Niken Areline

Niken Areline
Kepingan Puzzle


__ADS_3

    Minggu pagi, langit mendung dan udara dingin menusuk tulang. Seharusnya Julia Nada berada di toko roti milik ayahnya untuk membantu. Namun, hari ini dia lebih memilih untuk berkunjung ke rumah Alan pada pukul sembilan lebih dua belas menit. Wanita itu datang dengan sepeda motor matic dan memarkirkannya di depan pagar.


*


    Hanya ada Alan yang sedang mengepel di ruang tamu. Vivi sudah berangkat kerja satu jam yang lalu. Wanita itu duduk meminum cokelat panas di gelas plastik. Mungkin dibelinya di jalan saat perjalanan kemari. Slurp, mulutnya berisik, kedua kakinya naik berjajar di atas meja. Tanpa canggung, dia menyandarkan kepalanya di bantalan kursi yang lumayan empuk. Sesekali meniup-niup poninya sendiri. Matanya memperhatikan Alan yang sedang mengepel lantai di dekatnya.


    “Beresin halamannya sekarang?”


    “Bulan depan aja.”


    “Iiiiiiiihhhh!”


    “Iya sekarang, kamu serius mau bantuin? Capek loh.”


    “Lah ngapain aku ke sini pagi-pagi? Kalo gak serius,” ucap Nada.


    “Oke, tunggu nih belum kelar,”


    “Yauda aku mulai dulu sambil tungguin kamu,” Nada beranjak dari kursi, lalu dia keluar. Nada mencari sapu lidi di halaman. Dia menemukannya di sudut tembok, terselip di balik pot yang terbuat dari tanah liat.


    Dari dalam ruang tamu, Alan yang sudah mengepel sampai di sudut, mendengar suara gesekan sapu dengan tanah dari luar rumah. Srak, srak, suara itu membuat Alan tersenyum. Nada menyapu di bawah pohon jambu, dia menyerok sampah dan membuangnya di bak yang terbuat dari ban bekas.


 *


    Mereka hendak membersihkan kotoran yang terdapat di bawah pot-pot bunga di lantai keramik. Tidak sedikit kotoran tikus ada di sana, kotoran cicak dan dedaunan yang kering. Pertama Alan memindahkan terlebih dulu pot-pot tanaman yang beratnya membuat urat di lengannya terlihat. Lalu menyapu dan mengepel lantainya.


    Setelah selesai menata hingga lumayan rapih, mereka mulai mengecat pagar besi yang hitam menjadi kuning. Nada membersihkan pagar yang belum dicat dengan kuas agar debunya hilang, sementara di sampingnya, Alan mengecat bagian pagar yang sudah di bersihkan.


*


     Alan dan Nada duduk di kursi rotan di teras. Mereka memandangi halaman yang baru saja dibersihkan bersama. Cat di pagar mengkilap, tanah yang bersih dan lantai yang harum terasa lebih nyaman. Mereka sudah menghabiskan sepiring bubur ayamdan segelas teh. Abang tukang bubur duduk di samping gerobaknya, dia mengisap sebatang rokok. Lalu pandangannya melihat ke atas saat pesawat terbang terlihat di balik ranting pohon. Hingga kedua mesin turbonya menderu keras.


    “Aw,” teriak Alan dengan tiba-tiba, dia merasakan sakit di bagian ujung jari manisnya. Sontak Nada terkejut dan menepuk lengan Alan.


    “Ih ngagetin aja!”


    Namun, wajah alan berubah menjadi panik. Dia segera bangkit dari kursinya, lalu masuk ke dalam dan mengeluarkan motor. Nada heran memperhatikan tingkah Alan yang mendadak berubah.


    “Mau kemana?” tanya Nada.


    Alan tidak menjawabnya, dia langsung menyalakan motor dan menarik gas keluar dari pintu pagar. Nada ikutan beranjak dari kursi, dia mengambil kunci pintu dari ventilasi di atasnya, lalu mengunci pintu rumah terlebih dulu. Lantas dia segera berlari keluar pagar, menunggangi motornya dan mengejar Alan.


    “Oi neng!”  undang tukang bubur. Waduh belum dibayar. Dia membatin sambil melempar rokoknya ke tanah.


Tiga jam sebelumnya.


    Dingin membangunkan Alan. Sedikit sinar dari cahaya alam sudah masuk melalui celah di antara lubang di kamarnya. Dia membuka kedua mata yang masih terasa berat, kemudian mendapati Niken sedang duduk di kursi depan meja di dekatnya. Wanita itu sedang menatap Alan.


    “Sejak kapan kamu keluar?” tanya Alan dengan nada sedikit parau dan malas.


    “Tiga puluh menit yang lalu,” jawab Niken.


    “Ngapain duduk di situ?”


    “Nungguin kamu bangun.”


    Alan membuka matanya lebar-lebar, lalu dia duduk dan menyelimuti dirinya dari dingin yang terasa. Ada sedikit pikiran di dalam otaknya setelah mendengar kalimat nungguin kamu bangun’ kalimat itu membuatnya berpikir bahwa dirinya merasa seperti sudah menikah dengan Niken. Dia menatap Niken dan kembali bertanya.


    “Daritadi nungguin aku?”


    "Ya, aku juga ke kamar kakakmu.”

__ADS_1


    “Hah? Serius?” Alan kaget.


    “Ya,” jawab Niken dengan tenang.


    “Ngapain? Dia liat kamu nggak?”


    “Nggak,” jawabnya. “Aku ngasih Recetio buat dia.”


    “Recetio?”


    “Ya, itu nama dari sihir perlindungan.”


    “Maksudnya gimana?”


    “Aku ngerti kamu begitu khawatir sama dia, jadi aku kasih Recetio. Kalo dia lagi ada dalam bahaya, maka kamu bakal ngerasainnya, jari manis di tangan kananmu akan terasa tersengat oleh  aliran listrik.”


    Alan diam, lalu memandangi jari manis di tangan kirinya itu.


   “Recetio?” gumamnya.


*


   Vivi duduk di bangku dapur, dia menelfon satu persatu nomer ponsel teman kerjanya. Lila, Didi dan Aji.  Dari masing-masing nomer ponsel itu, hanya nada tunggu yang dia dengar. Nggak kayak biasanya. Vivi membatin. Dani


masuk ke dapur, dia duduk di samping Vivi.


   “Vi, aku minta maaf dengan apa yang bakal aku lakuin ini,” katanya.


   Vivi menatap heran wajah Dani. Trak! Vivi menjatuhkan ponselnya ke lantai.


Sekarang.


    Alan memacu kencang sepeda motornya. Tanpa mengenakan helm, dia menyalip banyak kendaraan di depannya. Nada kesulitan untuk mengejar, tapi dari arahnya, Nada bisa mengira Alan akan pergi kemana. Hanya saja, wanita itu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apa dia mau ke kak Vivi? Nada membatin.


    “Kak!” keras Alan berteriak mencari Vivi.


    Dia masuk ke dapur, tidak juga menemukan satu orang di dalam toko. Lalu perhatiannya tertuju kepada ponsel kakaknya yang berada di lantai, Alan memungutnya. Hal itu jelas membuatnya semakin cemas.


    “Kaaak!” Alan berteriak semakin keras. Dia membuka pintu toilet namun tidak juga menemukannya.


    “Alan!” terengar suara Vivi dari luar memanggilnya.


    Alan menyadari suara itu berasal dari belakang toko. Dia menuju ke pintu belakang. Berlari dan membuka pintu berwarna hijau yang terbuat dari besi. Tibalah dia di halaman belakang toko, dikelilingi tembok putih yang tinggi dan berkawat duri.


    “Kakak!” teriak Alan begitu melihat Vivi sedang berdiri di atas gundukan pasir.


    “Aku nggak bisa gerak,” ucap Vivi. Belum sempat Alan sampai di gundukan pasir itu, Vivi berteriak. “Awas Alan!”


    Sebuah cahaya berwarna putih keluar dari tanah di belakang Alan. Melesat dengan cepat dan menabrak punggung Alan. Begitu cahaya itu mengenai tubuhnya, Niken keluar dari jantung Alan. Putri dengan kebaya putih itu, jatuh tersungkur ke pasir di kaki Vivi. Mahkotanya terlepas dan menggelinding di tanah.


*


    Begitu juga dengan Alan, dia jatuh tersungkur di samping Niken. Jelas saja Vivi begitu terkejut melihat sosok wanita bergaun putih yang keluar dari tubuh adiknya. Mulut Vivi terbuka lebar dan matanya melotot seperti melihat hantu. Ini adalah kali pertamanya dia melihat sosok Niken.


    “Arrggh,” teriak Alan dan Niken berbarengan, mereka merasakan sakit yang sekilas di jantungnya masing-masing. Mungkin efek dari cahaya putih yang membuat mereka terpisah.


    Lalu, dari pintu belakang toko, Dani keluar dan berjalan mendekati mereka. Di belakangnya ada kucing hitam yang mengikuti langkah Dani.


    “Miauuw.”


    Kucing itu! Alan membatin. Dia mulai berasumsi bahwa kucing hitam itu mungkin sudah memata-matainya selama ini.

__ADS_1


    Dani berhenti satu meter di hadapan Alan dan Niken.


   “Kamu siapa?” tanya Alan.


   Dani segera menunjukan wujud aslinya. Rambut hitam rapih dan mengkilap itu kini telah hilang. Berganti dengan potongan cepak tidak rata dan ada bekas cakaran di mata kanannya. Semuanya terkejut melihat sosok pria asing itu, dia telah berubah menjadi Kardi. Kemejanya juga telah berganti dengan jubah hitam dan tudung yang terbuka.


   “Kamu…” gumam Niken, mungkin dia mengenalinya.


   Kardi melipat lengan jubah kanannya. Dia mengulurkan tangan itu dan membuka lebar telapaknya. Dari telapak tangan itu, keluarlah rantai yang telah dibuatnya menggunakan batu Metta. Sraaat! Sraaaat! Sraaat! Rantai itu mengikat Niken dengan erat.


   “Arrrggghh,” Niken kesakitan.


   “Oiii! Lepasin!” keras Alan sembari mencoba melepaskan rantai yang melingkari tubuh Niken. Zrat! Sengatan panas dirasakannya saat mencoba melepaskan rantai itu. “Arrgh,” teriak Alan, lalu dia memperhatikan telapak tangannya yang terbakar. Sementara Niken terus berusaha meronta untuk melepaskan rantai itu.


    Setelah itu, Kardi membuka portal menuju Kana. Dengan telapak tangan kiri, dia menciptakan lubang portal di sampingnya. Niken terkejut Kardi bisa melakukannya di sini, dia mengaktifkan menara itu lagi? Niken membatin. Bak pesulap, Kardi mengangkat Niken dengan rantai yang sudah mengikat erat. Dengan saat yang bersamaan, gundukan pasir di bawah kaki Vivi bergerak, mengeras dan menjelma menjadi tangan-tangan yang bergerak, kemudiantangan pasir itu memegangi tubuh Alan. Mencegahnya untuk menghalangi Niken.


    “Niken!!!” keras Alan berteriak saat tubuh Niken masuk ke dalam portal.


    Alan dan Niken saling mengulurkan tangan dan menatap satu sama lain. Namun kekuatan Kardi memisahkan mereka. Slap! Pintu portal itu tertutup. Tinggallah mereka bertiga, Kardi, Vivi dan Alan di tengah panas matahari.


    “Aku nggak bisa ngilangin ingatan kalian tapi, aku harap kalian hidup tenang setelah ini. Sama seperti sebelum kalian bertemu dengannya (Niken). Dan, maaf aku menggunakan kakakmu sebagai umpan, aku nggak bisa berhadapan langsung dengan kekuatan Niken.”


    “Apa yang mau kamu lakuin ke dia?” keras Alan bertanya dengan penuh emosi dan wajah yang merah.


    “Bukan aku, tapi semua orang, hukuman mati!” jawabnya.


    Lantas Kardi membuka lagi lingkaran portal menuju ke Kana. Kucing hitam itu melompat ke pundak kiri Kardi. Lalu Kardi melangkah ke dalam portal. Namun, sebelum dia masuk ke dalam, Kardi memungut mahkota perak milik Niken yang terjatuh di tanah. Kardi memandanginya untuk beberapa saat, lalu dia melanjutkan langkahnya masuk ke dalam portal.


     Slap! Portal tertutup dan lenyap seketika. Vivi terjatuh duduk di gundukan pasir. Tangan-tangan pasir itu juga sudah lenyap. Alan dan Vivi sudah bisa menggerakan tubuhnya dengan bebas. Sontak Alan segera melihat keadaan kakaknya.


    “Kak kamu nggak apa-apa?”


    Namun, Vivi tidak menjawabnya. Dia hanya terdiam beberapa detik lalu mengatakan sesuatu.


    “Ada banyak yang harus kamu ceritain ke kakak!” katanya.


    “Ada banyak juga yang harus kamu ceritain ke aku!” terdengar suara dari belakang Alan. Dia Julia Nada, sedang berdiri menatapnya.


*


     “Kenapa kamu nggak bilang dari awal?” keras Vivi bertanya kepada Alan. Vivi, dan Alan duduk di dapur toko, sementara Nada berdiri menyandar tembok mendengarkan obrolan mereka.


     “Aku takut kakak khawatir,” jawabnya.


     “Hmmm,” gumam Vivi. “Jadi sekarang Niken akan di hukum mati?”


     “Iya,” Alan merengut, membenamkan wajahnya di meja. “Padahal aku udah janji buat jagain dia,” suaranya terdengar kesal, dia memukul meja.


    “Kamu bilang sihir bola kaca menyatukan kalian,” ujar Nada. “Apa nggak ada cara yang kamu tau buat nyelametin Niken?”


    “Oi, tunggu,” ucap Vivi melihat Nada. “Bukannya sekarang kita kembali hidup kayakdulu lagi?” dia menengok Alan. “Baiknya kita nggak ikut campur sama masalah yang ada di dunia lain.”


    Alan mengangkat kepala dan menatap kakaknya.


   “Kak? Ngapain kalo kakak ingin tau ceritaku kalo pada akhirnya kakak lebih milih buat enggak peduli gitu?”


   “Bahaya! Kamu tau yang kamu ceritain itu di luar nalar. Kita nggak pernah tau apa aja bahayanya.”


   “Kamu jatuh cinta sama dia?” Nada bertanya, memotong pembicaraan mereka.


   Sontak Alan menengok ke arahnya.

__ADS_1


   “Bukan gitu, tapi Niken orang baik,” Alan gugup mengatakannya. “Kutukan itu udah bikin hidupnya hancur.”


   “Alan dengerin,” ucap Vivi. “Kamu satu-satunya keluarga yang kakak punya, kakak nggak mungkin biarin kamu terlibat lebih jauh sama masalah ini!” Vivi berkata sambil menunjuk meja.


__ADS_2