting bola kaca ke lantai.
“Oii!” teriak Vivi, dia terkejut melihat apa yang dilakukan adiknya. Bola memantul tiga kali di lantai
lalu berhenti dan menyentuh kaki Alan. “Begok banget kamu!” tegur Vivi sedikit kesal, tersirat dari raut wajahnya. Kemudian dia bangun dan menghampiri Alan. Memukul kepala adiknya dengan bantal bersarung Star Wars, bug!
Alan memungut bola itu kembali. Dengan wajah bodohnya, dia memutar bola menggunakan jemari. Memperhatikannya berulang-ulang, seperti soal ujian yang sulit terjawab.
“Bener kak! Aku kira bakalan pecah,” ujar Alan.
“Jangan coba untuk
merusaknya! Bisa aja benda ini menghasilkan uang untuk kita,” ucap Vivi. Dia berkata atas dasar keadaan finansialnya saat ini. Hidup berdua tanpa kedua orang tua, tidaklah mudah bagi seorang kakak perempuan dengan satu adik. Meskipun Alan telah mendapatkan pekerjaan dan sedang meneruskan kuliahnya, namun banyak tagihan yang harus dibayarkan tepat waktu. Bahkan minggu lalu seorang Deep Colector datang dan mengancam akan mengambil sepeda motor milik Vivi karena terlambat mengangsur cicilannya. Selain itu, gaji mereka harus dibagi untuk makan dan membayar kontrakan rumah, serta **** bengek kebutuhan hidup lainnya.
Bagaimana bisa? Pikir Vivi memperhatikan bola di genggaman adiknya. Bagaimana bisa bola ini tidak tergores
sedikitpun?* Vivi membatin sembari mengingat kejadian saat dia melihat bola kaca ini melesat jatuh dari langit dengan api yang membakar udara.
“Apa bakalan laku kak?” tanya Alan. Setelah percaya, nampaknya dia mulai sependapat dengan ucapan
kakaknya tentang menghasilkan uang.
“Mungkin,” jawab Vivi, dia merebut bola itu lalu duduk di kasur.“Kakak punya kenalan seorang kolektor benda-benda antik. Berharaplah dia mau membelinya,” Mereka berdua terus memperhatikan bola kaca itu seperti bayi yang baru melihat wajah ibunya.
*
Mereka melihat apa yang bisa mereka lihat dan, mereka tidak bisa melihat apa yang tidak bisa mereka lihat. Yang sebenarnya terjadi adalah, ketika bola kaca itu dibanting Alan ke lantai, sebuah aura bercahaya merah menyebar sejauh radius lima kilometer. Sebuah aura yang hanya bisa dilihat oleh makhluk dari kehidupan di dunia lain.
Apa kau tahu makhluk dari dunia lain? Makhluk yang hidup berdampingan dengan kita. Mereka yang tidak kasat
mata. Mitosnya tersebar dari masa ke masa dan, seringkali kita asumsikan sebagai sesuatu yang negatif. Sekilas kita melihatnya kemudian tidak, membuat kita mengabaikan elemen kecil yang sebenarnya besar. Mereka memperhatikan, mereka tahu, mereka berkomunikasi bahkan mereka menghukum.
Dalam hitungan detik, seekor burung Gagak hinggap di pagar depan rumah mereka. Matanya rusak satu,
mungkin bekas pertarungan dengan gagak lain saat berebut bangkai tikus di
pinggir selokan.
*
Tok, tok! Terdengar suara ketukan pintu depan rumah yang disambut dengan suara ledakan petir. Seketika itu juga memecahkan kegaduhan di kepala Vivi. Siapa yang bertamu pukul setengah dua belas
__ADS_1
malam seperti ini? Vivi membatin. Mendadak gelombang ketukan kedua
menciptakan keheningan yang lain.
“Ada orang,” ucap Alan yang terlambat menyadarinya. “Aku aja kak yang bukain pintu,” ujarnya sembari berjalan keluar dari kamar. Gak mungkin tukang kredit lagi kan? Gak, udah malem gini juga. Alan membatin. Dia berjalan melewati tangga dengan keramik putih, kemudian melangkah sembari memperhatikan pintu depan yang sudah terlihat dari pandangannya. Sesampainya di depan pintu, dia membuka sedikit pintu dan menahannya.
Nampak seorang pria dewasa berkulit pucat. Dia mengenakan jubah yang serba hitam, rambutnya hitam pendek dan tersisir miring ke kanan. Dia berdiri tegak menatap Alan dengan kedua matanya yang cekung. Cahaya dari kilatan petir, menunjukan warna dari bola matanya, abu-abu.
Gluk, Alan menelan ludah begitu melihat sosok yang tingginya hampir dua kali dari tubuhnya. Bahkan mungkin pria ini lebih mirip seperti salah satu zombie di permainan Plant vs Zombie bagi Alan.
“Ya?” ucap Alan.
“Piguan vlo?”
“Di mana bolanya?” ucap pria itu dengan bahasa yang asing di telinga Alan.
“Apa?” Alan kebingungan.
Lantas dengan kasar, pria itu menggenggam lengan Alan yang sedang menahan pintu.
“Hei!” teriak Alan terkejut. Alan merasakan genggaman seorang pria dewasa yang sangat kuat.
Pria itu memejamkan kedua matanya selama tiga detik, lalu membukanya kembali dan melepas genggamannya
pada lengan Alan. Lantas dengan tatapan curiga, pria itu kembali bertanya.
“Di mana bolanya? Aku bisa merasakan auranya di rumah ini.”
*
Vivi yang sempat mendengar teriakan adiknya, melemparkan bola kaca ke kasur dan bergegas turun ke bawah dengan panik. Dia berlari menuruni dua, bahkan tiga anak tangga sekaligus dalam satu langkah. Sesampainya di belakang Alan, Vivi melihat sosok pria besar yang belum pernah dilihatnya.
Sontak pandangan Pria itu tertuju kepada wanita yang meneriakinya. Perlahan, jari telunjuk kanan si pria besar berkamuflase menjadi runcing layaknya mata tombak. Vivi dan Alan tidak menyadarinya sama sekali, mereka hanya berpikir mungkin pria itu akan memberitahu namanya. Lalu hal itu terjadi, si pria besar mencekik leher Alan dengan tangan kirinya. membuat seluruh tubuh Alan terangkat hingga kedua kakinya tidak
menyentuh lantai. Clap! Dengan cepat, pria itu menusuk dada Alan tepat di bagian jantungnya.
“Hoek,” Alan memuntahkan darah dari mulut.
Brag! Pria besar itu melempar tubuh Alan ke lantai. Darah nampak meluas di lantai dari tubuh pria
itu.
“Alaann!” Keras Vivi berteriak melihat kejadian yang mengerikan di hadapannya. Ngiiiiiik, pria besar itu membuka lebar pintunya. Kemudian, dia berjalan melewati Alan dan mendekati Vivi. Darah adiknya masih menetes dari ujung telunjuk tajam si pria asing. Tubuh Vivi lemas, pijakannya goyah hampir terjatuh. Dalam langkahnya, si pria itu mengatakan sesuatu.
“Tuhan, dengan kuasa-Mu aku melaksanakan tugas. Hapus dosaku dan lindungi aku. Untuk luka dan cintaku, demi kehidupan yang tenteram. Amin,” sebuah kalimat seperti doa terdengar dari mulutnya. Lalu pria itu menangis, dia nampak tidak senang dengan apa yang telah dan akan dilakukannya. Tapi dia nampak memang harus melakukannya. Sesampainya tepat di hadapan Vivi, si pria besar itu merunduk dan menatap wajah wanita yang
sangat ketakutan. Wanita itu mewek dan seluruh tubuhnya bergetar, lalu air mata mengalir di pipinya. Lantas pria besar itu kembali berkata. “Aku bisa ngerasain sihir itu, kalian berdua udah nyentuh bola kaca! Kalian nggak ngerti lagi ngadepin apa!” dia mencekik Vivi dengan tangan kirinya. membuat wanita itu terangkat hingga kakinya mengambang, sama persis dengan apa yang sebelumnya dilakukan terhadap Alan. Wanita itu meronta-ronta dalam cekikan yang sangat kuat. menendang dan kedua tangannya berusaha melepaskan cekikan. Terlihat jelas bahwa
Vivi kesulitan untuk bernafas.
*
Alan masih dalam kesadarannya, namun dia tidak bisa menggerakan tubuhnya. Darah juga terus mengalir keluar
menggenangi lantai yang beku. Dia hanya bisa melihat kakaknya sedang mempertahankan nyawa dari pria asing. Pemandangan yang seperti itu membuatnya merasakan sakit yang teramat sangat. Melebihi rasa sakit dari luka yang akan segera membunuh dirinya. Lantas, memori yang telah terjalin bersama kakaknya mendadak datang
dalam pikirannya. Hari ketika Vivi mengatakan sesuatu tentang kematian kedua orang tua kepadanya. Mereka nggak ninggalin kita, mereka bisa liat dan ngejaga kita kok. Dia mendengar perkataan Vivi, tapi tidak bisa memahaminya. Maksudnya gimana kak? Tapi mereka udah nggak ada sama kita lagi loh! Kemudian sesuatu terpikirkan olehnya: Gimana cara mereka ngejaga kita, sementara mereka terbaring di makam? Di tengah kebingungan dan kesedihannya, itu menjadi pertanyaan penting. Satu pertanyaan yang sulit dijawab, seperti bagaimana cara burung melindungi telurnya dari ular, sementara dia sedang terbang ke tempat yang jauh?
Pada akhirnya, momen yang terjadi di malam ini membuat Alan mengabaikan gagasan konyol dari kakaknya hari
__ADS_1
itu. Ketidakberdayaan kakaknya, membuat Alan meneteskan air mata. Hujan deras turun bersamaan dengan tangisnya. Mereka sudah meninggalkan kita. Alan membatin.
“Hentikan,” gumam Alan.
Seketika itu juga dia kehilangan kesadaran dan perlahan memejamkan air matanya. Tenggelam dala gelap, bahana kian samar terdengar. Udara dingin memeluk dan membekukan raganya. Tak ada ekspresi dari air mata yang akan mengering. Datar menghitung detik menuju kematian.
*
Krak, bola kaca yang berada di kasur, retak lalu terbelah menjadi dua dan mengeluarkan cahaya berwarna putih dari dalamnya. Cahaya itu melesat terbang menembus tembok dan masuk ke luka tepat di jantung Alan. Si pria besar sekilas melihat kejadian itu, wajahnya mendadak panik. Seperti lupa membawa dompet di depan kasir. Lalu
dia melepaskan cekikannya dari Vivi dan menghadap ke tubuh Alan. Vivi terjatuh, duduk menyandar tembok sembari menghirup nafas panjang yang dari tadi tertahan.
“Ame li da leiz?”
“Apa yang kamu lakukan?”
Ujar si pria besar, dia kembali mengatakannya dengan bahasa asing yang berasal entah dari mana. Lalu perlahan dia mendekati tubuh Alan yang terbaring dan sudah bersimpah darah. Seperti seorang pemburu yang menghampiri rusanya di bawah pohon. Memastikan rusa itu benar-benar mati oleh peluru di kepalanya. Namun,
pria itu merasa sesuatu yang buruk telah terjadi. Mungkin sesuatu seperti hari kiamat, baginya.
Tidak berapa lama kemudian, tubuh Alan mulai bergerak. Tiba-tiba dia bangkit dan berdiri seperti mainan yang dibangunkan oleh anak kecil. Dengan matanya yang masih terpejam, dia menghadapkan tubuh dan wajahnya ke si pria besar. Sontak hal itu membuat Vivi maupun si pria besar terkejut.
“Alan?” panggil Vivi dengan nada suara yang bergetar, lirih namun tersampaikan.
“Hone Yudi,”
“Halo Yudi,” sapa Alan, dengan nada seorang wanita yang keluar dari mulutnya. Mungkin Yudi adalah nama dari si pria besar itu. Lantas Alan membuka kedua matanya, nampak bola mata yang tadinya hitam itu berubah menjadi berwarna kuning menyala. Seluruh kuku di jemarinya memanjang tajam.
Raut muka Yudi berubah menjadi kesal lalu marah. Bola mata Yudi yang pucat, berubah
menjadi berwarna merah.
“Tuhan, lindungi aku dalam langkahku. Engkau perisai sekaligus pedangku,” ucap Yudi. Kemudian dia berlari dengan cepat dan menghunuskan ujung jari tajamnya ke tubuh Alan. “En Wiez!” teriaknya.
Craaaassshh! suara organ vital yang terkoyak. Dengan kecepatannya, Alan menghindari serangan
Yudi sekaligus menyerang dengan memasukan cakarnya yang tajam hingga menembus dada Yudi dan, mengambil jantungnya. Lantas mereka berdua saling berdiri membelakangi. Seperti kedua samurai yang telah melakukan kontak dengan pedangnya.
“Hoeek,” Yudi memuntahkan darah, kemudian tubuhnya roboh ke lantai. “Mama.” gumam Yudi menghembuskan
nafas terakhir.
Dan, dengan perlahan tubuh besar itu menguap menjadi asap. Darah Yudi yang sempat tercecer mengotori
lantai juga perlahan lenyap.
“Hihihi,” Alan tertawa dengan nada seorang wanita. Jantung di genggaman Alan juga mulai
samar menghilang.
Gluk, Vivi menelan air liurnya sendiri setelah melihat apa yang terjadi di depan kedua matanya. Jelas dia takut sekaligus bingung, tapi dia mengerti pasti bahwa: Yang ada di hadapannya itu bukanlah Alan. Seorang wanita sedang mengendalikan tubuh adiknya. Mungkin saja hantu!
Lalu pandangan seram sang adik, tertuju kepada Vivi. Ketakutannya semakin menggunung kala Alan dengan perlahan berjalan mendekatinya. Namun, belum sempat mendekatinya, kedua mata kuning itu mulai meredup dan menunjukan warna bola mata hitam Alan yang asli. Tubuhnya goyah nampak akan terjatuh. Brag, Alan terjatuh di lantai tidak sadarkan diri.
“Astaga!” teriak Vivi bergegas menghampiri adiknya. Dia mengangkat kepala Alan lalu menyandarkannya di lengan. Menampar-nampar lirih pipinya sembari berkata.
“Alan, Alan!” berulang-ulang. Vivi meraba denyut nadi di bagian leher Alan, dia berhasil menemukannya, tanda kehidupan. Lantas dia meraba luka di dada Alan. Vivi kembali terkejut setelah menyadari tidak ada luka sedikitpun di bagian dada adiknya. Hanya menyisakan darah dan piyama yang sobek.
Seperti memahami arah gelembung segelas beer dari atas ke bawah. Ataupun memahami dua kali sambaran petir di satu titik tempat yang sama. Hal-hal yang tidak mungkin terjadi, telah terjadi di hadapannya. Seratus juta Neuron di otaknya menelan bulat-bulat tragedi malam in
__ADS_1
“En Wiez!” memiliki arti: Dasar iblis wanita!