
Pukul sembilan lebih lima belas menit malam, tepatnya selesai jam kuliah, Alan duduk di kursi di balkon kampus di lantai tiga. Beberapa mahasiswa lainnya sudah pergi turun meninggalkan kampus. Sementara Alan masih sibuk dengan laptop di pangkuannya. Tugasnya jadi menumpuk, dikarenakan dia sempat ijin tidak masuk kuliah hampir satu minggu ketika terbaring koma di rumah sakit.
“Alan, kamu gak ikut?” tanya bu Rini (dosen) yang keluar terakhir dari kelas. Usianya sekitar 37 tahun, berbadan gemuk dan berambut pendek dengan pita bunga Matahari di sebelah kiri. Lantas langkahnya berhenti di hadapan Alan.
Alan menatapnya dan bertanya dengan wajah bingung. “Ikut kemana bu?”
“Lah temen-temen gak ngomongin toh?”
“Nggak tau bu, aku dari tadi ngerjain tugas. Banyak yang telat.”
“Pantes, kamu nggak dengerin kuliah ibu barusan paling.”
“Ya bu, maaf.”
Mendengar permintaan maafnya, bu dosen berbadan subur itu memahami kesulitan Alan. “Yaudah gapapa, gini loh, Clara kan hari ini ulang tahun. Nah dia ngundang temen-temen satu kelas bahkan semua dosen untuk datang ke rumahnya,” Clara adalah teman satu kelas Alan. Ayahnya sendiri pemilik kampus ini. Clara menjadi wanita idola
di kampus, mungkin karena kecantikannya. “Ikut nggak? Kalo mau ayok bareng ibu aja.”
“Owh iya bu, aku sempet denger dari temen. Jadi malem ini ya acaranya? Aku gak konsen banget kalo lagi banyak tugas.”
“Iya ibu ngerti, tapi gak enak sama pak Harto (ayah Clara). Ayok deh ikut mobil ibu, nanti bareng sama Santi, Riko terus mas Doni (tiga orang staff). Kamu belum tau rumahnya kan?”
“Ummmm….”
*
Mereka berempat turun dari mercy perak milik bu Rini. Parkir di antara beberapa mobil dan motor lainnya. Halaman rumah Clara sangatlah luas, terdapat air mancur dan sebuah patung kuda setengah badan yang sedang berdiri di tengahnya. Tumbuh-tumbuhan dan bunga-bunga tulip menghiasi pinggiran tembok pagar besi. Halamannya terkesan rapih terawat dan bisa dibilang mewah.
Nampaklah sebuah rumah megah di hadapan mereka. Beberapa teman sekelas sudah berada di teras. Sebuah rumah begaya kastil khas Eropa dengan kelap-kelip lampu di setiap atapnya.
“Wow!” pekik Santi, takjub. “Aku nyesel baru dateng ke sini. Ternyata rumah pak Harto bagus banget.”
“Aku kerja sampe sepuluh tahun juga nggak bisa beli yang kek ginian,” saut Riko.
“Lah, jajanmu aja banyak Rik,” ucap bu Rini sambil menutup pintu mobil.
“Aku gak makan setahun juga gak bakal kebeli deh rumah kayak ini,” ucap Riki.
“Gilak, aku mau jadi menantunya pak Harto deh,” ujar Doni.
“Hahaha,” lainnya tertawa.
Sementara Alan terdiam. Entah kenapa dia tidak merasa takjub dengan apa yang di lihatnya. Mungkin karena tugas yang membebani pikirannya dan sebagian lain karena dia sudah pernah melihat yang sama mewahnya dari ini, yaitu istana dan kamar Niken Areline.
“Ayok,” ajak bu Rini yang mulai berjalan menuju istana.
*
Sekarang semua orang berada di halaman belakang rumah Clara. Halaman yang tidak kalah luas dengan halaman depan. Di sini ada sebuah kolam renang, jacuzi, beberapa pohon cemara dan sebuah panggung dengan sekelompok anak band amatiran yang menyanyikan lagu-lagu bergaya elektronik. Banyak yang menari, bercanda,
melempar marshmallow ke gelas dan melemparkan seorang temannya ke dalam kolam renang. Tetapi tidak dengan Alan, pria cupu itu kembali menyalakan laptop dan mengerjakan tugasnya di atas meja di bawah pohon, dia merasa sudah menemukan tempat yang pas dari keramaian ini. Sebuah bangku dan meja bundar di bawah pohon mangga.
Alan menutup telinganya menggunakan headset lalu memutar alunan Mozart sebagai ritualnya untuk mempertajam konsentrasinya.
Tidak lama kemudian, seseorang melepas headset dari telinga Alan. Sontak membuat perhatian Alan teralihkan hingga ia menengok untuk melihat sosok di belakangnya.
“Astaga!” Alan terkejut saat menyadari Niken sedang berdiri di belakangnya. Wanita itu mengenakan kaos oblong dan celana denim berwarna biru langit. Rambutnya diikat dua seperti Harley Queen, karakter fiktif tokoh superhero di film Suicide Squad dari DC. “Kapan kamu keluar?”
“Barusan,” jawab Niken tersenyum dan memutar-mutar heatset itu di tangannya, seperti baling-baling.
“Nanti ada yang liat! Aduuh,” Alan jadi panik. Dia menutup laptopnya lalu berdiri dan melihat ke arah keramaian. Nampaknya mereka masih sangat sibuk bercanda dan tenggelam menikmati pesta. Tidak ada yang memperhatikanku. Alan membatin lalu kembali menatap Niken.
“Kalo aku adalah seorang putri yang mengadakan pesta, kamu bakal aku penjarain sampe pagi!”
“Hah? Kenapa?”
“Orang yang datang ke acara pestaku itu harus menikmatinya, bukan duduk dan nggak menghargai suguhan kayak kamu ini.”
“Tapi tugasku banyak banget.”
“Yaudah,” ucap Niken sembari melangkah meninggalkan Alan. Dengan sepatu hak tinggi merahnya, dia berjalan menuju ke keramaian di depan panggung sana.
“Oii! Kamu mau ngapain?” Alan semakin panik.
“Aku mau menari,” jawab Niken tanpa menengok ke Alan.
“Ya ampun,” Alan segera meninggalkan laptop, lalu berjalan menghampiri Niken. Jelas dia merasa khawatir dengan apa yang bisa di lakuin sama putri berkekuatan sihir di dalam keramaian pesta ulang tahun temannya. “Tunggu!” Sesampainya di samping Niken, Alan mengatakan beberapa hal yang dikhawatirkannya. “Kamu enggak boleh pakek sihir di sini, kalo ada orang yang liat bisa gawat!”
__ADS_1
“Oke.”
“Terus jangan bilang kalo kamu itu putri dan hal yg sebenernya ke temen-temenku, ntar kamu bakal
diketawain!”
“Oke.”
“Astaga! Kenapa kamu jadi ngerepotin banget?”
“Aku mau ngajarin kamu sesuatu.”
“Hah?”
Niken masuk ke dalam keramaian orang-orang yang sedang menari menikmati alunan musik elektronik. Alan mengikutinya terus, menembus keramaian dan masuk ke tengah-tengah, Mereka berdua berhenti di sana. Niken mulai mengangkat kedua tangannya, lalu dia menggoyangkan pinggul dan kedua kakinya mengikuti irama musik. Lantas Niken mengulurkan satu tangannya ke Alan.
“Ikuti iramanya.”
“Hah?” Alan merasa Niken akan mengajarinya menari.
“Ikuti iramanya.”
“Aku nggak bisa denger suaramu, di sini berisik banget.”
Lalu Niken mendekatkan wajah dan membisiki Alan. Dia berbicara dari kata ke kata dengan pelan. “Ikuti iramanya, pegang tanganku terus biarin musik yang gerakin badan kamu.”
Gluk, Alan menelan ludahnya karena merinding dengan bisikannya. Aroma wangi parfum Niken
menyengat di hidung. Aku nggak bisa joged. Pikir Alan. Lantas Niken mundur sembari menatap kedua mata Alan, dia kembali mengulurkan pergelangan tangannya yang kurus dan putih.
Alan memegang tangan itu, dia mimisan. Niken tersenyum memperhatikannya. Alan tidak menyadari darah keluar dari hidungnya, lalu Niken mengambil sapu tangan dari kantong dan mengelapnya.
Alan terkejut sekaligus merasa malu, namun saat dia hendak melepaskan pegangan tangannya dari Niken, Niken menggenggam tangannya dengan erat. Lantas wanita itu mendekatkan lagi bibirnya ke telinga Alan dan berkata dengan irama yang sama.
“Aku bilang akan mengajarimu sesuatu.”
Selesai mengatakan itu, Niken melepaskan genggaman tangannya, Pegangannya berganti ke kedua pundak Alan. Kali ini kedua tangan Niken memegang erat pundak Alan. Mereka saling menatap dan Niken terus menari. Namun Alan masih terdiam bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Sementara pikirannya tentang semua tugas kuliah itu telah hilang, berganti dengan Niken dan gerak tubuhnya yang seksi. Sial, Alan menyumpah.
Hingga momen itu datang, alunan musik, sentuhan Niken, tatapannya, hempasan rambut dan aroma wangi tubuhnya. Semuanya telah merasuk ke aliran darah Alan seperti sihir. Namun, semua hal itu masih membuatnya berdiri terpaku tidak bergerak. Niken terus menatap kedua mata Alan yang sudah terpaku. Membuatnya gugup hingga berkeringat.
“Jangan liatin aku kayak gitu,” ucap Alan.
yang sedang kalap di hadapannya.
“Entahlah.”
Kamu cantik banget. Itulah kalimat yang sebenarnya tertahan dalam benak Alan saat ini. Lalu pandangan Alan melihat ke sana kemari, bertanya apakah ada yang melihatnya sedang berdiri bersama dengan Niken? Ternyata tidak, semua temannya sibuk menari dan meminum soft drink di gelas plastik. Sementara dia sendiri berada di tengah gerombolan beberapa orang yang baru ditemuinya. Syukurlah pikir Alan, meski dia juga berpikir bukan tidak mungkin nantinya seorang temannya akan memergoki Alan sedang bersama wanita asing di acara pesta ulang tahun teman sekelasnya.
Musiknya berganti, masih dengan gaya elektronik namun temponya lebih pelan. Cahaya lampu berubah merah dan kuning menyesuaikan lagu melow yang dinyanyikan band amatiran di atas sana. Niken masih memegangi kedua pundak Alan, memejamkan matanya dan menari menggerakan kaki ke kiri lalu ke kanan.
“Kamu pikir aku biasa melakukan hal kayak gini?” tanya Niken masih memejamkan mata.
“Eh? Enggak, aku nggak mikir gitu,” jawab Alan. “Tapi setelah aku liat, kayaknya kamu emang udah biasa membaur dalam pesta kayak gini ya? Menikmati musik lalu menari,” Alan mempertanyakan hal yang menurutnya masuk akal, baginya seorang putri dari kerajaan bisa dengan mudah mengadakan pesta seperti ini. Kemudian Niken membuka kedua matanya. Dia menatap Alan.
“Aku lupa ceritain ke kamu.”
“Apa?”
“Bagian perjanjiannya,”
jawab Niken, terdengar seperti mengalihkan pembicaraan. Namun ke dalam obrolan
yang mungkin lebih penting. “Karena kutukan yang ada dalam tubuhku, selama aku
hidup, Kusno mengawasiku.”
“Kusno? Siapa dia?”
“Cucu dari Arka, keturunan dari seorang yang mengalahkan Larem. Kusno sekarang adalah seorang raja di Tronatu. Wilayahnya luas dan bersebelahan dengan kerajaanku. Dan, perjanjiannya adalah, Kusno mengawasiku dengan sihirnya, dia menggunakan burung merpati untuk mengintaiku. Dan salah satu perjanjian lainnya, aku dilarang bersentuhan dengan orang lain selain keluargaku.”
“Ada berapa perjanjian sebenernya?”
“Banyak, intinya adalah hal-hal yang membuatku menjadi seperti seorang tahanan.”
Alan memandangnya sayu, dia merasa prihatin dengan cerita Niken. Alan berpikir jika wanita secantik Niken terlahir di dunianya, mungkin dia akan menikah dengan orang kaya raya dan hidup bahagia. Bukannya hidup seperti seorang tahanan.
“Jadi ini pertama kalinya kamu menyentuh orang lain?”
__ADS_1
“Ya.”
Jawabannya membuat Alan merasa spesial saat merasakan sentuhan kedua tangan di pundaknya. Lalu dia
mengingat lebih jauh, ternyata bukan ini pertama kalinya Niken menyentuh dirinya. Melainkan saat berada di dalam mimpi, yaitu ketika Niken menceritakan jati dirinya dengan menyuruh Alan menyentuh jemari tangan Niken.
“Dan kamu melanggar perjanjiannya?”
“Ya.”
“Terus apa yang bakalan terjadi kalo kamu melanggar salah satu dari perjanjian itu?”
“Aku akan dihukum mati.”
Kalimat dihukum mati membuat Alan teringat akan Penyihir bernama Baron yang hendak mengeksekusi Niken
di kamarnya hari itu, sebelum akhirnya Jaka berhasil menyelamatkan nyawa Niken. Kemudian Alan merasa kesal dengan perjanjian yang terdengar konyol baginya.
“Bahkan meskipun kamu nggak melanggar perjanjian, mereka tetep berniat mengeksekusimu. Seharusnya kematian ibumu bukan salahmu, mereka nggak berhak menghakimi kamu berdasarkan kutukan dan ramalan itu!” Alan berkata dengan nada yang semakin mengeras, jelas kesal.
“Mau gimana lagi, aku memiliki kutukan itu,” ucap Niken, seketika itu juga dia menundukan kepalanya dan berhenti menggerakan kakinya, namun, kedua tangannya masih berada di pundak Alan. Dia murung, pikir Alan. Hati wanita mudah berganti, dari bahagia lalu bersedih.
“Apa, kalo kamu mati, aku juga bakalan mati?” tanya Alan.
“Aku nggak tau,” Niken lirih menjawab tanpa menatap.
“Kalo gitu, aku anggap iya,” ucap Alan, mendadak wajahnya menjadi serius dan mengisyaratkan sebuah keyakinan. “Jika kamu mati maka aku juga akan mati. Terlepas dari kutukan dan perjanjian itu, ini adalah duniaku,” Alan membayangkan luka bekas cakaran kucing yang merapat dengan sendirinya hari itu. Sontak Alan merasa dirinya telah terbekali sebuah kekuatan dengan adanya Niken di dalam tubuhnya. “Jika mereka masih mengganggumu, maka artinya mereka menggangguku juga, aku bakal berusaha buat lindungin kamu, ummm bukan, aku akan berusaha melindungi kita.”
Mendengar perkataan itu, Niken kembali mengangkat wajahnya menatap Alan. Ternyata Niken sudah meneteskan air matanya, mungkin mengingat ibundanya atau meratapi takdir dari kutukan di dalam
darahnya. Tidak lama kemudian Alan kembali berkata.
“Jangan sedih, aku bisa jagain kamu.”
Cup, Niken menarik kepala Alan dengan kedua tangannya lalu mencium bibirnya. Lima detik lalu
melepaskannya lagi. Wajah mereka menjadi merah.
“Apa ini juga pertama kalinya kamu mencium bibir orang lain?”
“Nggak,” jawab Niken.
“Bagaimana denganmu?”
“Umm, aku belum pernah,” jawab Alan sedikit canggung dengan apa yang dibicarakannya.
“Ini yang kedua kalinya.”
“Apa waktu pertama kali kamu melakukannya sama Jaka?”
Mendengar pertanyaan Alan, Niken tertawa. Gingsulnya nampak. “Kenapa kamu menebak Jaka?”
“Umm, entahlah,” katanya semakin cangggung, Alan mendadak merasa bahwa sebaiknya ciuman seperti itu
tidak pantas dibicarakan lagi. Mungkin pria sejati akan diam dan, membiarkan sebuah ciuman cukup dirasa. Pikir
Alan. “Mungkin karena kamu deket sama Jaka,” Alan kembali sedikit menyesali pertanyaannya. Alan benar-benar bukan Romeo.
“Nina,” katanya. “Namanya adalah Nina Enra, dia cewek.”
“Hah? Kamu ciuman sama cewek?” Niken mengangguk tersenyum. “Kapan kamu ngelakuin itu? Apa kamu jatuh cinta?”
“Lima tahun lalu, waktu usiaku masih lima belas. Aku dan keluargaku datang ke kerajaan Minarama di pesisir pantai Yonar. Meski keluargaku melarang aku menyentuh orang lain, namun Nina datang ke kamarku di malam hari. Dia ngajak aku pergi liat bintang. Kami duduk berdua di pasir pantai. Dia cerita banyak hal menarik tentang kehidupan. Salah satunya, dia pernah mengatakan kepadaku bahwa, kita akan selalu menganggap bintang itu lebih indah dari pasir. Tapi, gimana kalo kita tinggal di bintang? Mungkin kita akan menganggap bahwa pasir itu lebih indah dari bintang. Terus aku paham dengan apa yang dikatakannya. Bahwa sesuatu yang jauh dan nampak
indah, mungkin akan selalu terlihat lebih baik, karena kita nggak pernah liat sisi buruknya.”
“Aku mengerti,” lirih Alan.
“Lalu aku sadar kalo Nina beda, nggak jarang dia bilang sedih sama kutukan yang ada padaku. Terus dia
menatapku dalam. Nina mencium bibirku, aku nggak bisa nolak. Rasanya mungkin aneh, tapi aku menerimanya karena dia adalah Nina.”
“Gimana sekarang kabar Nina?”
“Entahlah, esoknya aku kembali ke Areyan. Setelah itu aku nggak pernah denger kabar dari Nina lagi, rasanya kayak mimpi.”
*
__ADS_1
“Hei itu Clara,” terdengar suara teman-teman di sekitarnya. Mereka membicarakan Clara yang baru datang. Di belakang sana, Clara menyalami teman-temannya yang hadir. Dia berjalan bersama dengan ayahnya. Clara berambut pendek berkulit pucat, tubuhnya tinggi. Dia mengenakan dres pendek berwarna biru. Namun, ada sosok yang menjadi sorotan Alan sekarang. Seorang pria yang mendampingi Clara Gretchen selain ayahnya. Di sisi lain Clara, seorang pria dengan kemeja merah dan celana hitam berjalan mendampingi. Dia adalah Dimas Mahardika, teman sekantor Alan.